berisiko kena stres daripada istri ketika harus mengurus pasangannya yang sakit atau tidak mampu. Ini karena suami tidak siap dan tidak terbiasa merawat seseorang. William E Halley, profesor psikologi dari University of South Florida, Tampa menyurvei 767 orang yang sedang merawat pasangannya yang sakit atau dalam kondisi tidak mampu melakukan apa-apa. Pasangan yang paling stres berisiko mengalami stroke paling tinggi. Partisipan ditanya berapa lama dalam seminggu mereka merasa depresi, sedih atau menangisi keadaan. Faktor lain seperti usia, tekanan darah tinggi, kolesterol, kebiasaan merokok atau penyakit diabetes telah diperhitungkan dalam studi ini. Hasilnya menunjukkan, suami lebih cepat stres dan lebih tinggi 23 persen kena stres dibanding istri. Stres tersebut berisiko 26,9 persen menjadi stroke selama 10 tahun. “Perempuan lebih siap dan terbiasa merawat seseorang dibanding laki-laki, jadi lebih sedikit yang kena stres,” kata Haley seperti dilansir Healthday, Sabtu (15/1/2010). Risiko stres yang dialami suami lama kelamaan bisa berkembang menjadi stroke, umumnya 2 tahun setelah mengalami stres. Jika sudah begitu, risiko penyakit lain yang lebih fatal pun bisa muncul karena menurut survei yang dilakukan peneliti dari University of California, Los Angeles, penderita stroke umumnya berhenti mengonsumsi obat-obatan sebelum benar-benar sembuh. Hal ini didukung oleh peneliti Swedia yang mengatakan, hanya tiga perempat penderita stroke yang tetap minum obat untuk mencegah stroke baru. Sebanyak 26 persen berhenti mengonsumsi obat darah tinggi, 44 persen berhenti mengonsumsi statin (obat kolesterol) dan 36 persen berhenti dari pengobatan jantung. “Banyak pasien yang merasa tidak perlu obat lagi karena merasa sudah agak baikan atau sembuh. Tapi dokter juga harus disalahkan karena tidak memaksa atau memberi edukasi pasien tentang pentingnya minum obat rutin dan terus menerus hingga benar-benar sembuh,” kata Dr Bruce Ovbiagele, direktur program pencegahan stroke UCLA.(fah/ir)detik.com