Berdirinya Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

 

Masa Orde Lama (1959-1965) tercatat sebagai masa paling gelap dalam sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia. Persiden Sukarno mencanangkan Konsepsi Presiden yang secara operarional terwujud dalam bentuk Demokrasi Terpimpin. Demokrasi terpimpin memusatkan seluruh kekuasaan ditangan Presiden. Para pemimpin nasional Mochtar Lubus, K.H. Isa Anshari, Mr. Assaat, Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanoeddin Harahap, S.H., M. Yunan nasution, Buya Hamka, Mr, Kasman Singodimedjo dan K.H E.Z. Muttaqin yang bersikap kritis terhadap politik Demokrasi terpimpin, ditangkap dan dipenjarakan tanpa proses pengadilan. Puncak dari masa penuh kegelapan itu ialah pecahnya peberontakan berdarah G.30.S/PKI.

Sesudah seluruh kekuatan bangsa yang anti komunis bangkit menghancurkan pemberontakan tersebut, datanglah zaman baru yang membawa banyak harapan. Yaitu era Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pada masa  inilah, para pemimpin bangsa yang dipenjarakan oleh rezim Orde Lama dibebaskan.

Para pemimpin nasionalis-Islami yang pada dasarnya tidak dapat duduk berpangku tangan, seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito mulai merancang gagasan untuk berpartisipasi penuh mendukung pemerintahan Orde Baru. Pada mulanya mereka mengharapkan pemerintah bersedia merehabilitasi Partai Politik Masyumi  yang dipaksakan membubarkan diri oleh Presiden Soekarno. Musyawarah Nasional III Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi) menyatakan: “bahwa pembubaran Masyumi, Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), yuridis formal tidak syah, dan yuridis material tidak beralasan”. Namun, pembubaran Masyumi, ternyata bukanlah masalah hukum semata-mata Pembubaran tersebut adalah masalah politik. Oleh karena itu ketika permintaan tersebut, oleh berbagai pertimbangan tidak dapat dipenuhi oleh pemerintah, tokoh-tokoh nasionalis-Islami itu tidak ngotot, juga tidak berputus harapan.

Bagi mereka, aktivitas hidup ini semata-mata dalam rangka beribadah dan berdakwah untuk rneraih keridhaan Ilahi. Berkecimpung di lapangan politik, bagi mereka merupakan bagian dari ibadah dan dakwah. Maka ketika mereka tidak lagi mendapat kesempatan untuk berkiprah di lapangan politik, jalan ibadah clan dakwah dalam bentuk lain masih terbuka sangat lebar. Dalam kata-kata Pak Natsir, dulu berdakwah lewat jalur politik, sekarang berpolitik melalui jalur dakwah.

Demikianlah, maka pada 26 Februari 1967, atas undangan pengurus masjid Al-Munawarah, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, para alim ulama dan zu’ama berkumpul untuk bermusyawarah, membahas, meneliti, dan menilai beberapa masalah, terutama yang rapat hubungannya dengan usaha pembangunan umat, juga tentang usaha mempertahankan aqidah di dalam kesimpangsiuran kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat.
Musyawarah menyimpulkan dua hal sebagai berikut:

  1. Menyatakan rasa syukur atas hasil dan kemajuan yang telah dicapai hingga kini dalam usaha-usaha dakwah yang secara terus menerus dilakukan oleh berbagai kalangan umat, yakni para alim ulama dan para muballigh secara pribadi, serta atas usaha-usaha yang telah dicapai dalam rangka organisasi dakwah. 
  2. Memandang perlu (urgent) lebih ditingkatkan hasil dakwah hingga taraf yang lebih tinggi sehingga tercipta suatu keselarasan antara banyaknya tenaga lahir yang dikerahkan dan banyaknya tenaga batin yang dicurahkan dalam rangka dakwah tersebut.

 

Untuk menindaklanjuti kesimpulan pada butir kedua di atas, musyawarah para ulama dan zu’ama mengkonstatir terdapatnya berbagai persoalan, antara lain:

  1. Mutu dakwah yang di dalamnya tercakup persoalan penyempurnaan sistem perlengkapan, peralatan, peningkatan teknik komunikasi, lebih-lebih lagi sangat dirasakan perlunya dalam usaha menghadapi tantangan (konfrontasi) dari bermacam-macam usaha yang sekarang giat dilancarkan oleh penganut agama-agama lain dan kepercayaan-kepercayaan (antara lain faham anti Tuhan yang masih merayap di bawah tanah), Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan sebagainya terhadap masyarakat Islam.
  2. Planning dan integrasi yang di dalamnya tercakup persoalan-persoalan yang diawali oleh penelitian (research) dan disusul oleh pengintegrasian segala unsur dan badan-badan dakwah yang telah ada dalam masyarakat ke dalam suatu kerja sama yang baik dan berencana.

 

Dalam menampung masalah-masalah tersebut, yang mengandung cakupan yang cukup luas dan sifat yang cukup kompleks, maka musyawarah alim ulama itu memandang perlu membentuk suatu wadah yang kemudian dijelmakan dalam sebuah Yayasan yang diberi nama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia disingkat Dewan Dakwah. Pengurus Pusat yayasan ini berkedudukan di ibu kota negara, dan dimungkinkan memiliki Perwakilan di tiap-tiap ibukota Daerah Tingkat I serta Pembantu Perwakilan di tiaptiap ibukota Daerah Tingkat II seluruh Indonesia.

Dewan Dakwah yang dikukuhkan keberadaannya melalui Akte Notaris Syahrim Abdul Manan No. 4, tertanggal 9 Mei 1967, melandaskan kebijaksanaannya kepada empat hal:

  1. Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdasarkan taqwa dan keridhaan Allah.
  2. Dalam mencapai maksud dan tujuannya, Dewan Dakwah mengadakan kerja sama yang erat dengan badan-badan dakwah yang telah ada di seluruh Indonesia.
  3. Dalam hal yang bersifat kontroversial (saling bertentangan) dan dalam usaha melicinkan jalan dakwah, Dewan Da’wah bersikap menghindari dan atau mengurangi pertikaian faham antara pendukung dakwah, istimewa dalam melaksanakan tugas dakwah.
  4. Di mana perlu dan dalam keadaan mengizinkan, Dewan Dakwah dapat tampil mengisi kekosongan, antara lain menciptakan suatu usaha berbentuk atau bersifat dakwah, usaha mana sebelumnya belum pernah diadakan, seperti mengadakan pilot projek dalcrm bidang dakwah.

 

Musyawarah alim ulama juga merumuskan program kerja sebagai penjabaran dari landasan kebijaksanaan di atas. Program kerja tiga pasal itu ialah sebagai berikut:

  1. Mengadakan pelatihan-pelatihan atau membantu mengadakan pelatihan bagi muballighin dan calon-calon muballighin.
  2. Mengadakan research (penelitian) atau membantu mengadakan penelitian, yang hasilnya dapat segera diinanfaatkan bagi perlengkapan usaha para muballighin pada umumnya.
  3. Menyebarkan aneka macam penerbitan, antara lain buku-buku, brosur, dan atau siaran lain yang terutama ditujukan untuk memperlengkapi para muballighin dengan ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum lainnya, guna meningkatkan mutu dan hasil dakwah. Usaha ini diharapkan dapat mengisi kekosongan-kekosongan di bidang lektur, yang khusus diperlukan dalam masyarakat.
Visi dan Misi

 

Minggu, 13 April 2008
Visi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang Islami dengan menggiatkan dan meningkatkan mutu da’wah di Indonesia

Misi Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia adalah :

  1. Menanamkan Aqidah  dan menyebarkan pemikiran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah
  2. Membendung pemurtadan, ghazwul fikri dan harakah haddamah
  3. Menyiapkan du’at untuk berbagai tingkatan sosial  kemasyarakatan dan menyediakan saranadalam upaya meningkatkan kualitas da’wah
  4. Membina kemandirian ummat dan menyadarkan mereka atas kewajiban da’wah
  5. Mengembangkan jaringan kerjasama serta koordinasi ke arah realisasi amal jama’i
  6. Membangun solidaritas Islam Internasional dan turut serta menciptakan  perdamaian dunia

 

Kepengurusan Dewan Da’wah
     

 

Minggu, 13 April 2008
Musyawarah juga menyetujui kepengurusan Dewan Da’wah yang untuk pertama kalinya terdiri dari:

Ketua  Mohammad Natsir 
Wakil Ketua : Dr. H.M. Rasjidi
Sekretaris  : H. Buchari Tamam
Sekretaris II : H. Nawawi Duski
Bendahara : H. Hasan Basri
Anggota : K.H. Taufiqurrahman
  : Mochtar Lintang
  : H. Zainal Abidin Ahmad
  : Prawoto Mangkusasmito
  : H. Mansur Daud Datuk Palimo Kajo
  : Prof. Osman Raliby
  : Abdul Hamid

 

Pada tahun 1983, karena banyak anggota pengurus yayasan yang wafat, dilakukan penyegaran kepengurusan sehingga komposisinya menjadi sebagai berikut:

Ketua  Mohammad Natsir 
Wakil Ketua I : Dr. H.M. Rasjidi
Wakil Ketua II : H.M. Yunan Nasution
Wakil Ketua III : Dr. Anwar Harjono, S.H.
Sekretaris  : H. Buchari Tamam
Wakil Sekretaris : H. Nawawi Duski
Bendahara : K.H. Hasan Basri
Anggota : Boerhanoeddin Harahap, S.H.
  : K.H.A. Malik Ahmad
  : Prof. Osman Raliby
  : Ir. Ahmad Mas’oed Luthfi

 

Pada tahun 1989, kembali dilakukan penyegaran kepengurusan, menjadi sebagai berikut:

Ketua  Mohammad Natsir 
Wakil Ketua I : Dr. H.M. Rasjidi
Wakil Ketua II : H.M. Yunan Nasution
Wakil Ketua III : Dr. Anwar Harjono, S.H.
Sekretaris  : H. Buchari Tamam
Wakil Sekretaris : Hasanuddin Abu Bakar
Bendahara : K.H. Hasan Basri
Anggota : K.H. Abdul Malik Ahmad.
  : Prof. Osman Raliby
  : Ir. Ahmad Mas’oed Luthfi
  : K.H. Sholeh Iskandar
  : K.H.M. Rusjad Nurdin
  : Mohammad Soleiman
  : Drs. Saifullah Mahyuddin, M.A.
  : Ir. Soleh Widodo, M.Ed
  : H. Hussein Umar
  : Abdul Wahid Alwi, M.A.

 

Setelah M. Natsir wafat pada 14 Sya’ban 1413/6 Februari 1993, berdasarkan hasil Pertemuan Silaturrahmi Keluarga Besar Dewan Dakwah yang diselenggarakan di Jakarta pada 1-2 Dzulqa’idah 1413/23-24 April 1993, diputuskan komposisi kepengurusan sebagai berikut:

Ketua I Prof. Dr. H.M. Rasjidi
Ketua II : H.M. Yunan Nasution
Ketua III/Harian : Dr. Anwar Harjono, S.H.
Ketua IV : K.H.M. Rusjad Nurdin
Sekretaris  : H. Buchari Tamam
Wakil Sekretaris : H. Hasanuddin Abu Bakar
Bendahara : H. Moh. Nazief, S.E.
Anggota : K.H. Hasan Basri
  : H. A. Wahid Alwi, M.A.
  : Ir. Ahmad Mas’oed Luthfi
  : Drs. Saifullah Mahyuddin, M.A.
  : Mohammad Soleiman
  : H. Hussein Umar.
  : K.H.A. Malik Ahmad
  : Prof. Osman Raliby
  : K.H.A. Latief Muchtar, M.A.
  : K.H. Drs. Didin Hafidhuddin, M.Sc.
  : K.H. Affandi Ridhwan
  : Dr. H.M. Amien Rais, M.A.

 

Penyegaran kepengurusan kembali dilakukan pada tahun 1997. Berdasarkan SK No. 003 / A-DDIIP / 1417 / 1997, ditetapkan komposisi kepengurusan sebagai

Ketua Umum Dr. H. Anwar Harjono, S.H.
Ketua : Prof. Dr. H.M. Rasjidi
Ketua : K.H.M. Rusjad Nurdin
Wakil Ketua : Mohammad Soleiman
Wakil Ketua : Drs. H.M. Cholil Badawi
Wakil Ketua : Ir. H.A.M. Luthfi
Wakil Ketua : H. Hartono Mardjono, S.H.
Wakil Ketua : Dr. Ir. H.A.M. Saefuddin
Sekretaris Umum : H. Hussein Umar
Sekretaris : H. Hasanuddin Abu Bakar
Sekretaris : H. Mas’adi Sulthani, M.A.
Sekretaris : H.M. Noer, M.A.
Bendahara : H.M. Nazief, S.E.
Wakil Bendahara : H. Tamsil Linrung
Anggota : K.H. Hasan Basri
  : Prof. H. Osman Raliby
  : H.A. Wahid Alwi, M.A.
  : K.H.A. Latief Muchtar, M.A.
  : K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc.
  : K.H. Affandi Ridhwan
  : Dr. H.M. Amien Rais, M.A.
  : H. Muzayyin Abdul Wahab, Lc
    H. Wardi Kamili
  : H. Ramlan Mardjoned
  : H. Heman Khalilulrahman
  : H. Amlir Syaifa Yasin
  : H. Syuhada Bahri
  : H. Syariful Alamsyah, Lc
  : Drs. H. Misbach Malim, Lc
  : H. Zulfi Syukur
  : H. Amlika Hs. Dt. Maradjo
  : H. Hardi M. Arifin
  : Ramli Hutabarat, S.H., M.Hum
  : Drs. Muhsin, MK
  : H. Mazni Mohd. Yunus, Lc
  : Prof. Dr. A. Rahman Zainuddin
  : H. Abdul Wahid Sahari, M.A.
  : Prof. Drs. H. Dochak Latief
  : H. Faisal Baasir, S.H.
  : H. Fadhol Arofah, M.A.
  : H. Farid Prawiranegara, AK.
  : H. Geys Amar, S.H.
  : Prof. Dr. H. Hasan Langgulung
  : K.H.A. Khalil Ridwan, Lc
  : Dr. Ir H. Imaduddin Abdulrahim
  : Dr. H. Kuntowijoyo
  : Drs. H. Mohammad Siddiq, M.A.
  : Prof. H. Daud Ali, S.H.
  : Dr. H. Muslim Nasution
  : H. Moeslim Aboud Ma’ani, M.A.
  : H. Nuhtada Labina
  : Dr. H. Nurhay Abdurrahman
  : Drs. H. Nursal
  : Drs. H. Nurul Huda
  : H. Rais Ahmad, S.H., M.A.
  : H. Rusydi, S.H., S.Ag.
  : Dr. H. Sohirin Mohammad Sholihin
  : Drh. H. Taufiq Ismail
  : Dr. H. Yahya Muhaimin, M.A
  : Dr. H. Yusril Ihza Mahendra, S.H.
  : Prof. Dr. H. Yusuf Amir Feisal.

 Berdasarkan keputusan Musyawarah Besar Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang dilaksanakan di Bogor tanggal 22 s/d 25 Agustus 2005 dan disesuaikan dengan undang-undang yayasan yang baru, dibentuk susunan Badan Pembina, Pengawas dan Pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia periode 2005 s/d 2010 sebagai berikut :

Badan Pembina

Ketua  Drs. H.M. Cholil Badawi
Wakil Ketua : Ir. H.A.M. Luthfi
Wakil Ketua : K.H. Nadjih Ahjad
Anggota : Prof. DR. H.A.M. Saefudin
  : K.H. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i
  : Drs. H. Anwar Saleh
  : K.H. Abdul Wahid Sahari, MA
  : K.H. Dadun Abdul Qahar
  : Dr. H. Didin Hafiduddin, M.Sc
  : DR. Ir. H.M. Imaduddin A.R
  : Prof. DR. Jusuf Amir Feisal
  : Rusydi Hamka
  : KH. Shiddiq Amin
  : Drh. Taufiq Ismail
  : Prof. DR. Yahya A. Muhaimin
  : Yudo Paripurno, SH
  : DR. Zuhal Abdul Qadir

 

Badan Pengawas

Ketua  Drs. Mohammad Siddik
Anggota : DR. H. Saifudin Bachrun
  : Ir. H. Ahmad Fauzi Natsir
  : Farid Prawiranegara, MBA
  : Drs. Zulkifli Hasan

 

Pengurus Harian

Ketua Umum Hussein Umar
Ketua : KH. A. Khalil Ridwan
Ketua : H. Mas’adi Sulthani, MA
Ketua : DR. H. Mohammad Noer
Ketua : Adian Husaini, MA
Ketua : DR. Daud Rasyid
Ketua : H. Ramlan Mardjoned
Ketua : H. Syuhada Bahri
Ketua : Hj. Ida Farida Natsir
     
Sekretaris Umum H. Abdul Wahid Alwi, MA
Sekretaris H. Muzayyin Abdul Wahab, Lc
Sekretaris H. Amlir Syaifa Yasin, MA
Sekretaris  H. Hardi M. Arifin
Sekretaris Zahir Khan, SH. Dipl. TEFL
Sekretaris H. Syariful Alamsyah, Lc
Sekretaris Drs. H. Misbach Malim, Lc. M.Sc
Sekretaris Mohammad Avid Solihin, MM
Sekretaris Dra. Hj. Andi Nurul Jannah, Lc
     
Bendahara H. Edi Setiawan
Wakil Bendahara H. Makmun Daud
Wakil Bendahara Dra. Hj. Irmawati M. Nazief

 

Pada tanggal 19 April 2007, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Bapak Hussein Umar wafat, kemudian berdasarkan rapat Badan Pembina diputuskanlah susunan Pengurus Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia pengganti antar waktu  sampai tahun 2010 yang susunannya adalah sebagai berikut :

Ketua Umum H. Syuhada Bahri
Ketua : KH. A. Khalil Ridwan
Ketua : H. Mas’adi Sulthani, MA
Ketua : DR. H. Mohammad Noer
Ketua : Adian Husaini, MA
Ketua : DR. Daud Rasyid
Ketua : H. Ramlan Mardjoned
Ketua : H. Syariful Alamsyah
Ketua : Hj. Ida Farida Natsir
     
Sekretaris Umum : H. Abdul Wahid Alwi, MA
Sekretaris : H. Muzayyin Abdul Wahab, Lc
Sekretaris : H. Amlir Syaifa Yasin, MA
Sekretaris : H. Hardi M. Arifin
Sekretaris : Zahir Khan, SH. Dipl. TEFL
Sekretaris : H. Suwito Suprayogi
Sekretaris : Drs. H. Misbach Malim, Lc. M.Sc
Sekretaris : Drs. Avid Solihin, MM
Sekretaris : Dra. Hj. Andi Nurul Jannah, Lc
     
Bendahara : H. Edi Setiawan
Wakil Bendahara : H. Makmun Daud
Wakil Bendahara : Dra. Hj. Irmawati M. Nazief

 

     

 

Hermeneutika dan Fundamentalisme

 

Jumat, 02 Mei 2008
Ahad (9/12/2007) lalu, di Solo, seorang mahasiswa pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta memberi saya sebuah buku berjudul “Is Religion Killing Us? (Membongkar Akar Kekerasan dalam Bibel dan al-Qur’an)”. Sudah cukup lama saya memiliki edisi bahasa Inggris buku karya Jack Nelson-Pallmeyer tersebut. Banyak hal bisa dikritisi dari isi buku ini, karena penulisnya sudah menggugat kesucian teks Al-Quran. Misalnya, penulis berkesimpulan, bahwa ”Masalah Islam yang identik dengan kekerasan tidak hanya sebatas adanya ketidaksesuaian teks-teks, tetapi berakar pada banyaknya ayat-ayat dalam Qur’an yang melegitimasi kekerasan, peperangan dan intoleransi.” (hal. 165).

Penulis buku ini juga dengan semena-mena membuat kesimpulan, bahwa ”Kekerasan religius yang lazim diantara tradisi kepercayaan penganut monoteisme tidak semata-mata sebagai masalah distorsi penafsiran kaum beriman terhadap teks-teks suci mereka. Hal itu lebih pada masalah yang berakar dalam tradisi kekerasan Tuhan yang terletak pada inti teks-teks suci tersebut.” (hal. 180).

Tapi, Nelson-Pallmeyer menulis buku tersebut, berangkat dari pengalaman dan pemahamannya sebagai seorang Kristen di Barat. Pemahamannya terhadap Al-Quran dan Islam tampak dangkal. Maka, yang lebih menarik, adalah membaca kata pengantar edisi bahasa Indonesia buku ini yang ditulis oleh tokoh Katolik Dr. Haryatmoko S.J. dan khususnya oleh Dr. Hamim Ilyas, seorang dosen UIN Yogya yang juga anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah.

Karena cukup menarik, kita perlu menyimak kata pengantar Dr. Hamim Ilyas yang berjudul ”Akar Fundamentalisme Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Berikut ini paparan Hamim Ilyas tentang fundamentalisme:

”Fundamentalisme adalah satu tradisi interpretasi sosio-religius (mazhab) yang menjadikan Islam sebagai agama dan ideologi, sehingga yang dikembangkan di dalamnya tidak hanya doktrin teologis, taoi juga doktrin-doktrin ideologis. Doktrin-doktrin itu dikembangkan oleh tokoh-tokoh pendiri fundamentalisme modern, yakni Hasan al-Banna, Abu A’la al-Maududi, Sayyid Quthb, Ruhullah Khumaini, Muhammad Baqir al-Shadr, Abd as-Salam Faraq, Sa’id Hawa dan Juhaiman al-Utaibi.”

Menurut Hamim Ilyas, ”Karakteristik fundamentalisme adalah skripturalisme, yakni keyakinan harfiah terhadap kitab suci yang merupakan firman Tuhan yang dianggap tanpa kesalahan. Dengan keyakinan itu dikembangkan gagasan dasar bahwa suatu agama tertentu dipegang kokoh dalam bentuk literal dan bulat, tanpa kompromi, pelunakan, reinterpretasi dan pengurangan.”

Lalu, Hamim melanjutkan tulisannya tentang fundamentalisme dengan mengutip pendapat Azyumardi Azra dan Martin E. Marty, dengan menjelaskan sebagai berikut:

Pertama, oposionalisme. Fundamentalisme dalam agama mana pun mengambil bentuk perlawanan – yang bukannya tak sering bersifat radikal – terhadap ancaman yang dipandang akan membahayakan eksistensi agama, baik yang berbentuk modernitas, sekularisasi maupun tata nilai Barat. Acuan atau tolok ukur untuk menilai tingkat ancaman itu tentu saja adalah kitab suci, yang dalam fundamentalisme Islam adalah Al-Quran dan pada batas-batas tertentu juga hadits Nabi.
Kedua, penolakan terhadap hermeneutika. Kaum fundamentalis menolak sikap kritis terhadap teks. Teks al-Qur’an harus dipahami secara literal sebagaimana bunyinya, karena nalar dipandang tidak mampu memberikan interpretasi yang tepat terhadap teks. Meski bagian-bagian tertentu dari teks kitab suci boleh jadi kelihatan bertentangan satu sama lain, nalar tidak dibenarkan melakukan semacam ”kompromi” dan menginterpretasikan ayat-ayat tersebut.

Ketiga, penolakan terhadap pluralisme dan relativisme. Bagi kaum fundamentalis, pluralisme merupakan pemahaman yang keliru terhadap teks kitab suci.

Keempat, penolakan terhadap perkembangan historis dan sosiologis. Kaum fundamentalis berpandangan bahwa perkembangan historis dan sosiologis telah membawa manusia semakin jauh dari doktrin literal kitab suci… Karena itulah, kaum fundamentalis bersifat a-historis dan a-sosiologis; dan tanpa peduli bertujuan kembali kepada bentuk masyarakat ”ideal” – seperti pada zaman kaum salaf – yang dipandang mengejawantahkan kitab suci secara sempurna.

”Karakteristik fundamentalisme yang telah mengakar membawa konskuensi logis munculnya doktrin-doktrin yang justru mengekang, menyiksa diri dan membatasi ruang gerak, bukannya membebaskan. Doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah. Dalam doktrin ini Islam tidak hanya diajarkan sebagai sistem agama, tetapi sebagai sistem yang secara total mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial,” tulis sang dosen tafsir UIN Yogya ini.

Ditambahkan lagi, bahwa ”Akar fundamentalisme yang berasal dari kesalahan menafsirkan teks suci al-Qur’an ternyata benar-benar mencoreng nama Tuhan (Allah Swt) dan al-Qur’an itu sendiri. Menjadikan Islam sebagai idoelogi yang mendorong timbulnya ekstrimisme dan radikalisme dapat diyakini sebagai perilaku berlebih-lebihan dalam beragama yang jelas-jelas dilarang.”

Demikianlah kutipan paparan Dr. Hamim Ilyas tentang fundamentalisme.

