Archive for Januari, 2010

METODE PENDIDIKAN ANAK DLM KELUARGA MENURUT M.NASIH ULWAN

KONSEP METODE PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA MENURUT ABDULLAH NASHIH ULWAN

Dalam melaksanakan pendidikan moral anak dalam keluarga agar berhasil, maka harus memenuhi faktor-faktornya. Diantara salah satu faktornya adalah harus menggunakan metode yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.

Ulwan merupakan salah satu pemikir dan pemerhati pendidikan Islam, terutama pendidikan anak menawarkan kepada para pendidik termasuk orang tua agar dalam memberikan informasi pendidikan moral menggunakan metode yang baik dan sesuai dengan ajaran Rasul saw. Siapa Ulwan, akan dibahas lebih lanjut.

A.   Biografi

Abdullah Nashih Ulwan merupakan pemerhati masalah pendidikan terutama pendidikan anak dan dakwah Islam.[1] Ia dilahirkan di kota Halab, Suriah, tahun 1928. Beliau menyelesaikan studi di sekolah lanjutan tingkat atas jurusan Ilmu Syariah dan Pengetahuan Alam di Halab, tahun 1949. Kemudian melanjutkan di al-Azhar University (Mesir) mengambil fakultas Ushuluddin, yang selesai pada tahun 1952. Selang 2 tahun kemudian, yaitu 1954, ia lulus dan menerima ijazah spesialisasi pendidikan, setara dengan Master of Arts (M.A).[2] Pada tahun yang sama (1954), ia tidak sempat meraih gelar doktor pada perguruan tinggi tersebut, karena diusir dari negeri Mesir oleh pemerintahan Jamal Abdel Naser.

 

Semenjak ditetapkan sebagai tenaga pengajar untuk materi pendidikan Islam di sekolah-sekolah lanjutan atas di Halab, yaitu tahun 1954, Ulwan juga aktif menjadi seorang da’i. Ulwan termasuk penulis yang produktif, untuk masalah-masalah dakwah, syariah, dan bidang tarbiyah sebagai spesialisnya. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang selalu memperbanyak fakta-fakta Islami, baik yang terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan atsar-atsar para salaf yang saleh terutama dalam bukunya yang berjudul “Tarbiyatul Aulad Fil-Islam.” Hal ini sesuai dengan pendapat Syaikh Wahbi Sulaiman al-Ghawaji al-Albani yang berkata : bahwa dia adalah seorang beriman yang pandai dan hidup.[3]

Diantara karya-karya beliau adalah : [4]

1. Karya yang berkisar pada masalah dakwah dan pendidikan :

a.  Al-Takafulul al- Ijtima`i Fil- Islam.

b.  Ta`addudu al-Zaujat Fil-Islam.

c.  Shalahuddin al-Ayyubi.

d. Hatta Ya`lama al-Syabab.

e.  Tarbiyatul Aulad Fil-Islam.

2.  Karya yang menyangkut kajian Islam (studi Islam) :

a.  Ila Kulli Abin Ghayyur Yu`min billah.

b.  Fadha`ilul al-Shiyam wa ahkamuhu.

c.  Hukmu al-Ta`min Fil-Islam.

d.  Ahkamul al-Zakat (4 madzhab).

e.  Syubhat wa Rudud Haulal al -Aqidah wa Ashlul al-Insan.

f.  Aqabatul al -Zawaj wa thuruqu Mu`alajatiha `ala Dhanil al- Islam.

g.  Mas`uliyatul al-Tarbiyah al-Jinsiyyah.

h.  Ila Waratsatil al-Anbiya`.

i.   Hukmul al-Islam FI Wasa`ilil al-I`lam.

j.   Takwinu al-Syakh Syiyyah al-Insaniyyah fi Nazharil al-Islam.

k.  Adabul al-Khitbah wa al-Zilaf wa haququl al-Zaujain.

l.   Ma`alimul al-Hadharah al-Islamiyyah wa Atsaruha fil al-Nahdhah al-Aurubiyyah.

m. Nizhamul al-Rizqi fil al-Islam.

n.  Hurriyatul al-I`tiqad Fil al-Syari`ah al-Islamiyyah.

o.  Al-Islam Syari`atul al-Zaman wa al-Makan.

p.  Al-Qaumiyyah fi Mizanil al-Islam.

B.   Deskripsi Kitab “Tarbiyatul Aulad Fil-Islam”

Salah satu karya Ulwan adalah kitab “Tarbiyatul Aulad Fil–Islam” merupakan kajian utama dalam skripsi ini, maka menurut peneliti perlu diberikan gambaran secara global. Hal ini tidak dimaksudkan mengurangi isi kitab tersebut.

Kitab “Tarbiyatul Aulad Fil-Islam” telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dalam dua versi. Versi pertama diterjemahkan oleh Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali dengan judul “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam” oleh penerbit Asy-syifa` Semarang, yang terdiri dari dua jilid. Sedangkan versi kedua yang diterjemahkan oleh Khalilullah Ahmas masjkur oleh penerbit Remaja Rosdakarya Bandung.

Kitab “Tarbiyatul Aulad Fil Islam” memiliki karakteristik tersendiri. Keunikan karakteristik itu terletak pada uraiannya yang menggambarkan totalitas dan keutamaan Islam. Islam sebagai agama yang tertinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya adalah menjadi obsesi Ulwan dalam setiap analisa dan argumentasinya, sehingga tidak ada satu bagian pun dalam kitab tersebut yang uraiannya tidak didasarkan atas dasar-dasar dan kaidah-kaidah nash.

Sebagaimana dikemukakan  Ulwan bahwa kitab ini disusun dalam tiga bagian atau “qism” yang kronologis, masing-masing bagian memuat beberapa pasal dan setiap pasal mengandung beberapa topik pembahasan. Judul-judul dan pasal-pasal dalam setiap bagian itu akan tersusun sebagai berikut ini : [5]

Bagian pertama terdiri dari empat pasal, yaitu:

a.  Pasal pertama adalah perkawinan teladan dalam kaitannya dengan        pendidikan.

b.  Pasal kedua adalah perasaan psikologis terhadap anak-anak.

c.  Pasal ketiga adalah hukum umum dalam hubungannya dengan anak yang lahir.

Pasal ini terdiri dari empat bahasan :

1. Pertama , adalah yang dilakukan oleh pendidik ketika lahir.                     

2. Kedua , yaitu penamaan anak dan hukumnya.

3. Ketiga , adalah aqiqah anak dan hukumnya.

4. Keempat , adalah menyunatkan anak dan hukumnya.

d.  Pasal keempat adalah sebab-sebab kelainan pada anak dan penanggulangannya.

Bagian kedua yaitu tanggung jawab terbesar bagi para pendidik, bagian ini terdiri dari tujuh pasal adalah sebagai berikut :

a. Pasal pertama adalah tanggung jawab pendidikan Iman.

b. Pasal kedua adalah tanggung jawab pendidikan moral.

c. Pasal ketiga adalah tanggung jawab pendidikan fisik

d. Pasal keempat adalah tanggung jawab pendidikan intelektual.

e. Pasal kelima adalah tanggung jawab pendidikan psikologis.

f. Pasal keenam adalah tanggung jawab pendidikan sosial.

g. Pasal ketujuh adalah tanggung jawab pendidikan seksual.

Bagian ketiga terdiri dari tiga pasal dan penutup :

a. Pasal pertama , adalah faktor-faktor pendidikan yang berpengaruh.

b. Pasal kedua adalah dasar-dasar fundamental dalam mendidik anak.

c. Pasal ketiga berisi saran-saran paedagogis.

Bagian pertama sampai dengan bagian ketiga tersebut, terdapat dalam jilid I. Sedangkan dalam jilid II, meliputi tiga pasal, yaitu : [6]

a. Pasal pertama adalah metode pendidikan yang influentif terhadap anak.

b. Pasal kedua adalah kaidah-kaidah elementer dalam pendidikan anak.

c. Pasal ketiga adalah gagasan edukatif yang sangat esensial.

Fokus kajian skripsi ini terdapat dalam jilid II pasal pertama yang berisi tentang metode pendidikan yang influentif terhadap anak pada halaman dua dan seterusnya. Ulwan memaparkan 5 metode mendidik moral anak dalam keluarga. Diantara metode-metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurutnya  adalah :

  1. Pendidikan dengan keteladanan.
  2. Pendidikan dengan adat kebiasaan.
  3. Pendidikan dengan nasihat.
  4. Pendidikan dengan memberikan perhatian.
  5. Pendidikan dengan memberikan hukuman.

Menurut pemikiran Ulwan, apabila metode-metode tersebut diterapkan dalam pendidikan anak khususnya dalam keluarga, maka secara bertahap mereka para orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi kehidupan dan pasukan-pasukan yang kuat untuk kepentingan Islam (sebagai penegak ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan).

C.   Metode Pendidikan Moral Anak dalam Keluarga menurut Abdullah Nashih Ulwan

Sarana untuk membentuk keluarga dalam Islam harus melalui ikatan pernikahan. Dengan melangsungkan pernikahan, maka pasangan suami istri akan memperoleh manfaat dari pernikahan tersebut. Salah satu manfaatnya adalah memelihara kelangsungan jenis manusia di dunia yang fana ini. Kelahiran anak merupakan amanat dari Allah SWT kepada bapak dan ibu sebagai pemegang amanat yang harusnya dijaga, dirawat, dan diberikan pendidikan. Itu semua merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua kepada anaknya.

Anak dilahirkan tidak dalam keadan lengkap dan tidak pula dalam keadaan kosong. Ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Memang ia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, akan tetapi anak telah dibekali dengan pendengaran, penglihatan, dan kata hati.[7]

Dengan diberikannya penglihatan, pendengaran, dan kata hati tersebut, diharapkan orang tua harus mampu membimbing, mengarahkan, dan mendidiknya dengan ekstra hati-hati karena anak sebagai peniru yang ulung. Oleh karena itu semaksimal mungkin orang tua memberikan pelayanan terhadap anaknya. Pelayanan yang maksimal akan menghasilkan suatu harapan bagi bapak ibunya, tiada lain suatu kebahagiaan hasil jerih payahnya. Sebab anak adalah sumber kebahagiaan, kesenangan, dan sebagai harapan dimasa yang akan datang.[8] Harapan-harapan orang tua akan terwujud, tatkala mereka mempersiapkan sedini mungkin pendidikan yang baik sebagai sarana pertumbuhan dan perkembangan bagi anak.

Memang diakui bahwa mengemudikan bahtera rumah tangga yang baik, yang sakinah, dan yang maslahah merupakan tugas kewajiban yang sangat rumit, tidak kalah rumitnya dengan mengelola sebuah pabrik, dan tidak kalah canggihnya dengan mengemudikan pesawat terbang karena orang tua harus siap untuk memperpadukan sekian banyak unsur dan dimensi mulai dari dimensi sikap mental, ilmu pengetahuan, ketrampilan dan lain sebagainya. Sebagai kewajiban dari orang tua, dalam hal ini adalah pemegang amanat, maka barang siapa yang mampu menjaga amanat tersebut akan diberi pahala, dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan janji Allah SWT dalam firmanya, QS.al-Kahfi (18) : 46.

اَلـْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيـْنَةُ الْحَيوةِ الدُّنـْيَا وَالْـبـقِيـتُ الصلِحتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبـِّكَ ثَوَابـًا وَّخَيْرٌ أمَـلاً –(الكهف:46)-

 

Artinya  :  “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahala disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. (QS. Al-Kahfi : 46)[9]

Dalam mendidik anak, tentunya harus ada kesepakatan antara bapak ibu sebagai orang tua, akan dibawa kepada pendidikan yang otoriter atau pendidikan yang demokratis atau bahkan yang liberal, sebab mereka penentu pelaksana dalam keluarga.

Dalam kehidupan masyarakat terkecil, yaitu keluarga, suami secara fungsional adalah penanggung jawab utama rumah tangga (keluarga) sedangkan istri adalah mitra setia yang aktif konstruktif mengelola rumah tangga. Operasionalisasi kehidupan berkeluarga sebaiknya dilakukan berdasarkan amar makruf nahi munkar.

Salah satu wujud amar makruf nahi munkar dalam kehidupan  berkeluarga adalah memberikan pendidikan kepada putra putrinya berdasarkan ajaran Islam. Antara keluarga satu dengan keluarga lainnya mempunyai prinsip dan sistem sendiri-sendiri dalam mendidik anaknya. Namun orang tua jangan terbuai atau melupakan terhadap ajaran-ajaran Islam, terutama dalam hal pendidikan anak sebagaimana yang telah dicontohkan Rasul saw. sebagai pembawa panji-panji Islam, Rasul SAW tidak pernah mendidik putra-putrinya dengan pendidikan keras dan tidak dengan membebaskan anak-anaknya, tetapi beliau dalam mendidik keluarganya terutama kepada anak-anaknya adalah dengan limpahan kasih sayang yang amat besar.[10] Senada dengan yang dikatakan oleh sahabat Anas ra. yaitu “aku tidak mendapatkan seseorang yang kasih sayangnya pada keluarganya melebihi Rasulullah SAW.”[11]

Seorang muslim sepatutunya mencontoh teladan yang telah diberikan Rasul SAW, dalam memuliakan putra putrinya. Beliau dalam mendidik anak-anaknya melalui ajaran wahyu Ilahi yaitu dengan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Dengan pemberian kasih sayang tersebut, diharapkan dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan  anak. Sebab anak merupakan aset masa depan. Sebagai orang tua dapat meneladani ajaran-ajaran Rasul SAW tersebut, melalui para pemikir dan pemerhati pendidikan (anak) dalam Islam.  Salah satu pemerhati pendidikan (anak) dalam Islam yang memberikan gambaran yang benar sesuai dengan ajaran Islam adalah Ulwan. Ia memberikan pandangannya dalam mendidik anak dalam keluarga melalui metode-metode yang harus diterapkan dalam pendidikan anak termasuk dalam hal pendidikan moral. Apabila metode-metode tersebut diterapkan, niscaya apa yang menjadi harapan bersama sebagai muslimin yaitu tumbuhnya para generasi Islam yang tangguh dan sebagai penebar kebenaran, dapat direalisasikan.

Untuk mmemperoleh hasil yang baik dalam pelaksanaan pendidikan (moral) maka harus memenuhi beberapa faktor-faktornya. Salah satu faktornya adalah metode. Metode merupakan sarana untuk menyampaikan isi atau materi pendidikan tersebut, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan hasil yang baik.   

Diantara metode pendidikan moral anak dalam keluarga yang ditawarkan oleh Abdullah Nashih Ulwan adalah : [12]

1.  Pendidikan dengan keteladanan

Menurut al-Ghazali anak adalah amanat bagi orang tuanya. Hatinya yang suci merupakan permata tak ternilai harganya, masih murni dan belum terbentuk.[13] Orang tuanya merupakan arsitek atau pengukir  kepribadian anaknya. Sebelum  mendidik orang lain, sebaiknya orang tua harus mendidik pada dirinya terlebih dahulu. Sebab anak merupakan peniru ulung. Segala informasi yang masuk pada diri anak, baik melalui penglihatan dan pendengaran dari orang di sekitarnya, termasuk orang tua akan membentuk karakter anak tersebut. Apalagi anak yang berumur sekitar 3-6 tahun, ia senantiasa melakukan imitasi terhadap orang yang ia kagumi (ayah dan ibunya). Rasa imitasi dari anak yang begitu besar, sebaiknya membuat orang tua harus ekstra hati-hati dalam bertingkah laku, apalagi didepan anak-anaknya. Sekali orang tua ketahuan berbuat salah dihadapan anak, jangan berharap anak akan menurut apa yang diperintahkan. Oleh karena itu sudah sepantasnya bagi orang tua pemegang amanat, untuk memberikan teladan yang baik kepada putra putrinya dalam kehidupan berkeluarga. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Orang tua terutama ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak dalam membentuk pribadinya.

Ibu mempengaruhi anak melalui sifatnya yang menghangatkan, menumbuhkan rasa diterima, dan menanamkan rasa aman pada diri anak. Sedangkan ayah mempengaruhi anaknya melalui sifatnya yang mengembangkan kepribadian, menanamkan disiplin, memberikan arah dan dorongan serta bimbingan agar anak tambah berani dalam menghadapi kehidupan.[14]

Teladan yang baik dari orang tua kepada anak (sekitar umur 6 tahun) akan berpengaruh besar kepada perkembangan anak di masa mendatang. Sebab kebaikan di waktu kanak-kanak awal menjadi dasar untuk pengembangan di masa dewasa kelak. Untuk itu lingkungan keluarga harus sebanyak mungkin memberikan keteladanan bagi anak. Dengan keteladanan akan memudahkan anak untuk menirunya. Sebab keteladanan lebih cepat mempengaruhi tingkah laku anak. Apa yang dilihatnya akan ia tirukan dan lama kelamaan akan menjadi tradisi bagi anak. Hal ini sesuai firman Allah SWT QS. al-Ahzab ( 33) : 21.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولُ اللهِ أسْوَ ةٌ  حَسَنَةٌ لِـمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلاخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَـثِيْرًا –(الاحزاب: 21)–

 

Artinya   :  “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21)[15]

Dalam hal keteladanan ini, lebih jauh Abdullah Nashih Ulwan menafsirkan dalam beberapa bentuk, yaitu :[16]

a.  Keteladanan dalam ibadah.

b.  Keteladanan bermurah hati.

c.  Keteladanan kerendahan hati.

d.  Keteladanan kesantunan.

e.  Keteladanan keberanian.

f.  Keteladanan memegang akidah

Karena obyeknya anak (kanak-kanak) tentunya bagi orang tua dalam memberikan teladan harus sesuai dengan perkembangannya sehingga anak mudah mencerna apa yang disampaikan oleh bapak ibunya. Sebagai contoh agar anak membiasakan diri dengan ucapan “salam”, maka senantiasa orang tua harus memberikan ajaran tersebut setiap hari yaitu hendak pergi dan pulang ke rumah (keteladanan kerendahan hati). Yang penting bagi orang tua tampil dihadapan anak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, niscaya semua itu akan ditirunya.

2.  Pendidikan dengan adat kebiasaan

Setiap manusia yang dilahirkan membawa potensi, salah satunya berupa potensi beragama. Potensi beragama ini dapat terbentuk pada diri anak (manusia) melalui 2 faktor, yaitu : faktor pendidikan Islam yang utama dan faktor pendidikan lingkungan yang baik. Faktor pendidikan Islam yang bertanggung jawab penuh adalah bapak ibunya. Ia merupakan pembentuk karakter anak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah.[17]

عن ابى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم مامن مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهوّدانه وينصّرانه ويمجّسـانه         –(رواه مســلم)–

 

Artinya   :  “Dari Abi hurairah ra. telah bersabda Rasulullah SAW. tidak ada anak yang dilahirkan, kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani, atau majusi”. (HR. Muslim)

Setelah anak diberikan masalah pengajaran agama sebagai sarana teoritis dari orang tuanya, maka faktor lingkungan harus menunjang terhadap pengajaran tersebut, yakni orang tua senantiasa memberikan aplikasi pembiasaan ajaran agama dalam lingkungan keluarganya. Sebab pembiasaan merupakan upaya praktis dan pembentukan (pembinaan) dan persiapan.[18]

Pada umur kanak-kanak kecenderungannya adalah meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang disekitarnya, baik saudara famili terdekatnya ataupun bapak ibunya. Oleh karena itu patut menjadi perhatian semua pihak, terutama orang tuanya selaku figur yang terbaik di mata anaknya. Jika orang tua menginginkan putra putrinya tumbuh dengan menyandang kebiasaan-kebiasaan yang baik dan akhlak terpuji serta kepribadian yang sesuai ajaran Islam, maka orang tua harus mendidiknya sedini mungkin dengan moral yang baik. Karena tiada yang lebih utama dari pemberian orang tua kecuali budi pekerti yang baik. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW yang diriwayatkan al-Tirmidzi dari Ayyub bin Musa.[19]

حدثنا ايوب ابن موسى عن ابى عن جده أنّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: ما نحل والد ولدا من نحل أفضل من أدب حسن             –(رواه الترمذى)–

 

Artinya :    “Diceritakan dari Ayyub bin Musa dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda : Tidak ada pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya kecuali budi pekerti yang baik”. (H.R At-Tirmidzi)

Apabila anak dalam lahan yang baik (keluarganya) memperoleh bimbingan, arahan, dan adanya saling menyayangi antar anggota keluarga, niscaya lambat laun anak akan terpengaruh informasi yang ia lihat dan ia dengar dari semua perilaku orang– orang disekitarnya. Dan pengawasan dari orang tua sangat diperlukan sebagai kontrol atas kekeliruan dari perilaku anak yang tak sesuai dengan ajaran Islam.

3.  Pendidikan dengan Nasihat

Pemberi nasihat seharusnya orang yang berwibawa di mata anak. Dan pemberi nasihat dalam keluarga tentunya orang tuanya sendiri selaku pendidik bagi anak. Anak akan mendengarkan nasihat tersebut, apabila pemberi nasihat juga bisa memberi keteladanan. Sebab nasihat saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan keteladanan yang baik.

Anak tidak akan melaksanakan nasihat tersebut apabila didapatinya pemberi nasihat tersebut juga tidak melaksanakannya. Anak tidak butuh segi teoritis saja, tapi segi praktislah yang akan mampu memberikan pengaruh bagi diri anak.

Nasihat yang berpengaruh, membuka jalannya ke dalam jiwa secara langsung melalui perasaan. Setiap manusia (anak) selalu membutuhkan nasihat, sebab dalam jiwa terdapat pembawaan itu biasanya tidak tetap, dan oleh karena itu kata–kata atau nasihat harus diulang–ulang.[20] Nasihat akan berhasil atau mempengaruhi jiwa anak, tatkala orangtua mampu memberikan keadaan yang baik. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. al-Baqarah ( 2) : 44 .

اَتَأْمُرُونَ الـنَّاسَ بِالْبِرِّ وَتـَنْسَوْنَ اَنـْفُسَـكُمْ وَاَنـْتـُمْ تـَتْلُوْنَ الْكِـتَابَ قلى أفَلاَ تـَعْقِلُوْنَ –(البقرة:44)-

Artinya   :  “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kabaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat) ? maka tidakkah kamu berpikir ? (Q.S al-Baqarah : 44)[21]

Agar harapan orang tua terpenuhi yakni anak mengikuti apa– apa yang telah diperintahkan dan yang telah diajarkannya, tentunya disamping memberikan nasihat yang baik juga ditunjang dengan teladan yang baik pula. Karena pembawaan anak mudah terpengaruh oleh kata–kata yang didengarnya dan juga tingkah aku yang sering dilihatnya dalam kehidupan sehari–hari dari pagi hari sampai sore hari.

