Salahuddin : Tokoh Kebangkitan Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang Kurdi biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain, belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentara Salib bahwa anak Kurdi ini suatu hari nanti akan merampas kembali Palestina dan menjadi pembela akidah Islamiah yang hebat. Dan tiada siapa yang menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga menjadi contoh dalam memerangi kekufuran hingga ke hari ini. Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya untuk menjadi pemimpin agung itu. Ketika ia menjadi tentara Al-Malik Nuruddin, Sultan Aleppo, ia diperintahkan untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah oleh Dinasty Syi’ah Fatimiyyah yang tidak bernaung di bawah khalifah. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis bahwa Salahuddin sangat berat dan memaksa diri untuk pergi ke Mesir bagaikan orang yang hendak di bawa ke tempat pembunuhan (Bahauddin, 1234). Tetapi itulah sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan firman Allah, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu” (Al-Baqarah:216) Perjuangan Hidup Salahuddin Al-Ayubi Ketika Salahuddin menguasai Mesir, ia tiba-tiba berubah. Ia yakin bahwa Allah telah mempertanggung-jawabkan kepadanya satu tugas yang amat berat yang tak mungkin dapat dilaksanakan jika ia tidak bersungguh-sungguh. Bahauddin telah menuliskan dalam catatannya bahwa Salahuddin sangat baik ketika menjadi pemerintah Mesir. Dunia dan kesenangannya telah lenyap dari pandangan matanya. Dengan hati yang rendah dan syukur kepada Allah ia telah menolak godaan-godaan dunia dan segala kesenangannya (Bahauddin, 1234). Bahkan Stanley Lane Poole (1914) telah menuliskan bahwa Salahuddin mengubah cara hidupnya menuju yang lebih keras. Ia bertambah wara’ dan menjalani hidup yang lebih berdisiplin dan sederhana. Ia mejauhkan diri dari corak hidup bersenang-senang dan memilih corak hidup “Spartan” yang menjadi contoh kepada tentaranya. Ia menumpukan seluruh tenaganya untuk satu tujuan yaitu untuk membina kekuasaan Islam yang cukup kuat untuk menghalau orang kafir dari tanah air Islam. Salahuddin pernah berkata, “Ketika Allah menganugerahkan aku bumi Mesir, aku yakin Dia juga bermaksud Palestina untukku. Semangat inilah menyebabkan ia memenangkan perjuangan Islam, ia telah menyerahkan dirinya untuk jalan jihad. Semangat Jihad Salahuddin Al-Ayubi Fikiran Salahuddin sentiasa tertumpu kepada jihad di jalan Allah. Bahauddin telah menulis bahwa bahwa semangat Salahuddin yang berkobar-kobar untuk berjihad menentang tentara Salib telah menyebabkan jihad menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Ia sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat pasukan tentaranya, mencari mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad. Jika ada siapapun yang berbicara kepadanya berkenaan jihad ia akan memberikan penuh perhatian. Sehubungan dengan ini ia lebih banyak di dalam tenda perang daripada duduk di istana bersama sanak keluarga. Siapa saja yang menggalakkannya berjihad akan mendapat kepercayaannya. Siapa saja yang memerhatikannya akan dapat melihat apabila ia telah mengawali jihad melawan tentara salib ia akan menumpahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan perang dan menaikkan semangat tentaranya. Dalam medan peperangan ia bagaikan seorang ibu yang garang kehilangan anak tunggal akibat dibunuh oleh tangan jahat. Ia akan bergerak dari satu ujung medan peperangan ke ujung yang lain untuk mengingatkan tentaranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah semata-mata. Ia juga akan pergi ke seluruh pelosok negeri dengan mata yang berlinang mengajak manusia supaya bangkit membela Islam. Ketika ia mengepung Acre ia hanya minum, itupun setelah dipaksa oleh dokter pribadinya tanpa makan. dokter itu berkata bahwa Salahuddin hanya makan beberapa suap makanan semenjak