Ringkasnya, menurut Hamim Ilyas, fundamentalis adalah orang-orang yang skripturalis atau literalis dalam memahami Al-Quran, menolak hermeneutika, menolak pluralisme, menolak relativisme dan sebagainya. Paparan dosen tafsir UIN Yogya tentang ”fundamentalisme Islam” ini – sebagaimana banyak cendekiawan lainnya – masih sebatas membeo definisi fundamentalisme yang aplikasikan oleh para ilmuwan Barat yang merujuk kepada pengalaman sosial-keagamaan kaum Yahudi dan Kristen. Jika dicermati, tulisan ini sebenarnya serampangan dan asal-asalan.

Kita tentu sudah maklum, bahwa istilah dan wacana fundamentalisme keagamaan dikembangkan oleh Barat menyusul berakhirnya Perang Dingin. Seperti ditulis Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order, bahwa adalah manusiawi untuk membenci karena untuk penentuan jati diri dan membangun motivasi, masyarakat perlu musuh. (It is human to hate. For self definition and motivation people need enemies: competitors in business, rivals in achievement, opponents in politics).

Sejak itu, wacana ”fundamentalisme keagamaan”, khususnya ”fundamentalis Islam” dikembangkan. Banyak sarjana dibayar untuk meneliti dan menulis tentang masalah ini. Seminar-seminar tentang fundamentalisme digelar. Media massa memainkan peran yang dominan dalam pembentukan opini negatif tentang kaum yang dicap sebagai fundamentalis.

Istilah-istilah “Islam fundamentalis”, “Islam eksklusif”, “Islam militan”,Islam radikal”, “Islam konservatif”, dan sejenisnya memang sering digunakan untuk memberikan stigma negatif terhadap kelompok-kelompok Islam yang pemikirannya tidak sejalan dan tidak disukai oleh Barat. Ilmuwan Yahudi, Prof. Bernard Lewis, dalam bukunya The Crisis of Islam menyatakan, bahwa fundamentalis Islam adalah jahat dan berbahaya, dan menyebutkan bahwa fundamentalis adalah anti-Barat. (Fundamentalists are anti-Western in the sense that they regard the West as the source of the evil that is corroding Muslim society).

Dalam “Catatan Pinggirnya” di Majalah Tempo, 27 Januari 2002, Gunawan Muhammad menutup tulisannya dengan kalimat: “Fundamentalisme memang aneh dan keras dan menakutkan: ia mendasarkan diri pada perbedaan, tetapi pada gilirannya membunuh perbedaan.” Lalu, pada pidatonya di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 21 Oktober 1992, Nurcholish Madjid mengatakan: “Kultus dan fundamentalisme adalah sama berbahayanya dengan narkotika.”

Genderang perang yang ditabuh oleh Barat dan sekutu-sekutunya dalam melawan fundamentalisme agama tentu saja dibuat dalam perspektif Barat dan untuk kepentingan Barat. Karena itulah, proyek ini mendapatkan kucuran dana yang sangat besar. Salah satu yang menonjol adalah proyek liberalisasi Islam. Karena itu, kita tentu maklum dengan munculnya orang-orang seperti Hamim Ilyas ini, yang entah karena ketidaktahuannya atau karena hawa nafsunya membuat opini-opini yang menyudutkan kaum Muslim dan cendekiawan Muslim tertentu seperti al-Maududi, dengan memberi stigma negatif semacam “fundamentalis” dan sebagainya.

Kita bisa saja tidak setuju dengan sebagian pemikiran Hasan al-Banna atau Abul A’la al-Maududi. Tetapi, untuk apa memberi cap bahwa mereka adalah fundamentalis, literalis, anti-pluralis, dan sebagainya? Tuduhan-tuduhan seperti ini sebenarnya sangat naif dan bodoh, apalagi dilakukan oleh seorang doktor dan dosen tafsir. Abul A’la al-Maududi, misalnya, adalah pemikir besar yang karya-karyanya telah memberi inspirasi dan manfaat bagi jutaan kaum Muslim di seluruh dunia.

Lalu, dikatakan oleh Hamim Ilyas, bahwa salah satu ciri fundamentalis adalah menolak hermeneutika. Pada muktamarnya di Boyolali tahun 2004, NU juga menolak penggunaan hermeneutika untuk Al-Quran. Apa NU juga fundamentalis? Di Muhammadiyah sendiri, banyak tokohnya yang telah menulis secara kritis bahaya penggunaan hermeneutika untuk Al-Quran. Apa mereka semua itu adalah kaum fundamentalis?

Jika dikatakan Hamim Ilyas, bahwa “doktrin sentral fundamentalisme adalah Islam kaffah” maka, pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang, juga telah ditetapkan tujuan jangka panjang Persyarikatan Muhammadiyah, yakni “tumbuhnya kondisi dan faktor-faktor pendukung bagi terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.” Bukankah masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang mau diwujudkan oleh Muhammadiyah juga sesuai dengan konsep “Islam kaffah”? Apa Muhammadiyah juga dicap fundamentalis karena mencita-citakan terbentuknya masyarakat Islam yang kaffah?

Kita pun patut bertanya kepada doktor tafsir UIN Yogya ini, apa salahnya jika kaum Muslim ingin menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupannya? Apa salahnya jika kaum Muslim menolak paham Pluralisme Agama, sebagaimana telah difatwakan oleh MUI dan banyak ulama lainnya? Sebelum MUI menolak paham ini tahun 2005, pada tahun 2000, Vatikan juga telah terlebih dahulu menolak paham tersebut. Juga, apa salahnya jika kaum Muslim menolak paham relativisme, yang memang merupakan paham yang merusak pikiran dan keimanan?

Sebenarnya, jika dicermati, sang dosen UIN Yogya ini pun tidak konsisten dengan paham relativisme yang diagungkannya sendiri. Lihat saja, gaya tulisannya yang menghujat dan menyalah-nyalahkan apa yang disebutnya paham fundamentalisme! Artinya, dalam hal ini, dia juga telah menjadi fundamentalis, karena merasa sok benar sendiri, dan tidak menerima pandangan lain, selain pandangannya sendiri.

Di akhir tulisannya, Dr. Hamim Ilyas mengkaitkan aksi terorisme dengan tafsir fundamentalis. Katanya: “Akhirnya, terorisme yang dilakukan oleh sebagian umat Islam, dalam kenyataannya merupakan fakta yang direkayasa, mungkin oleh Barat dan mungkin juga oleh Al-Qaidah pimpinan Usama bin Ladin. Perbuatan mereka yang merusak itu sedikit banyak berhubungan dengan tafsir fundamentalisme ini sebagai basis ideologis.”

Kesimpulan yang mengaitkan terorisme dengan tafsir keagamaan sebenarnya terlalu jauh. Ada yang menarik kesimpulan sederhana, karena pelaku aksi pengeboman membaca buku-buku Ibn Taimiyah, kemudian dikatakan, bahwa buku Ibn Taimiyah adalah sumber terorisme. Padahal, ratusan juta orang telah membaca karya-karya Ibn Taimiyah, dan mereka tidak melakukan pengeboman. Karena itulah, ada sebagian politisi Barat yang meminta agar Al-Quran dilarang, hanya karena dia melihat para pelaku pengeboman juga membaca Al-Quran.

Dengan menggunakan sedikit saja kecerdasan, kita bisa membuktikan, bahwa aksi-aksi terorisme yang terjadi di berbagai penjuru dunia bukanlah dipicu oleh paham keagamaan, tetapi lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama faktor ketidakadilan. Para pengikut Hasan al-Banna di Palestina melakukan aksi jihad – yang oleh Zionis Israel dikatakan sebagai “terorisme” — karena mereka terjajah dan terzalimi di negerinya. Di zaman penjajahan Belanda, kita juga membanggakan pahlawan-pahlawan kita yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk meraih kemerdekaan, meskipun oleh penjajah dilabeli dengan kaum ekstrimis, dan sebagainya. Di Indonesia, para pengkit Hasan al-Banna atau pengagum Abul A’la al-Maududi tidak melakukan aksi-aksi pengeboman.

Karena itulah, sangatlah tidak tepat jika masalah fundamentalisme dan terorisme dikaitkan dengan penolakan terhadap hermeneutika dan relativisme. Ini sudah sangat berlebihan dan keterlaluan dalam membebek dan membeo saja pada pendapat ilmuwan Barat. Orang yang menolak penggunaan metode hermeneutika dan menggunakan ilmu Tafsir untuk memahami Al-Quran sudah dimasukkan “kotak maut” bernama fundamentalis. Bahkan, kaum Muslim yang meyakini kebenaran agamanya sendiri, yang berjuang untuk menjadi Muslim yang kaffah juga divonis sebagai “fundamentalis”, yang dikonotasikan sudah dekat dengan “teroris”.

Di era reformasi dan penjajahan modern ini, sudah begitu banyak aset-aset umat dan bangsa yang sudah hilang. BUMN sudah banyak yang dijual. Kekayasan alam telah punah. Ekonomi, politik, teknologi, budaya, dan sebagainya juga telah “dikuasai”. Yang masih tersisa dalam diri kita saat ini adalah kemerdekaan iman dan pemikiran; kemerdekaan untuk meyakini kebenaran agama kita sendiri, kemerdekaan untuk memahami Al-Quran dengan cara kita sendiri, bukan dengan cara agama atau budaya lain.
Kini, sisa-sisa milik kita yang paling pribadi dan vital itu pun mau dirampas pula. Kita tidak boleh meyakini agama kita sendiri yang benar, dan harus memeluk paham pluralisme dan relativisme. Kita tidak boleh lagi menggunakan Ilmu Tafsir kita sendiri dalam memahami Al-Quran, karena sudah ada ilmu baru yang disodorkan Barat yang bernama hermeneutika. Intinya, kita disuruh beragama, sebagaimana orang-orang Barat beragama.

Sayang sekali, saat ini, kemerdekaan iman dan pikiran kita itulah yang hendak mereka rampas, baik dengan cara halus maupun kasar. Kita bisa paham, jika yang berniat merampas kemerdekaan iman dan pikiran kita adalah orang-orang sejenis Snouck Hurgronje dan kawan-kawannya. Tapi, alangkah sedih dan prihatinnya kita, jika yang melakukan perampasan iman dan pikiran kita itu adalah oknum-oknum bergelar doktor dalam bidang agama, yang sedang berkuasa di lembaga-lembaga agama. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kekuatan kepada kita untuk mempertahankan iman dan pemikiran keislaman kita di tengah zaman yang penuh dengan fitnah ini. Amin.

 

1. Dewan Da’wah Kirim Duta Da’wah ke Pedalaman
(Berita/Berita)

…dalaman adalah salah satu rangkaian dari program kaderisasi 1000 ulama Dewan Da’wah. “Setelah dibeasiswakan, para peserta kader ulama harus mengabdi kepada umat di pedalaman,” ujarny…

Sabtu, 10 April 2010

2. Pengumuman Hasil Seleksi Mahasiswa Program S2 UIKA Bogor
(Berita/Berita)

Setelah melalui proses seleksi tahap awal yang dilakukan oleh tim penyeleksi penerimaan mahasiswa baru beasiswa tahun 2009 Program Magister Pendidikan dan Pemikiran Islam di Univeritas Ibnu Khald

Kamis, 06 Agustus 2009

3. Kenangan Subuh Bagi Kafilah Da’wah Papua
(Berita/Berita)

…gunakan metode Iqra’. Program-program lainnya seperti Tabligh Akbar, Bakti sosial, santunan-santunan berbeasiswa, pendampingan masyarakat menjelang dan selama bulan Ramadhan serta lain nya akan di…

Sabtu, 25 Juli 2009

4. Da’i Bantu Umat Atasi Kemiskinan
(Berita/Berita)

…ibat G 30S/PKI. Jumlah warga kini tinggal 100 KK. Gereja Bethel Slawi sering membagikan sembako dan memberi beasiswa kepada warga Wadas Gantung. Ada yang terbujuk untuk murtad dan banyak yang bertahan…

Senin, 18 Mei 2009

5. Melawan Pemurtadan di Kutai Barat
(Berita/Berita)

…ulitan dibujuk untuk mau menerima bantuan mereka asal mau aktif mengikuti kegiatan gereja. Anak-anak diberi beasiswa untuk sekolah SMP, SMU dan Universitas. Rumah Sakit Katholik dan Polikliniknya siap…

Kamis, 16 April 2009

6. Aktifitas Da’wah di Pelosok Jepara
(Berita/Berita)

…Penghibur Kelet melalui gereja di desa Bondo Kec. Bangsri dan Kec Keling Kab Jepara. Yayasan itu memberikan beasiswa dan sering mengadakan piknik bagi anak-anak muslim yang tertari kepada bujuk rayu m…

Selasa, 09 September 2008

7. Silaturrahim Da’i Nusa Tenggara Timur
(Berita/Berita)

…rap bantuan Dewan Da’wah. Bagi da’i yang su­dah S1 dan ingin melanjutkan ke jenjang S2, mohon beasiswa gratis. Banyak anak-anak non muslim yang orangtuanya mengizinkan anaknya dididik se…

Senin, 11 Agustus 2008

8. Bina Umat Lewat Da’wah Yang Efektif
(Berita/Berita)

…olik Universitas Parahiyangan Bandung. Missionaris sering membagikan sembako, kredit pertanian tanpa bunga, beasiswa dan pelayanan kesehatan gratis melalui Posyandu.   Diharapkan kegiatan d…

Jumat, 04 Juli 2008

9. Gerakan Orang Tua Asuh dan Brantas Rentenir (Laporan Da’i Gresik Jawa Timur)
(Berita/Berita)

Beasiswa yang diberikan oleh misionaris Kristen kepada anak-anak muslim telah menggugah da’i Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Subhan Syarif untuk membentuk Gerakan Orang Tua Asuh di temp

Selasa, 01 Juli 2008

10. Dewan Da’wah Jawa Barat adakan Musywil
(Berita/Berita)

…elakukan berbagai aktifitas antara lain pelayanan kesehatan lewat Puskesmas 2x sebulan (gratis), memberikan beasiswa kepada anak yatim dan dhuafa, memberikan bantuan korban bencana alam (insidental), …

Selasa, 01 Juli 2008

11. Konferensi Islam Sedunia Di Kampala (Uganda)
(Dunia Islam/Dunia Islam)

…n cendikiawan. Bahasa Arab juga diperkenalkan di Universitas Makarere Uganda. WICS dalam memberikan bantuan beasiswa kepada masyarakat Ugnada sesuai dengan kemampuannya tanpa memandang agama dan warna…

Rabu, 14 Mei 2008

12. Peresmian Masjid Gadhafi di Kampala (Uganda)
(Dunia Islam/Dunia Islam)

…n cendikiawan. Bahasa Arab juga diperkenalkan di Universitas Makarere Uganda. WICS dalam memberikan bantuan beasiswa kepada masyarakat Ugnada sesuai dengan kemampuannya tanpa memandang agama dan warna…

Jumat, 25 April 2008

About these ads