Nasihat juga harus diberikan sesering mungkin kepada anak–anak masa sekolah dasar, sebab anak sudah bersosial dengan teman sebayanya. Agar apa–apa yang telah diberikan dalam keluarganya tidak mudah luntur atau tepengaruh dengan lingkungan barunya.

Menurut Ulwan, dalam Penyajian atau memberikan nasihat itu ada pembagiannya, yaitu [22]

a.  Menyeru untuk memberikan kepuasan dengan kelembutan atau penolakan. Sebagai contohnya adalah seruan Lukman kepada anak–anaknya, agar tidak mempersekutukan Allah SWT. Q.S. Lukman (31) :13.

وأذ قال لقمن لابـنه وهو يعظه يـبنـي لاتشرك بالله قلى إن الشرك لظلم عظيم –(لقمن:13)–

Artinya   : “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah  benar–benar kezaliman yang besar.” (Q.S Luqman : 13).[23]

b.  Metode cerita dengan disertai tamsil ibarat dan nasihat

Metode ini mempunyai pengaruh terhadap jiwa dan akal. Biasanya anak itu menyenangi tentang cerita-cerita. Untuk itu orang tua sebisa mungkin untuk memberikan masalah cerita yang berkaitan dengan keteladanan yang baik yang dapat menyentuh perasaannya.Sebagaimana firman-Nya dalam QS. al-A`raf (7) : 176.

…فالقصص القصص لـعلهم يـتفكرون –(الاعراف:176)-

 

Artinya: “… Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir”.[24] 

 

c.  Pengarahan melalui wasiat

Orang tua yang bertanggung jawab tentunya akan berusaha menjaga amanat-Nya dengan memberikan yang terbaik buat anak demi masa depannya dan demi keselamatannya.

4.  Pendidikan dengan Perhatian

Sebagai orangtua berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan–kebutuhan anaknya, baik kebutuhan jasmani ataupun kebutuhan yang berbentuk rohani. Diantara kebutuhan anak yang bersifat rohani adalah anak ingin diperhatikan dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

Pendidikan dengan perhatian adalah mencurahkan, memperhatikan dan senantiasa mengikuti perkembangan anak dalam pembinaan akidah dan moral, persiapan spiritual dan sosial, disamping selalu bertanya tentang situasi pendidikan jasmani dan daya hasil ilmiahnya.[25]

Orang tua yang bijaksana tentunya mengetahui perkembangan-perkembangan anaknya. Dan ibu adalah pembentuk pribadi putra putrinya lebih besar prosentasenya dibanding seorang ayah. Tiap hari waktu Ibu banyak bersama dengan anak, sehingga wajar bila kecenderungan anak lebih dekat dengan para ibunya. Untuk itu ibu diharapkan mampu berkiprah dalam mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan putra-putrinya.

Orang tua yang baik senantiasa akan mengoreksi perilaku anaknya yang tidak baik dengan perasaan kasih sayangnya, sesuai dengan perkembangan usia anaknya. Sebab pengasuhan yang baik akan menanamkan rasa optimisme, kepercayaan, dan harapan anak dalam hidupnya.[26] Dalam memberi perhatian ini, hendaknya orang tua bersikap selayak mungkin, tidak terlalu berlebihan dan juga tidak terlalu kurang. Namun perhatian orang tua disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.

Apabila orang tua mampu bersikap penuh kasih sayang dengan memberikan perhatian yang cukup, niscaya anak-anak akan menerima pendidikan dari orang tuanya dengan penuh perhatian juga. Namun pangkal dari seluruh perhatian yang utama adalah perhatian dalam akidah.

5.  Pendidikan dengan memberikan hukuman

Hukuman diberikan, apabila metode-metode yang lain sudah tidak dapat merubah tingkah laku anak, atau dengan kata lain cara hukuman merupakan jalan terakhir yang ditempuh oleh pendidik, apabila ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sebab hukuman merupakan tindakan tegas untuk mengembalikan persoalan di tempat yang benar.[27] Hukuman sesungguhnya tidaklah mutlak diberikan. Karena ada orang dengan teladan dan nasehat saja sudah cukup, tidak memerlukan hukuman. Tetapi pribadi manusia tidak sama seluruhnya.[28] Sebenarnya tidak ada pendidik yang tidak sayang kepada siswanya. Demikian juga tidak ada orang tua yang merasa senang melihat penderitaan anaknya. Dengan memberikan hukuman, orang tua sebenarnya merasa kasihan terhadap anaknya yang tidak mau melaksanakan ajaran Islam. Karena salah satu fungsi dari hukuman adalah mendidik.[29] Sebelum anak mengerti peraturan, ia dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar apabila tidak menerima hukuman dan tindakan lainnya salah apabila mendapatkan suatu hukuman.

Dalam memberikan hukuman ini diharapkan orang tua melihat ruang waktu dan tempatnya. Diantara metode memberikan hukuman kepada anak adalah : [30]

a.  Menghukum anak dengan lemah lembut dan kasih sayang.

b.  Menjaga tabiat anak yang salah.

c.  Hukuman diberikan sebagai upaya perbaikan terhadap diri anak, dengan tahapan yang paling akhir dari metode-metode yang lain.

Memberi hukuman pada anak, seharusnya para orang tua sebisa mungkin menahan emosi untuk tidak memberi hukuman berbentuk badaniah. Kalau hukuman yang berbentuk psikologis sudah mampu merubah sikap anak, tentunya tidak dibutuhkan lagi hukuman yang menyakitkan anak tersebut. Menurut Nashih Ulwan, hukuman bentuknya ada dua, yakni hukuman psikologis dan hukuman biologis.

Bentuk hukuman yang bersifat psikologis adalah : [31]

a.  Menunjukkan kesalahan dengan pengarahan.

b.  Menunjukkan kesalahan dengan memberikan isyarat.

c.  Menunjukkan kesalahan dengan kecaman.

Hukuman bentuk psikologis ini diberikan kepada anak dibawah umur 10 tahun. Apabila hukuman psikologis tidak mampu merubah perilaku anak, maka hukuman biologislah yang dijatuhkan tatkala anak sampai umur 10 tahun tidak ada perubahan pada sikapnya. Hal ini dilakukan supaya anak jera dan tidak meneruskan perilakunya yang buruk. Sesuai sabda Rasul SAW yang diriwayatkan Abu Daud dari Mukmal bin Hisyam.[32]

حدثنا مأمل بن هشام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم مروا اولادكم بالصلاة وهم ابـناء سبع سـنـين واضربوهم عليها وهم أبناء عشر وفرقوا بـيـنهم فى الـمضاجع –(رواه ابو داود)-

 

Artinya   :  “Suruhlah anak kalian mengerjakan shalat, sedang mereka berumur tujuh tahun, dan pukulilah mereka itu karena shalat ini, sedang mereka berumut sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidu mereka”. (HR. Abu Daud)


[1]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, Terj. Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim, “Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak”, Bandung : Remaja Rosdakarya, Cetakan kedua, 1992, hlm. 5.

[2]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad fil-Islam, terj. Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali, “Pedoman Pendidikan anak dalam Islam”, Semarang : Asy-Syifa’, Jilid II, t.th, hlm. 542.

[3]Ibid., Jilid I,  hlm. xviii.

[4]Ibid., Jilid II,  hlm.542-543 .

[5]Ibid., Jilid I,  hlm. xvi-xvii.

[6]Ibid., Jilid II, hlm. i.

[7]Muhammad ‘Ali Quthb, Auladuna fi-Dlaw-it Tarbiyyatil Islamiyah, Terj. Bahrun Abu Bakar Ihsan, “Sang Anak dalam Naungan Pendidikan Islam”, Bandung : Diponegoro, Cetakan II, 1993, hlm. 11.

[8]Dr. Muhammad Ali al-Hasyimi, The Ideal Muslimah the True Islamic Personality of The Muslim Woman as Defined in The Qur’an and sunnah, Terj. Fungky Kusnaedi Timur, “Muslimah Ideal pribadi Islami dalam al-Qur’an dan as-Sunnah”, Yogyakarta : Mitra Pustaka, Cetakan I, 2000, hlm. 250-251.

[9]Depag. RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang : Toha Putra, 1989, hlm. 450.

[10]Aziz Mushoffa dan Imam Musbikin, Sepasang Burung dan Nabi Sulaiman, Yogyakarta: Mitra Pustaka, Cetakan I, 2001,  hlm. V.

[11]Ibid.,  hlm. VI.

[12]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit., , jilid II, t.th, hlm. 2.

[13]Haya Binti Mubarok al-Barik, Mausu’ah al-Mar’atul Muslimah, terj. Amir Hamzah Fachrudin, “Ensiklopedi Wanita Muslimah”, Jakarta : Darul Falah, Cet. IV, 1998, hlm. 247.

[14]Dr. Abdurrahman ‘Isawi, Anak dalam Keluarga, Jakarta : Studia Press, Edisi II, 1994,     hlm. 35.

[15]Depag. RI, Op. Cit.,   hlm. 670.

[16]Dr. Abdullah Nashih Ulwan,  Op. Cit., Jilid II, t.th, hlm. 6.

[17]Imam Muslim, Sahih Muslim, juz IV, Lebanon : Dar al-Kutbi al-Ilmiah, t.th, hlm. 2047.

[18]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit., jilid II, t.th, hlm. 59.

[19]Sunan at-Tirmidzi, al-Jami’us Sahih, Lebanon : Dar al-Kutbi, Juz IV, t.th, hlm. 298.

[20]Muhammad Quthb, t.t, Terj. Salman Harun “Sistem Pendidikan Islam”, Bandung : Ma-arif, 1993, hlm.334.

[21]Depag. R.I, Op. Cit.,  hlm. 16.

[22]Dr. Abdullah Nashih Ulwan,  Op. Cit., Jilid II, t.th, hlm. 70.

[23]Depag. RI, Op. Cit., hlm. 654.

[24]Ibid., hlm. 251.

[25]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit., hlm. 123

[26]Dr. Muhammad Ali al-Hasyimi,  Op. Cit., hlm. 262

[27]Muhammad Quthb, Op. Cit., hlm. 341.

[28]Ibid.

[29]Elizabeth B. hurlock, t.t. Terj. Med.Meitasari Tjandrasa, “Perkembangan Anak”, Jakarta: Erlangga, jilid II, 1999, hlm. 87.

[30]Dr. Abdullah Nashih Ulwan,  Op. Cit, Jilid II, t.th,          hlm. 155.

[31]Ibid., hlm. 159.

[32]Abi Daud, Sunan Abi Daud, Indonesia : Maktabah Dahlan, Juz I, t.th, hlm. 133.

PROPOSAL SKRIPSI PENDIDIKAN ISLAM

PROPOSAL SKRIPSI

A.   Latar Belakang Masalah

Berbagai media massa, baik media cetak ataupun media elektronik, memberitakan tentang pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pelajar atau pun oleh para remaja. Pelanggaran itu berupa kenakalan yang bersifat biasa (membolos sekolah) sampai kenakalan yang bersifat khusus (hubungan seks di luar nikah, penyalahgunaan narkotik dan lain sebagainya). Padahal generasi muda merupakan penerus dari pembangunan suatu bangsa. Banyak kalangan merasa khawatir tentang kemerosotan moral ini, bahkan yang lebih ekstrim saling menyalahkan antara instansi satu kepada instansi lainnya. Namun hal ini, apabila diruntut benang merahnya, hal itu bermuara pada faktor pendidikan. Suatu proses pendidikan akan berhasil apabila di antara komponen yang ada (keluarga, sekolah, dan masyarakat) saling bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif.

Diantara ketiga komponen yang mempunyai pondasi terpenting tersebut, adalah keluarga. Keluarga merupakan arsitektur bagi pembentukan pribadi anak.[1] Waktu anak banyak berkumpul dengan keluarganya. Pola tingkah laku, pikiran, sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anggota keluarga lainnya. Oleh karena itu, tradisi kebiasaan sehari-hari baik sikap hidup, cara berfikir, dan filsafat hidup keluarga itu sangat besar pengaruhnya dalam proses membentuk tingkah laku dan sikap anggota keluarga, terutama anak-anak.[2] Hal ini disebabkan anak-anak merupakan peniru ulung yang sangat tajam baik melalui penglihatan, pendengaran dan tingkah laku lainnya dari orang-orang di sekitarnya. Apabila lahan peniruan itu bagus, maka anak akan tumbuh sesuai dengan harapan orang tuanya yaitu anak yang mempunyai moral yang baik (sesuai dengan ajaran agama Islam dan sesuai dengan aturan sosial masyarakat). Dan sebaliknya, jika lingkungan peniruan itu jauh dari nuansa ajaran agama Islam dan tidak menghargai aturan masyarakat yang ada, maka degan sendirinya anak akan terbentuk seperti yang ada di lingkungan dimana ia bertempat tinggal.

Agar peniruan anak tersebut sesuai dengan harapan ajaran agama Islam dan sesuai dengan aturan masyarakat maka pertama-tama yang harus diperhatikan adalah penyelamatan hubungan ibu bapak, sehingga pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi contoh bagi anak-anaknya terutama anak yang masih berumur sekitar enam tahun, dimana mereka belum dapat memahami kata-kata dan simbol yang abstrak.[3] Supaya dalam kehidupan keluarganya harmonis, taat kepada agamanya, dan dapat dijadikan teladan bagi anak-anak sebagai amanah dari Allah. Amanah berarti segala yang kita anggap milik kita itu sebenarnya bukan milik kita, hanya barang pinjaman dari pencipta kita, termasuk nyawa dan badan kita.[4] Anak sebagai barang pinjaman (amanah) dari Allah, agar tetap terawat dengan baik, tentunya kita sebagai orang yang meminjam berusaha dengan hati-hati untuk menjaga barang yang bukan milik kita tersebut. Ibarat kita meminjam pisau kepada orang lain dan apabila barang tersebut rusak karena kelalaian kita, maka kita wajib untuk mengganti kerusakannya tersebut.

Demikian juga kita, apabila ingin mempunyai amanah berupa seorang anak, maka jalan yang terbaik adalah melalui jalan perkawinan. Sesuatu hal yang harus dipersiapkan sebelum terjadinya perkawinan yang sesuai dengan ajaran Islam bagi pelamar atau yang akan dilamar hendaknya dengan cara memilih calon pasangannya. Pilihan yang terbaik diantara pilihan yang ditawarkan sesuai sabda Rasulullah saw, yang di riwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah adalah pasangan yang mempunyai Ad-din (agama) yang baik.[5]

عن أبى هريرة رضى الله عنه عن النـبـى صلى الله عليه وسلّم قال: تنكح الـمرأة لأربع: لـمالـها ولحسبها وجمالـها ولديـنها فاظفر بذات الدين تربت يداك –(رواه البخارى)-

 

Artinya: “Dari Abu Hurairoh r.a, bahwa Rasulullah saw.telah bersabda: wanita itu di nikahi karena empat faktor : karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah  kedua tanganmu.” (HR. Bukhari )

Pilihan bagi pelamar dan yang dilamar agar memilih berdasarkan Ad-din (agama). Yang di maksud Ad-din di sini adalah pemahaman yang hakiki terhadap Islam dan penerapan setiap keutamaan dan adabnya yang tinggi dalam perbuatan dan tingkah laku.[6]

Sungguh suatu kebahagiaan dalam hidup terutama dalam berkeluarga dengan orang-orang yang berpegang teguh terhadap Ad-dinnya. Sebab apa yang dilakukannya sebagai suatu pencerminan dari pemahaman dari ajaran agama yang dianutnya, dan akan berakibat terhadap orang-orang di sekitarnya terutama terhadap anak-anaknya.

Anak akan meniru apa-apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya baik dari penglihatan, pendengaran, dan tingkah laku lainnya baik yang di sengaja ataupun yang tidak disengaja. Oleh karena itu, agar anak-anak kelak mempunyai tabiat yang baik, maka harus dididik sesuai dengan ajaran-ajaran Islam terutama dalam cara mendidik anak. Begitupun para pendidik khususnya kepada para orang tua juga harus hati-hati dalam berperilaku dalam kehidupannya (keluarga) agar menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Salah satu alternatif diberikan Abdullah Nashih Ulwan dalam buku terjemahannya dari kitab “Tarbiyatul Aulad Fil-Islam” yaitu Pedoman pendidikan anak dalam Islam yang menawarkan bagaimana sebaiknya kita sebagai para pendidik terutama para orang tua dalam mendidik anak khususnya yang berkaitan tentang metode pendidikan moral anak dalam keluarga. Dalam  hubungan  ini  penulis berminat  menelaah pemikiran Abdullah  Nashih  Ulwan  tentang metode pendidikan moral anak dalam keluarga yang penulis  jadikan sebagai  tema dalam  penelitian ini.

B.   Alasan Pemilihan Judul

Dalam mengangkat masalah yang berkaitan dengan skripsi ini, tentunya bagi penulis mempunyai berbagai alasan. Diantara alasan-alasan tersebut adalah:

1.  Sebagai mahasiswa IAIN Walisongo Semarang, khususnya yang mengambil jurusan Fakultas Tarbiyah yang mempunyai misi untuk menjadi pendidik yang dapat dijadikan contoh teladan bagi anak didiknya sesuai dengan ajaran agama Islam dan sebagai warga negara sesuai dengan nilai-nilai moral pancasila.

2.  Ingin memberi masukan teoretik dalam upaya memperbaiki atau  mengurangi pelanggaran yang dilakukan oleh para remaja terutama statusnya sebagai anak sekolah yang sudah melenceng dari ajaran-ajaran agama Islam sebagai keyakinan pribadi dan tidak sesuai dengan nilai-nilai moral pancasila.

3.  Ingin memberikan gambaran kepada para pendidik lebih khusus kepada para orang tua, agar dalam mendidik anaknya menggunakan ajaran-ajaran Islam. Salah satu tokoh pemerhati pendidikan Islam adalah Abdullah Nashih Ulwan yang memberikan metode pendidikan anak terutama metode pendidikan moral anak dalam keluarga, melalui karyanya Tarbiyatul Aulad Fil-Islam sebagai alternatif untuk membendung dari banyaknya perilaku-perilaku yang menyimpang dari ajaran-ajaran agama sebagai suatu tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan anak dalam Islam ini. 

4.  Diantara kelebihan dari buku tersebut, adalah berupaya memberikan wacana ataupun gambaran kepada para pendidik khususnya pada para orang tua agar dalam mendidik putra putrinya, menggunakan metode-metode yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya sebagai teladan bagi kita semua. Dengan metode tersebut menjadikan mereka menjadi orang-orang yang berperangai budi pekerti yang baik dalam hidup di masyarakat.

C.   Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahan pemahaman, maka menurut penulis perlu adanya penjelasan berbagai istilah yang ada pada judul skripsi ini :

1.  Konsepsi

Konsepsi berarti “pembuahan”.[7] Konsepsi Abdullah Nashih Ulwan adalah hasil buah pikir Abdullah Nashih Ulwan, sebagai pemerhati pendidikan. Oleh karena itu konsepsi Abdullah Nashih Ulwan merupakan hasil buah pikir Abdullah Nashih Ulwan di dalam kepentingan pendidikan, terutama masalah pendidikan anak dalam Islam.

2.  Metode

Secara kata metode berasal dari kata metode (method). Metode berarti “suatu cara kerja yang sistimatis dan umum, seperti cara kerja ilmu pengetahuan”.[8]

3.  Pendidikan Moral

Pendidikan moral adalah “serangkaian sendi moral, keutamaan tingkah laku dan naluri yang wajib dilakukan anak, diusahakan dan dibiasakan sejak ia mumayyiz dan mampu berpikir hingga menjadi mukallaf, berangsur memasuki usia pemuda dan siap menyongsong kehidupan”.[9]

4.  Anak      

Pengertian anak di sini penulis batasi yaitu masa kanak-kanak yang menurut Zakiah Daradjat adalah manusia yang berumur 0-12 tahun.[10] Sedang menurut kalangan agama “mengartikan anak tidak hanya sebagai hasil proses biologis semata-mata tetapi sebagai kodrat Tuhan”. [11]

5.  Keluarga      

Keluarga adalah “suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak baik anaknya sendiri atau adopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga”.[12]

6.  Abdullah Nashih Ulwan

Merupakan seorang pemerhati pendidikan terutama pendidikan Islam.[13]

Dari uraian beberapa pengertian istilah tersebut, maka dapat dirumuskan bahwa maksud dalam proposal skripsi ini adalah bagaimana sebenarnya konsep yang ditawarkan oleh Abdullah Nashih Ulwan tentang metode pendidikan moral anak dalam  keluarga yang harus diterapkan orang tua dalam pendidikannya.

D.   Perumusan Masalah

Berdasarkan dari uraian tersebut di atas, maka peneliti merumuskan masalah pokok yang akan dikaji secara seksama, yaitu :

1.  Bagaimanakah metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut konsep Abdullah Nashih Ulwan sebagaimana tertuang dalam kitab”Tarbiyatul Aulad Fil Islam” ?

2.  Bagaimanakah efektivitas metode pendidikan moral anak dalam keluarga tersebut dari segi :

a.  Psikologis

b.  Sosiologis

c.  Religius

E.   Metode Penelitian

1.  Tujuan Penelitian

Setelah mengetahui permasalahannya, maka peneliti mempunyai tujuan yang antara lain adalah :

a.  Memaparkan metode pendidikan moral anak dalam keluarga, yang diberikan oleh Abdullah Nashih Ulwan.

b.  Menelaah secara kritis terhadap metode tersebut dari aspek psikologis, sosiologis, dan religius.

2.  Fokus Kajian penelitian

Konsepsi metode pendidikan moral anak dalam keluarga yang dipaparkan oleh Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Tarbiyatul Aulad Fil Islam. Diantara konsep metode tersebut adalah :

a.  Pendidikan dengan keteladanan

b.  Pendidikan dengan adat kebiasaan

c.  Pendidikan dengan nasihat

d.  Pendidikan dengan memberikan perhatian

e.  Pendidikan dengan memberikan hukuman

3.  Pendekatan dan Metode

A. Jenis penelitian

 Menurut peneliti, dalam jenis penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah :

1.  Filologi

Filologi adalah mengkaji teks-teks lama yang sampai pada kita di dalam bentuk salinan-salinannya, dengan tujuan menemukan bentuk teks yang asli (original) dan untuk mengetahui maksud penyusunan teks tersebut.[14]

2.  Studi Teks : studi pustaka

Studi teks dalam makna studi pustaka yaitu studi yang memerlukan olahan filosofik dan teoretik dari pada uji emperik.[15]

B. Metode Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data skripsi ini, peneliti menggunakan metode kepustakaan atau library research, yaitu mengumpulkan data atau karya tulis ilmiah yang bertujuan dengan obyek penelitian atau pengumpulan data yang bersifat kepustakaan. Pengumpulan data kepustakaan dapat dilakukan dengan beberapa sumber yang dipergunakan, yaitu :

a.  Sumber primer

Sumber primer yaitu hasil-hasil penelitian atau tulisan-tulisan karya peneliti atau teoritisi yang orisinil, dalam hal ini yaitu karya Abdullah Nashih Ulwan tentang metode pendidikan moral anak dalam keluarga dalam kitabnya yang berjudul Tarbiyatul Aulad Fil-Islam.[16]

b.  Sumber sekunder

Sumber sekunder adalah bahan pustaka yang ditulis dan dipublikasikan oleh seorang penulis  yang tidak secara langsung melakukan pengamatan atau berpartisipasi dalam kenyataan yang ia deskripsikan. Dengan kata lain penulis tersebut  bukan penemu teori.[17]

C. Metode Analisis Data

Dalam menganalisis data yang sudah terkumpul, penulis menggunakan metode adalah sebagai berikut :

a.  Metode Interpretasi Data

Menurut Anton Bakker dan Zubair, metode interpretasi data adalah menyelami isi buku, untuk dengan setepat mungkin mampu mengungkapkan arti dan makna uraian yang di sajikannya.[18]

b.  Metode Deduksi

Metode deduksi adalah suatu metode berpikir dari umum ke khusus yang mempunyai maksud cara pengambilan kesimpulan berangkat dari generalisasi masalah yang bersifat umum kemudian ditarik pada kesimpulan yang bersifat khusus.[19]

c.  Metode Induksi

Metode induksi adalah suatu metode berpikir dari khusus keumum yang mempunyai maksud adalah cara pengambilan kesimpulan berangkat dari generalisasi masalah yang bersifat khusus kemudian di tarik pada kesimpulan yang bersifat umum.[20]  

 

F.    Sistematika Penulisan

Skripsi yang merupakan hasil penelitian ini akan ditulis dengan sistematika sebagai berikut :

1.  Bagian muka, terdiri atas halaman judul

2.  Bagian isi, terdiri atas :

a.  Bab I : Pendahuluan

    Bab ini memuat secara global mengenai kerangka skripsi yang meliputi:

(1).  Latar belakang masalah

(2).  Alasan pemilihan judul

(3).  Penegasan istilah

(4).  Perumusan masalah

(5).  Metode penelitian :

(a).  Tujuan penelitian

(b).  Fokus kajian penelitian

(c).  Metode pengumpulan data

(d). Metode penganalisaan data

(6).  Sistematika penulisan

b.  Bab II : Pendidikan Moral Anak dalam Keluarga dan Aspek-aspeknya

(1).  Pendidikan moral anak dalam keluarga

(a). Pendidikan moral masa pranatal

(b). Pendidikan moral masa balita

(c). Pendidikan moral masa sekolah

(2). Aspek-aspek pendidikan moral

(a). Aspek kognitif

(b). Aspek afektif

(c). Aspek psikomotorik

(3).  Keberhasilan pendidikan moral anak dalam keluarga

c.  Bab  III :  Konsep metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut Abdullah Nashih Ulwan

1.  Biografi

2.  Deskripsi kitab Tarbiyatul Aulad Fil-Islam

3.  Metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut Abdullah Nashih Ulwan

d. Bab  IV :  Analisis terhadap metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut Abdullah Nashih Ulwan

1.  Efektivitas metode pendidikan moral anak dalam keluarga menurut Abdullah Nashih Ulwan dari segi :

a.  Psikologis

b.  Sosiologis

c.  Religius

2.  Implikasi metode pendidikan moral anak menurut Abdullah Nashih Ulwan dalam pendidikan

a.  Pendidikan keluarga

b.  Pendidikan sekolah

c.  Pendidikan masyarakat

e. Bab V : Penutup

1.  Kesimpulan

2.  Saran-saran

  1. Kata penutup

Daftar pustaka

Lampiran-lampiran

 

 


[1]J. Drost, SJ, tt, Willie Koen (ed), Menjadi Pribadi Dewasa dan Mandiri, Kanisius,Yogyakarta, 1993. hlm. 19.

[2]Dr. Kartini Kartono dan dr. Jenny Andri, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Mandar Maju,Bandung , 1989, hlm. 167.

[3]Dr. Zakiah Daradjat, Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta,1977, hlm. 20.

[4]Prof. Dr.Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi Abad ke 21,  Pustaka Al-Husna, Jakarta,1988, hlm. 189.

[5]Imam Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz VII, Istambul: Daar at-Thabaah al-A’mirah, 1981, hlm. 09.

[6]Dr. Abdullah Nashih Ulwan,  “Tarbiyatul Aulad  fil  Islam”. Terj. Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali, “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam”, Jilid I, Semarang: Asy-Syifa’, t.th, hlm.10.

[7]Ensiklopedi Nasional Indonesia, jilid 9, Cipta Adi Pustaka, Jakarta,1990, hlm. 110.

[8]Prof. Drs. H. Muhammad Zein, Methodologi Pengajaran Agama, Ak Group dan Indra Buana, Yogyakarta,1995, hlm 167.

[9]Dr. Abdullah Nashih Ulwan,”Tarbiyatul Aulad fil Islam”, Terj.Khalilullah Ahmad Masjkur Hakim” Pemeliharaan Kesehatan Jiwa Anak”, Remaja Rosdakarya, Bandung,1992, hlm. 169.

[10]Dr. Zakiah Daradjat, Pembinaan mental keagamaan dalam keluarga,dalam Sumarsono, Skon dan Risman Musa (eds), Keluarga sakinah, ditinjau dari aspek iman dan ibadah,: BKKBN,Jakarta,1982, hlm. 17 .

[11]Drs. Abu Ahmadi, Ilmu Jiwa Anak, Toha Putra, Semarang, Cet.I, 1977, hlm. 19.    

[12]Dr. Sayekti Pujosuwarno, Bimbingan konseling keluarga,Menara Mas Offset,Yogyakarta, 1994, hlm. 11.

[13]Dr. Abdullah Nashih Ulwan, “Tarbiyatul Aulad Fil Islam”, Terj. Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali “Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam”, Jilid II, Asy-Syifa’, Semarang, t.th.,        hlm. 542.

[14]Dr. Panuti Sudjiman, Filologi Melayu, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta,1995,  hlm. 09.

[15]Prof. Dr. H.Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama,Bayu Indra Grafika, Edisi III, Yogyakarta,Cetakan 8, 1998, hlm. 159.

[16]Drs. Ibnu Hadjar,M.Ed, Dasar-dasar metodologi penelitian kwantitatif dalam pendidikan,Raja grafindo persada, Jakarta,1996, hlm. 83.

[17]Ibid,hlm. 84.

[18]Dr. Anton Bakker dan Drs.Achmad Choris Zubair, Metodologi penelitian filsafat,  Yogyakarta,Kanisius, Cet.I, 1990, hlm. 69.

[19]Ibid, hlm.44.

[20]Ibid, hlm. 43.

PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA

PENDIDIKAN MORAL ANAK DALAM KELUARGA
DAN ASPEK-ASPEKNYA

A. Pendidikan Moral Anak dalam Keluarga
Menurut Sartono, manusia yang hidup dan berkembang serta berbudaya, sepanjang sejarahnya, menyelenggarakan pendidikan sebagai fungsi utama untuk mempertahankan eksistensinya serta menjamin kontinuitasnya. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu untuk memelihara kehidupan manusia. Melalui proses pendidikan tersebut, generasi selanjutnya diupayakan mengetahui atau mengerti tentang seluk beluk yang dialami para pendahulunya, baik cara berjalan, makan, mandi, dan seterusnya. Segala bentuk warisan tersebut, akan tetap eksis selama para anak cucunya melestarikan budaya nenek moyangnya.
Pendidikan merupakan usaha orang dewasa untuk mempengaruhi atau membimbing anak didiknya dari yang tidak tahu menjadi tahu, atau membimbing anak didiknya menjadi lebih dewasa. Purwanto mendefinisikan “pendidikan adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan”. Sementara Langgulung memberikan pengertian pendidikan yaitu “suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan pola-pola tingkah laku tertentu pada kanak-kanak atau orang yang sedang dididik”.
Dari definisi pendidikan yang dipaparkan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan merupakan usaha orang dewasa yang lebih tahu dengan sengaja atau tanpa disengaja untuk mengarahkan atau membimbing dan mempengaruhi anak didiknya dengan tujuan supaya segala tingkah laku yang dicontohkan dapat ditiru oleh anak didiknya menuju kearah perkembangan yang lebih baik.
Apabila dicermati, ternyata pembagian masalah pendidikan banyak sekali mulai dari pendidikan jasmani, pendidikan intelektual, pendidikan seks, pendidikan moral, dan pendidikan spiritual. Pendidikan-pendidikan tersebut merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya, terlebih masalah pendidikan moral yang merupakan pendidikan yang harus diberikan sedini mungkin dalam keluarga, sebelum anak mengetahui dunia luar. Dengan diterapkan pendidikan moral, diharapkan manusia dapat hidup dengan tentram, damai, dan sejahtera. Sebab tegaknya suatu masyarakat atau bangkitnya suatu bangsa tak lepas dari manusia-manusia yang mempunyai moral baik dalam kehidupan masyarakatnya. Sebaliknya runtuh atau hancurnya suatu masyarakat dan bangsa disebabkan manusia-manusianya yang tidak melaksanakan ajaran moral yang berlaku baik ajaran dari agama (Islam) ataupun dari norma sosial.
Sebelum dibicarakan lebih jauh, kiranya harus dibedakan dari konsep yang erat kaitannya dengan moral yaitu akhlak dan etika. Sebagian orang menyamakan pengertian diantara ketiganya, padahal terdapat perbedaan diantara ketiganya.
1. Moral
Kata “moral” berasal dari Bahasa Latin mores yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Moral secara umum merupakan ajaran baik buruk yang diterima masyarakat umum mengenai perbuatan. Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, moral adalah “kelakuan jang sesuai dengan ukuran-ukuran (nilai-nilai) masjarakat, jang timbul dari hati dan bukan paksaan dari luar, jang disertai pula oleh rasa tanggung jawab atas kelakuan (tindakan) tersebut”. Sementara menurut Nurdin dkk, moral merupakan penjabaran dari nilai yang bersumber dari wahyu Ilahi dan budaya.
Jadi moral itu merupakan aplikasi perbuatan yang berdasarkan pada ajaran Agama (Islam) dan dari unsur budaya yang diakui sebagai kebenaran dalam masyarakat yang dilakukan dengan penuh kesadaran pribadi yang bersangkutan secara kontinu.
2. Akhlak
Kata akhlak berasal dari Bahasa Arab khalaka “( )” yang berarti perangai, tabiat, adat. Atau budi pekerti. Jadi secara etimologi kata akhlak berarti perangai, tabiat, adat, budi pekerti, atau sistem perilaku yang dibuat.
Sementara secara terminologi akhlak adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia diatas bumi. Sistem yang dimaksud adalah ajaran Islam dengan sumber nilainya dari al-Quran dan Sunnah Rasul saw, dan metode berpikirnya (Islam) yaitu ijtihad. Mengutip dari Djatnika, tentang pengertian akhlak yang mengambil dai tokoh Islam, yaitu Ibnu Maskawaih dalam bukunya “Tahdzibul-akhlak wa That-Hirul-a`raq”.
اَلْخُلُقُ حَالٌ لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لَـهَا إِلى أفْعَالِـهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَةٍ
Artinya: “Perangai itu adalah keadaan gerak jiwa yang mendorong kearah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran”.

Sedangkan al-Ghazali dalam bukunya “Ihya`-u `Ulumuddin”.
فَالْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْـئـَةٍ فِى النَّـفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ اْلأفْـعَالُ بِسُهُولَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلى فِكْرٍ وَرُوِيَةٍ

Artinya: “khuluq, perangai adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran”.

Sementara Ahmad Amin, mendefinisikan akhlak dalam bukunya”Al-Akhlak”.
الْخُلُقُ عَادَةُ الإِرَادَةِ

Artinya: “khuluq ialah membiasakan kehendak”.
Dengan demikian akhlak itu merupakan pembiasaan diri dengan tingkah laku yang baik (berbuat kebenaran) berdasarkan kesadaran diri tanpa memikirkan suatu imbalan tertentu.
3. Etika
Kata “etika” secara etimologi berasal dari Bahasa Latin etos yang berarti kebiasaan. Sedangkan secara terminologi etika merupakan kesepakatan masyarakat pada suatu waktu dan di tempat tertentu. Sebab antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain akan berbeda pandang dalam masalah etika ini, sehingga kebenarannya pun akan

berbeda pula. Apabila suatu mayarakat bercorak religius, maka etika yang dikembangkan pada masyarakat itu, tentu akan bercorak religius pula. Sebaliknya bila suatu masyarakat bercorak sekuler, maka etika yang akan dikembangkan tentu saja akan bercorak sekuler pula.
Pendidikan moral di sini adalah segala upaya yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya baik melalui bimbingan atau arahan agar anak (didik) dapat bertingkah laku sesuai dengan moral yang ada, baik moral agama atau pun moral sosial.
Untuk mengetahui pengertian keluarga yang di maksud dalam penelitian ini, sebelumnya peneliti akan memberikan sedikit gambaran pengertian keluarga baik dari sudut pandang yuridis formal, sosiologis, dan paedagogies.
1. Tinjauan yuridis formal
Pengertian keluarga secara yuridis formal adalah suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak-anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
2. Sudut pandang sosiologis
Secara sosiologis keluarga diartikan sebagai unit terkecil atau umat kecil yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya.
3. Perspektif paedagogie
Secara paedagogies keluarga diartikan sebagai lembaga pertama dan utama yang dialami seseorang di mana proses belajar yang terjadi tidak berstruktur dan pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu.
Berkaitan dengan penelitian ini, maka pengertian keluarga yang di maksud adalah dari perspektif paedagogie. Sebab dalam hal ini peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anaknya dalam membimbing dan membina generasi mendatang, terutama dalam pendidikan moral.
Pendidikan (moral) dapat dilakukan di lembaga formal ataupun lembaga informal. Menurut Ki Hajar Dewantara, dalam dunia pendidikan ada tiga pusat pendidikan atau yang disebut tri pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini tidak berdiri sendiri atau terpisah, melainkan saling berkaitan atau bekerja sama dan merupakan satu rangkaian yang bertujuan demi tercapainya tujuan pendidikan yaitu membentuk manusia seutuhnya sehat lahir batin atau sehat jasmani rohani bagi generasi muda (anak didik). Pendidikan keluarga merupakan tanggung jawab orang tua kepada anak. Anak merupakan amanah dari Allah swt. yang harus dijaga, dirawat, dan diperhatikan segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani atau rohani. Adanya tanggung jawab orang tua kepada anaknya di karenakan adanya sifat lemah pada diri anak. Anak lahir dalam kondisi serba tidak berdaya, belum mengerti apa-apa dan belum dapat menolong dirinya sendiri. Ia memerlukan tempat bergantung. Tidak ada tempat bergantung yang aman sesuai kodratnya sebagai anak, kecuali kepada orang yang sangat menyayanginya yaitu kedua orang tuanya.
Pendidikan keluarga termasuk pendidikan informal, yaitu proses pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, pada umumnya tidak teratur dan tidak sistematis sejak seseorang lahir sampai mati. Keluarga atau masyarakat terkecil merupakan tempat pertama dan utama pendidikan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya. Karena sebelum anak menerima bimbingan dari sekolah, ia lebih dahulu memperoleh bimbingan dari keluarganya, terutama ibu bapaknya. Pendidikan dalam keluarga merupakan pondasi pembentuk watak kepribadian anak. Dalam kehidupan kesehariannya, anak banyak berkumpul dengan keluarga. Segala tingkah laku orang tua terutama orang tuanya akan ditiru oleh anak, sebab anak merupakan peniru yang ulung. Bila obyek peniruannya jelek, orang tua tidak memberikan kasih sayang yang memadai dan tidak memberikan teladan yang baik, serta jauh dari nuansa agama, maka jangan berharap kedua orang tuanya akan menunai buah hasil yang baik. Namun apabila kedua orang tuanya memberikan teladan yang baik, saling menghormati, menyayangi, jalinan yang baik sesama anggota keluarganya, tidak bersifat masa bodoh, selalu memberikan contoh yang bernuansa ajaran islami, maka semua itu akan tercetak ( terlukis) pada diri anak dan ia senantiasa akan meniru segala perbuatan yang terekam mulai pagi hari sampai sore hari.
Keteladanan yang diberikan pada masa kanak-kanak awal seharusnya berasal dari bapak ibunya, karena seorang anak sering tidak menghiraukan orang lain. Ketika anak melihat selain orang tuanya sendiri mengerjakan sesuatu, ia tidak akan mudah terpengaruh, apalagi kalau kedua orang tuanya tidak sejalan dengan orang tersebut. Namun sebaliknya anak tidak dapat menghindar dari perbuatan orang tua. Atau dengan kata lain, satu pekerjaan yang dikerjakan berulang-ulang oleh orang tua, akan memberikan pengaruh pada diri anak. Orang tua yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya akan memberikan pengarahan dan dasar yang benar kepada anaknya, yakni dengan menanamkan ajaran agama dan akhlakul karimah. Berdakwah dalam keluarga lebih utama dibandingkan dengan di tempat lain. Keselamatan keluarga merupakan tanggung jawab orang tua. Jangan sampai pendidikan keluarga terabaikan karena kepentingan yang lain. Adalah tidak bijak, memberikan penerangan kepada orang lain, sementara keluarganya berantakan. Hal semacam ini dilarang dalam ajaran Islam. Dalam sejarah perkembangan Islam juga dapat diketahui bahwa sebelum berdakwah kepada masyarakat luas, Rasulullah saw. diperintahkan untuk berdakwah kepada anggota keluarga dan kerabat dekatnya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi keagamaan dan keselamatan keluarga harus lebih diprioritaskan. Pada hakekatnya dari kebaikan dan keselamatan keluarga akan muncul kebaikan dan keselamatan masyarakat dan negara. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt.dalam QS.al-Syu’araa’ (26): 214.
وأنذر عشــيرتك الأقربـين –(الشعراء:214)–

Artinya: “Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang ter-dekat”.

Allah juga berfirman dalam surat yang lain yaitu QS.al-Tahrim (66): 06, Dia menyerukan kepada orang-orang beriman untuk menjaga keselamatan keluarganya dari api neraka.
يآيّهَا الْذِيْنَ أمَنُوْا قُوْآ اَنـْفُسـَـكُمْ وَاَهْلِــيْكُمْ نَارًا … –(التحريم:6)–

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Untuk mendapatkan anak yang mempunyai perilaku baik tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi orang tua harus mempersiapkan tahapan-tahapan yang harus diajarkan kepada putra putrinya agar tujuannya tercapai. Diantara tahapan-tahapan pendidikan moral anak dalam keluarga adalah:
a. Pendidikan moral masa pranatal (prenatal)
Pendidikan moral sebaiknya tidak terlepas dengan pendidikan agama. “Sebab pendidikan moral jang paling baik sebenarnja terdapat dalam agama, karena nilai-nilai moral jang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari luar, datangnja dari kejakinan beragama”, demikian menurut Zakiah Daradjat. Sebagai seorang muslim, tentunya dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari tidak lepas dari ajaran agama yang dianut. Ambil satu contoh, apabila kita ingin berkeluarga diharapkan agar mencari pasangan yang seagama agar dapat hidup tenteram, rukun, dan bahagia dunia akhirat.
Setelah terjadinya pembuahan dalam rahim istri, maka tiba saat pranatal, dalam arti istri mengandung anak yang akan lahir. Untuk mempersiapkan keadaan tersebut, maka hal yang harus dilakukan calon ayah dan ibu adalah melakukan pendidikan yang salah satunya berupa pendidikan moral masa pranatal secara lahir batin. Pendidikan prenatal adalah upaya pendidikan yang dilakukan oleh calon ayah dan ibu pada saat anak masih berada dalam kandungan.
Sempurnanya bentuk manusia dalam rahim calon ibu, prosesnya itu melalui beberapa tahapan. Diantara tahapannya adalah empat puluh hari pertama masih embrio (janin), belum terlihat bentuknya. Empat puluh hari kedua, menjadi darah kental (alaqah) mulai tampak permulaan munculnya wajah. Panjangnya sekitar 2,5 cm. Empat puluh hari ketiga, menjadi segumpal daging (mudghah) yang panjangnya sekitar 12,5 cm. Mulai berbentuk manusia. Jari-jari tangan dan kaki serta alat kelamin eksternal mulai berbentuk. Empat puluh hari keempat, merupakan saat terpenting yakni saat penentuan nasib inilah, calon orang tua terutama calon ibu, berusaha agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah swt. dengan cara mendidik calon bayi yang dikandungnya dengan memperbanyak doa dan ibadah supaya mendapatkan keturunan yang mempunyai pribadi saleh dan berguna bagi agama dan masyarakat, atau yang di sebut dengan pendidikan batin. Hal ini sesuai dengan hadis Rasul saw. yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah.
عن عبد الله قال: حدّثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إنّ أحدكم يجمع خلقه فى بطن أمّه أربـعـين يوما. ثمّ يكون فى ذلك علقة مثل ذلك. ثمّ يكون فى ذلك مضغة مثل ذلك. ثمّ يرسل الـملك فيـنـقخ فيه الروح. ويؤمر بأربع كلمـات. بكـتب رزقه, وأجله, وعلمه, وشقيّ أوسـعيد. -(رواه مســلم)-

Artinya: “Dari Abdullah berkata; telah bercerita (kepada saya) Rasulullah saw. Sesungguhnya, seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibu selama 40 hari. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula. Kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan roh atasnya serta menulis empat ketetapan, yakni rezekinya, umurnya, amalnya, dan nasibnya (pertolongan)”. (HR. Muslim).

Selain diberi pendidikan batin, calon bayi juga diberi pendidikan fisik melalui ibunya dengan cara mengkonsumsi makanan yang bergizi dan halal, untuk pertumbuhan otak dan fisiknya. Hal ini sangat penting bagi pertumbuhan janin, baik secara fisik maupun psikis, sehingga diharapkan lahir bayi yang kuat, sehat, dan cerdas. Sebab makanan bergizi juga bermanfaat terhadap calon ibu menjelang persalinan dan waktu menyusui anaknya.
Di samping itu, pasangan suami istri juga diharapkan untuk berusaha menciptakan keadaan yang baik, harmonis, dan wajar dalam menyambut kelahiran anaknya sebagai amanah dari Allah swt. Pendidikan dari calon ayah dan ibu tersebut diharapkan akan mempengaruhi mental sifat anaknya. Allah berfirman dalam QS.Maryam (19): 28.
يَآ اُخْتَ هرُوْنَ مَاكَانَ أبُوْكِ امْرَأ سَوْءٍ وَّمَا كَانَتْ أمُّكِ بَغِيًّا –(مريم:28)–

Artinya: “Hai saudara perempuan Harun ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”.

Untuk memperoleh seorang anak, pada umumnya melalui jalan perkawinan. Dengan sarana perkawinan tersebut, maka rasa akan tanggung jawabnya sebagai orang tua secara naluriah akan muncul. Oleh karena itu orang tua harus berusaha menjaga dan merawatnya sebagai amanat dari Ilahi.

b. Pendidikan moral masa balita (kanak-kanak pertama 0-5 tahun)
Setelah ibu melahirkan, pertama yang harus dilakukan orang tua (bapak) adalah untuk memberikan pengalaman keagamaan, yaitu ia diazankan untuk anak laki-laki, diiqamatkan untuk anak perempuan. Kemudian tugas orang tua yang lain adalah memberikan nama yang baik buat anaknya. Anak lahir sungguh membutuhkan bantuan dari pihak yang lain terutama ayah ibunya sebagai sarana pengembangan potensinya. Seorang anak yang dibesarkan, dipelihara, dan dididik dalam keluarga yang aman, tenteram, penuh dengan kasih sayang, akan tumbuh dengan baik dan pribadinya akan terbina dengan baik pula, lebih-lebih lagi bila orang tuannya mengerti agama dan taat menjalankannya dengan tekun.
Orang tua merupakan faktor pembentuk pribadi atau karakter anaknya. Sebab sebagian besar waktu anak bersama mereka terutama ibunya. Ikatan emosional ibu dengan anak lebih besar dibandingkan dengan hubungan kedekatan anak dengan ayahnya. Mulai pagi hingga malam hari waktu ibu dihabiskan bersama anaknya. Ibu yang baik tidak akan pernah lupa dengan tanggung jawabnya dalam membentuk kepribadian anaknya. Baik buruk anak tergantung pengasuhan dan pendidikan dari orang tuanya, sebab anak merupakan seorang peniru yang ulung. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul saw. yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah.
عن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مامن مولود الا يولد على الفطرة. فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه. –(رواه مســلم)–

Artinya: “Dari Abu Hurairah Rasulullah saw. Bersabda: Tidak ada anak kecuali dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang meyahudikannya atau menasranikannya atau me-majusikannya. (HR. Muslim).

Untuk memberikan bimbingan, arahan, dan pengawasan terhadap anaknya dibutuhkan adanya kerja sama dalam bentuk kesepakatan atau kompromi agar kelak tidak membingungkan anak dalam menerima pendidikan tersebut. Apabila anaknya bersalah, maka orang tua harus konsisten untuk memberikan hukuman sesuai dengan perbuatannya.
Anak dalam usia 0-3 tahun belum bisa membedakan atau memahami kata-kata atau simbol yang abstrak. Oleh karena itu perlu adanya keteladanan dari orang tuanya dalam bentuk pengalaman langsung yang dapat dirasakan akibatnya dalam kehidupan kesehari-hariannya. Atau dengan kata lain tingkah laku orang tua patut dijadikan contoh obyek peniruan dan identivikasi bagi anak anaknya. Hal ini sesuai denga firman Allah dalam QS. Fushshilat (41): 46.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَـفْسِه وَمَنْ اَسَـاءَ فَعَلَيْهَا قلى وَمَا رَ بُّكَ بِظّلاَّمٍ لِّلْعَبـِيْدِ -(فصلت:46)–

Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri, dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya”.

Karena dalam masa ini (0-3 tahun) orang tua merupakan otoritas mutlak yang harus dianut oleh anaknya, maka dari itu diperlukan bimbingan dan arahan dari bapak ibu kepada anaknya melalui pembiasaan hal-hal yang baik, seperti anak dilatih bersopan santun, tutur kata yang baik, sering diajak melakukan salat, dan sebagainya. Semua yang dilakukan orang tua, baik ucapan dan tindak tanduk semuanya akan terekam dalam diri anak dari pagi hingga sore hari. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk menjaga dan memelihara angota keluarganya dari api neraka.
Memasuki usia 3-5 tahun, keberadaan anak dalam keluarga sudah mulai berkurang, karena ia mulai mengenal lingkungan barunya terutama dengan teman sebayanya. Dalam usia 0-3 tahun, anak diajarkan benar dan salah oleh kedua orang tuanya, maka usia 3-5 tahun nilai-nilai tersebut bergeser kepada norma-norma sosial sehingga yang muncul adalah bagaimana seharusnya anak bertingkah laku dengan teman-temannya yang baik dan benar. Tugas orang tua pada masa ini kepada anaknya adalah menunjukkan bagaimana seharusnya anak bertingkah laku yang baik. Pemberian dorongan atau motivasi pada anak supaya anak gemar dan mempunyai tradisi berbuat baik seperti yang telah dicontohkan bapak ibu terhadap dirinya, dapat dilakukan orang tua dengan cara pemberian pujian baik melalui ucapan ataupun pemberian hadiah ketika anak menampilkan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Diberikannya pujian terhadap anak dapat memupuk suasana yang menggembirakan dan dapat mempertinggi harga diri anak. Dan sebaliknya juga diberikan bahaya-bahaya, apabila anak melakukan perbuatan yang bersifat negatif (jelek).
Larangan ataupun perintah yang diterapkan orang tua pada usia 3-5 tahun ini, akan dipersepsikan anak dengan konsep benar atau salah. Adapun pengawasan sebagai tugas orang tua yang berbentuk preventif yang baik yaitu anak diusahakan dan dijauhkan dari lingkungan atau pergaulan yang tidak baik dan tidak sopan. Dalam periode ini sangat dibutuhkan kewaspadaan yang serius dan jeli dari ibu bapaknya, sebab pembinaan mental anak hampir dimonopoli oleh mereka terutama ibunya.
c. Pendidikan moral masa sekolah (kanak-kanak terakhir 6-12 tahun)
Ketika anak mencapai umur 6-12 tahun, maka tugas orang tua adalah memberikan ilmu pengetahuan menulis dan membaca. Namun biasanya, karena keterbatasan waktu dan kesibukan orang tua, anaknya dikirim ke lembaga formal (Sekolah Dasar). Dengan posisi guru di sekolah sebagai pengganti orang tua, tidak secara otomatis beban tanggung jawab orang tua dengan sendirinya hilang. Sebab hanya sedikit waktu anak di sekolah dibandingkan waktu berkumpul anak dalam keluarga. Memang orang tua tidak akan mengajar ilmu pengetahuan secara formal, akan tetapi secara tidak langsung dan informal orang tua melaksanakan terus menerus pendidikan dan pembinaan mental terhadap anaknya.
Orang tua yang bijaksana, tentunya akan memilihkan lingkungan sosial baru kepada anaknya (sekolah Dasar) yang dapat menjadi lapangan yang baik bagi pertumbuhan dan pengembangan mental dan moral anak didik, di samping sebagai tempat atau lahan penggalian pengetahuan pendidikan ketrampilan dan pengembangan bakat serta kecerdasan pada diri anak.
Pemberian pengetahuan yang berupa menulis dan membaca, orang tua berharap anaknya kelak dapat menjadi orang yang dapat berguna dalam agama dan masyarakat melebihi pengetahuan bapak ibunya. Para guru diharapkan dalam memberikan pengetahuan kepada anak didiknya seyogyianya menggunakan bahasa yang komunikatif dalam arti agar mudah dicerna dan dipahami maksud yang akan disampaikan kepada anak

didiknya. Dan juga para guru seharusnya dapat dijadikan tokoh panutan dan pemberi contoh yang baik, agar penanaman moral yang telah diperoleh di dalam keluarganya tidak terjadi salah paham atau membingungkan para siswanya. Sekolah merupakan proses kelanjutan pendidikan anak dalam keluarga, karena yang berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak pada umur ini bukan hanya orang tua saja, tetapi juga guru. Penampilan guru-guru di sekolah terutama guru agama hendaknya dapat mengembangkan dan memupuk apa-apa yang sudah betul, dan memperbaiki yang salah, yang diterimanya dari orang tuanya. Untuk menunjang dalam pendidikan moral ini, seharusnya pendidikan agama dilakukan secara intensif, yaitu antara ilmu dan amal supaya dapat dirasakan oleh anak didik di sekolah, dalam arti pendidikan agama bukan berarti hanya sekedar menanamkan iman dan keyakinan beragama saja. Pada usia sekolah ini diusahakan pendidikan agama sudah menyangkut amal perbuatan kongkret, sehingga siswa dapat memahaminya bukan hanya berupa pengetahuan saja. Para guru diharapkan tidak pilih kasih terhadap siswa-siswanya. Dengan keadaan semacam ini tidak akan menimbulkan kecemburuan sosial di kalangan anak didiknya. Dalam masa ini (usia sekolah Dasar) apabila ada anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan kelompoknya, maka resikonya adalah akan dikucilkan dari kelompok sebayanya.
Pergaulan anak dengan lingkungan sosial (teman sebaya), juga berpengaruh terhadap perhatian anak dalam melaksanakan ajaran agamanya. Jika teman-temannya pergi mengaji, mereka akan ikut mengaji, temanya rajin salat jamaah ke masjid atau mushola juga akan turut serta pergi ke tempat ibadah tersebut. Untuk itu, harus ada kontrol dari orang tua

dalam mengamati pergaulan anaknya. Sebab apabila kelompok anaknya, merupakan kelompok yang tidak baik, dikhawatirkan akan mempengaruhi perilaku yang tidak baik pula pada diri anak. Satu contoh yang diberikan Rasul saw. Dalam suatu hadisnya yang berarti yaitu orang tua harus menyuruh anaknya yang berumur 7 tahun untuk melakukan salat. Andaikan sampai berumur 10 tahun anak tetap tidak mau melakukan salat tersebut, maka orang tua diberi kewajiban memukul anaknya, sebagai tanda agar anak tidak membiasakan diri hingga dewasa tanpa melakukan ibadah salat itu.
Apabila anak mencapai umur sekitar 10 tahun ke atas, maka agama baginya berfungsi sebagai pendidikan moral dan sosial. Anak mulai berpikir bahwa nilai-nilai agama bernilai tinggi dibandingkan dengan nilai pribadi atau nilai keluarga bahkan nilai masyarakat. Sebab kebenaran nilai agama merupakan milik masyarakat. Untuk membentuk pribadi anak yang mempunyai moral baik itu, tentunya dibutuhkan kesadaran dari elemen keluarga, sekolah, dan masyarakat yang berfungsi sebagai pengontrol dalam kehidupan sehari-hari. Dengan rasa tanggung jawab bersama itu, kiranya sesuatu yang menjadi harapan bersama akan terwujud ketika semua masih mau berusaha dan berjuang demi nilai-nilai ajaran agama Islam.

B. Aspek-aspek Pendidikan Moral
Pelaksanaan pendidikan dapat tercapai sesuai tujuan yang diinginkan, apabila semua faktor-faktor pendidikan terpenuhi. Diantara faktor-faktornya adalah tujuan, metode, pendidik, dan anak didik. Faktor tujuan dalam pendidikan sangat penting. Sebab dengan adanya tujuan akan berdampak pada suatu harapan yang ingin dicapai kelak.
Bentuk tujuan pendidikan yang diharapkan, idealnya mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Apabila ketiga ranah tersebut tercapai oleh setiap manusia (anak didik), maka aktualisasinya pun akan terwujud.
Demikian juga pendidikan moral yang dilakukan, bertujuan untuk mendidik anak menjadi orang yang berkepribadian dan berwatak baik. Orang tua yang menginginkan anaknya bermoral baik, tentunya ia harus berupaya semaksimal mungkin untuk mencurahkan segala daya upaya yang terbaik bagi anak, terutama anak pertama. Sebab anak pertama, disamping orang tuanya, ia akan dijadikan teladan bagi adik-adiknya.
Tujuan pendidikan moral dapat tercapai, apabila semua faktor yang ada baik orang tua, anak, lingkungan, dan metode dapat bekerja sama dalam membentuk karakter anak. Sebagai pendidik dalam memberikan informasi kepada anak, orang tua harus melihat kondisi anak terutama dari segi umur.
Anak yang berumur 0-10 tahun, menurut Kohlberg yang dikutip oleh A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono, seharusnya anak sudah pernah menerima informasi sebagai berikut:
1. Penalaran moral yang pra-konvensional
Hal ini mendasarkan pada obyek di luar diri individu sebagai ukuran benar salah. Sebagai contoh, anak harus mengikuti perintah ataupun larangan dari orang tua sebagai pemegang otoritas mutlak. Menurut orang tua, apabila anak bertingkah laku sesuai orang tua maka anak tidak akan menerima hukuman dan sebaliknya, apabila anak membangkang kehendak orang tua maka ia memperoleh hukuman.

2. Penalaran moral yang konvensional
Dalam penalaran ini mendasarkan pada pengharapan sosial, dimana suatu perbuatan dinilai benar bila sesuai dengan peraturan yang ada dalam masyarakat. Anak dianggap baik apabila anak bertingkah laku sesuai dan dapat menyenangkan orang lain. Perbuatan anak dalam bertingkah laku harus sesuai dengan jenis kelaminnya yang sesuai dengan masyarakat tersebut.
3. Penalaran moral yang post-konvensional
Memandang aturan-aturan yang ada dalam masyarakat tidak absolut, tetapi relatif, dan dapat diganti oleh yang lain. Dan masyarakat sebagai pengontrol yang legalistis. Individu harus memenuhi kewajiban-kewajibannya, tetapi sebaliknya masyarakat juga harus menjamin kesejahteraan individu. Peraturan dalam masyarakat adalah subyektif.
Anak sebagai obyek dari pendidikan moral, senantiasa akan menirukan segala tingkah laku yang diperbuat orang tua dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu lingkungan pendidikan moral sedapat mungkin memberikan contoh atau dapat dijadikan teladan bagi anak, terutama orang tuanya sendiri. Pada diri anak yang dibutuhkan adalah keteladanan dan pengalaman praktis dalam kehidupan sehari-hari, bukan cerita baik dan buruk. Sebab anak merupakan peniru ulung.
Perbuatan anak tidak akan jauh dari perbuatan orang tuanya. Untuk itu orang tua harus ekstra hati-hati dalam bertindak (tingkah laku) di depan anaknya. Anak akan menirukan apa yang ia dengan dan apa yang ia lihat dari lingkungannya dari pagi hingga sore hari.
Anak bertingkah laku baik itulah tujuan akhir dari pendidikan moral ini. Hal ini dapat dicapai apabila semua faktor pendidikannya mendukung. Salah satu faktornya berupa tujuan pendidikan. Diantara aspek-aspek dari tujuan pendidikan moral itu adalah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Idealnya ketiga aspek ini dimiliki oleh anak, agar aktualisasi pendidikan moral itu benar-benar terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Sebab ketiganya merupakan komponen yang tidak terpisahkan.

a. Aspek kognitif
Aspek kognitif yaitu kemampuan anak untuk menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan. Pemberi informasi baik buruk pertama kali dan utamanya dari orang tuanya. Sebab pertama kali anak berinteraksi dengan lingkungannya yaitu dengan orang tuanya terutama ibunya. Di saat anak berumur 0-5 tahun, sebaiknya orang tua telah menanamkan moral baik dan buruk. Atau dengan kata lain, apabila anak tidak mau mengikuti kemauan orang tuanya, ia pantas menerima hukuman. Begitu juga sebaliknya, apabila anak mengikuti aturan yang diberikan orang tua maka ia tidak akan menerima hukuman, karena ia berbuat sesuai aturannya.
Walaupun posisi orang tua mempunyai otoritas mutlak, namun sebaiknya orang tua jangan sembarangan bertingkah laku dihadapan anak. Sebab anak akan merekam dan menirukan segala perilaku orang tua dan lingkungannya dengan rasa imitasinya. Meskipun orang tua tidak pernah memberikan informasi yang negatif, tetapi orang tua harus waspada terhadap anaknya. Karena sedikit banyaknya anak akan terpengaruh dengan lingkungan di mana ia bersosial. Untuk itu orang tua harus memberikan perhatian, baik berupa bimbingan dan arahan yang baik agar apa-apa yang ia peroleh (informasi) dari lingkungannya dapat terkontrol.
Memasuki usia sekolah dasar (6-12 tahun), para guru terutama guru agama merupakan panutan bagi anak di samping ayah ibunya. Karena para guru tersebut di samping memberikan pengajaran, juga merupakan penerus dari pendidikan moral keluarga. Oleh karena itu para guru harus berusaha membenahi tingkah laku anak, apabila ada yang salah dari pendidikan orang tuanya.

Salah satu aturan sekolah yang harus ditaati siswa (anak) adalah ia harus memenuhi segala tugas dan kewajibannya sebagai anak didik. Apabila ia melaksanakan segala aturan sekolah tersebut, maka ia tidak akan menerima hukuman. Dan sebaliknya apabila ia melanggar aturan sekolah maka ia pantas menerima hukuman. Pada masa ini yang berlaku adalah aturan masyarakat sekolah, bukan aturan orang tuanya. Hal ini terjadi karena adanya perjanjian antara siswa denga pihak sekolah.
Meskipun orang tua telah menyerahkan tugasnya kepada pihak sekolah, namun dengan tidak sendirinya kewajiban orang tua dalam mendidik anaknya gugur. Karena waktu anak banyak bergaul dengan keluarganya. Dengan keadaan tersebut, maka orang tua diharapkan senantiasa menanyakan kegiatan anak terutama dengan perilakunya. Hal ini dilakukan sebagai kontrol terhadap perilaku anak.
Orang tua juga harus mengusahakan dan memberikan pengertian kepada anak dalam memilih teman bergaul yang baik perilakunya. Ini semua dilakukan agar anak tidak terjerumus dan ikut-ikutan dalam perbuatan yang negatif. Sesuai firman-Nya QS. Luqman (31) : 17.

يَـبُنُيَّ أقِمِ الصَّلوةَ وَأمُرْ بِالْـمَعْرُوْفِ وَأنـْهَ عَنِ الْـمُنْكَرِ وَأصْبِرْ عَلى مَآأصَابَكَ ط إنَّ ذلِكَ مِنْ عَزْمِ اْلأمُوْرِ –(لقمن:17)-

Artinya: “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Salah satu contoh kebaikan adalah mengerjakan salat. Salat sangat penting dilakukan anak, karena kegiatan ini merupakan salah satu rukun dari rukun Islam. Apabila anak tidak mau melakukan salat sampai berumur 10 tahun, maka anak harus menerima hukuman sebagai konsekuensinya.
Aspek kognitif ini dikatakan berhasil, diantaranya apabila anak telah mampu mengetahui, memahami, dan menerapkan informasi yang telah diperolehnya kemudian “ditransfer” kedalam dirinya yang berbentuk pengetahuan intelektual tentang hal (salat) tersebut.
b. Aspek afektif
Aspek afektif adalah kemampuan anak untuk merasakan dan menghayati apa-apa yang diajarkan, yang telah diperolehnya dari aspek kognitif di atas tersebut. Setelah anak mengetahui dan memahami dari pengertian salat, tahapan selanjutnya adalah anak dengan kesadarannya senang memperhatikan orang melakukan salat. Rasa perhatiannya itu dapat ditunjukkan anak dengan senang melafalkan doa-doa salat dan kadang-kadang menirukan gerakan orang salat.
Peran orang tua dalam hal ini adalah mengusahakan lingkungan belajar anak. Usaha pertama adalah melalui lembaga formal (MI atau TPQ) agar anak senantiasa memperoleh banyak informasi tentang salat. Usaha kedua, yaitu orang tua senantiasa membimbing dan mengajak anak ke tempat dimana banyak orang yang melakukan salat, supaya anak dapat merespons kegiatan tersebut. Apabila anak sudah mampu merasakan dan menghayatinya, maka anak akan menghargai nilai-nilai yang ada dalam salat. Dan akhirnya ia percaya akan kebaikan nilai itu
dan rela untuk mempertahankan dan menjadikannya sebagai karakter dalam falsafah hidupnya.
Keberhasilan aspek ini, salah satunya dapat dilihat dari rasa penghargaan anak terhadap nilai yang dipelajarinya. Bentuk penghargaan tersebut berupa rasa penerimaan terhadap nilai yang dipelajarinya, sebagaimana nilai yang ada dalam salat tersebut.
c. Aspek Psikomotorik
Aspek psikomotorik adalah kemampuan anak didik untuk merubah perilaku sesuai dengan ilmu yang telah dipelajari (aspek kognitif) dan ilmu yang telah dihayatinya (aspek afektif). Tahapan dari mengerti tentang sesuatu (salat) dilanjutkan dengan menghayati nilainya, dan tahapan terakhir adalah melaksanakan hal tersebut dalam kehidupan. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan dari aspek psikomotorik yaitu anak dengan kesadarannya melakukan gerakan salat saat tiba waktunya. Dengan melakukan salat setiap hari minimal lima kali, maka hal ini akan menjadi tradisi dalam hidupnya. Andaikata anak pernah meninggalkan sekali salatnya, maka perasaan bersalah (berdosa) yang akan menghantuinya (dirasakan).
Menurut Bloom cs, yang dikutip oleh Nasution, bahwa ketiga ranah tersebut saling berhubungan. Meskipun pada awalnya hal ini (ranah) berlaku dalam dunia pendidikan, tetapi akhirnya berlaku juga dalam segala hal yang dilakukan manusia. Walaupun ketiga ranah tersebut bersifat integral, namun dalam dunia pendidikan moral ini, ranah yang sangat berperan adalah ranah afektif. Sebab pendidikan moral itu sifatnya abstrak, oleh karena itu perlu adanya kongkritisasi orang tua dalam pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kongkritisasi itu dapat dilakukan, maka anak pun akan mengikuti perbuatan orang tuanya. Karena periode anak-anak adalah masa imitasi dan identivikasi. Maka perlu adanya lingkungan yang kondusif agar pendidikan moral tersebut sesuai tujuan yang diharapkan.
Setelah anak mampu melaksanakan aktualisasi salat setiap hari, orang tua sebagai panutan pertama bagi anak sepatutnya memberikan motivasi kepada anak agar ia tetap rajin melaksanakan salat. Pembinaan dari orang tua dapat dilakukan dengan senantiasa mendampingi anak melaksanakan salat berjamaah, baik di rumahnya atau di masjid.

C. Keberhasilan Pendidikan Moral Anak Dalam Keluarga
Proses pendidikan dapat berhasil apabila didukung oleh faktor-faktornya. Diantara faktor pendidikan tersebut meliputi faktor tujuan, pendidik, anak didik, dan alat-alat. Dari ilustrasi di atas, maka pendidikan moral anak dalam keluarga akan berhasil, apabila semua faktor pendidikannya terpenuhi. Diantara faktor-faktor pendidikan moral yaitu sebagaimana yang terdapat dalam faktor pendidikan tersebut.
1. Faktor Tujuan
Faktor tujuan merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan. Karena segala sesuatu yang diusahakan akan nampak hasilnya, apabila tujuan tersebut tercapai. Demikian juga dalam pendidikan moral ini, faktor tujuan merupakan akhir dari proses pendidikannya yaitu agar anak dapat bermoral yang baik. Untuk mempersiapkan perencanaan tujuan tersebut dalam pelaksanaannya menurut Gronlund dan Linn (1990) dalam bukunya “ measurement and evaluation in teaching”, sebagaimana yang dikutip oleh Zubaidi, menyarankan 4 prinsip yang harus dipenuhi, yaitu : kelengkapan (completeness), kesesuaian (appropriateness), ketepatan (soundness), dan fisibilitas ( feasibility).

a. Kelengkapan
Kelengkapan yang dimaksud adalah apabila seluruh hasil pendidikan moral yang penting telah tercakup dalam tujuan tersebut. Sebagai contoh, anak sudah mampu membiasakan diri melakukan perbuatan yang positif dan meninggalkan yang negatif dalam kehidupan sehari-harinya.
b. Kesesuaian
Kesesuaian yang dimaksud adalah bahwa orang tua mengharapkan anaknya tersebut pada akhirnya mampu meng-aplikasikan informasi yang telah diterimanya dalam bentuk ketiga ranah yang integral, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik berjalan beriringan.
c. Ketepatan
Usia kanak-kanak merupakan usia di mana rasa imitasinya sangat tinggi terhadap lingkungan di mana ia bertempat tinggal. Oleh karena itu orang tua dalam keluarganya harus mengusahakan untuk memberikan “transfer” informasi pendidikan moral baik yang bersifat nasihat ataupun pembiasaan dalam diri anak.
d. Fisibilitas
Fisibilitas dimaksud yaitu setelah orang tua memberikan informasi pendidikan moral, ia tidak menuntut kepada anaknya secara berlebihan. Namun disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhannya. Sebagai contoh, anak umur tujuh tahun, apabila belum mau melaksanakan salat maka orang tua harus bersabar untuk membimbingnya, bukan memberikan hukuman secara fisik.
2. Faktor pendidik
Faktor pendidik yang dimaksud di sini adalah pendidik secara alamiah (orang tua). Orang tua sebagai pendidik bagi anak harus bertakwa kepada Allah, berkelakuan baik, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Orang tua yang baik tentunya akan bersikap sabar dan rela berkorban demi tanggung jawabnya. Juga orang tua harus mencintai anaknya sebagai rasa kasih sayangnya terhadap amanat dari Allah.
Orang tua sebelum mendidik anaknya, maka hal yang pertama dilakukannya adalah penyelamatan hubungan yang baik antara keduanya sehingga dapat dijadikan contoh bagi anak-anaknya. Apabila hubungan keduanya harmonis dan jauh dari masalah yang mengganggu rumah tangganya, maka konsentrasi terhadap pendidikan anak akan terfokus.
Peran keluarga (orang tua) sangat penting dalam pendidikan moral ini, namun juga tidak menafikkan peran lingkungan pendidikan yang lain seperti sekolah dan masyarakat.
Oleh karena itu orang tua sebagai pendidik pertama, sedapat mungkin memberikan lingkungan yang dapat membentuk anak bermoral. Apabila dalam periode awal pendidikan moral ini, anak tidak pernah mendapatkan penalaran moral yang pra-konvensional niscaya untuk mendapatkan anak yang bermoral akan jauh dari harapan.
Dengan kondisi yang sangat menentukan ini, seharusnya pihak orang tua ekstra hati-hati dalam memberikan informasi dan keteladan moral bagi anak. Meskipun orang tua mempunyai otoritas mutlak, tetapi menjadi keharusan bagi orang tua sedapat mungkin dijadikan teladan bagi anak dalam bertingkah laku. Bagi anak yang dibutuhkan adalah praktek keberagamaan dan tindak moral dari orang tua, bukan bercerita baik dan buruk. Karena dalam periode ini (kanak-kanak awal), anak tidak dapat menangkap simbol-simbol yang abstrak. Apabila orang tua mampu memberikan hal itu kepada anak, niscaya rasa imitasi anak terhadap orang tua akan terwujud dalam kepribadiannya. Dan juga adanya kontrol dari orang tua sebagai koreksi atas perilaku anak.

3. Faktor anak didik
Anak (didik) atau manusia dalam perkembangannya merupakan hasil perpaduan antara “nature-nurture”. Atau dalam bahasanya Irwanto, dkk, bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor bawaan (nature) dan faktor lingkungan (nurture). Dalam dunia pendidikan perpaduan “nature-nurture” di sebut sebagai teori konvergensi. Dimana teori ini, menjelaskan bahwa kedua faktor tersebut memberikan pengaruh sama besarnya dalam perkembangan mental individu. Demikian juga hal ini berlaku dalam pendidikan moral.
a. Faktor Pembawaan
Diakui bersama bahwa kontribusi genetik orang tua memberikan pengaruh terhadap pembentukkan sifat anak. Apabila orang tua berharap ingin mempunyai anak yang bermoral baik, maka ia harus berusaha tidak mengkonsumsi makanan yang bukan miliknya (hasil mencuri) dan juga senantiasa melatih dirinya dan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui usaha menjalankan segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan Allah.
b. Faktor Lingkungan
Walaupun orang tua tidak memberikan informasi pendidikan moral yang negatif, tetapi orang tua harus waspada terhadap perilaku anak. Sebab lingkungan juga merupakan sumber belajar (imitasi) bagi anak. Agar perilaku anak terkontrol, maka orang tua harus senantiasa mengoreksi tingkah laku anak, jika ada perilaku anak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
4. Faktor Alat-alat
Faktor alat-alat yang dimaksud di sini adalah faktor alat dalam arti luas yang dapat diartikan dengan metode-metode. Berkaitan dengan pendidikan moral ini, maka metode-metode yang digunakan pendidik terutama orang tua dalam pendidikan moral ini, sebagaimana yang dikutip oleh Saifullah Kamalie dan Hery Noer Ali dari Abdullah Nashih Ulwan adalah :
a. Pendidikan dengan keteladanan.
b. Pendidikan dengan adat kebiasaan.
c. Pendidikan dengan nasihat.
d. Pendidikan dengan memberikan perhatian.
e. Pendidikan dengan memberikan hukuman.
Menurut pemikiran Ulwan, apabila metode-metode tersebut diterapkan dalam pendidikan anak khususnya dalam keluarga, maka secara bertahap para orang tua mempersiapkan anak-anaknya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi kehidupan.
Pada dasarnya posisi moral adalah netral. Karena ada moral yang baik dan moral yang buruk. Bagi orang yang melakukan kebaikan, berarti ia berbuat atau bermoral baik dan sebaliknya. Demikian juga keberhasilan pendidikan moral dari orang tua kepada anak. Apabila anak dapat berbuat baik berarti pendidikannya berhasil dan sebaliknya.
Keberhasilan pendidikan moral anak dalam keluarga dapat diamati, apabila ada perubahan dalam diri anak tentang pengetahuan (salat dan sebagainya), kemudian adanya penghargaan terhadap nilai salat tersebut dan tahapan terakhir adalah anak mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan yang berbentuk pelaksanaan ibadah salat minimal lima waktu sehari semalam.

SERTIFIKASI DEPAG SEMARANG

KABUPATEN / KOTA : Kota Semarang
JENJANG PENDIDIKAN : RA
NO URUT
RANKING NAMA ALAMAT
1 MUNIFAH, SAg – YAYASAN TAQWIYATUL WATHON JL.TAMBAK MULYO RT.02/13 TANJUNG MAS 024-3547720 Guru Kelas
2 ISNA ROMIATI, SAg – RA AL HIDAYAH I JLN. PANDA TIMUR I,No.I – PALEBON – PEDURUNGAN 024-70799771 Guru Kelas
3 LENY MARNI, SAg – RA. WALISONGO JL.STASIUN No.20 JRAKAH 8156619694 Guru Kelas
4 NAIMAH, SH I – RA. TAQWALLAH JL.KYAI BAGUS No.1 TEMBALANG-METESEH – Guru Kelas
5 MUSLIMAH,SPd – RA MIFTAKHUL AKHAQIYAH BERINGIN,NGALIYAN – Guru Kelas
6 INDAH ISTIROKHAH, SPd I – YAYASAN AMALAN HAJI SEDAYU INDAH BANGETAYU WETAN GENUK 081575 079438 Guru Kelas
7 SITI SYAMSIYAH, SPd I – RA. ROUDLATUL HUDA SEKARAN, GUNUNG PATI 024-70783244 Guru Kelas
8 MIMIN SALFIA, SAg – YAYASAN IMAMA, KEDUNGPANI – MIJEN- KEDUNG PANI-MIJEN 024-76631095 Guru Kelas
9 SITI SOFA, SPd – AL KHOIRIYYAH 1 BULU STALAN III A NO.253 024-3584877/024-3581133 Guru Kelas
10 SITI MURSYIDAH, SAg – RA. WIDYA BHAKTI RINI JL.KARANGREJO IIA No.5 BANYUMANIK 024-7477962 Guru Kelas
11 ENDANG MULYANINGSIH,DRA RA AL ISLAM SUMUR JURANG,SUMUREJO,GUNUNGPATI – Guru Kelas
12 NURUL HAMIDAH, SPd – YAYASAN AL MUJAHIDIN JL.PERINTIS KEMERDEKAAN No. 207 024-7462792 Guru Kelas
13 ISMIYAH IRA PUSPITA, SAg – YPI AL HIKMAH JL.MAJAPAHIT No.191 6720703/6702510 Guru Kelas
14 IDA WAHYUNI, SE – RA. MIFTAHUL ATHFAL PANGGUNG MANGUNHARJO, KEC.TUGU 81575679123 Guru Kelas
15 ANA AGUSTININGSIH,SAg – YAYASAN IMAMA, KEDUNGPANI – MIJEN- KEDUNG PANI-MIJEN 024-76631095 Guru Kelas
16 MASROKAH, SAg – RA MIFTAHUL HIDAYAH PONGANGAN, GUNUNG PATI 8882553478 Guru Kelas
17 ANI FARIDAH, Dra. – RA AL KHOIRIYYAH 1 BULU STALAN III A NO.253 024-3584877/024-3581133 Guru Kelas
18 ELING SUKARSIH, SPd – RA AL HIKMAH JATINGALEH III, No.1, KEC CANDI 024-8504975 Guru Kelas
19 ANIS NURYANTI, SPd – YAYASAN TAQWIYATUL WATHON TAMBAK MULYO RT.02/13 TANJUNG MAS 024-3547720 Guru Kelas
20 NUR CHASANAH, SPd I – RA. TANWIRUL QULUB 01 JL.MASJID JAMI’ SEMBUNGHARJO GENUK – Guru Kelas
21 NUR MUSFIROH, DRA – RA. WALISONGO JL.STASIUN No.20 JRAKAH – Guru Kelas
DAFTAR CALON PESERTA SERTIFIKASI GURU RA/MADRASAH DALAM JABATAN
DEPARTEMEN AGAMA
PROVINSI JAWA TENGAH
NAMA NIP MATA PELAJARAN
TEMPAT TUGAS
TELEPON
22 MEIMUN HADIYATI,SAg – RA AL KAMILAH JL.CEMARA BARAT DALAM III BANYUMANIK No.227 024-70796236 Guru Kelas
23 SRI MAWARTI, STh I – YAYASAN IMAMA, KEDUNGPANI – MIJEN- KEDUNGPANI – MIJEN- 2476631095 Guru Kelas
24 TATIE NOR MASLAKHATI,SHI – RA AL HIKMAH KIAI AJI KEL.POLAMAN KEC.MIJEN – Guru Kelas
25 BIDAYAH, SPd I – YAYASAN AMALAN HAJI JL.SEDAYU INDAH – Guru Kelas
26 YULYAMI, SPd I – RA TAQWAL ILAH JL.KYAI BAGUS No.1 TEMBALANG-METESEH – Guru Kelas
27 SITI SULARNI, SPd – RA AL KAMILAH JL.CEMARA BARAT DALAM III BANYUMANIK No.227 024-70796236 Guru Kelas
28 MUJIRAHAYU, SPd – TKIT HARAPAN BUNDA BRIGJEN.SUDIARTO KM.10.4 024-6716705 Guru Kelas
29 UMI KALSUM, SPd I – - JL.KH. AHMAD RT.05/III PENGGARON LOR – Guru Kelas
30 EVA DESSYANA WIDYA, SPd – WIDYA BHAKTI RINI JL.KARANGREJO IIA No.5 BANYUMANIK 024-7477962 Guru Kelas
31 AHLIATUL WADLICHAH, SSos – YAYASAN SINAR MAFATIHUL HUDA JL.RAYA TAWANG REJOSARI – TAWANGMAS – 5014 A 024-7605128 Guru Kelas
32 FAJAR MULYANI,SPd – RA, BIRUL WALIDAIN DARAT NIPAH III No.251A – Guru Kelas
33 SITI AL QOMAH, SPd I – RA ALHIDAYAH JL.PANDA TIMUR I No.i palebon-pedurungan 024-70799771 Guru Kelas
34 SALWAH, SAg – RA. NURUSSIBYAN KAUMAN RANDUGARUT,TUGU – Guru Kelas
35 IKA RETNOSARI, SPd – RA AL KAMILAH JL.CEMARA BARAT DALAM III BANYUMANIK No.227 024-70796236 Guru Kelas
36 RIF’ATIN, SAg – YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM JL.LODAN RAYA RT.01/05 3557167/081390148275 Guru Kelas
37 MINDARYATI, SPd – RAT AL QOLAM PUSPOWARNO SELATAN No.22 – Guru Kelas
38 RATU ANGKASAWATI, SSos I – RA. WIDYA BHAKTI RINI JL.KARANGREJO IIA No.5 BANYUMANIK 024-7477962 Guru Kelas
39 EVANULIA, S.FiL I – RA.AL CHOIRIYYAH 1 BULU STALAN III A NO.253 024-3584877/024-3581133 Guru Kelas
40 SRI HANIPATIN, SPd I – RA. TANWIRUL QULUB 01 BANGETAYU WETAN RT.01/IV GENUK 81390095047 Guru Kelas
41 UMI SULISTIYATUN, S.Pd.I. – RA Al Hidayah DWP IAIN Walisongo Jl. Margoyoso III Tambakaji Ngaliyan Semarang – Guru Kelas
42 BETY SETIAWATI – BRIGJEND. SUDIARTO KM.10,4 PETKIT
HARAPAN BUNDADUR PEDURUNGAN 024-6716705 Guru Kelas
JENJANG PENDIDIKAN : MI
NO URUT
RANKING NAMA ALAMAT
1 ALI KASMIRAN, S.PdI – MI Darul Ulum Jl Anyar Wates Ngalian Semarang 024-7663096 Guru Kelas
2 ROHMATUL MURTOFIAH, S.Pd.I – MI Al-Hikmah Polaman Mijen – Guru Kelas
3 ABDULLAH, SPdI – MI Roudlotul Huda Sekaran Gunungpati 2470778575 Guru Kelas
NAMA NIP
TEMPAT TUGAS
TELEPON MATA PELAJARAN
4 SITI AMINAH, S.Pd.I – MI Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
5 MUNFA’ATI 150246582 Al-Muttaqin Bangetayu Genuk 2476586628 Guru Kelas
6 SITI KALIMAH, S.Pd.I. 150262458 MI Ad-dainuriyah Jl. KH. A. sajad Sendangguwo Semarang 024-70785974 Guru Kelas
7 MUSLIKHAH, S.Pd.I 150243750 MI Tarbiyatul Khoirot Jl. Supriyadi – Guru Kelas
8 NURAINI, Dra – MI Walisongo Jl Stasiun Jrakah No 20 Tugu Semarang – Guru Kelas
9 NURUL INAYAH, S.Ag. – MI Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
10 SUNDARI, S.Pd. – MI Miftahul Huda Kuningan Semarang 2435595255 Guru Kelas
11 SITI SOTIYAH, S.Pd.I – MI Baiturrahim Tandang Tembalang – Guru Kelas
12 TRI MURDIYANTI, S.Pd. 150241524 Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
13 IFFAH, S.Ag 150271113 Yayasan At Taufiqiyah Jl Fatmawati No 188 Semarang 024-6708099 Guru Kelas
14 ROMDHON, S.PdI – MI Al Hikmah Jl Gayamsari Selatan No 04 Sendangguwo Tembalang S 024-6702511 Guru Kelas
15 MUHAMAD RODHI, Drs – LP Ma’arif NU Jl walisongo KM 09 Tugu Semarang 024-7601772 Guru Kelas
16 AHMAD HARIS, Drs. – MI Tarbiyatul Khoirot Jl, Supriyadi Smg – Guru Kelas
17 INNI HIKMATIN DM, S.Ag – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
18 YOPIH YUJANAH, S.Pd.I. – MI Taufiqiyah Jl. Fatmawati No. 188 Tegalkangkung Kedungmundu Se 024-6708099 Guru Kelas
19 DARLIN, Drs. 150271166 MI Walisongo Jl. Stasiun No. 20 Jrakah Tugu Semarang – Guru Kelas
20 SITI MALIKAH, SPdI 150362131 MI Maarif Gunungpati – Guru Kelas
21 ISTIQOMAH, Dra – MI Miftahush Shibyah Rejosari 2476586948 Guru Kelas
22 ERNI SUGIYANTI, S.PdI – MI Nashrul Fajar Tunggu Rt 2/ IX Meteseh Tembalang Semarang – Guru Kelas
23 MASRI’AH, S.Ag. – MI Hidayatus Syubban Jl. KH. Zainudin No. 1 Karangroto Genuk Semarang – Guru Kelas
24 AHMAD BISYRI, S.Ag 150251092 MI Al-Amin Bongasari – Guru Kelas
25 NANIK SURYANDARI, SPdI – MI Gebanganom Gebanganom Smg Timur 243572544 Guru Kelas
26 ZAINAL ARIFIN, S.Pd.I. 150213200 MI Ad-dainuriyah Jk. KH. A. Sajad No. 1 Sendangguwo Semarang 024-70785974 Guru Kelas
27 UMA FARIDAH, Dra. – MI Miftahus Sibyan Tugu Jl Raya Walisongo KM 09 Tugu Semarang 024-7610772 Guru Kelas
28 NUR JANNAH, S.Ag. 150375538 MI Al-Muta’allimin Meteseh – Guru Kelas
29 ATUNG SOFIA EKA, S.Ag 150235295 MI Futuniyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta 65 Semarang 50192 024-76738367 Guru Kelas
30 SURATMI,SPd 150361802 YAYASASAN DARYTTARBIYAH WATTA’LIM RAYA PUCUNG BAMBAH KEREP NGALIYAN – Guru Kelas
31 CICIH MAS’UDAH, S.PdI – MI Mirfaul Ulum Jl Gebanganom Raya Genuk Semarang 024-6595384 Guru Kelas
32 DYAH SUKMANINGSIH, S.Pd. 150358744 MI Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
33 ISWANTO, Drs – MI Al Khoiriyyah 2 Jl Indraprasta 138 Semarang 024-3514090 Guru Kelas
34 KUMAEDI, S.Ag. – MI Ma’arif Gisikdrono – Guru Kelas
35 MUSOFIAH, S.PdI – MI Nashrul Fajar Tunggu Rt 2/ IX Meteseh Tembalang Semarang – Guru Kelas
36 MAHMUDI, S.Ag. – MI Al-Islam Mangunsari Gunungpati 2470255078 Guru Kelas
37 JULI PURWANINGSIH, S.Ag – MI Maftahul Hidayah Kuwasan Pongangan Gunungpati Semarang – Guru Kelas
38 ENDANG SRI KUNTARTI, SE – mi nURUS sIBYAN jL. kAUMAN rANDUGARUT tUGU sEMARANG – Guru Kelas
39 RUSMI, S.Ag. MI Tarbiyatul Khoiriot Jl. Supriyadi – Guru Kelas
40 ISKANDAR, SPd. – MI Maarif Gisikdrono 247625205 Guru Kelas
41 SRI HIDAYATI, A,Ag. 150263968 MI Nusantara Kuwasenrejo Gunungpati – Guru Kelas
42 MAFRUHATUN, S.Ag 150268672 MI Miftahul Akhlaqiyah Jl Bringin Raya Tambak aji Semarang – Guru Kelas
43 MOH SOLEH, S.Ag. – MI Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
44 NUR AFROKHAH, S.Pd.I. – MI Tarbiyatul Islam Jl. KH. Ahmad Penggaron Lor Genuk Semarang – Guru Kelas
45 ASRO’I, S.Pd – MI Tarbiyatul Khairat Jl. Supriyadi Smg 246734867 Guru Kelas
46 MASKANAH, S.Ag. – MI Ad-dainuriyah Jl. KH. A. Sajad Sendangguwo Semarang 024-70785974 Guru Kelas
47 SUDIANAH. SPdI 150361811 MI Miftahush Shibyan Rejosari – Guru Kelas
48 BINTI WIDAD, SPDI 150361399 MI Miftahush Shibyan Rejosari – Guru Kelas
49 MUHARI – MI Asy-syuhada’ Tlogosari Pedurungan – Guru Kelas
50 ALFIYAH,SAg – YAYASAN DARUTTARBIYAH WATA’LIM JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
51 MAGHFIROH, S.Ag – MI Futuniyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta 65 Semarang 50192 024-76738367 Guru Kelas
52 ISTOLIK MAKMUN,S.Ag. – MI Miftahul Ulum 1 Jl. Attaqwa No. 1 Rowosari Tembalang Semarang 024-70288745 Guru Kelas
53 ERNIS SUBEKTI, S.Pd 150361801 MI futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
54 MIMIN RUSTANTI, SAg – MI Maarif Gisikdrono 247625205 Guru Kelas
55 ASLIKATUN, SH – MI Darul Ulum Jl Fatmawati 68 Pedurungan Semarang 024-6700569 Guru Kelas
56 SAFARI, SE MI Miftahush Shibyan Jl Rejosasi III – Guru Kelas
57 MOCH SOLEH, S.Ag – MI Taufiqiyah Jl Fatmawati No 188 Semarang 024-6708099 Guru Kelas
58 MUNJIYAT, S.Pdi – - Jl Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk Semarang 024-6590978 Guru Kelas
59 SRI WIDAYATI, S.Ag – MI Baiturrahim Tandang Tembalang – Guru Kelas
60 SLAMET AGUS WAHID, S.PdI – MI Futuniyyah Jl. Soekarno Hatta 65 Semarang 50192 024-76738367 Guru Kelas
61 AHMAD NUR MUSTOFA – MI Darul Ulum Jl Anyar Wates Ngalian Semarang 024-7663096 Guru Kelas
62 TUTI WIYATAWATI, S.Ag. – MI Al-Hikmah Sendangguwo Tembalang 246702551 Guru Kelas
63 FATIMAH YUNIWATI, S.Ag – MI Walisongo Jl Stasiun Jrakah No 20 Tugu Semarang – Guru Kelas
64 KHIKMATUL ABIDAH, S.Ag. – MI Ma’arif Gisikdrono – Guru Kelas
65 RINA HANDAYADI, S.Ag – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
66 MUHAJIR, S.PdI. – MI Futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
67 INDRIYATUN, SAg – MI Roudlotul Huda Sekaran Gunungpati 2470778575 Guru Kelas
68 LUSIANA, S.PdI – MI Al Hikmah Jl Gayamsari Selatan No 04 Sendangguwo Tembalang S 024-6702511 Guru Kelas
69 SITI MUNIROH, S.Ag – MI As Syunada’ Jl Syunada’ Raya No 13 Tlogosari Kulon, Pedurungan 024-7010373 Guru Kelas
70 SA’IDAH, Dra. – MI Waliosngo Jrakah Jl. stasiun no. 20 Jerakah Tugu Semarang – Guru Kelas
71 MUHAMMAD SUWANTO, S.Pd. 150231905 MI Baiturrohim Tandang Tembalang – Guru Kelas
72 SITI SRI REZQI, S.Pd.I. – MI Tarbiyatul Islam Jl. KH. Ahmad Penggaron Lor Genuk Semarang – Guru Kelas
73 SITI SOLEKAH, SPd I – YAYASAN DARUTTARBIYAH WATA’LIM JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
74 HARIS FUADI, S.Ag – MI Mirfaul Ulum Jl Gebanganom Raya Genuk Semarang 024-6595384 Guru Kelas
75 UMI CHAMDIYAH, S.PdI – MI Tinjomoyo Jl Bonbin Tinjomoyo RT 1/ VIII Sukorejo Gunungpati – Guru Kelas
76 SUNARDI,S.Pd I – TARBIYATUL WATTALIM PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
77 TEJO NUR HAMSYAH,SPd I 150266343 MADRASAH IBTIDAIYAH AL-ASYHAR KEBON HARJO RAYA RT.02/V TANJUNGMAS 3545086 Guru Kelas
78 TRI WAHYUNINGSIH, SPd – MI Maarif Gisikdrono 247625205 Guru Kelas
79 HADI ARIFIN, S.Ag – Yayasan Sinar Miftahul Huda Jl Tawang Rejosari Raya Tawang Mas Semarang 024-70218875 Guru Kelas
80 ABDULLAH ZAENI, S.Ag. – MI Nurul Yaqin Karangayu – Guru Kelas
81 SUPINAH,S.Pd I 150295175 YAYASAN DARUTTARBIYAH WATA’LIM JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
82 GUSNARROR EKOWATI, Dra. – MI Al-Khoiriyyah Indraprasta 139 2435140967 Guru Kelas
83 M.ALI SODIKIN, S.Ag – MI Baitur Rohim Tandang Tembalang 2476725672 Guru Kelas
84 SUMARNI, SAg. – MI Mangunharjo 24770789170 Guru Kelas
85 ZAZULI, SAg – MI Tarbiyatush Shibyan Tlogomulyo Pedurungan 2470772186 Guru Kelas
86 DEWI ISTIQOMAH, S.Ag, S.PdI – MI Futuniyyah Jl. Soekarno Hatta 65 Semarang 50192 024-76738367 Guru Kelas
87 MUALLIFATUZZAKIYAH, SAG – MI Miftahush Shibyan Rejosari – Guru Kelas
88 SRI DARWATI, S.Ag. – MI Tarbiyatul Khoirot Jl. Supriyadi – Guru Kelas
89 NURUL QOMARIYAH, S.Ag – MI Darul Ulum Jl Anyar Wates Ngalian Semarang 024-7663096 Guru Kelas
90 AGUS HARYADI, S.Ag – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
91 ARIF LUKMAN, S.Ag – MI Al Khoiriyyah 2 Jl Indraprasta 138 Semarang 024-3514090 Guru Kelas
92 SUKIYANTO, S.Ag. – MI Miftahul Akhlaqiyah Jl Bringin Raya Tambak aji Semarang – Guru Kelas
93 SITI MALIHATUN, S.Ag. – YPI At-taufiqiyah Jl. Fatmawati No. 188 Tegalkangkung Kedungmundu Se 024-6708099 Guru Kelas
94 SITI QODRIYAH, SAg 150274220 MI NURUL ISLAM HONGGOWONGSO No.7 NGALIYAN 024-7607849 Guru Kelas
95 MUDHOFAH, S.PdI – MI Islamiyah Jl Kauman No. 1 Podorejo Ngalian Semarang 024-70293606 Guru Kelas
96 SRI WAHYUNI, S.Ag. – MI Tarbiyatush Shibyan Tlogomulyo Pedurungan 2470772186 Guru Kelas
97 CHUMAEDULLAH, S.Ag. – MI Nurul Hidayah Karanganyar Tugu 24660172 Guru Kelas
98 SITI NINGSIH, SPd – MI Tarbiyatush Shibyan Tlogomulyo Pedurungan 2470772186 Guru Kelas
99 NUR JAMALAH, S.Ag – MI Miftahus Sibyan Tugu Jl Raya Walisongo KM 09 Tugu Semarang 024-7610772 Guru Kelas
100 KHIKMATUL AZIZAH, SPdI – MI Al-Islam Mangunsari Gunungpati – Guru Kelas
101 MOH. MOHTADI, S.Ag. – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248508021 Guru Kelas
102 NUR IKSAN – MI Al-Wathoniyah Tlogosari Wetan – Guru Kelas
103 NURUL HIDAYAH, S.Kom. – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
104 LINA KUNAININ,SPd – MI MIFTAHUL ULUM SAMBIROTO V RT.08/02 KEC.TEMBALANG 70784442 Guru Kelas
105 AHMAD GHUFRON, SPdI – MI Miftahush Shibyah Rejosari 2476586948 Guru Kelas
106 NUR ARIFAH BUDIANTI, S.Ag – MI Maftahul Hidayah Kuwasen Pongangan Gunungpati Semarang – Guru Kelas
107 SUPRIYADI, S.Sos.I – MI Al-Islam Mangunsari Gunungpati – Guru Kelas
108 FATKHIYATUL KHOIRIYAH, S.PdI – - Jl Tawang Rejosari Raya Tawang Mas Semarang 024-70218875 Guru Kelas
109 SURYA PUJI HASTUTI, S.Pd – MI Al Islamiyah Jl Purnasari, VII Kemijen Semarang 024-3541909 Guru Kelas
110 SITI JUMIANAH, SPd MI Miftahush Shibyah Rejosari 2476586948 Guru Kelas
111 LULUK DWI RATNANDARI, SPd I – MI NURUL ISLAM HONGGOWONGSO No.7 NGALIYAN 024-7607849 Guru Kelas
112 NISWAH MUSTIKA ALAM, SKM. – MI Al Islamiyah Kemijen Jl Purnasari, VII / 13 Semarang – Guru Kelas
113 AHMAD MUHSON, S.PdI – Yayasan Sinar Miftahul Huda Jl Tawang Rejosari Raya Tawang Mas Semarang 024-70218875 Guru Kelas
114 IDA KHOIRUNNISA, S.Pd.I – Infarul Ghoy Pedurungan – Guru Kelas
115 RIYADLOH, S.Ag. – MI Maarif Ngadirgo Mijen – Guru Kelas
116 SUTARMAN, S.Kom. – MI Maarif Ngadirgo Mijen – Guru Kelas
117 CHOTIB, S.Ag. – MI Futuniyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta 65 Semarang 50192 024-76738367 Guru Kelas
118 SITI ISMAROH, SPd I – YAYASAN DARUTTARBIYAH WATA’LIM JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
119 ABDUL ROHMAN, S.PdI – MI Miftahul Akhlaqiyah Jl Beringin Raya No 23 Tambakaji Semarang – Guru Kelas
120 WAHYUNINGSIH, SE – MI Ma’arif Gisikdrono – Guru Kelas
121 TUTIK NGESTRIASIH, S.PdI – MI Nurul Ulum Kp Gedongsari 18 – 19 Semarang 024-3514250 Guru Kelas
122 SUHARMANTO, S.Ag – MI futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
123 MOH MULTAZAM, S.PdI – MI Miftahus Sibyan Tugu Jl Raya Walisongo KM 09 Tugu Semarang 024-7610772 Guru Kelas
124 AKHMAD NASIKHUN, S.Pd.I – MI Amin Bongasari 247609073 Guru Kelas
125 MUSLIHAH, SPd – MI Roudlotul Huda Sekaran Gunungpati 2470778575 Guru Kelas
126 A. ARI RUSTATU, SE – MI Nurul Hidayah Karanganyar Tugu 24660172 Guru Kelas
127 RAIS FAUZI, S.Pd.I – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248508021 Guru Kelas
128 KHOFIFAH, S.PdI – MI Nashrul Fajar Tunggu Rt 2/ IX Meteseh Tembalang Semarang – Guru Kelas
129 NASRIYAH, SPd.I – MI Miftahul Ulum Jl. Gebanganom Raya Gebangsari Genuk – Guru Kelas
130 AMANAH, S.PdI – MI Nashurul Fajar Tunggu Rt 2/ IX Meteseh Tembalang Semarang – Guru Kelas
131 SHOLIKHIN, S.PdI – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
132 RIFA’I – MI Tarbiyatul Islam Jl KH Ahmad, Penggaron Lor RT 05 RW 03 Genuk Semar – Guru Kelas
133 WINA HARYANTI, S.Pd. – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248058021 Guru Kelas
134 SURIYAH, S.Ag. 150359553 MI Darul Ulum Wates Ngaliyan 2476630963 Guru Kelas
135 DWI ISWAHYUNI, SPd – MI Gebanganom Gebanganom Smg Timur 243572544 Guru Kelas
136 KHOSIDAH, S.Ag. – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248058021 Guru Kelas
137 ENDANG TRISNOWATI, SAg 150359554 MI IANATUSSHIBYAN MANKANG KULON RT.02/03 024-866039 Guru Kelas
138 BUKHARI, S.Pdi – MI Futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
139 HUDALLOH, S.Pd.I – Infarul ghoy Pedurungan 246730933 Guru Kelas
140 AKHMAD THOBIB DARIS SALAM,
S.Pd.I – Al-Huda Kuningan Semarang Utara 247613441 Guru Kelas
141 MA’MUN MUROD, S.S – MI Al Khoiriyah 1 Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
142 KHUMAEDAH, S.Ag – MI Nurussibyan Jl Kauman Randugarut Tugu Semarang – Guru Kelas
143 HARIYADI, S.Pd – MI Nurul Ulum Jl Raden Patah Kp Gedongsari 19 – 20 Rejomulyo Sem 024-3514250 Guru Kelas
144 LUTFI UMAROH, SPd – MI Tarbiyatush Shibyan Tlogomulyo Pedurungan 2470772186 Guru Kelas
145 DZIKRON MASYHADI, SHI – MI Miftahul Athfal Mangunharjo Tugu – Guru Kelas
146 KODRIYAH, S.Fil I – YAYASAN DARUTTARBIYAH WATA’LIM JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
147 AHMADI, S.PdI – - Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590978 Guru Kelas
148 WALINTO, SPdI – MI Miftahul Ulum Gebanganom Genuk 024-6595384 Guru Kelas
149 ERMI ROHWATI, SPd – MI Roudlotul Huda Sekaran Gunungpati 2470778575 Guru Kelas
150 RINAWATI, S.PdI – Yayasan MI Tinjomoyo Jl Bonbin Tinjomoyo RT 1/ VIII Sukorejo Gunungpati – Guru Kelas
151 MUHAMAD FAKHRUDDIN, S.Pd.I 150362126 MI Al-Islam Mangunsari Gunungpati 2470255078 Guru Kelas
152 MUSTAFID – MI Darul aulad Jl Pusponjolo Barat 1A Semarang – Guru Kelas
153 SITI ROFI’ATUN, S.Pd – MI Al Islamiyah Kemijen Jl Purnasari, VII Pengapon Semarang 024-3541909 Guru Kelas
154 SURATI HANDAYANI, S.Pd – MI Mirfaul Ulum Jl Gebanganom Raya Genuk Semarang 024-6595384 Guru Kelas
155 ADE MULYANTO, S.Sos.I. – MI Nurus Sibyan Jl. Kauman Randugarut Tugu Semarang – Guru Kelas
156 DEWI RAHMAWATI, S.Pd.I – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248508021 Guru Kelas
157 KHONITAH, S.Pd – MI Al Khoiriyyah Jl Bulustalan III A Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
158 MUHAMMAD MUFID, S.Pdi – MI Futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
159 LAELA PURNAMA BADRIAH, S.Ag. – MI Nusantara Kuwasenrejo Gunungpati – Guru Kelas
160 AHMAT ZUNUS PRASETIYO, SPd. – MI Roudlotul Huda Sekaran Gunungpati 2470778575 Guru Kelas
161 ARLIA ENDRASWATI, S.Th.I – MI Darul Aulad Pusponjolo Barat I A – Guru Kelas
162 ARLIA ENRASWATI, S.Th.I. – MI Darul Aulad Jl Pusponjolo Barat No. I A – Guru Kelas
163 SHOBIRIN, S.Ag. – MI Tarbiyatul Islam Jl. KH. Ahmad Penggaron Lor Genuk Semarang – Guru Kelas
164 SARI LUTHFIYAH, SHI – MI Al Khoiriyyah 2 Jl Indraprasta 138 Semarang 024-3514090 Guru Kelas
165 SITI MUTHOHAROH, S.Pd. – MI Al-Iman Taman Siswa Banaran 248058021 Guru Kelas
166 MUCH ZAMRONI, S.PdI – MI Al Khoiriyah 2 Jl Indraprasta 138 Semarang 024-3514090 Guru Kelas
167 PURWANTO, S.Pd.I – Al-Muttaqin Bangetayu Genuk 2476586628 Guru Kelas
168 EMY EKOWATI, S.Pd. MI Tarbiyatul Khairot Jl. Supriyadi – Guru Kelas
169 NUR FAIZIN, SHI – MI Mirfaul Ulum Jl Gebanganom Raya Genuk Semarang 024-6595384 Guru Kelas
170 MUSLIKHAYATI FADLILAH SPd I – MI NURUL ISLAM HONGGOWONGSO No.7 NGALIYAN – Guru Kelas
171 SRI DWI ASTUTI, SPd – MI DAARUS SAADAH Karang Ingas Rt.3/7t Tlogosari Pedurungan 70770894/08157607012 Guru Kelas
172 NING ADATU GHINA, S.H.I. – MI Darul Aulad Pusponjolo Barat – Guru Kelas
173 FATIMAH AL MAHMUDAH,SH – MI MIFTAHUL SAMBIROTO V RT.08/02 KEC.TEMBALANG 70784442 Guru Kelas
174 SAB’ATUR ROHIYAH – MI Nurul Hidayah Karanganyar Tugu – Guru Kelas
175 ARIYADIN, SPDI – MI Miftahush Shibyan Rejosari 024-76586948 Guru Kelas
176 ZULIS MURTHASI’AH, S.PdI – MI Al Khoiriyyah Jl Bulustalan III A 253 Semarang Selatan 024-3550238 Guru Kelas
177 HIKMAH, S.Pd – MI Futuniyyah 2 Kudu Jl Raya Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk 024-6590907 Guru Kelas
178 MUHAMMAD GHOZALI, S.PdI – MI Walisongo Jl Stasiun Jrakah No 20 Tugu Semarang – Guru Kelas
179 ANIS MU’THOBAROH, S.Pd.I – MI Ma’arif Ngadirgo Mijen – Guru Kelas
180 SUSIANTI, S.PdI – MI Al Khoiriyyah 2 Jl Indraprasta 138 Semarang 024-3514090 Guru Kelas
181 EFI AFIFAH, SPd – MI Miftahul Ulum Jl Gebanganom Raya Genuk Semarang 024-6595384 Guru Kelas
182 MUHAMAD ARIFIN,SH – MI ROUDLOTUL AFTHFAL JL.RAYA PUCUNG BAMBANGKEREP,NGALIYAN – Guru Kelas
183 INDAH KRISTIANTI, SPd – MI Maarif Gisikdrono 247625205 Guru Kelas
184 MURNINGSIH, SPd – MI DAARUS SAADAH JL.Karang Ingas Rt.3/7 tlogosari Kulon Pedurungan 707708944 Guru Kelas
185 MASLAKAH, S.Pd – MI Miftahul Ulum Jl Kauman Gg III Bangetayu Wetan, Genuk Semarang – Guru Kelas
186 HIKMAH, S.Pd.I – MI. Futuhiyah Jl. Raya Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk 024-6590978 Guru Kelas
187 CHOIRIYAH, SH – MI Nurul Yaqin Karangayu – Guru Kelas
188 SUNARTI, S.Pd. – MI Nurul Yaqin Karangayu 247622252 Guru Kelas
189 DEWI LISTIANA, SPd I – MI KEBON HARJO KEBON HARJO RAYA RT.02/V TANJUNGMAS – Guru Kelas
190 SITI AROPAH, S.Pd.I. – YPI At-taufiqiyah Jl. Fatmawati No. 188 Tegalkangkung Kedungmundu Se 024-6708099 Guru Kelas
191 SRI MARGININGSIH, SPdI – MI N Sumurrejo Gunungpati 024-70775470 Guru Kelas
192 MOH MIFTAHUL ARIEF, S.PdI – MI Miftahul Akhlaqiyah Jl Bringin Raya Tambak aji Semarang – Guru Kelas
193 TURMUDJI, S.Pd. I – MI Futuniyyah 2 Kudu Jl Kauman Kudu Genuk Semarang 024-6590907 Guru Kelas
JENJANG PENDIDIKAN : MTs
NO URUT
RANKING NAMA ALAMAT
1 MASTUR HASYIM, S. Pd – MTs Darul Hasanah Semarang Banjardowo Genuk Semarang 024-6591769 IPA
2 TARMINI, S.Pd 150240514 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Matematika
3 IDA LAILATUR ROCHMAH, S.Ag 150277146 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Bahasa Inggris
4 UMMI KULSUM, Dra – MTs NU Pungkuran KH. Wahid Hasyim 390 Semarang 024-3551327 IPA
5 SYAIFUDDIN, S.Ag – MTs Tawang Rejosari Jl.Tawang Rejosari Raya Smg 024-7605128 Bahasa Inggris
6 NUR SAID, SH – MTs Futuhiyyah Kudu Penggaron Lor Genuk Semarang 024-6590978 PPKN
7 IDAYANTI, S.Sos, S.Pd – MTs Al asror Jl.Legok Sari Raya Patemon Gunung Pati Smg 024-70710520 Bahasa Inggris
8 MUHAMAD MAHFUDI, S. Pd. I – MTs Infarul Ghoy Plamongansari Jl. Brig. Sudiarto Pedurungan Semara 024-6716917 Fiqh
NAMA NIP
TEMPAT TUGAS
TELEPON MATA PELAJARAN
9 NURRUDIN, S.Ag – MTs Al Watoniyah JL.KH. Abdul Rosid No. 1 Bugen Tlogosari 024-70783773 Mulok
10 MUSYAFAK, S.Pd – MTs Al Hidayah Desel Sadeng Gunung Pati Smg – Bahasa Inggris
11 RIF’AN, S. Ag – MTs NU Nurul Huda Mangkang Kulon – Tugu – Semarang 024-8661863 Matematika
12 FIRDAUS FAISHOL, Drs 150215136 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Bimbingan Konseling
13 MUHZIN, DRS, S.Pd MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sari raya Patemon Gunung Pati 024-70710520 IPS
14 AHMADAH, S. Ag – MTs Tanwirul Qulub Jl. Bangetayu Wetan 8122526571 Al-Quran-Hadis
15 MUSA KALIFAH SUSWATI, SE – MTs Hidayatus Syubban Jl. KH. Zaenudin No. I Karangroto Genuk Semarang 024-70796045 IPS
16 RIYANTO, S. Pd – MTs Husnul Khatimah Jl. At Taqwa No. 8 Rowosari Tembalang Semarang 024-70268002 Matematika
17 ALI MAGHFUR, S. Ag – YPI Futuhiyyah Jl. Kauman Kudu – Penggaron Lor – Genuk – Semarang 024-6590978 IPS
18 KOHARI, Drs. 150269115 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Penjaskes
19 THOHARI,S.Ag. 150377104 MTs Darul Ulum Jl. Anyarwates Ngaliyan SMG 024-7628212 Bahasa Arab
20 ALI IMRON, S.Pd.I 150245674 MTsN 2 Smg Jl. Citandui Raya 3 Mlatiharjo Smg Timur 024-3561855 Bahasa Arab
21 ENDANG SUNARNI, S.Pd – MTs Hidayatussyuban JL.Kh.Zainudin No 1 Karangroto Smg 024-70796045 Bahasa Inggris
22 SUGIYANTO, DRS 150288718 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPS
23 SUTRISNA, Drs – MTs Al Hidayah Jl. Desel Sadeng Gunungpati Semarang – Al-Quran-Hadis
24 SUGENG, SE – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Rt. 04/04 Mangkangkulon Tugu Sem 024-8661863 Matematika
25 IFFAH FARIHAH, S.Pd 150294833 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Bahasa Inggris
26 MASJUDI, DRS. 150282349 MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Sukarno hatta 65 SMG 024-76738242 Bahasa Arab
27 MULYANTO, Drs. 150359822 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Penjaskes
28 MASDAR SOHIBUR, Drs – MTs Infarul Ghoy Plamongansari 024-6716917 IPS
29 MOHAMMAD CHOLID, S. Pd. I – MTs Al Hidayah Desel – Sadeng – Gunungpati – Semarang – SKI
30 IKHSANUDDIN, Drs. 150263380 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 PPKN
31 FAIZIN, S.Ag – MTs Infarul Ghoy Jl. Brigjen S. Sudiarto 652 Plamongansari Semarang 024-6716917 Aqidah-Akhlak
32 MUH. SHOKIB, S. Ag – MTs taqwal Ilahi Jl. Tunggu No. 10 Meteseh Tembalang – Fiqh
33 UMARRUDIN, S. Ag – MTs Darul Ulum Jl. Anyar Kel. Wates Kec. Ngaliyan Semarang 024-7628212 Bahasa Indonesia
34 SYAIFUDDIN, S.Pd – MTs Roudlotul Muta’alimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Smg – Bahasa Inggris
35 ZAZID, S.Ag – MTs Husnul Khatimah Jl. Attaqwa Rawasari Tembalang Smg – Aqidah-Akhlak
36 HARTONO, SH – MTs NU Pungkuran Jl. KH. Wahid Hasyim 390 Semarang 024-3551327 IPS
37 WIWIK ARIYANI, S. Pd 150361807 MTs Taqwal Ilah Jl. Tunggu Raya No, 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 Matematika
38 WAHYU SULISTYANINGRUM, S. Pd 150275365 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Matematika
39 MARJUKI, S.Ag – MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi 53 Banjardowo Genuk Smg 024-6591769 Aqidah-Akhlak
40 JUZULI, Drs – MTs Al Islam Sumurejo Jl. Mudal No. 3 Sumurejo Gunungpati Smg 8122853812 Aqidah-Akhlak
41 ABDUL AZIZ – MTs Uswatun Hasanah Jl. karang Gayam Rt. 02/IV – mangkang Wetan – Tugu 024-70771623 IPA
42 IMROATUL KHOSIAH, S.Ag, S.Pd 150357232 MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sariraya Patemon Gunung Pati 024-70710520 Bahasa Indonesia
43 ACHMAD ANSORIYADI, Drs 150294834 MTs. N 2 Semarang Jl. Citandui Raya III semarang 024-3561855 Bahasa Indonesia
44 MAPLURI, S. Ag – MTs Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. V / V Genuk Semarang – IPS
45 MUHAMMAD JUNAIDI, S.Ag 150295725 MTs. N I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 SKI
46 MUCHAMMAD PUDJI WIBOWO, S. A-g MTs Al Islam Gunungpati Jl. Morokono Gunungpati Kota Semarang 024-6932346 SKI
47 POERWANTANTI TRI SUBEKTI, S. P-d. I MTs Taqwal Ilahi Jl. Tunggu No. 10 Meteseh Tembalang 024-6749777 PPKN
48 SHOLIHUL HUDA, S.Pd – MTs Futuhiyah Jl Kauman Kudu Penggaron – Bahasa Inggris
49 ABDUR RAHIM, S.Ag. 150380488 MTs Fatahillah Jl.Raya Bringin 23 Tambak Aji Ngaliyan Smg – Bahasa Arab
50 NUR HIDAYAH, S.Pd 150289697 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPA
51 SUDARTI, S. Pd – MTs Taqwal Ilah Jl. Tunggu Raya No, 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 Matematika
52 ANNISA KURNIAWATI, S. Pd – MTs Al Khoiriyyah Jl. Bulu Stalan IIIA/253 Semarang 024-3519952 Matematika
53 HIDAYANTI, S. Pd – MTs Darul Hasanah Banjar Dowo Rt. 3/2 Semarang 024-6591769 Matematika
54 RUBINI, DRA 150361798 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPS
55 MOH SYAIFUDIN, S. Ag 150359828 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Al-Quran-Hadis
56 SITI BAROROH, Dra 150269445 MTs Uswatun Hasanah Jl. Karang Gayam Rt. 2/1 Mangkang wetan Semarang 024-70771623 PPKN
57 HERMILA INDAH NURINI, S.Pd 150257235 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Ketrampilan
58 IMAM MURTASIH – MTs Fatahillah Jl. Raya Beringin Ngaliyan Semarang – TIK
59 SUWAHIR, S.Pd 150294626 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Matematika
60 IDA SETIO DEWI, DRA 150294835 MTsN I Semarang Jl Fatmawati 024-6716521 Bahasa Indonesia
61 ARY ARIES NOORCAHYO, S. Pd – MTs Al Khoiriyyah Semarang Jl. Bulustalan IIIA/253 Semarang 024-3519952 PPKN
62 MUSLIH, S. Ag – MTs Futuhiyyah Kudu Jl. Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk Semarang 024-6590978 Penjaskes
63 SUJATI, S. Ag., S. Pd – MTs Al Wathoniyah Tlogosari Wetan – Pedurungan – Semarang 024-70783773 IPS
64 SAEROZI, S. Ag – MTs Hidayatus Syubban Jl. KH. Zaenudin no. 1 Karangroto Genuk 024-70796045 SKI
65 NUGROHO, S.Pd – MTs Darussadah Jl.karangingas Smg – Bahasa Inggris
66 ZAINUL MUTTAQIN, S.Ag 150380487 MTs Fatahillah Jl.Raya Bringin 23 Tambak Aji Ngaliyan Smg – Aqidah-Akhlak
67 MUCHTAROHTUN HIDAYAH, S.Pd 150320388 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPA
68 ENDANG SUWAJININGSIH, S. Pd 150227098 MTs. N 2 Semarang Jl. Citandui Raya III 024-3561855 Bimbingan Konseling
69 SITI AMINAH, S. Pd 150361797 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 IPS
70 MUSTAHIDIN, S. Sos. I – MTs Uswatun Hasanah Karanggayam Rt. 02/IV Tugu Semarang 024-70771623 TIK
71 NUR WAHID, S.Ag – MTs Uswatun Hasanah Karanganyar Mangkang Wetan Tugu Semarang 024-70771623 Mulok
72 ASIKIN, S. Ag 150277401 MTs Uswatun Hasanah Mangkang Wetan Rt. 1/IV Tugu Semarang 024-70771623 Al-Quran-Hadis
73 SYAFA’AH, S. Pd – MTs Infarul Ghoy Plamongan Sari 024-6716917 Bahasa Indonesia
74 FIRDAUS HENDRARTO, S.Pd – MTs Al Watoniyah JL.KH. Abdul Rosid No. 1 Bugen Tlogosari 024-70783773 Bahasa Inggris
75 MUHOYIR, S. Ag – LP MA’ARIF NU Nurul Huda Jl. Irigasi Kauman mangkang Kulon Tugu semarang 024-8661863 Fiqh
76 NINIK HIDAYATI, S. Ag – MTs Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. V / V 8122526571 Bahasa Indonesia
77 MARLIJANTI, S. Pd 150289141 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III semarang 024-3561855 Bahasa Indonesia
78 ABDUL MANAB, S. Ag – MTs Raudlotul Muta’allimin Jl. Laut Mangunharjo Rt. 01/5 Tugu Semarang 024-70144695 Fiqh
79 NUR IMROATUR ROCHMAH, S.Pd.I – MTs. Al Asror Semarang Jl Legok Sariraya Patemon Gunung Pati 024-70710520 Seni Budaya
80 ROKHATUN, S. Pd – MTs Raudlotul Muta’allimin Jl. Laut Mangunharjo Rt. 01/5 Tugu Semarang 024-70144695 PPKN
81 NURWAKIT, S. Pd – MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta No. 65 024-6717370 IPA
82 SYAHIR, Drs – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Mangkang Kulon Tugu Semarang 024-8661863 IPA
83 SHOBIRIN, Drs – MTs NU Nurul Huda Mangkang Kulon Tugu Semarang 024-8661863 Bahasa Indonesia
84 ROCHIMAM, S. Pd – MTs Futuhiyyah Palebon Semarang Jl. Soekarno Hatta 65 Semaranag 024-76738242 Bahasa Indonesia
85 MUHAMMAD HARIS, S. Ag – MTs Darul Hasanah Semarang Jl. Wolter Monginsidi No. 53 Banjardowo – Genuk – 024-6591769 Al-Quran-Hadis
86 MASHADI, S. Ag – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Rt. 04/04 Mangkangkulon Tugu Sem 024-8661863 Matematika
87 MU’ALIMAH, S.Ag 150281592 MTsN 2 Smg Jl. Citandui Raya 3 Mlatiharjo Smg Timur 024-3561855 Bahasa Arab
88 SRI LESTARI, S.Pd 150361502 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Bahasa Indonesia
89 KHAMDUN, S. Ag – MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta no. 65 Pedurungan Semarang 024-76738242 Fiqh
90 BIBIT, S. Ag – MTs Al Wathoniyah Jl. KH. Abdurrosyid gugen Tlogosari Wetan Pedurung 024-70783773 SKI
91 MOH. IMAM JAMI’IN – MTs Tawang Jl. Tawang Rejosari 024-7605128 PPKN
92 MUHAMMAD,S.Ag. 150361503 MTs Hasanuddin I Jl. Gondomono No. 15 SMG 024-3540753 Bahasa Arab
93 SUMIATUN, S. TP – MTs Taqwal Ilah Jl. Tunggu Raya No. 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 IPA
94 SUDARNO, S. Ag – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Ngaliyan Semarang 024-8664957 Penjaskes
95 MUHAMMAD BAHRUR, S. Ag – MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi 53 Banjardowo Genuk Semarang 024-6591769 SKI
96 BAMBANG RINDIT RUSTYANTO, SE- MTs Syarofatul Millah Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 Matematika
97 M NUR MAKSUN, S.Pd MTs Al Asror Semarang – 024-707 Matematika
98 AIDIN, SH – MTs Yayasan Raudlotul Muta’allimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Semarang 024-70144695 IPS
99 ABDUL HARIS, S. Pd – MTs Futuhiyyah Kudu Jl. Kauman Kudu – Penggaron Lor – Genuk – Semarang 024-6590978 IPA
100 MUH. FEQIH, Drs – MTs Al Islam Sumurrejo Jl. Mudal No. 3 Sumurrejo Gunungpati Semarang – Al-Quran-Hadis
101 SYAMSUDIN, S. Pd. I – MTs Darul Ulum Jl. Raya Anyar Wates Ngaliyan Semarang 024-7628212 Al-Quran-Hadis
102 SHOHIB. B, S.Pd.I – MTs Husnul Khotimah Jl. Attaqwa Rawasari Tembalang Smg 024-70268002 Bahasa Arab
103 ISTIADATUS SOLEKAH, S. Ag – MTs Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Mangkang Kulon Tugu Semarang 024-8661863 IPA
104 ZULFATUL HASANAH, S.Ag 150294925 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Bahasa Arab
105 ROYANI SARASWATI, Ir – MTs Darus Sa’adah Kp. Karang Ingas Semarang – IPS
106 LATIFATUL HAMIDAH, S. Pd – MTs Hidayatus Syubban Jl. KH. Zaenudin No. I Karangroto Genuk Semarang 024-70796045 IPA
107 KUSTARI, S.H.I – MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi 53 Banjardowo Genuk Smg 024-6591769 Bahasa Arab
108 NUR HIDAYATI NS, S.Pd 150361799 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPA
109 ROMANIAH, S. Pd – MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi No. 53 Genuk Semarang 024-6591769 Matematika
110 PURWANTO, S. Pd – MTs. N 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Penjaskes
111 MURSIDI, S. Ag – MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 IPS
112 DIAH SULISTIOWATI – MTs Infarul Ghoy Jl. Brigjen S. Sudiarto 652 Plamongan Sari Pedurun 024-6716917 Matematika
113 NURUL HUDA, S.Ag – MTs Sinar Mafatihul Huda Jl.Tawangrejo Raya Semarang 024-7605128 Mulok
114 SUHARTINI, S. Pd 150329957 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III semarang 024-3561855 Bahasa Indonesia
115 SITI RACHMAWATI, S.Pd – MTs Al Watoniyah JL.KH. Abdul Rosid No. 1 Bugen Tlogosari 024-70783773 Bahasa Inggris
116 ULFI HAISUN, S.Ag – MTs Infarulghoi Jl. Brigjen S. Sudiarto 652 Plamongansari Smg 024-6716917 Bahasa Arab
117 MUNIF, S. Ag – MTs Taqwal Ilahi Jl. Tunggu No. 10 Meteseh Tembalang 024-6749777 Fiqh
118 LUKMAN HAKIM, S. Ag – MTs Syaroful Millah Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 Fiqh
119 SIWI PAMBUDIDOYO, S. Pd – MTs NU Al hikmah Jl. Kiai Aji Kelurahan Polaman – Mijen – Semarang 024-70700591 IPS
120 MUSLIMIN, S.Ag – MTs Syaroful Millah Jl. Sunan Kalijaga 4 Pedurungan Semarang 024-70125581 Aqidah-Akhlak
121 MUHAMMAD LUTFI AZIS, S. Pd. I – MTs Darus Sa’adah Jl. Karang Ingas 8157607012 PPKN
122 ABDUL MUKTI, S. Ag – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Mangkang Kulon Kec. Tugu Semaran 024-8661863 Penjaskes
123 CHIKMAH, S.Pd – MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 IPS
124 MARYONO, S. Pd – MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta No. 65 Semarang 024-76738242 Matematika
125 HENNY MARDIYATI – MTs Fatahillah Jl. Bringin Ngaliyan Semarang – IPS
126 SRI HARTATIK, S.Pd MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sari raya Patemon Gunung Pati 024-70710520 Bahasa Indonesia
127 MUKHLISIN, S.Ag. – MTs Syaroful Millah Jl. Sunan Kalijaga 4 Pedurungan Semarang 024-70125581 Bahasa Arab
128 ASYHAR ULINUHA ARIF,S.Ag. – MTs NU Pungkuran Jl. KH. wahid Hasyim 390 SMG 024-3551327 Bahasa Arab
129 NURMA INDRAYANI, S.Psi 150329948 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPS
130 SULASTRI, S. Pd – MTs Infarul Ghoy Jl. Brigjen S. Sudiarto 652 Plamongan Sari Pedurun 024-6716917 Matematika
131 VIMAWADDATI DYAH KUSUMANINGATI, S.P1d5.0357231 MTS TANWIRUL QULUB Jl. Bangetayu Genuk SMG 8122526571 Bahasa Inggris
132 ENY PRASTYOWATI, S.Pd – MTs Darul Hasanah Banjardowo Genuk Smg 024-6591769 Bahasa Inggris
133 CHABIBAH, S. Pd 150361800 MTs Darul Ulum Jl. Anyar kelurahan Wates – Ngaliyan – Semarang 024-7628212 IPA
134 AFIDATUL KHOIRIYAH, S. Ag – MTs Al Hikmah Jl. Kiai Aji Kelurahan Polaman – Mijen – Semarang 024-70700591 Fiqh
135 MASYKURI, S. Pd – MTs Syarofatul Millah Semarang Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024+70125581 IPS
136 NURUL AZIZAH, S. Pd – MTs Syarofatul Millah Semarang Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 IPS
137 YULI HIDAYATI, S. Ag – MTs Al Wathoniyyah Jl. KH. Abdurrosyid Tlogosari Wetan Semarang 024-70783773 Matematika
138 BAMBANG HARIS DIANDARU, S. Pd 150361806 MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Matematika
139 SRI MURNAINI, S.Pd – MTS NU Al-Hikmah Jl.K.Aji Polaman Mijen Smg 024-70700591 Bahasa Inggris
140 SITI SRIYATI, S. Pd – MTs Hidayatus Syubban Jl. Kh. Zainudin No. 1 Kel. Karangroto Kec. Genuk 024-70796045 Bahasa Indonesia
141 HALIMAH, S. Pd – MTs Darul Hasanah Banjardowo Rt. 03/II 024-6591769 Bahasa Indonesia
142 IRCHAM, S.Pd.I – MTs Fatahillah Jl. Raya Bringin Tambak Aji Ngaliyan 024-70346233 Mulok
143 KARIMAH, S.Ag MTs Tawang Rejosari Jl Tawang Rejosari Raya 024-7605128 Bahasa Indonesia
144 HANIFAH SYAROFUDIN, S.IP. – MTs Syaroful Millah Penggaron Kidul SMG 024-70125581 Bahasa Arab
145 MAT SALEH, S. Ag – MTs Darul Hasanah Semarang Jl. Wolter Monginsidi No. 53 Banjardowo – Genuk – 024-6591769 IPS
146 MUNIROH, S.Ag 150228582 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Fiqh
147 NUR ALIYAH, S.Pd MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sari raya Patemon Gunung Pati 024-70710520 PPKN
148 AF’IDATIN, S. Pd – MTs Raudlotul Muta’alimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Semarang 024-70144695 Matematika
149 SYAMSUL MA’ARIF, SPd.I. – Yayasan Pendidikan Islam Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta no. 65 Pedurungan Semarang 024-76738242 TIK
150 MOH. MULTAZAM, S. Pd. I – MTs Fatahillah Jl. Bringin Ngaliyan Semarang – IPS
151 AINI SA’ADAH, – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Mangkang Kulon Tugu Smg 024-8661863 Aqidah-Akhlak
152 KHAFSOH, S. Ag – MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Fiqh
153 BADRIYATUL ULFA, S. Pd – MTs Futuhiyyah Kudu Jl. Kauman Kudu – Penggaron Lor 05/01 Genuk Semara 024-6590978 Matematika
154 YUNI LISTIANTI, S.Pd. 150357230 MTSN 2 smg Jl. Citandui Raya 3 Mlatiharjo Smg Timur 024-3561855 Bahasa Inggris
155 DYAH WIJAYANTI, SP – MTs Al Islam Sumurrejo Jl. Mudal No. 3 Sumurrejo Gunungpati Semarang 8122853812 IPA
156 SULIMIN CRUBUS,S.Ag. – MTS NU Al-Hikmah Jl. K. Aji Kel. Polaman Mijen SMG 024-70700591 Bahasa Arab
157 EKO SETYO SUHARNANTO, S. Pd – Mts Al Khoiriyyah Jl. Bulu Stalan IIIA/253 Semarang 024-3519952 IPS
158 M. IMADUDIN, S. Ag – MTs Darus Sa’adah Jl. Karang Ingas Raya Rt. 03/VII Tlogosari Kulon P 024-70770894 Fiqh
159 AENU ROFIAH, S. Ag – MTs Al Hikmah Jl. Kiai Aji Kelurahan Polaman – Mijen – Semarang 024-70700591 Al-Quran-Hadis