hari Jumat hingga Senin karena ia tidak mau perhatiannya terhadap peperangan terganggu. (Bahauddin, 1234) Peperangan Salib di Hittin Salah satu peperangan yang sengit telah terjadi antara tentara Salahuddin dengan tentara Salib di kawasan Tiberias di kaki bukit Hittin. Akhirnya pada 24 Rabiul-Akhir, 583 H, tentara Salib telah kalah. Dalam peperangan ini Raja Kristen yang memerintah Palestina telah ditawan beserta adiknya Reynald de Chatillon. Pembesar-pembesar lain yang dapat ditawan ialah Joscelyn de Courtenay, Humphrey de Toron dan beberapa orang ternama yang lain. Banyak juga tentara-tentara Salib berpangkat tinggi telah tertawan. Stanley Lane-Poole menceritakan bahwa dapat dilihat seorang tentara Islam telah membawa 30 orang tentara Kristen yang ditawannya sendiri diikat dengan tali tenda. Mayat-mayat tentara Kristen tertimbun di atas batu dan di antara salib-salib yang patah, potongan tangan dan kaki dan kepala-kepala manusia berguling seperti buah kelapa. Diperkirakan 30,000 tentara Kristen telah mati dalam peperangan ini. Setahun setelah peperangan, timbunan tulang dapat dilihat memutih dari jauh. Kecintaan Salahuddin Al-Ayubi kepada Islam Peperangan Hittin telah menyerlahkan kecintaan Salahuddin kepada Islam. Stanley Lane-Poole menulis bahwa Salahuddin bertenda di medan peperangan semasa peperanggan Hittin. Pada satu ketika setelah tendanya didirikan diperintahkannya tawanan perang dibawa ke hadapannya. Maka dibawalah Raja Palestina dan Reynald de Chatillon masuk ke tendanya. Dipersilakan sang Raja duduk di dekatnya. Kemudian ia bangun pergi ke hadapan Reynald lalu berkata, “Dua kali aku telah bersumpah untuk membunuhnya. Pertama ketika ia bersumpah akan melanggar dua kota suci dan kedua ketika ia menyerang jamaah haji. Ketahuilah aku akan menuntut bela Muhammad SAW atasnya”. Lalu ia menghunuskan pedangnya dan menusuk leher kepala Reynald. Mayatnya kemudian dibawa keluar oleh pengawal dari tenda. Raja Palestina apabila melihat adiknya dipancung, ia mengeletar kerana menyangka gilirannya akan tiba. Tetapi Salahuddin menjamin tidak akan mengapa-apakannya sambil berkata, “Bukanlah kelaziman seorang raja membunuh raja yang lain, tetapi orang itu telah melanggar segala batas, jadi terjadilah apa yang telah terjadi”. Tindakan Salahuddin adalah disebabkan kebiadaban Reynald kepada Islam dan Nabi Muhammad SAW. Bahauddin bin Shaddad, penasihat kepercayaan Salahuddin menulis bahwa bila jamaah haji dari Palestina diserang dicederakan tanpa belas kasihan oleh Reynald, di antara tawanannya merayu supaya mereka dikasihani. Tetapi Reynald dengan angkuhnya mengatakan, “Mintalah kepada Nabi kamu, Muhammad, untuk menyelematkan kamu”. Ketika ia mendengar berita ini ia telah berjanji akan membunuh Reynald dengan tangannya sendiri apabila ia dapat menangkapnya. Salahuddin Menguasai Baitul Maqdis Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah kepada Salahuddin untuk menawan Baitul Maqdis. Bahauddin telah mencatat bahwa Salahuddin sangat bermaksud untuk menguasai baitul Maqdis hingga bukitpun akan mengecut dari hasrat yang kuat di dalam hatinya. Pada hari Jumat, 27 Rajab, 583H, iaitu pada hari Isra’ Mi’raj, Salahuddin telah memasuki Kota Suci tempat Rasulullah SAW bermi’raj. Dalam catatan Bahauddin ia menyatakan inilah kemenangan atas kemenangan. Ramai orang yang terdiri dari ulama, pembesar-pembesar, dan rakyat biasa datang merayakan gembira kemenangan ini. Banyak orang datang dari pantai dan hampir semua ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk mengucapkan selamat kepada Salahuddin. Laungan “Allahhu Akbar” dan “Tiada tuhan melainkan Allah” telah memenuhi langit. Setelah 90 tahun kini sembahyang Jumat telah diselenggarakan semula di Baitul Maqdis. Salib yang terpampang di ‘Dome of Rock’ telah diturunkan. Betapa hebatnya peristiwa ini tidak dapat digambarkan. Salahuddin yang Penyayang Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin semasa peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman musuh Kristennya. Ahli sejarah Kristen pun mengakui hal ini. Lane-Poole mengisahkan bahwa kebaikan hati Salahuddin telah mencegahnya dari perbuatan balas dendam. Ia telah menuliskan yang Salahuddin telah menunjukkan ketiggian akhlaknya ketika orang-orang Kristen menyerah kalah. Tentaranya sangat bertanggung jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah segala bentuk kekerasan hinggakan tiada kedengaran orang-orang Kristen diperlakukan tidak baik. Semua jalan keluar-masuk ke Baitul Maqdis ditangannya dan seorang yang amanah telah dilantik di pintu Nabi Daud untuk menerima uang tebusan daripada orang-orang Kristen yang ditawan. Lane-Poole juga telah menuliskan bahwa Salahuddin telah mengatakan kepada pegawainya, “Adikku telah membuat infak, Padri besar pun telah bederma. Sekarang giliranku pula”. Lalu ia memerintahkan pegawainya mewartakan di jalan-jalan Jerusalem bahwa siapapun yang tidak mampu membayar tebusan boleh dibebaskan, maka begitu ramailah orang keluar dari pintu St. Lazarus dari pagi hingga ke malam. Ini merupakan sedekah Salahuddin kepada orang miskin tanpa menghitung bilangan mereka. Selanjutnya Lane-Poole menuliskan bagaimana pula tindak-tanduk tentara Kristen ketika menguasai Baitul Maqdis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika Godfrey dan Tancred menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan itu ‘tersumbat’ dengan mayat-mayat, orang-orang Islam yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah dari jarak dekat di atas bumbung dan menara rumah-rumah ibadah. Darah yang membasahi bumi yang mengalir dari pembunuhan orang-orang Islam secara beramai-ramai sebenarnya telah mencermarkan kesucian gereja di mana sebelumnya kasih sayang sentiasa diajarkan. Maka sangat bernasib baik orang-orang Kristen apabila mereka dilayani dengan baik oleh Salahuddin. Lane-Poole juga menulis, jika hanya kulit sejarah penaklukan Jerusalem saja yang diketahui mengenai Salahuddin, maka ia sudah cukup membuktikan dialah seorang penakluk yang penyantun dan baik hati di zamannya. Perang Salib Ketiga Perang Salib pertama ialah kejatuhan Palestina kepada orang-orang Kristen pada tahun 1099 (490H) manakala yang kedua telah dimenangkan oleh Salahuddin dalam peperangan Hittin pada tahun 583H (1187M) di mana beberapa hari kemudian ia telah menguasai Baitul Maqdis tanpa perlawanan. Kekalahan tentara Kristen ini telah menggegarkan seluruh dunia Kristen. Maka bantuan dari Eropa pun dicurahkan ke bumi Palestina. Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia Kristen seperti Fredrick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion raja England, Philips Augustus raja Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin yang hanya dibantu oleh beberapa pembesarnya dan saudara angkatnya serta tentaranya untuk mempertahankan kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka tidak dapat dikalahkan oleh tentara bersekutu yang besar itu. Peperangan ini berlanjutan selama 5 tahun hingga menyebabkan kedua belah pihak menjadi lesu dan jemu. Akhirnya kedua belah pihak bersetuju untuk memuat perjanjian di Ramla pada tahun 588H. Perjanjian ini mengakui Salahuddin adalah pengusa Palestina seluruhnya kecuali bandar Acra diletakkan di bawah pemerintahan Kristen. Maka berakhirlah peperangan Salib ketiga. Lane-Poole telah menulis bahwa perjanjian ini sebagai berakhirnya Perang Suci yang telah berlangsung selama 5 tahun. Sebelum kemenangan besar Hittin pada bulan Juli, 1187 M, tiada satu inci pun tanah Palestina di dalam tangan orang-orang Islam. setelah Perjanjian Ramla pada bulan September, 1192 M, keseluruhannya menjadi milik mereka kecuali satu jalur kecil dari Tyre ke Jaffa. Salahuddin tidak ada rasa malu apapun dengan perjanjian ini walaupun sebahagian kecil tanah Palestina masih di tangan orang-orang Kristen. Atas seruan Pope, seluruh dunia Kristen telah mengangkat senjata. Raja England, Perancis, Sicily dan Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu membantu Raja dan Putra Mahkota Palestina untuk mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan Kristen. Walau bagaimanapun ada raja yang mati dan ada yang balik dan sebahagian pembesar-pembesar Kristen telah terkubur di Tanah Suci itu, tetapi Tanah Suci itu masih di dalam tangan Salahuddin. Selanjutnya Lane-Poole menulis bahwa, seluruh kekuatan dunia Kristen yang telah beraliansi dalam peperangan Salib ketiga tidak menggoyahkan kekuatan Salahuddin. Tentaranya mungkin telah jemu dengan peperangan yang menyusahkan itu tetapi mereka tidak pernah mundur apabila diseru untuk berjihad jiwa raga mereka di jalan Tuhan. Tentaranya yang berada jauh di lembah Tigris di Iraq kadang mengeluh dengan tugas yang tidak henti-henti, tetapi ketaatan meraka yang tidak pernah pudar. Bahkan dalam peperangan Arsuf, tentaranya dari Mosul, Iraq telah menunjukkan ketangkasan yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang boleh memberikan kepercayaan kepada tenatra-tentaranya dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurds, Turkmans, Arab dan bahkan orang-orang Islam dari mana-mana saja. Walaupun mereka berlainan bangsa dan kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka di atas jalan Tuhan dari pada awal peperangan pada tahun 1187 hinggalah berakhirnya pada tahun 1192. Lane-Poole dalam tulisannya menyebutkan bahwa Salahuddin sentiasa bermajlis syura. Ia mempunyai majlis syura (musyawarah) yang membuat keputusan-keputusan ketentaraan. Kadang-kadang majlis ini membatalkan keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majlis ini tiada siapa yang mempunyai suara lebih berat tiada yang lebih mempengaruhi fikiran Salahuddin, semuanya sama saja. Dalam majlis itu ada adiknya, anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat lamanya, pembesar-pembesar tentara, kadi, bendahara dan setiausahanya. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama banyak dalam membuat keputusan. Pendeknya kata semuanya menyumbang dalam kepakaran masing-masing. Walaupun ada perdebatan dalam majlis itu, mereka tetap taat kepada Salahuddin. Salahuddin yang Wara’ Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis tentang kewara’an Salahuddin. Satu hari ia berkata bahwa ia telah lama tidak pergi sembahyang berjamaah. Beliau memang suka sembahyang berjamaah, bahkan ketika sakitnya ia akan memaksa dirinya berdiri di belakang imam. Disebabkan sembahyang adalah ibadah utama yang diwajibkan oleh Rasulullah SAW, ia sentiasa mengerjakan sembahyang sunnat malam. Jika disebabkan hal tertentu ia tidak dapat sembahyang malam, ia akan menunaikannya ketika hampir subuh. Bahauddin melihatnya sentiasa sembahyang di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga malam terakhir di mana ia telah tersangat lemah dan selalu pingsan. Beliau tidak pernah ketinggalan sembahyang fardhu. Ia tidak pernah membayar zakat kerana ia tidak mempunyai harta yang cukup nisab. Ia sangat murah hati dan akan menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya ia hanya memiliki 47 dirham uang perak dan satu dinar uang emas. Ia tidak meninggalkan harta. Bahauddin juga menulis bahwa bahwa Salahuddin tidak pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya sekali apabila dinasihatkan oleh Qadi Fadhil. Ketika sakitnya pun ia berpuasa sehinggalah dokter menasihatkannya dengan keras supaya berbuka. Lalu ia berbuka dengan hati yang berat sambil berkata, “Aku tak tahu bila ajal akan menemuiku”. Maka segera ia membayar fidyah. Dalam catatan Bahauddin juga menunjukkan Salahuddin sangat ingin menunaikan haji ke Mekah tetapi ia tidak pernah berkesempatan. Pada tahun kewafatannya, keinginannya menunaikan haji telah menjadi-jadi tetapi tidak ditakdirkan. Ia sangat gemar mendengar bacaan Al-Qur’an. Dalam medan peperangan ia sering kali duduk mendengar bacaan Qur’an para pengawal yang ditemuinya hingga 3 atau 4 juz’ semalam. Ia mendengar dengan sepenuh hati dan perhatian sehingga air matanya membasahi dagunya. Ia juga gemar mendengar bacaan hadis Rasulullah saw. Ia akan memerintahkan orang-orang yang bersamanya duduk apabila hadis dibacakan. Apabila ulama hadis datang ke kota, ia akan pergi mendengar kuliahnya. Kadang-kadang ia sendiri membacakan hadis dengan mata yang berlinang. Dalam peperangan kadang-kadang ia berhenti di antara musuh-musuh yang datang untuk mendengarkan hadis-hadis dibacakan kepadanya. Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan Allah. Ia biasa meletakkan segala harapan nya kepada Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada suatu ketika ia berada di Jerusalem yang pada masa itu seolah-olah tidak dapat bertahan lagi daripada kepungan tentara sekutu Kristen. Walaupun keadaan sangat terdesak ia enggan untuk meninggalkan kota suci itu. Malam itu adalah malam Jumaat musim sejuk. Bahaauddin menulis bahwa, “Hanya aku dan Salahuddin saja pada saat itu”. Ia menghabiskan malam itu dengan bersembahyang dan munajat. Pada tengah malam saya minta supaya ia berehat tetapi jawabnya, “Ku fikir kau mengantuk. Pergilah tidur sejenak”. Bila hampir subuh akupun bangun dan pergi mendapatkannya. Aku dapati ia sedang membasuh tangannya. “Aku tidak tidur semalam” katanya. Setelah sembahyang subuh aku berkata kepadanya, “Kau bermunajat kepada Allah memohon pertolongan-Nya”. Lalu ia bertanya, “Apa yang perlu kulakukan?” Aku menjawab, “Hari ini hari Jumat. Engkau mandilah sebelum pergi ke masjid Aqsa. Keluarkanlah infaq dengan senyap-senyap. Apabila kau tiba di masjid, sembahyanglah dua rakaat setelah azan di tempat Rasulullah SAW pernah sembahyang sebelum mi’raj dahulu. Aku pernah membaca hadis doa yang dibaca di tempat itu adalah mustajab. Oleh itu kau bermunajadlah kepada Allah dengan ucapan Ya Tuhanku, aku telah kehabisan segala bekalanku. Kini aku mohon pertolongan-Mu. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Aku yakin hanya Engkau saja menolongku dalam keadaan yang genting ini” Aku mengatakan kepadanya, “Aku sangat berharap Allah akan mengkabulkan doamu”. Lalu Salahuddin melakukan apa yang kuusulkan. “Aku berada di sebelahnya ketika bermunajat sambil menangis hingga air matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat sembahyang. Aku tidak tahu apa yang didoakannya tetapi aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari itu berakhir. Pergolakan terjadi di antara musuh-musuh yang menatijahkan berita baik bagi kami beberapa hari kemudian. Akhirnya mereka membuka tenda-tenda mereka dan berangkat ke Ramla pada hari Senin pagi” Tingkah-laku Salahuddin Al-Ayubi Siapa yang dekat dengannya mengatakan ia adalah seorang Islam yang taat kepada Allah, sangat peka kepada keadilan, pemurah, lembut hati, sabar dan tekun. Bahauddin bin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis bahwa ia telah memberikan waktu untuk rakyat dua kali seminggu, yaitu pada hari Senin dan Selasa. Pada masa ini ia disertai oleh pembesar-pembesar negara, ulama dan Qadi. Semua orang boleh berjumpa dengannya. Ia sendiri akan membacakan aduan yang diterimanya dan mengucapkan untuk dituliskan oleh juru tulis tindakan yang perlu diambil dan terus ditandatanganinya pada saat itu juga. Ia tidak pernah membenarkan orang meninggalkannya selagi ia belum menyempurnakan hajat orang itu. Dalam saat yang sama ia sentiasa bertasbih. Ia adalah seorang yang mulia dan baik hati, lemah lembut, penyabar dan sangat benci kepada ketidakadilan. Ia sentiasa mengabaikan kesilapan-kesilapan pembantu-pembantu dan khadam-khadamnya. Jika mereka melakukan kesilapan yang memanaskan hatinya, ia tidak pernah menyebabkan kemarahannya menjatuhkan air muka mereka. Pada suatu ketika ia pernah meminta air minum, tetapi entah apa sebabnya air itu tidak diberikan kepadanya. Ia meminta sehingga lima kali lalu berkata, “Aku hampir mati kehausan”. Ia kemudian meminum air yang dibawakan kepadanya tanpa menunjukkan kemarahan. Bahauddin juga telah menulis bahwa beberapa peristiwa yang menunjukkan sifat pemurah dan baik hati Salahuddin. Kadang-kadang kawasan yang baru dikuasai pun diberikannya kepada pengikutnya. Satu ketika ia telah berhasil menguasai bandar ‘Amad. Lalu seorang perwira tentara, Qurrah Arslan, menyatakan keinginannya untuk memerintah bandar itu. Dengan senang hati ia memberikannya. Bahkan dalam beberapa waktu ketika ia menjualkan hartanya semata-mata untuk membeli hadiah. Melihat betapa pemurahnya Salahuddin, bendaharanya selalu merahasiakan baki uang simpanan untuk cadangan yang digunakan masa sulit. Jika ia tahu, ia akan menyedekahkan khazanah negara sehingga habis. Salahuddin pernah mengatakan ada orang baginya uang dan debu sama saja. “Aku tahu”, kata Bahauddin, “Ia mengatakan dirinya”. Salahuddin tidak pernah membiarkan tetamunya meninggalkannya tanpa hadiah atau sebentuk pemberian tanda penghargaan, walaupun tamunya itu seorang kafir. Raja Saida pernah melawat Salahuddin dan ia menyambutnya dengan tangan terbuka, melayaninya dengan hormat dan mengambil kesempatan menerangkan Islam. Bahkan Salahuddin sentiasa mengirimkan es dan buah-buahan kepada Richard the Lion, musuh ketatnya, ketika Raja inggeris itu sakit. Hatinya memang sangat lembut hingga ia sangat mudah terkesan apabila melihat orang dalam kesusahan dan kesedihan. Suatu hari seorang perempuan Kristen datang mengadu kehilangan bayinya. Perempuan itu menangis dan meraung di depan Salahuddin sambil menceritakan bayinya dicuri dari tendanya. Perempuan itu seterusnya mengatakan ia telah dimaklumkan hanya Salahuddin saja yang boleh mendapatkan bayi itu kembali. Hatinya tersentuh mendengar cerita perempuan itu lalu iapun turut menangis. Ia segera memerintahkan pegawai-pegawainya mencari bayi itu di pasar hamba-sahaya. Tidak lama kemudian bayi itu telah dapat dibawa kembali lalu dengan rasa gembira mendoakan kesejahteraan Salahuddin. Bahauddin juga menulis bahwa Salahuddin sangat kasihan belas kepada anak-anak yatim. Bila ia berjumpa anak-anak yatim ia akan mengurusi supaya ada orang menjadi penjaga anak itu. Kadang-kadang ia sendiri yang akan menjaga dan membesarkan anak yatim yang ditemuinya. Kesungguhan dan Semangat Salahuddin Al-Ayubi Ketika mengepung bandar Acre, Bahauddin menulis bahwa Salahuddin menderita sakit berat yang menyebabkan beliau sangat susah untuk bangun. Meskipun demikian, ia keluar menunggang kudanya untuk memeriksa tentaranya. Bahauddin bertanya kepadanya bagaimana ia bisa menahan sakitnya. Maka Salahuddin menjawab, “Penyakit akan meninggalkanku apabila menunggang kuda”. Dalam keadaan yang lain ia sebenarnya dalam keadaan yang lemah akibat sakit tetapi pergi memburu musuh sepanjang malam. ” Apabila ia sakit”, kata Bahauddin, Aku dan dokter akan bersamanya sepanjang malam. Ia tidak dapat tidur akibat menahan sakit, tetapi apabila pagi menjelang, ia akan menunggang kuda untuk melawan musuh. Ia menghantar anak-anaknya ke medan perang sebelum memerintahkan orang lain berbuat demikian. Aku dan dokternya bersamanya sepanjang hari menunggang kuda sehingga musuh mundur apabila senja menjelang. Ia hanya akan kembali ke tenda setelah memberikan arahan untuk gerilya pada waktu malam”. Kadang-kadang ia sediri pergi ke kawasan pertendaan tentara musuh bersama telik sandinya sesekali bahkan dua kali sehari. Ketika berperang ia sendiri akan pergi menempuh celah-celah tentara musuh yang sedang marak. Ia sentiasa mengadakan pemeriksaan ke atas setiap tentaranya dan memberikan arahan kepada panglima-panglima tentaranya Salahuddin diberitahu bahwa ia selalu mendengar bacaan hadis pada masa lapang bukannya ketika perang. Apabila mendengar perkara ini ia segera mengarahkan supaya hadis-hadis dibacakan kepadanya ketika peperangan sedang berkecamuk dengan sengitnya. Salahuddin tidak pernah gentar dengan banyaknya tentara Salib yang datang untuk menentangnya. Suatu ketika, tentara Salib berjumah sehingga 600,000 orang, tetapi Salahuddin menghadapinya dengan tentara yang jauh lebih sedikit. Berkat pertolongan Allah ia menang, membunuh ramai musuh dan membawa banyak tawanan. Ketika mengepung Acre, pada satu petang lebih dari 70 kapal tentara musuh beserta senjata berat mendarat pada satu petang. Boleh dikatakan semua orang merasa gentar kecuali Salahuddin. Dalam satu peperangan yang sengit pengepungan ini, serangan mendadak besar-besaran dari musuh telah menyebabkan tentara Islam kalang kabut. Tentara musuh telah menyerang tenda-tenda tentara Islam bahkan telah sampai ke tenda Salahuddin dan mencabut benderanya. Tetapi Salahuddin bertahan dengan teguhnya dan berhasil mengatur tentaranya kembali sehingga ia berhasil membalikkan kekalahan menjadi kemenangan. Musuh kalah besar dan mundur dari medan peperangan meninggalkan lebih kurang 7,000 mayat. Bahauddin ada menulis bahwa betapa besarnya cita-cita Salahuddin. Suatu hari Salahuddin pernah berkata kepadanya, “Aku hendak beri tahu padamu apa yang ada dalam hatiku. Apabila Allah mentakdirkan seluruh tanah suci ini di bawah kekuasaanku, aku akan serahkan tanah-tanah kekuasaanku ini kepada anak-anakku, kuberikan arahan-arahanku yang terakhir lalu kuucapkan selamat tinggal. Aku akan belayar untuk menaklukkan pulau-pulau dan tanah-tanah. Aku tak akan meletakkan senjata ku selagi masih ada orang-orang kafir di atas muka bumi atau jika ajalku sampai. Salahuddin Al-Ayubi Sebagai Ulama Salahuddin memiliki pengetahuan agama yang kokoh. Ia juga mengetahui banyak suku kaum Arab dan adat-adat mereka, bahkan ia mengetahui sifat-sifat kuda Arab walaupun ia sebenarnya orang Kurdi. Ia sangat gemar mengumpulkan pengetahuan dan maklumat dari kawan-kawannya dan utusan-utusannya yang sentiasa berjalan dari satu penjuru ke satu penjuru negerinya. Di samping Qur’an ia juga banyak menghafal syair-syair Arab. Lane-Poole juga ada menuliskan bahwa Salahuddin ilmunya dalam dan gemar untuk mendalami bidang-bidang akidah, ilmu hadis serta sanad-sanad dan perawi-perawinya, syariah dan usul fiqh dan juga tafsir Qur’an. Kematian Salahuddin Al-Ayubi Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin ke Rahmatullah setelah berhempas pulas mengembalikan tanah air Islam pada usia 57 tahun. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27 Safar, 12 hari setelah ia jatuh sakit, kondisinya sangat lemah. Syeikh Abu Ja’afar seorang yang wara’ telah diminta menemani Salahuddin di Istana, bacaan Qur’an dan syahadah diperdengarkan kepadanya. Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah duduk di tepi kastilnya semenjak 3 hari yang lepas membacakan Qur’an. Dalam masa ini Salahuddin selalu pingsan dan sadar sebentar. Apabila Syeikh Abu Jaafar membacakan ayat, “Dialah Allah, tiada tuhan melainkan Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata” (Al-Hasyr: 22), Salahuddin membuka matanya sambil senyum, mukanya berseri dan denga nada yang gembira ia berkata, “Memang benar”. setelah ia mengucapkan kata-kata itu rohnya pun kembali ke Rahmatullah. Masa ini ialah sebelum subuh, 27 Safar. Selanjutnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang, tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkannya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup untuk upah pengkebumiannya. Keluarganya terpaksa meminjam uang untuk menanggung upah pemakaman ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang menterinya. Referensi : Bahauddin bin Shaddad. 1234M. Al Nawadir Al Sultania: Sirah Salahuddin (Bin Nawadir-I-Sultania). Mesir (1317 H) Poole S. L. 1914. Saladin. New York Biografi Salahuddin Al-Ayyubi oleh Abul Hassan Ali Nadwi Judul Asli : Saviors of Islamic Spirit.