Berikut ini kami ringkaskan hukum tahlilan dan selamatan kematian menurut madzhab syafi’i dan ulama-ulama Syafi’iyah agar dapat menjelaskan kepada kaum muslimin pada umumnya, baik karena ketidaktahuannya, ikut-ikutannya, atau karena taashub (fanatik golongan tertentu), terlebih-lebih mempertuhankan hawa nafsu diatas segala-galanya.

Sangat ironis sebenarnya, karena sebab diatas itu mereka yang masih bangga bermadzab Syafi’i, justru dalam hal tahlilan dan selamatan yang pahalanya dikirimkan kepada si mayit itu bertentangan dengan pelbagai pendapat ulama-ulama syafi’iyah termasuk Imam Syafi’i rahimahullah sendiri.

Untuk itu dalam rangka kebenaran dan saling menasehati, seperti yang firmankan oleh Allah ta’ala pada surah Qs.Al-Ashr:1-3, dan Imam Syafi’i –rahimahullah mengatakan,’ Sekiranya Allah tidak menurunkan hujjah kepada hamba-Nya kecuali surah ini, niscaya surah ini sudah cukup bagi mereka (Syarah Tsalatsatul Ushul, Syaikh al-`Utsaimin, hal.24) maka kami sampailkan ini kepada anda semua.

Pendapat Imam as-Syafi’i rahimahullah
Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan didalam kitabnya, Syarah Muslim demikian:

” Adapun bacaan qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit), maka yang masyhur dalam madzab Syafi’i, tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi….sedang dalilnya Imam Syafi’i rahimahullah dan pengikut-pengikut yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri” dan Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda (yang artinya) “Apabila manusia telah meninggalka dunia, maka terputuslah amal usahanya, kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkaj dan anak saleh yang berdoa untuknya” (an-Nawawi, Syarah Muslim, 1/hal.90)

Imam an-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan:” Adapun bacaan qur’an dan mengirimkan pahalaya untuk mayit dan mengganti shalatnya mayit dan sebagainya..menurut Imam Syafi’i dan jumhur ulama adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi, dan keterangan seperti ini telah diulang-ulang oleh Imam Nawawi didalam kitabya, Syarah Muslim (as-Subuki, Takmilatul Majmu’, syarah muhadzab 10/hal.426)

Pendapat Imam al-Haitami
” Mayit, tidak boleh dibacaka apapun, berdasarkan keterangan yang mutlak dari ulama salaf, bahwa bacaan (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepadanya, sebab pahala bacaan itu adalah untuk pembacanya saja. Sedang pahala hasil amala tidak dapat dipindahkan dari amil (yang mengamalkan) perbuatan itu, berdasarkan firman Allah ta’ala (yang artinya) “Dan seseorang tidak akan memperoleh, melainkan pahala usahanya sendiri” (al-Haitami, al-Fatawa al-Kubra al-Fighiyah, 2/hal.9)

Pendapat Imam Muzami
” Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam memberitahukan sebagaimana diberitakan Allah, bahwa dosa seseorang akan menimpa dirinya sendiri seperti hal amalya adalah untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain dan tidak dapat dikirimka kepada orang lain (as-Syafi’i, al-Umm 7/hal.269)

Pendapat Imam al-Khazi
” Dan yang masyhur dalam madzhab syafi’i bahwa bacaan qur’an (yang pahalanya dikirimkan kepada mayit) adalah tidak dapat sampai kepada mayit yang dikirimi” (al-Khazin, al-Jamal 4/236)

Tafsir Jalalain dijelaskan :” Maka seseorang tidak memperoleh pahala sedikitpun dari hasil usaha orang lain (Tafsir Jalalain 2/197)

Tafsir Ibnu Katsir (surat An-Najm:30):
” Yakni sebagaimana dosa seseorang tidak dapat menimpa kepada orang lain, demikian juga manusia tidak dapat memperoleh pahala melainkan dari hasil amalanya sendiri, dan dari ayat yang mulin ini (ayat 39,Surah An-Najm) Imam Syaf’i dan Ulama-ulama yang mengikutinya mengambil kesimpulan, bahwa bacaan yang pahalanya dikirimkan kepada mayit adalah tidak sampai, karena bukan dari hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu Rosulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam tidak perna menganjurkan umatnya untuk mengamalkan (pengiriman pahala melalui bacaan), dan tidak perna memberikan bimbingan baik dengan nash maupun isyarat, dan tidak ada seorangpun (shahabat) yang mengamalkan perbuatan tersebut, jika amalan itu baik, tentu mereka lebih dahulu mengamalkanya, padalah amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’ala hanya terbatas yang ada nash-nashnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, dan tidak boleh dipalingkan dengan qiyas-qiyas dan pendapat-pendapat”

Demikian diantaranya perlbagai pendapat dari kalangan ulama asy-syafi’iyah tentang hukum acara tahlila (pengiriman bacaan pahala) dimana kesimpulan yang kita peroleh bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah dholaalah, dan sia-sialah perbuatan mereka.

Pertayaan: :
Jika ditanyakan kepadamu, bagaimana sekiranya kita seusai tahlil berdoa “Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaa kami tadi kepada roh si fulan ?”

Jawab:
Ulama telah sepakat, bahwa pengiriman pahala bacaan itu tidak dapat sampai ke roh yang dikirimi, sebab bertentangan dengan surah An-Najm ayat 39, dan jika kita pikir dengan logika (seperti mereka berfikir juga dengan logika) maka jika kita berbuat demikian, maka bertentangan dengan hukum syar’i (sambil sebutkan dalil diatas), dan apa bisa perkara yang tidak ada tuntunannya secara syar’i dapat diterima amalannya ? dan kalaulah itu baik tentu para shahabat telah mendahului kita mengamalkannya, dan sayangnya para shahabat tidak ada yang merngerjakannya.

Ikhwani fillah, silahkan mengutip tulisan ini dengan tetap mencantumkan sumber pengambilannya (http://antibidah.org)

__._,_.___

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu