SEKOLAHNYA MANUSIA

Munif Chatib:

 

Sekolahnya Manusia. Bukan Sekolah Bebek, juga bukan Sekolah Robot.

 

Teachers Guide/2 Mei 2009. Luar biasa! Sebuah buku “Sekolahnya Manusia” yang diterbitkan oleh Mizan, karya Munif Chatib, diluncurkan pada 1 Mei kemarin di Mizan MP Point, Jakarta. Sebuah persembahan yang manis menjelang Hari Pendidikan Nasional 2 Mei hari ini.

Haidar Bagir (Mizan, dan pemikir pendidikan), Kak Seto Mulyadi, dan Sukiman (Depdiknas) dengan antusias menyambut kehadiran buku ini yang akan sangat bermakna bagi arah pengembangan pendidikan nasional yang saat ini sepertinya kehilangan arah. Meski udara dingin dan banyak tempat duduk di tenda teras samping terkena tampias hujan, toh hadirin terus bertahan mendengarkan uraian Munif Chatib dan Kak Seto yang menarik dan mencerahkan.

Di tangan Munif Chatib, pemahaman multilple intelligence yang diperkenalkan oleh Howard Gardner, berhasil ditransformasikan menjadi proses pembelajaran yang manusiawi dan aplikasi. Jika selama ini banyak sekolah yang seolah meraba-raba bagaimana mendidik anak dengan tepat sesuai dengan potensi dirinya, buku ‘Sekolahnya Manusia’ ini adalah jawaban. Disusun dari rangkaian pengalaman implementasi kecerdasan majemuk ini di puluhan sekolah di Indonesia, merupakan intisari dari proses-proses pembelajaran yang ingin kita cari selama ini.

Munif Chatib, memulai pengembangan penerapan kecerdasan majemuk di sekolah Yayasan Malik Ibrahim Gresik, kini bernama YIMI Gresik, Jawa Timur. Ia juga mengembangkan lebih jauh suatu metode test, yang disebutnya Multiple Intelligences Research (MIR). “Sekolah unggulan itu adalah yang menerima anak yang bodoh dan nakal, lalu dengan prosesnya yang unggul mengubah mereka menjadi anak yang baik, pintar, dan berkepribadian,” begitu pendapat Munif Chatib. Jadi, sekolah unggul itu adalah sekolah yang unggul dalam proses-prosesnya.

Saat ini jutaan siswa kita bersekolah di sekolah-sekolah dengan guru dan metoda pembelajaran yang justru membuat mereka tertekan, depresi, menjadi nakal dan bodoh, mati kreatifitas. Tak peduli pada potensi anak. Tak peduli pada kemanusiaan mereka yang hakiki, sebagai anak manusia yang ingin tumbuh besar dewasa dan menjadi mandiri dan dapat menyumbang bagi kehidupan. “Dan UN merupakan salah satu masalah terbesar dalam pendidikan nasional kita,” keluh Haidar Bagir.

Kemerdekaan pendidikan telah dirampas dan tereduksi oleh sistem pendidikan nasional yang kurang manusiawi. Akhirnya terciptalah generasi bebek, generasi robot. “Pendidikan mengajarkan kekerasan, maka kita melihat kekerasan ada di mana-mana,” ungkap Kak Seto.

Buku ini wajib dibaca oleh kalangan pendidik, birokrasi pendidikan, para orangtua, juga menteri pendidikan mendatang. Semoga kita semua dapat mengambil manfaat dari buah pemikiran Munif Chatib bagi perbaikan pendididikan di sekolah putra-putri kita di waktu mendatang. Selamat Pak Munif Chatib!

 

 

  Sekolahnya Manusia, bukan sekolah robot

« on: April 28, 2009, 10:47:25 am »

 

Belajar = Bermain dan Bermain = Belajar

Sekolah bagi Edi tak ubahnya  penjara. Ketika masih di TK, Edi tak pernah mau berangkat sekolah.  Baginya, sekolah hanya menghalangi keasyikannya bermain.  Akibatnya, Edi tak bisa membaca dan menulis serta selalau ‘fobia’ pada hal-hal yang berbau sekolah.  Orangtua Edi dibuat resah oleh tingkah laku sang anak yang dianggap nyeleneh dari kebiasaan umum anak-anak seusianya.  Apakah hal ini merupakan indikator bahwa Edi adalah anak yang malas?  Ataukah justru jenis pembelajaran di sekolah yang menghalangi tumbuh kembangnya kecerdasan Edi?

Pertanyaan mulai terjawab ketika Edi memasuki tingkat sekolah dasar.  Pada masa-masa awal bersekolah, Edi masih bermalas-malasan dan tidak semangat dalam mengikuti  pelajaran.  Untungnya guru-guru di SD tersebut mampu mengenali potensi kecerdasan Edi, yaitu kinestetis (gerak) dan spasial visual (ruang).

Metode pembelajaran klasikal-ortodoks yang mewajibkan anak didik duduk manis dan diam di sebuah ruang berukuran 5 x 15 m selama enam jam atau bahkan lebih tentulah sangat membosankan bagi seorang Edi yang sangat menyukai gerak dan ruang luas.  Setelah menyadari jenis kecerdasan yang dimiliki Edi, para guru memberikan aktivitas  yang membuat Edi senang dan tertarik mengikutinya seperti aktivitas learning by sport dan learning by painting.

Saat belajar bahasa Indonesia, Edi tidak lagi duduk di kelas dan mendengarkan guru ‘berceramah’.  Edi bersama teman-teman dan guru bahasa Indonesianya keluar dari kelas dan berkeliling sekolah, mulai dari lapangan, tempat parkir, bahkan sesekali ke luar sekolah. Saat berkeliling itulah, guru mempersilakan Edi dan teman-temannya untuk secara bergantian menceritakan apa saja yang menurutnya menarik untuk diceritakan.  Guru juga bercerita dan menjelaskan berbagai benda yang ditemui di jalan. Setelah itu barulah para siswa kembali ke kelas untuk menceritakan perjalanan yang baru saja dilakukan. 

Alhasil, Edi mulai enjoy dengan sekolah karena kegiatan belajar dikemas sedemikian rupa sehingga Edi merasakan bahwa belajar adalah bermain dan bermain adalah belajar.  Kini, sekolah adalah tempat bermain paling mengasyikkan bagi Edi dan murid-murid lain yang memiliki tipe kecerdasan yang sama dengan Edi.  Bahkan, saking asyiknya dengan sekolah, pada saat sakit pun Edi masih ingin masuk sekolah untuk belajar.  Luar biasa!


Kisah dari Sekolahnya Manusia, Sekolah Berbasis Multiple Intelligences di Indonesia (penulis: Munif Chatib), adalah sebuah contoh tentang keberhasilan dari pembelajaran sistem multiple intelligences.

Seandainya sekolah-sekolah di Indonesia sudah menerapkan Multiple Intelligences

 

Mencari Sekolahnya Manusia untuk Anak : Quality Time di Lazuardi GIS

 Sunday, December 13, 2009 at 10:41pm

Melewati bulan Desember beberapa orang tua mulai ribut dengan urusan memilih sekolah untuk anak di jenjang manapun, untuk kemudian menetapkan strategi apa yang perlu dipersiapkan anak dan orang tuanya untuk masuk sekolah tersebut.

Betapa banyak sekolah yang mengaku favorit, dan menetapkan standar masuk yang tinggi kemudian terbukti tidak manusiawi dalam mendidik anak kita. Mulai dari SD sampai SMU. Anak kita yang di awal kehidupannya adalah seorang juara, dengan default factory setting bermodal mental climber, perlahan-lahan dirubah menjadi manusia setengah robot dengan hati dan mental yang kerdil, lewat pola ajar dalam kelas yang penuh derita. Berkat tekanan kognitif dipadu teacher talking time dan aktivitas kelas yang garing.

Pak Munif mengungkap fakta-fakta tersebut dalam seminar Mencari Sekolahnya Manusia di Lazuardi GIS hari Sabtu yang lalu. Maraknya tawuran dan meresahkannya perilaku remaja saat ini, adalah bentuk berontaknya jiwa-jiwa di dalam diri anak bangsa yang penuh tekanan, baik tekanan kognitif dari sekolah, pola asuh di rumah yang tidak mendukung plus pergaulan yang bermasalah.

Hasilnya, ketika genap pendidikan mereka di Perguruan Tinggi mereka jadi manusia pas-pasan, kalah saing di bursa tenaga kerja, tidak cukup kreatif, innovatif dan produktif untuk jadi pengusaha. Mentalnya kropos menghadapi kompetisi hidup dan gamang untuk melangkah. Walaupun pendidikan mereka terbilang tinggi, selesai S1 atau S2.

How Come..?? Bagaimana mungkin itu semua terjadi tanpa kita para ortu menyadarinya. Karena kita adalah murni hasil didikan sistem yang sama. Jadi kalau ada penolakan dari anak, baik dalam bentuk pemberontakan di dalam kelas, nilai-nilai yang tidak standar atau PR yang tidak diselesaikan, maka yang dianggap salah adalah anaknya. Ortu dengan serta merta berusaha memacu performance anak di kelas dengan segala cara yang ortu ketahui demi memompa prestasi belajarnya.

Tanpa pernah menggali dari pihak anak apa sih sebenarnya masalah dan kesulitan mereka, apa keinginan dan harapan mereka terhadap Guru, Kelas, Sekolah dan Ortunya. Kemudian berjuang memperbaiki habitat anak di sekolah dan di rumah agar anak bisa lebih bahagia dan produktif. Menurut Pak Munif umumnya sekolah yang ada saat ini hanya mampu menghasilkan genarasi Camper dan Quitter. Sungguh untuk membangun generasi Climber peran yang dilakoni sekolah pada umumnya harus direformasi. Karena sekolah berkualitas mengkontribusi 75% modal seorang Climber.

Saya terusik untuk menuliskan ini karena saya pribadi adalah contoh orang tua yang pernah melakukan tekanan kognitif pada anak. Memberi beban jiwanya dengan harpan-harapan yang saya anggap pantas buat anak, tanpa pernah berusaha mencari apa yang sebetulnya yang dia inginkan. Menganggap anak saya yang kurang berusaha saat prestasi nilainya fail, kemudian mencekokinya dengan penderitaan tambahan di rumah demi memompa prestasinya. Akibatnya Sulung saya mengalami demotivasi sekolah, padahal baru duduk di kelas 5 SD. Something Must Be Changed…

Saya pun berusaha ikut seminar ke sana ke mari demi mencerahkan pengetahuan saya tentang kebutuhan belajar anak-anak. Terakhir seminar dengan Bobbi De Porter, membawa saya pada sebuah dilema. Netta, Si Sulung jelas sudah jadi korban kejamnya pemasungan potensi otak akibat beban kognisi dan teaching style yang tidak sesuai dengan learning stylenya. Apakah saya harus menjebak 3 adiknya Fella 5.6, Faza 4.2 dan Ghazi 2.8 tahun pada jalan yang sama. Apakah ortu yang menyekolahkan anak di SD Negeri harus mengalami dilema seperti saya.

Ternyata hasil share mengatakan, banyak sekolah swasta yang mahal pun memberi tekanan yang sama. Cirinya anak tidak suka sekolah, lelah lahir batin dan butuh banyak intervensi orang tua untuk menjalani kewajiban kognisi yang mereka bawa dari sekolah seperti PR dan persiapan ulangan. Jadinya sekolah mahal yang sepertinya bonafide, lengkap dengan serentetan tes masuk, belum terjamin mampu jadi sekolahnya manusia.

So, saya semakin dicengkram kebimbangan, terpikir untuk memberi 3 anak saya Home Schooling saja, meski terbentur kurikulum yang harus dipersiapkan, butuh banyak usaha untuk siap HS. Di salah satu kesempatan Chat dengan Mba Yanti DP, beliau mengundang saya untuk bertemu di Sharing Bintang Bangsaku dengan Margareth Shore, seorang aktivis pendidikan dari Ausie yg mendalami Early Childhood Education. Beliau juga mendirikan Sekolahnya Manusia di Jogja “My School”.

Dari sharing itu Bu Margareth mengatakan.. kalau anak kita bukan tipe yang bisa duduk manis karena cenderung kinestetik berat, maka mendudukkan mereka di bangku kelas utk mendengarkan teacher talking time dan mengerjakan tugas yang penuh dengan menulis adalah sebuah upaya pembunuhan karakter, bukan pendidikan. Jika dipaksakan anak akan mengalami demotivasi sekolah hingga mereka kehilangan minat belajar. Pesis yang saya alami dengan si sulung. Tekad saya untuk memberikan 3 anak saya Home Schooling jadi semakin kuat, minimal sampai usia mereka genap 7 tahun. Buat apa masuk TK yang pake nyanyi tangan ke atas, tangan ke samping kemudian dudukyang manis, bahkan diusia segitu anak harus duduk manis. Mereka butuh bergerak, perkembangan otak mereka pun butuh anak untuk banyak bergerak. Gak heran Fella menyatakkan gak mau sekolah, karena di TKnya jalan-jalan di dalam kelas sudah mulai dilarang…

Menurut Pak Munif, apapun kondisinya anak kita tetap membutuhkan adaptasi dengan lingkungan pergaulan di sekolah, termasuk menghadapi tekanan kondisi yang tidak selalu sama dengan diri mereka dan pergaulan yang buruk. Alih-alih menjauhkan anak kita dari pergaulan yang buruk, sebaiknya anak kita dididik dengan Character Building yang baik, sehingga dapat menjadi agent of change dan menginfluence lingkungan yang buruk jadi lebih baik lewat kehadirannya.

Sekolah di Jakarta saja banyak yang belum siap dengan melesatnya kemampuan otak calon murid SD berkat berkembangnya stimulasi tumbuh kembang anak pada pola asuh di rumah dan konsep TK modern. Akibatnya menurut Mba Yanti DP, banyak alumni TKnya yang mengalami tekanan di SD akibat berkembangnya otak mereka melebihi kemampuan guru kelas 1 SD mengakomodasi. Ada alumni mulutnya di lakban karena kebanyakan bicara <protes dan mengajukan pertanyaan kritis>. Ada juga yang diancam dengan gunting, karena tidak bisa duduk manis. Tidak heran Indonesia ada diperingkat keempat dari bawah dalam hal kualitas pendidikan dari 106 negara. Masya Allah…

Maka seminar Pak Munif tentang tips mencari sekolahnya manusia penting untuk diperhatikan. Ada 8 poin yang harus dimiliki sebuah sekolah untuk disebut Sekolahnya Manusia yaitu :

1. Pendidikan di dalamnya mengintegrasi Jasmani dan Ruhani dengan Agama dan Akhlak, memiliki 60% muatan agama dalam koridor Character Building, yang masuk bersama-sama materi Umum. Agama bukan sebagai pelajaran bermuatan kognitif tapi lebih ke pengelolaan akhlak lewat Character Building.

2. Sekolah berperan sebagai Agent of Change, mampu merubah kondisi awal siswa yang negatif menjadi positif. Cirinya sekolah ini tidak akan memakai perangkat serentetan tes masuk. Melainkan memakai Multiple Intelegence Research. Siapa saja diterima di sekolah ini, bukan hanya yang ‘dianggap’ bodoh dan nakal, tetapi juga yang dianggap memiliki keterbatasan fisik atau kemampuan otak seperti cacat fisik, CP, autis dsb.

3. Sekolah memiliki The Best Process dalam aktivitas kelas. Belajar dengan cara yang menyenangkan, 30% Teacher Talking Time, sisanya 70% siswa belajar dengan active learning. Learning Style = Teaching Style, hasilnya pelajaran jadi mudah dan menyenangkan. Jauhkan kesan kelas sebagai penjara terkejam, yang hanya mampu menghasilkan manusia bermental robot.

4. Sekolah memiliki the best teachers. Guru menjadi katalisator dasn fasilitator proses transfer knowledge yang asyik. Guru terhindar dari Virus 4T, penyebab Disteachia. Guru mampu membuat Lesson plan yang sesuai dengan learning style murid-muridnya.

5. Terjadi Active Learning. Siswa belajar dengan aktif tidak hanya secara pasif mau tidak mau harus mendengar guru. Hasilnya siswa tidak hanya TAHU APA, tapi juga tahu BISA APA. Menggunakan pendekatan strategi mengajar Multiple Intelegence sesuai kerja otak siswa.

6. Ada Applied Learning, sekolah mengaitkan materi belajar dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa tidak hanya belajar konsep abstrak tapi juga pembelajaran langsung diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.

7. Mengaplikasikan Pendekatan Multiple Intelegences dan penggunaan MIR, sebagai pemantik kreativitas anak, fasilitator tentang kebiasaan yang perlu dikembangkan ortu dan mempercepat anak menemukan kondisi akhir terbaik bagi dirinya. Bagi Guru MIR juga dapat dijadikan pijakan dalam pembuatan lesson plan.

8. Penilaian otentik diterapkan dalam setiap pengambilan nilai evaluasi hasil belajar. Ciri penilaian otentik adalah : 1.Soal berkualitas dan bisa dikerjakan siswa, 2.Sifatnya Ability Test bukan Disability Test, 3.Penilaian dapat digunakan untuk Discovering Ability, 4.Kemampuan anak dinilai berdasar perkembangannya dari waktu ke waktu, dan tidak membandingkannya dengan siswa lain, 5.Penilaian berbasis proses, bukan pada akhir pembelajaran seperta Ujian Akhir yang ada.

Sounds like Sekolahnya Manusia is too good to be true.. Pasti akan muncul pertanyaan di mana adanya sekolah yang manusiawi ini. Apakah membutuhkan biaya yang besar untuk menyekolahkan anak-anak kita di sana..? Jawabannya silahkan mencari tahu di wilayah anda adakah sekolah yang berciri di atas. Karena sekolah terbaik haruslah juga terjangkau dan dekat dari rumah.

Jika sudah terlanjur memasukkan anak di sekolah yang ada atau sekolah negeri apa akhir segalanya…? Tentu tidak, yuk kita tambal kebutuhan belajar anak dari rumah. Demi menjadikan mereka Life Long Learner sejati. Sambil perlahan-lahan membuka dialog dengan sekolah dan menularkan virus positif ini. Get Smarter Everyday..!!

P.S buat yang masih bingung dengan 8 point di atas.. Please.. Baca buku Sekolahnya Manusi

 

 

Sekolahnya Manusia

Kamis, 18-06-2009 10:25:09 oleh: Sunaryo Adhiatmoko
Kanal: Gaya Hidup

Setiap orang tua, akan menghadapi pilihan sulit dalam menentukan arah dan masa depan anak-anaknya. Memilih pendidikan yang tepat, salah satu kegelisahan yang mengganggu. Belum lagi, perkembangan pola pendidikan yang berderak dinamis, menyuguhkan berbagai alternatif pilihan.

Pada musim pendaftaran sekolah baru, banyak sekolah yang menyuguhkan tawaran iklan memikat. Kualitas dan kompetensi sekolah bersangkutan, dikemas semenarik mungkin, untuk merayu orang tua menyekolahkan anaknya di tempat itu. Belum lagi, biaya mahal kerap jadi trend kelas sosial tersendiri.

Ironisnya, tumbuh budaya di masyarakat kita, bahwa sekolah yang berkualitas diukur dari mahal dan murahnya biaya yang harus dibayar. Jika demikian, sekolah di negeri ini sudah berubah menjadi sarana transportasi umum. Sama dengan bus, taxi, pesawat, dan alat transportasi lainnya. Anak didik, telah diubah jadi seorang penumpang angkutan umum.

Tak hanya jadi penumpang angkutan umum, dalam kebanyakan sistem pengajaran yang berlaku saat ini, murid juga disulap jadi robot. Ketika jiwa manusianya, dipaksa menerima materi pelajaran yang sifatnya memaksa banyak anak yang bingung. Dampaknya, materi pelajaran yang diberikan dengan sistem yang dipaksakan itu, tidak mampu dicerna murid. Ujungnya, murid yang gagal dipandang sebagai anak yang “bermasalah”.

Sejatinya, manusia lahir ke muka bumi dengan karunia kecerdasan yang beragam dari Tuhan. Jika keberagaman itu, mendapat tempat yang adil akan jadi kekuatan yang dahsyat bagi manusia, untuk mengelola alam dan bumi ciptaan-Nya ini. Masalahnya, bagaimana cara tepat untuk mengelola keberagaman itu?

Munif Chatib, konsultan pendidikan dan manajemen yang juga trainer Lazuardi Next, menjawab dengan gamblang dalam buku “Sekolahnya Manusia”. Buku setebal 185 halaman yang diterbitkan Kaifa, group penerbit Mizan ini, ditulis berdasarkan pengalaman Munif Chatib sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning.

Dengan penulisan buku yang mengambil gaya feature, lulusan DL di Supercamp Oceanside California, USA, tahun 1999 itu, menyuguhkan Sekolahnya Manusia dengan bahasa sederhana, enak dibaca, dan mudah dicerna. Kita tidak akan menemukan teori dan cara-cara pengajaran yang blibet, apalagi membuat dahi berkerut. Kita seperti hadir di ruang kelas.

Secara garis besar, Sekolahnya Manusia, memaparkan dengan terang tentang: Penerapan Multiple Intelligences (MI) sejatinya, Penerimaan siswa baru tanpa tes, tetapi melalui metode  Multiple Intelligences Research (MIR), Bagaimana melejitkan setiap siswa sesuai kecerdasan uniknya, Bagaimana menjadikan pembelajaran menyenangkan, menarik, dan memotivasi dengan Multiple Intelligences System (MIS), Bagaimana membuat guru makin kreatif dengan lesson plan-nya, Bagaimana mengubah orang tua makin memahami anak-anaknya, Bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul, dan kisah nyata dari mereka yang mengalami pencerahan dari MI.

Dalam buku ini, juga diceritakan bagaimana menerapkan Multiple Intelligences System (MIS) di SMP Yayasan Islam Malik Ibrahim (YIMI) – sebuah sekolah di Gresik, Jawa Timur – yang sudah terancam ambruk. Pengalaman ini jelas sangat inspiring bagi siapa pun yang membacanya. Harian Jawa Pos, bahkan pernah menulis SMP YIMI, satu-satunya lembaga pendidikan di Indonesia yang berani menerima murid baru tanpa melalui tes. Karena, seperti ditulis dalam buku ini, mereka menganut the best process, bukan the best in put.

Masuk sekolah tanpa proses tes, tentu menabrak pakem umum yang telah berlaku bertahun-tahun. Pun, itu juga tak mudah. Banyak pihak meragukan cara ini dengan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin bisa meluluskan murid-murid terbaik jika bahan bakunya saja tidak disaring? Nyatanya, Munif Chatip membuktikan dengan sistem pengajaran MIS-nya, murid SMP YIMI, lulus 100 persen dengan hasil rata-rata unas 27,58. Kenyataan ini, memupus kekhawatiran masyarakat tentang efektifitas MIS.

Berselancar kata demi kata, kita juga akan menemukan jawab tentang hakikat sekolah unggul. Sebuah kesimpulan menarik dalam buku ini, tegas menggaris bawahi, bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang memanusiakan manusia. Juga pengalaman hebat dari terpatahkannya tuduhan terhadap seorang murid bernama, Andra yang dikatakan autis oleh orang-orang di sekitarnya.

Hasil Multiple Intelligences Research (MIR), menunjukkan Andra bukan penderita autis. Andra sejatinya anak cerdas, ia hanya lemah pada kecerdasan interpersonal (cerdas bergaul) dan linguistiknya (bahasa). Hari-hari berikutnya, kelemahan itu berhasil disulap jadi prestasi hebat. Ketika ada pameran lukisan tingkat ibu kota kabupaten, Andra memamerkan 40 lukisan karyanya, dari 120 lukisan peserta yang dipamerkan. Tak tanggung-tanggung, anak yang semula dicap autis itu, didapuk jadi ketua panitia. Lukisan Andra banyak laku dijual dan hasil penjualan itu, untuk membantu korban gempa di Yogyakarta.  

Kisah-kisah anak murid yang menurut kebanyakan orang “bermasalah”, melalui MIS justru menemukan kualitas terhebatnya. Di dalam buku ini, banyak disajikan kisah-kisah nyata itu. Sejak diterbitkannya awal Mei lalu, Buku ini mendapat perhatian serius dari berbagai aktivis pendidikan. Bahkan, di Jakarta berbagai sekolah unggulan mulai menerapkan konsep Sekolahnya Manusia ini melalui konsultan dari Lazuardi Next.

Bagi para orang tua, aktivis pendidikan, institusi lembaga pendidikan, para guru, dan masyarakat umum, buku ini sangat perlu untuk dibaca. Terutama menyambut tahun baru. Sangat penting bagi kita, membaca buku ini untuk memilih tempat didik bagi anak. Mau masuk “Sekolah Robot” apa masuk “Sekolahnya Manusia”, dua pilihan yang mudah ditentukan, setelah Anda baca buku Sekolahnya Manusia ini. (sunaryo adhiatmoko)

Spesifikasi Buku:

Judul            : Sekolahnya Manusia

Penulis          : Munif Chatib

Halaman       : 185

Penerbit        : Kaifa. Pemesanan buku: Lazuardi – Next, 021-7804841

Sekolahnya Manusia

by: Munif Chatib

 

Banyak murid yang mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran dan tidak mampu mencerna materi yang diberikan. Tak jarang, justru mereka yang dituduh “bermasalah”. Ternyata, kegagalan siswa mencerna informasi dari gurunya disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa. Padahal, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan.

Berdasarkan pengalaman sebagai konsultan pendidikan dan distance learning-nya dengan Bobbi DePorter sang tokoh Quantum Learning, Munif Chatib memaparkan dengan mudah, jelas, dan ringan:

  • Penerapan Multiple Intelligences (MI) sejatinya.
  • Penerimaan siswa baru tanpa tes, tetapi melalui metode MIR (Multiple Intelligences Research).
  • Bagaimana melejitkan setiap siswa sesuai kecerdasan uniknya.
  • Bagaimana menjadikan pembelajaran menyenangkan, menarik, dan memotivasi dengan MIS (Multiple Intelligences System).
  • Bagaimana membuat guru semakin kreatif dengan lesson plan-nya.
  • Bagaimana mengubah orangtua semakin memahami anak-anaknya.
  • Bagaimana membuat sekolah benar-benar unggul.
  • Dan, kisah-kisah nyata mereka yang mengalami pencerahan dari MI.

Dengan demikian, terciptalah sebuah sekolah yang dalam proses belajarnya:

  • Guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas.
  • Para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik.
  • Di dalam kelas dan pembelajaran, suasananya selalu hidup.
  • Saat keluar dari kelas, semua siswa mendapatkan pengalaman pertama yang luar biasa dan takkan terlupakan.

 

 

 

 

WAWANCARA EKSKLUSIF HERNOWO DENGAN MUNIF CHATIB
TENTANG BUKU SEKOLAHNYA MANUSIA

  1. Mas Munif, Anda baru saja meluncurkan buku pertama Anda yang berjudul Sekolahnya Manusia. Bagaimana perasaan Anda melihat produk Anda ini? Secara ringkas, apa yang ingin Anda sampaikan (bagikan) lewat Sekolahnya Manusia?

Jawab:
Perasaan saya tentunya senang dan lega, seperti bendungan air yang dibuka pintunya, terus air mengucur deras mengguyur  tanah-tanah kering di bawahnya. Seperti itu perasaan saya. Dalam buku tersebut sebenarnya saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan bahwa jutaan institusi yang bernama sekolah sudah tidak manusiawi lagi. Anak dipaksa oleh target-target tertentu yang tidak sesuai dengan kecerdasan dan bakatnya. Sehingga lahirlah jutaan siswa bodoh dan sedikit siswa yang pandai. Dalam ‘sekolahnya manusia’ tiba-tiba sekolah menjadi tempat yang nyaman buat para siswanya. Mereka menuangkan apa yang mereka ingin lakukan dan ingin capai. Ternyata dengan cara yang khas dan multiple semua siswa adalah cerdas. Banyak orang bilang, itu mustahil, namun dengan ‘sekolahnya manusia’ ternyata bukan hanya sekedar mimpi.

  1. Apakah setelah berhasil melahirkan buku pertama ini, Anda kemudian memiliki keinginan untuk melahirkan buku kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya? Jika berkenan, apa saja topik-topik yang akan Anda tulis dan dijadikan buku?

Jawab;
Ya … sekolahnya manusia seperti gambaran seekor gajah. Pembaca yang membaca akan mengetahui ternyata gajah itu kakinya empat, telinganya lebar, belalainya panjang dan lain-lain. Tidak mungkin pembaca menyebutkan gajah itu punya sayap. Gambaran global (global analysis) itulah target dari buku sekolahnya manusia. Saya sudah mempersiapkan buku-beku berikutnya, yaitu lebih ‘task analysis’, artinya bagaiman sih detail kaki gajah, telinga gajah, mulut gajah. Atau bagaimana kalau gajah makan, lari, dan lain-lain. Buku kedua, saya ingin memaparkan bagaimana sebuah ‘special moment’ terjadi antara guru dan siswanya. Buku ke3 saya ingin mengulas apa yang terjadi pada siswa yang nakal dan bodoh di sebuah sekolah. Buku ke 4 saya ingin mengulas habis tentang kreatifitas guru sebagai tantangan buat teman-teman guru dalam profesionalitas. Dan seterusnya saya ingin menulis hal-hal yang fokus terkait dengan pembelajaran di sekolah. Saya pernah me-list rencana buku-buku selanjutnya, sampai hari ini sudah tersusun sekitar 125 judul buku, ‘subhanallah’ semoga diberikan kesehatan dan umur panjang.

  1. Saya membaca di buku pertama Anda ini bahwa Anda dahulu adalah lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Namun, kemudian Anda merasakan bahwa Anda lebih mantan mengajar atau menerjuni dunia pendidikan. Anda kemudian pun iku kuliah jarak jauh di Supercamp Oceanside California USA yang dipimpin Bobbi DePorter dan lulus dengan menduduki peringkat ke-5. Tolong ceritakan mengapa Anda lebih tertarik di dunia pendidikan?

Jawab:
Jujur, saya sebelumnya tidak tahu menahu dunia ‘hukum’. Saya masuk fakultas hukum hanya coba-coba saja, sebab waktu itu tidak ada informasi yang tepat tentang program jurusan apa yang sesuai dengan kecenderungan kecerdasan dan bakat saya. Saya sempat menangani beberapa kasus ketika lulus, namun tidak ada yang menang dan tuntas. Saya akhirnya introspeksi diri dan menemukan bahwa dunia saya buk an menjadi ‘pengacara’. Ketika mencoba jadi asisten dosen dan akhirnya menjadi dosen, saya merasa ‘AHA’ inilah dunia saya. Saya paling suka menyampaikan sesuatu yang rumit namun akhirnya menjadi mudah ditangkap oleh para mahasiswa saya. Apalagi setelah belajar tentang multiple intelligence, saya mencoba mengajar mulai dari tingkatan TK sampai perguruan tinggi. Dan akhirnya saya merasa ‘inilah dunia saya – I am a teacher’. Itu ketertarikan saya di dunia pendidikan yang mikro. Kalau yang makro, saya melihat kondisi pendidikan di Indonesia yang kecepatan untuk majunya rendah. Beda dengan negara-negara lain yang punya speed cepat. Saya melihat problemnya ada dua hal yang mendasar yaitu ‘sistem pendidikan’dan kualitas sdm guru. Pada saat banyak guru yang mau maju dan kreatif, mereka berhenti bahkan mundur karena ‘sistem’ yang memaksa itu. Setiap guru yang kreatif mempunyai tembok penghalang yang demikian kokoh untuk ditembus yaitu ‘sistem’.

  1. Salah satu hal yang sangat menarik dalam buku Anda, Sekolahnya Manusia, adalah rekaman tentang keberhasilan Anda mengubah beberapa sekolah di Jawa Timur yang hampir sekarat menjadi sekolah yang berprestasi. Dalam mengubah sekolah-sekolah yang hampir sekarat itu, Anda menggunakan MIR dan MIS. Apa itu MIR dan MIS mas Munif?

Jawab:
MIS adalah Multiple Intelligence System, yaitu semua sistem yang holistik dari proses pendidikan dari mulai input, proses dan outputnya.
Pada wilayah input, difokuskan pada konsep bahwa ‘setiap anak cerdas dengan multiple intelligencenya. Jadi dalam sekolah binaan saya, penerimaan siswa baru tidak memakai tes-tes kognitif apapun sebagai saringannya. Kita berpedoman pada kapasitas tempat. Kalau untuk siswa baru memuat 100 siswa. Maka pendaftar ke 100 adalah pendaftar terakhir. Dan setelah itu tutup. Semua siswa dalam berbagai kondisi diterima, terutama tidak menganut ‘the best input’, yaitu sekolah yang menerima siswa-siswa yang pandai-pandai secara kognitif. Walhasil sekolah kami banyak diserbu oleh siswa yang bodoh dan nakal, namun kami bertekad mengubahnya menjadi pinter dan baik. Nah apa rahasianya? Setelah mereka masuk, dilakukanlah Multiple Intelligence Research (MIR). MIR adalah alat riset psikologi yang mendiskripsikan banyak hal terutama adalah kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Dengan MIR maka wilayah proses dalam MIS menjadi cantik dan manusiawi. Rumus ajaibnya adalah setelah diketahui gaya belajar siswa dengan MIR maka gaya mengajar guru menyesuaikan dengan gaya belajar tersebut, lahirlah kondisi tidak ada anak bodoh dan tidak ada pelajaran sulit. Konsep ini kita sebut ‘the best process’.

  1. Mengapa Anda tertarik menekuni Multiple Intelligences (MI)? Apakah di Supercamp Oceanside, Anda mendapatkan pendidikan khusus tentang temuan Howard Gardner ini? Saya dengar, Anda membuat tesis “Islamic Quantum Learning” yang membuat kagum para pengajar di Supercamp. Apakah tesis Anda itu terkait dengan MI?

Jawab:
Faktor utama yang menyebabkan saya tertarik menekuni MI adalah sifat ‘manusiawi’nya. Tiba-tiba setiap orang mempunyai potensi untuk menunjukkan ‘benefiditas’nya, dalam kondisi apapun. Sebenarnya Howard Gardner menaungi lembaga psikologi yang bernama ‘project zero’ di Harvard University yang merupakan salah satu stake holder dari ‘Learning Forum – Supercamp’ yang dikomdani oleh Bobbi de Porter. Selain ‘project zero’ masih banyak lagi stake holder yang terkait.  ‘Islamic Quantum Learning’ sangat terkait dengan MI. IQL merupakan strategi pembelajaran dengan menghadirkan tokoh. Materi-materi belajar terutama yang terkait dengan character building di ajarkan dengan menghadirkan tokoh yang terkait. Kata-kata ‘Islamic’ saya buat sebab hampir 90% tokoh yang saya tampilkan dan yang terkait dengan materi-materi pembelajaran seperti keberanian, patuh kepada orangtua, kesederhanaan, kepedulian, tanggung jawab dan lain-lain adalah tokoh-tokoh real Islam. Mulai dari Muhammad Rasulullah SAAW, keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Dalam dunia barat, strategi penokohan  ini 90% adalah tokoh fiktif dan 10% tokoh real. Padahal mereka meneliti bahwa tokoh fiktif mempunyai durasi yang pendek untuk masuk memori jangka panjang. Sedangkan tokoh real sebaliknya, sangat disukai oleh ‘memori jangka panjang’. Contoh tokoh “Theletabis’ dulu sangat disukai oleh anak-anak, hampir di setiap alun-alun dan toko-toko menjual bonekanya. Namun sekarang, boneka Theletabis sudah tidak digemari lagi, mungkin ganti dengan tokoh yang lain. Namun apabila tokoh tersebut real, seperti di Amerika terkenal dengan Abraham Lincon, Thomas Jeferson, mulai dari anak kecil sampai orang tua sangat menyukai tokoh-tokoh tersebut. Nah dalam IQL, tokoh yang ada adalah hampir semuanya real, bukan fiktif. Mestinya tokoh-tokoh Islam tersebut akan disukai, dikenang dan jadi bahan pembicaraan anak-anak sampai orang tua setiap hari. Hanya saja kita jarang menggunakannya. Kita terbiasa untuk materi keberanian disandingkan dengan tokoh super hero, seperti batman, spiderman, atau superman. Jarang kita belajar makna keberanian dengan tokoh Sayidah Ali bin Abi Thalib, yang dengan keperkasaannya mampu merobohkan pintu Khaibar yang kokoh dan kuat.

  1. Apakah keberhasila Anda mengubah sekolah-sekolah di Jawa Timur dengan MIR dan MIS juga dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia? Apa syarat-syarat yang perlu dipenuhi agar MIR dan MIS dapat mendekati sempurna penerapannya? Atau, sebenarnya, apa pun keadaan sekolah, MIR dan MIS akan membantu memperbaiki kinerja sekolah tersebut? Mohon Anda jelaskan ya?

Jawab:
Ya.. setiap sekolah dimana saja dapat menerpakan MIR dan MIS. Syarat-syarat penerapan MIR dan MIS utamanya biasa saya namakan segitiga emas, yaitu Paradigm, Know How dan Commitment.
Pertama, paradigma yang sama. Setiap komponen dari sekolah tersebut, manajemen, kepala sekolah, guru dan wali siswa mempunyai paradigma yang sama tentang hakekat ‘sekolahnya manusia’. Kedua, Know How. Setiap komponen sekolah mengikuti pelatihan-pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia yang sudah dikemas dalam suatu sistem yang holistik. Dengan sistem ini target yang ingin dicapai adalah ‘profesionalitas’. Ketiga, adanya komitmen. Semua elemen sekolah harus mempunyai komitmen yang tidak boleh luntur untuk menerapkan sistem ini. Adanya team work atau kerja sama dari setiap komponen sekolah menjadi hal yang penting, sebab akan banyak masalah yang akan dihadapi. Namun masalah tersebut adalah masalah yang wajar dalam dunia pendidikan. Nah.. itu saja syaratnya menurut saya.

  1. Tak sedikit orang yang masih salah paham terkait dengan teori MI ini. Misalnya, penerapan MI harus benar-benar memerhatikan secara satu per satu anak didik karena setiap anak didik unik, tidak ada yang sama. Bukankah ini melawan kegiatan belajar-mengajar klasikal yang di dalamnya ada sekian puluh murid? Bagaimana pandangan Anda tentang soal ini?

Jawab:
Memang masih banyak yang salah paham dalam menerapkan MI di sekolah atau kelas. Sebenarnya setiap anak mempunyai kecenderungan kecerdasan yang beragam, mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah dari 9 kecerdasan yang ditemukan Gardner. Dalam proses belajar mengajar kecenderungan kecerdasan tersebut harusnya diartikan sebagai pintu masuk informasi yang disampaikan guru kepada para siswanya. Pintu masuk yang terbesar inilah yang sebenarnya dinamakan ‘gaya belajar’ atau ‘learning style’. Apabila informasi tersebut sudah berhasil memasuki pintu terbesar dari kecenderungan kecerdasannya, maka dapat diartikan bahwa siswa tersebut mendapatkan informasi itu sesuai dengan gaya belajarnya. Biasanya siswa akan memahami informasi tersebut. Setelah informasi masuk, maka akan terjadi ‘flow’ yaitu dimungkinkan terbukanya pintu-pintu kecerdasan yang lainnya. Jadi sangat dinamis dan kompleks. Dengan Multiple Intelligences Researh (MIR) akan diketahui diskripsi tentang kecenderungan kecerdasan dan gaya belajar siswa. Atas dasar data inilah dapat digunakan pembagian kelas, tentunya bagi sekolah yang mempunyai lebih dari satu kelas. Pembagian kelas berdasarkan hasil MIR berkaitan dengan persamaan gaya belajar. Sehingga akan tercipta efektifitas dalam proses pembelajaran sebab dalam kelas tersebut rata-rata semua siswanya mempunya gaya belajar yang cenderung sama. Namun setelah itu konsep ‘flow’ harus tetap dilakukan. Jadi tidak kaku dan terkotak-kotak menjadi kelas-kelas permanen berdasarkan 9 kecerdasannya. Inilah yang banyak terjadi di sekolah-sekolah. Akhirnya gaya mengajar para gurunya ‘selamanya’ disesuaikan dengan kecerdasan yang dimiliki siswanya dalam satu kelas tersebut. Akhirnya sangat membosankan. Sampai-sampai ada siswa yang menjuluki gurunya dengan sebutan ‘ustadzah lingkaran’ sebab setiap kali mengajar para siswanya terus diminta berdiri dan membentuk lingkaran. Pendekatan individul MI sebenarnya sangat efektif digunakan untuk siswa-siswa yang mengalami kesulitan pemahaman. Jadi menurut saya, jumlah ideal siswa dalam satu kelasnya di bawah 30 siswa. Dari hasil MIR gaya mengajar guru disesuaikan dengan gaya belajar rata-rata semua siswa untuk masuk dalam ‘pintu kecerdasan yang terbesar’. Setelah itu guru harus menerapkan flow, mengajar dengan strategi yang beragam. Sistem ‘grouping’ akan sangat membantu. Apabila ada siswa yang kurang paham, maka digunakan pendekatan individual. Insyaallah akan terwujud kelas yang indah dan bermakna.

  1. Oh ya menurut Anda, problem-pokok pendidikan di Indonesia ini apa? Lantas, agar pendidikan di Indonesia dapat terus maju dan berkembang sebagaimana negara-negara lain—misalnya sejajar dengan Jepang atau Finlandia—apa yang kira-kira harus ditangani pertama kali?

Jawab:
Problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Namun saya yakin ada ujung benang kusutnya. Dan akhirnya dapat diselesaikan. Menurut saya ujung benang kusut ada dua yaitu sistem dan kualitas sumber daya manusianya. Banyak masalah yang terkait dengan sistem, antara lain yang menonjol adalah sistem pendidikan yang masih sentralistik, terutama dalam wilayah ‘output’, yaitu standar kelulusan siswa ditentukan oleh alat tes yang dibuat pusat, bukan oleh guru. Pada wilayah akhir yang ‘salah’ inilah yang akhirnya menjadi orientasi pendidikan mulai dari wilayah yang pertama yaitu input, san diikuti oleh prosesnya. Jika sistem di output ini diperbaiki, maka input dan prosesnya akan mengikuti. Betapa banyak kreatifitas guru yang lumpuh akibat kondisi output yang ‘academic minded’. Yang kedua adalah kualitas SDM, terutama tenaga pengajar. Guru juga manusia yang perlu belajar. Maka peningkatan kualitas dengan pelatihan dan pengembangan adalah hal yang terpenting dalam posting dana pendidikan. Negara yang maju pendidikannya mempunyai ciri-ciri yang hampir sama, yaitu posting dana pendidikan yang cukup besar dan diprioritaskan untuk pengembangan sdm-nya. Jadi kesimpulannya, agar bisa seperi Jepang dan Finlandia adalah pertama perbaiki sistem mulai dari input, proses dan output. Kedua sistem tersebut harus diisi oleh sdm yang berkualitas. Sebenarnya sederhana dan klasik. Hanya saja menurut saya pemerintah kita ‘sangat politis’ dalam mengurusi masalah pendidikan.

  1. Ada sebagian pengamat pendidikan mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia selama ini academic oriented. Misalnya, ujian itu selalu hafalan dari TK sampai SMA. Setiap sekolah mengajarkan teaching to the test. Anak didik pun tidak kreatif. Bagaimana menurut Anda?

Jawab:
Betul sekali. Academic oriented inilah yang menjadikan anak didik kita seperti robot. Segalanya dirancang agar lulus dari test akhir. Padahal pengalamn saya sebagai peneliti kualitas soal-soal ujian nasional, yang menjadi standar kelulusan siswa dalam jenjang SD, SMP dan SMA adalah kualitas soalnya masuk dalam kualitas yang paling ‘rendah’. Dengan ‘multiple choice’ murni peserta didik pemikirannya dibatasi dengan kemampuan ‘TAHU APA’ dan BIM SALABIM’. Artinya kalau siswa tidak tahu jawaban mana yang benar, maka mereka menggunakan cara ‘bim salabim, pokoknya semua soal terlingkari. Menurut  Taksonomi Bloom, jenis soal semacam ini mestinya tidak dapat untuk menilai standar kelulusan dari sebuah materi atau bidang studi. Hilang sudah wilayah kemampuan pemahaman, aplikasi, analisa, sintesa dan evaluasi. Padahal ketika mereka terjun ke masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya, ternyata dunia sekarang ini membutuhkan sdm yang BISA APA selain TAHU APA. Segala macam cara yang dipakai sekolah agar sekolahnya tidak menjadi sekolah robot akan gagal pada masa akhir tahun ajarannya. Sebab didepan mata ada ‘robotic test’ yang harus dilewati semua siswa. Terkadang saya juga tidak habis pikir tentang ‘teaching to test’ ini sangat kuat mengakar dan sulit diubah di Indonesia. Padahal kenyataan sudah banyak terjadi, IP tinggi bukan segala-galanya. Saya banyak menjumpai dalam tes seleksi guru, calon guru dengan IP yang tinggi, berantakan pada saat menjalani micro teaching test. Almarhum Munir adalah sahabat saya waktu di fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Saya ingat betul, skripsi yang beliau tulis tentang perburuhan, dan IP Kumulatifnya hanya 2,6. Namun setiap orang mengakui kecerdasan Almarhum Munir yang terkait dalam profesinya. Semoga arwah beliau tenang dalam perjalanan menemui Tuhannya.

10.  Bagaimana pula tentang pendidikan akhlak atau karakter? Mengapa pendidikan agama seperti gagal dalam menangani pendidikan akhlak ini? Apakah MI dapat membantu mengefektifkan pendidikan akhlak? Atau Anda memiliki strategi lain terkait dengan pendidikan akhlak?

Jawab:
Menurut saya, ada ketimpangan dalam pendidikan agama disekolah. Seperti yang kita ketahui pendidikan agama dibagi menjadi 3 wilayah besar, yaitu akidah, fiqih dan akhlak. Mestinya yang mempunyai bobot pemahaman kognitif terbesar adalah wilayah akidah. Sedangkan fiqih dan akhlak adalah materi praktis. Pada sekolah-sekolah binaan kami, pendidikan akhlak kami namakan ‘Character Building’ (CB). CB disajikan dalam bentuk praktis dan menarik. Materi disusun dalam lessonplan yang penuh dengan aktivitas, games, riset sampai siswa merasakan mengapa mereka harus berbuat baik, sebaliknya harus sekuat tenaga meninggalkan perbuatan buruk. CB tidak disajikan dalam bentuk defenitif. Tapi sangat cair dalam kehidupan nyata sehari-hari. Tiba-tiba dengan bidang studi CB, karakter siswa yang nakal dalam interaksi di lingkungan sekolah secara efektif dapat berubah. Konsep-konsep karakter diterapkan dengan proses belajar yang sangat cantik dan menyenangkan siswa. Mulai dari jenjang TK sampai SMA. Bahkan saya menilai bidang studi CB ini wajib ada pada sekolah yang menerapkan multiple intelligence, sebab bulan-bulan pertama kebanyakan siswa akan mengalami ‘eforia’ kebebasan belajar. CB mampu mereduksi eforia ini secara efektif dan mengembalikan tanggung jawab keberhasilan belajar ada di pundak masing-masing siswa, bukan di pundak guru.

 

About these ads