160 NUR CHASANAH, S. Ag 150357236 MTsN 2 Semarang jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Fiqh
161 CHUMAEDULLAH, S. Ag – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 IPS
162 PATRI, S. Th. I – MTs NUrussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Wonosari Ngaliyan Semarang 024-8664957 Matematika
163 SITI PRIHATININGTYAS, Dra,. M. Pd- MTs Al Islam Sumurrejo Jl. Mbedal no. 3 Sumurrejo Gunungpati Semarang 8122853812 Bahasa Indonesia
164 SITI MARIYATUN 150262172 MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi No. 22 – Banjardowo – Genuk 024-6591769 PPKN
165 AGUS MUHADJIR, S.Pd 150286185 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Aqidah-Akhlak
166 ABDUL GHOFUR, S. Pd 150357229 MTs Uswatun Hasanah Jl. Karang Gayam Mangkang Wetan Tugu Semarang 024-70771623 Matematika
167 IMRON JAUHARI, S.Ag – MTs Fatahillah Jl.Raya Bringin 23 Tambak Aji Ngaliyan Smg – Bahasa Inggris
168 SUBKI – MTs Uswatun Hasanah Mangkang wetan Tugu SMG 024-70771623 Bahasa Arab
169 ANI KUSRINI, S. Pd – MTs Darus Sa’adah Jl. Karang Ingas Tlogosari Kulon Pedurungan 024-70770894 Bahasa Indonesia
170 HAIDAR NUR UBAIDI, S.Pd. – MTS HUSNUL KHOTIMAH Rowosari Tembalang SMG 024-70268002 Bahasa Inggris
171 NOVI SETYONO, S. Pd – MTs Al Khoiriyyah Jl. Bulu Stalan IIIA/253 Semarang 024-3519952 Matematika
172 JUNED,DRS MTs Nurusibyan Jl Wonosari Ngaliyan 024-8664957 Bahasa Arab
173 TRI HASTUTI, S.Pd 150254690 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPS
174 MUSYAROPAH, S. Pd – MTs Futuhiyah Kudu Jl. Kauman Kudu Penggaron Lor – Genuk – Semarang 024-6590978 Bahasa Indonesia
175 TANTI LESTARI, S. Pd 150361796 MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta No. 65 024-76738242 IPS
176 HADI SISWANTO, S. Ag – MTs NU Al Hikmah Jl. Kiai Aji Kelurahan Polaman Kec. Mijen Semarang 024-70700591 Seni Budaya
177 UDA FITRIAH, S.Pd 150317683 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 IPA
178 LAILATUL FAIZAH, S.Pd – MTs Roudlotul Muta’alimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Smg 024-70144695 Bahasa Inggris
179 SULISTINAH PUDJI RAHAYU 150358855 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 PPKN
180 SITI KHOLIFAH, S.Pd.I – MTs Futuhiyyah Kudu Jl. Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk Smg 024-6590978 Aqidah-Akhlak
181 MUHAMMAD TULUS, S. Pd – MTs Syarofatul Millah Semarang Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 IPS
182 MOCH. YULIH FAIRDYAN – MTS ALKHOIRIYAH Bulu Stalan IIIa/253 Smg 024-3519952 Bahasa Inggris
183 UMMI HANI’ IDDAH MURNIASIH, S. A- g MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Kauman Mangkang Kulon Tugu Semar 024-8661863 PPKN
184 SLAMET RIYADI, S. Pd 150358841 MTs Al Hikmah Jl. Kiai Aji Kelurahan Polaman – Mijen – Semarang 024-70700591 PPKN
185 ANDI MUSTOFA – MTs Tawang Rejosari Semarang Jl. Tawang Rejosari Raya Semarang 024-7605128 Matematika
186 KUSRINAH, S. Si – MTs Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. V / V Genuk Semarang 8122526571 IPA
187 SALIMA FRIDAYANTI, S.Pd 150361805 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Matematika
188 SON HAJI, S. Pd. I – MTs Syaroful Millah Jl. sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan s 024-70125581 Penjaskes
189 ABDUL FATAH, S. Ag – Yayasan Raudlatul Muta’alimin Jl. Laut mangunharjo 01/01 – Tugu – Semarang 024-70144695 SKI
190 ANIS MUARIFAH, S.Pd.I – MTS NU Al-Hikmah Jl.K.Aji Polaman Mijen Smg 2470700591 Bahasa Inggris
191 GUSYANTO, S. Pd. I – MTs Uswatun Hasanah karanggayam Rt. 02/04 Mangkang Wetan 024-70771623 Bahasa Indonesia
192 ERWYNA LAILY NUR LATIFAH, S. Ag 150357234 MTs Nurussibyan Wonosari Ngaliyan Semarang 024-8664957 Fiqh
193 SRI MULYATI, Dra. 150361505 MTs. N 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Bimbingan Konseling
194 SULOSO, Drs – MTs Al Khoiriyyah Jl. Bulustalan IIIA/253 Semarang 024-3579952 Bimbingan Konseling
195 SITI MUBAROKAH, S. Pd – MTs Husnul Khatimah Jl. At Taqwa No. 8 Rowosari Tembalang Semarang 024-70268002 Matematika
196 NUR HAYATI, S.Pd MTs Darul Hasanah Jl Wolter Monginsidi Genuk 024-6591769 IPA
197 SITI KHUDRIYAH, SS.Akt MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sari raya Patemon Gunung Pati 024-70710520 Bahasa Indonesia
198 MUN FARIDAH, S.Ag – MTs Roudlotul Muta’alimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Smg – Aqidah-Akhlak
199 IMAM SANTOSO, S. Ag – MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 PPKN
200 FAUZI, S. Ag – MTs Syarofatul Millah Semarang Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 Al-Quran-Hadis
201 NUR FAIQ, S.Pd. – MTSN 2 smg Jl. Citandui Raya 3 Mlatiharjo Smg Timur 024-3561855 Bahasa Inggris
202 SITI NURCAHAYA, S. Sos – MTsN NU Pungkuran Jl. KH. Wahid Hasyim 390 Semarang 024-3511327 PPKN
203 ASMIAH HJ HUKUM, DRA 150277398 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Aqidah-Akhlak
204 AFIFAH, S. Pd – MTsN 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 IPA
205 SUSIANINGSIH, S.Pd 150358844 MTsN I Semarang Jl Fatmawati Semarang 024-6716521 Ketrampilan
206 WAHID LUQMAN BASYA, S. H.I – MTs Syaroful Millah Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S – Bahasa Indonesia
207 CHOLIDATUN NIKMAH, S. Pd – MTs Syarofatul Millah Semarang Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 IPA
208 ALFIATUN MAHMUDAH, S.Pd – MTs Syaroful Millah Penggaron Kidul SMG 024-6713691 Bahasa Inggris
209 SRI WINDARI, S. Pd – MTs Al Wathoniyyah Jl. KH. Abdurrosyid Tlogosari Wetan Semarang 024-70783773 Matematika
210 TRI YULIANA, S. Pd – MTs Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. V / V Genuk Semarang – IPA
211 ALI MURTADHO, S. Hi – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Utara Mangkang Kulon Tugu Semarang 024-8661863 Al-Quran-Hadis
212 SRI WAHYUNI, ST – MTs Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. 05/ V Genuk Semarang 8122526571 Matematika
213 HADI SUPRAYITNO, S.Pdi MTs Fatahillah Jl Bringin Tambak Aji 23 – Bahasa Indonesia
214 SODIQ, S.Th.I – MTs Syaroful Millah Jl. Sunan Kalijaga 4 Pedurungan Semarang 024-70125581 Mulok
215 SLAMET SANTOSO, S. Si – MTs Fatahillah Jl. Bringin Ngaliyan Semarang – IPA
216 SIGIT NURHENDI, SE – MTs Uswatun Hasanah Jl. Karang Gayam Rt. 02/IV – Mangkang Wetan – Tugu 024-70771623 IPS
217 ASTRI LESTARI, S. Pd – MTs Darul Ulum Jl. Anyar Kelurahan Wates – Ngaliyan – Semarang 024-7628212 IPS
218 AHMAD SYUKRON, Drs – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 Al-Quran-Hadis
219 KARMI, S. Pd – MTs Al Khoiriyah Jl. Bulu stalan IIIA/253 Semarang 024-3519952 Bahasa Indonesia
220 UMI KULSUM, S.Pd – MTs Al Watoniyah JL.KH. Abdul Rosid No. 1 Bugen Tlogosari 024-70783773 Bahasa Inggris
221 MARDLIYATUL HAYATI, S. Pd. I – MTs Taqwal Ilah Jl. Tunggu Raya No. 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 IPS
222 ROTIYAL UMROH – MTS Taqwal Ilah Jl. tunggu Raya meteseh Tembalang SMG 024-6749777 Bahasa Inggris
223 MALIHUL HUDA, S. H. I – MTs Husnul Khatimah Jl. At Taqwa No. 8 Rowosari Tembalang Semarang 024-70268002 IPS
224 PANIMIN, S. Th. I – MTs Al Khoiriyah Jl. bulu Stalan III A/No. 253 Semarang 024-3519952 SKI
225 DODI UTOMO, S.S. – MTS ALKHOIRIYAH Bulu Stalan IIIa/253 Smg 024-3519952 Bahasa Inggris
226 TOHA HASAN,S.Ag. – MTs Darul Ulum Jl. Anyarwates Ngaliyan SMG 024-7628212 Bahasa Arab
227 SUGIHARTI, SE – MTs Yayasan Tanwirul Qulub Bangetayu Wetan Rt. V / V Genuk Semarang 8122526571 IPS
228 BUDI ARIYANTI, S. Pd 150359831 MTs. N 2 Semarang Jl. Citandui Raya III Semarang 024-3561855 Bimbingan Konseling
229 KARYADI, S. Pd. I – MTs NU Al Hikmah Jl. Kiai Aji Kel. Polaman – Mijen – Semarang 024-70700591 Matematika
230 SRI NURIYAH, S.H.I, Akt – MTs Al Asror Patemon Gunungpati Smg 024-70710520 Aqidah-Akhlak
231 NURDIYANTO, S.Pd MTs Al Asror Semarang Jl Legok Sari raya Patemon Gunung Pati 024-70710520 Penjaskes
232 MASLIKHAH, S. Pd 150329728 MTs hidayatus Syubban Karangroto Genuk Semarang 024-70796045 IPA
233 LULUK MUHIMATUL ASIFAH, S. Pd. -I MTs Fatahillah Jl. Beringin raya no. 23 Beringin Tambak Aji Ngali – PPKN
234 SAMSUL ARIFIN, S.Pd.I – MTs Nurussibyan JL.Wonosari KM 13 NGaliyan Smg 024-8664957 Bahasa Inggris
235 SUSANTO, SS MTs AL-CHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG 024-3519952 Bahasa Inggris
236 SITI ASLAMIYAH, S. Pd. I – MTs Tawang Rejosari Jl. Tawang Rejosari raya Semarang 024-7605128 IPS
237 WEDOK PUJIASTUTI, S.Pd – MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Sukarno hatta 65 SMG 024-76738242 Bahasa Inggris
238 NASRULLOH, S. PD. I – MTs NU Nurul Huda Jl. Irigasi Mangkang Kulon – Tugu – Semarang 024-8661863 IPS
239 TANZILAH, S. Pd – MTs Syarofatul Millah Jl. Sunan Kalijaga IV Penggaron Kidul Pedurungan S 024-70125581 Matematika
240 DHIAN S. OKTARINA, S.IP – MTs Darussadah Jl.karangingas Smg – Bahasa Inggris
241 AHMAD MUNIR, S. Pd. I – MTs Futuhiyyah Palebon Jl. Soekarno Hatta No. 65 024-76738242 Al-Quran-Hadis
242 HASAN AS’ARI, SPd. – MTs Darul Hasanah Jl. Wolter Monginsidi No. 22 – Banjardowo – Genuk 85640730453 TIK
243 AHMAD GHUFRON, S. Pd. I – MTs Al Wathoniyah Jl. KH. Abdurrosyid gugen Tlogosari Wetan Pedurung 024-70783773 SKI
244 NURUS SYAFI’, S.Pd.I – MTs Infarulghoy Jl. Brigjen S. Sudiarto 652 Plamongansari Smg 024-6716917 Bahasa Arab
245 HAIDAR ALFIANTI, S. Pd – MTs Al Hidayah Desel – Sadeng – Gunungpati – Semarang – Bahasa Indonesia
246 M. BAHA UDDIN ASYHAR, SE – MTs Al Asror (Ma’arif) Jl. Legok Sari Raja No. 02 Patemon Gunungpati Sema 024-70710520 IPS
247 UMATUROKHIMAH,SHI. – MTS Al hidyah Jl. Desel Sadeng gunungpati SMG – Bahasa Arab
248 ROTIYATUL INAYAH, S. Hi – MTs Taqwal Ilah Jl. Tunggu Raya No, 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 Matematika
249 ARIS WIDIYATMOKO, S. Pd – MTs Al Hidayah Jl. Desel Sadeng Gunungpati Semarang – Matematika
250 NUR INDAH HASANAH, S. Pd. I – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 IPA
251 SUGIYANTO, S. Pd – YPI Infarul Ghoy Semarang Jl. Brigjen S. Sudhiarta No. 652 Plamongansari Ped 024-6716917 IPS
252 ALFAH HIDAYAH, S. Ag – MTs Darul Hasanah Semarang Jl. Wolter Monginsidi No. 53 Banjardowo – Genuk – - Al-Quran-Hadis
253 SOLI NURHIDAYAH, S.Sos.I – MTs Uswatun Hasanah Karanganyar Tugu Smg 024-70771623 Aqidah-Akhlak
254 ZAHROTUDDINIYAH, S. Pd – Yayasan Raudlotul Muta’allimin Jl. Laut Mangunharjo Tugu Semarang 024-70144695 IPA
255 HARITSAH RAHMAH, S. Pd. I – MTs Darus Sa’adah Jl. Karang Ingas Pedurungan Semarang – Matematika
256 MOHAMMAD FAJAR ANSORI, S. Ag 150380490 MTs Al Wathoniyyah Jl. Kh. Abdurrosyid Tlogosari Wetan Semarang 024-70783773 Fiqh
257 MUHAMMAD BAKRI, S. Ag – Mts Husnul Khatimah Rowosari tembalang Semarang 024-70798158 Fiqh
258 MUHAMAD ANAS, S.Ag – MTs Nurussibyan JL. Wonosari KM 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 Mulok
259 KISWATI, S.Pd – MTs Syaroful Millah Penggaron Kidul SMG 024-70125581 Bahasa Inggris
260 MASLAHATUL AMIROH, S. Pd. I – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 SKI
261 HENI PRASETYONINGWATI, S.Pd.I – MTs Nurussibyan JL. Wonosari KM 13 Wonosari Ngaliyan 024-8664957 Bahasa Arab
262 SITI MUNFAANAH, SH – MTs Nurussibyan Jl. Wonosari Km. 13 kel. Wonosari Ngaliyan Semaran 024-8664957 PPKN
263 SITI MASLACHATUN, S. Pd – MTs Futuhiyyah Kudu Jl. Kauman Kudu – Penggaron Lor 05/01 Genuk Semara 024-6590978 Matematika
264 MOHAMAD QINAN NAKHUR, S. Pd – MTs Al Islam Sumurrejo Jl. Moedal No. 3 Sumurrejo Gunungpati Semarang 8122853812 Penjaskes
JENJANG PENDIDIKAN : MA
NO URUT
RANKING NAMA ALAMAT
NAMA NIP
TEMPAT TUGAS
TELEPON MATA PELAJARAN
1 SRI HIDAYATI, SPd 131756147 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Kimia
2 ALI ARIFIN, Drs, H. – MA AL-KHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG 024-3519952 Mulok
3 DYAH KEKAYI K, Dra. SPd – MA NU NURUL HUDA JL. KYAI GILANG 36B, KAUMAN SEMARANG 024-8663945 Bahasa Inggris
4 BAMBANG SANTOSA K, Drs. 150283291 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Biologi
5 KRISTINA DWI SRIHADI, Dra. 150359824 MAN 2 SEMARANG Banget Ayu Raya 1 Genuk 024-8595440 Ekonomi
6 SALIM, SPd – MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAINUDDIN NO.1 KARANGROTO 024-70796045 Sejarah
7 SYA’RONI, Drs, SPd. – MA AL-ASROR PATEMON, GUNUNGPATI, SEMARANG 024-8507905 Sejarah
8 BASUKI. H,M.Ag 150138676 MAN 1 Semarang Jl Brigjen S. Sudiarto 024-6715208 Bimbingan Konseling
9 UMI NASIROH, Dra, SPd – MA AL ASROR JL Legoksari Patemon – Ekonomi
10 A. HALIMI HUSAIN, Drs – MA SYAROFUL MILLAH JL. SUNAN KALIJAGA IV, PENGGARON KIDUL, SEMARANG 024-6707373 Alquran Hadits
11 USWATUN KHASANAH, Dra MA AL-KHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG 024-3519952 Bahasa Arab
12 MOHAMAD SODIKIN, SAg. M.M – MA Darut Taqwa semarang Jl Ngumpulsari 12 Tembalang Semarang 024-70271517 Sosiologi
13 JOKO SUSILO, S. Pd – MA Hidayatus Syubban Jl. KH. Zaenudin No. 1 Karang Roto Genuk Semarang 024-70796045 Matematika
14 HARI MURYANA, DRS 150270290 MAN SEMARANG 2 JL Raya Banngetayu Raya 1 024-6595440 Penjaskes
15 SLAMET HIDAYAT, Drs – LP Ma’arif Patemon Rt. 3/4 Semarang 024-8507905 SKI
16 MUSTA’IN, Drs. 150272722 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Fisika
17 ARY PRIONO, SPd 131810340 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Fisika
18 MUSLIH, Drs 150255753 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Sejarah
19 ASRORI, Drs 150275176 MAn Semarang 1 Jl. Brigjen S. Sudiarto Pedurungan Kidul Pedurunga 024-6715208 Matematika
20 ANIES JOKO PAMUJI, SPd 150270211 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Fisika
21 NOOR INAYATI ZULFIKAR, Dra, SPd 150257431 MAN SEMARANG 2 JL. BANGETAYU RAYA SEMARANG 024-6595440 Bahasa Indonesia
22 SUPARDI, Drs 150256820 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Sejarah
23 NUR LAILA ABADININGSIH, SPd 150280847 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Biologi
24 RISTIONO, SPd 150357228 MAN 2 SEMARANG JL Bangetayu raya 1 024-6595440 PPKn
25 ASMUNIB, Drs – MA SYAROFUL MILLAH JL. SUNAN KALIJAGA IV, PENGGARON KIDUL, SEMARANG 024-70125581 Kesenian
26 RUS HAMIDAH YULIARTI, Dra 150277162 MAN Jl. Bangetayu raya Genuk Semarang 024-6595440 Matematika
27 ROCHMATAH, Dra 150273504 MAN Semarang 1 Jl. Brigjen S. Sudiarto Pedurungan Kidul Pedurunga 024-6715208 Matematika
28 MISBAKHUL HUDA, SPd 150361511 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bahasa Inggris
29 MUSLIKHAH, Dra, Hj. – MA USWATUN HASANAH KRAJAN MANGKANGWETAN RT.02/RW.1 TUGU SEMARANG 024- Alquran Hadits
30 MUSTAIN, SAg MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAINUDDIN NO.1 KARANGROTO 024-70796045 Bahasa Arab
31 NURUL INAYAH, SAg – MA SYAROFUL MILLAH JL Sunan Kalijaga IV Penggaron kidul 024-77125581 PPKn
32 SRI HASTUTI, S. Pd 150282946 MAN Semarang 2 Jl. Bangetayu Raya Genuk Semarang 024-6595440 Matematika
33 ANSHORI, SPd 150256685 MAN SEMARANG 1 JL. BRIG. S. SUDIARTO, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG 024-715208 Bahasa Indonesia
34 SOLIKHATIN, SPd 150294832 MAN SEMARANG 2 JL. BANGETAYU RAYA SEMARANG 024-6595490 Bahasa Indonesia
35 JAMALUDDIN, S.Ag, M.Ag 150258417 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Fiqh
36 IRFA’I, SAg 150316638 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Fiqh
37 M. AELI FIRDAUS 150275198 MAN Semarang 1 Jl. Brigjen S. Sudiarto Pedurungan Kidul Pedurunga 024-6715208 Matematika
38 ALI NGATMIN, SPd – MA HIDAYATUS SUBBAN JL KH Zaenuddin 1Karangroto Genuk 024-70796045 Genuk PPKn
39 SAEFUDDIN, SPd 150375539 MA USWATUN HASANAH KRAJAN MANGKANGWETAN RT.02/RW.1 TUGU SEMARANG 024-8665019 Bahasa Inggris
40 NI’MATUL MUNAWAROH, SAg 150329402 MA USWATUN HASANAH MANGKANGWETAN, TUGU, SEMARANG 024-70771623 Bahasa Arab
41 SUHADI MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 Alquran Hadits
42 KANTI SETIYATI, Dra 150272089 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Kimia
43 KASRI SPd – MAK AL WATHONIYYAH JL KH Abd Rosyid gugem tlogosari Wetan Pedurungan 024-70783773 PPKn
44 MUKHIDIN, SAg, SPd – YAYASAMN DARUL HUSNA JL Raya Mangkangwetan Kec Tugu 024-8665019 Sosiologi
45 AHMAD FATCHAN, SE – MA NURUL HUDA JL Kiai Gilang 36 Kauman Mangkang 024-8663945 Ekonomi
46 SRI YUSTIANA EMY, Dra 150263970 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Geografi
47 NUR SYAHID, SAg 150380489 MA USWATUN HASANAH MANGKANGWETAN, TUGU, SEMARANG 024-8665019 Aqidah-Akhlak
48 IKA NURUL ELIYA, SAg MA NU NURUL HUDA JL. KYAI GILANG 36B, KAUMAN SEMARANG 024-8663945 Aqidah-Akhlak
49 ANDAR MURTININGSIH, DRA – MA DARUTTAQWA JL Ngumpulsari raya 12 Tembalang 024-70271517 PPKn
50 PUJI LESTARI, S. Pd 150284045 MAN Semarang 1 Jl. Brigjen S. Sudiarto Pedurungan Kidul Pedurunga 024-76740074 Matematika
51 ANISAH TJAKRAWATI, SPd 150359830 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Kimia
52 SUMARYANTO, SPd – MA AL ASROR JL Legoksari Raya Patemon Gunungpati – Penjaskes
53 SUBKI, Drs – MA AL-ASROR JL. LEGOKSARI RAYA N0.02, PATEMON, GUNUNG PATI 024-8507905 Kimia
54 RESKIYATI, SPd 150280557 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Biologi
55 HAIDAH SUJIWANTI, SPd – MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 Bahasa Inggris
56 PASIDIN, SAg MA AL-BURHAN GEDAWANG, RT.02 RW.02 BANYUMANIK, SEMARANG 024-70799853 Fiqh
57 M. AHYAR, S. Pd – MA NU Nurul Huda Jl. Ky. Gilang 36b Kauman Semarang 024-8663945 Matematika
58 BUDI SUSANTO, DRS 150271637 MAN 2 SEMARANG] JL Bangetayu raya 1 6595440 Keterampilan
59 AHMAD THOLKAH, S.Pd – MA Azzuhdi Jl KH Zuhdi No 10 Meteseh Tembalang 081325642835/024-70799919 Bahasa Indonesia
60 A. ZAINI IRFAI, SE – MA AL ISHLAH JL Kompol R Soekanto 02 tembalang 024-70317163 Ekonomi
61 CHOMSATUN, SH 150247810 MAN 1SEMARANG JL Brigjen Sudiarto Pedurungan 024-6715208 PPKn
62 TASMIYANTO, SH 150191645 MAN SEMARANG 1 JL Brigjen Sudiarto Pedurungan 024-6715208 Sosiologi
63 NURUL AZIZAH, SPd – MA DARUTTAQWA JL Ngumpul Sari Raya 12 Bulusan Tembalang 024-70271517 Ekonomi
64 MOCH. ISNADI BUDI CAHYONO, S. Si – MA Al Burhan Kel. gedawang Rt. 02/02 – Banyumanik – Semarang 024-70799853 Matematika
65 SAM YOTO, SPd MA DARUT TAQWA JL. NGUNGSULSARI RAYA NO.12, TEMBALANG 024-70153774 Bahasa Indonesia
66 TOMTONO, Drs YAYASAN DARUS SA’ADAH JL. KARANG INGAS RAYA 3/7 024-70770894 Alquran Hadits
67 WAGIMIN, SPd MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Kimia
68 SITI AMINAH, SPd MA AL-ASROR JL. LEGOKSARI RAYA N0.02, PATEMON, GUNUNG PATI 024-8507905 Bahasa Inggris
69 ANWAR RIFA’I, SPd. 150329960 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Sejarah
70 SULASIH, SPd 150371681 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024- Geografi
71 SAFRONI, SPs MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAINUDDIN NO.1 KARANGROTO 024-70796045 Bahasa Inggris
72 MOHAMAD FAOJIN, SAg, M.Ag 150281859 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Fiqh
73 SUKAT, SAg 150321439 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bahasa Arab
74 BAYU SULISTYAWATI, SPd MA AL-ASROR JL. LEGOKSARI RAYA N0.02, PATEMON, GUNUNG PATI 024-8507905 Kimia
75 SUJATI, SAg – MAK AL WATHONIYYAH JL Abd rosyid Tlogosari Pedurunan 024-70783773 SKI
76 UMI KHOLIFAH, SAg MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 024-70271517 Alquran Hadits
77 MUNIFAH, SAg – MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 Mulok
78 JOKO SISWONO, Drs 150261175 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Bimbingan Konseling
79 DWI KENC. SARININGSIH, S. Pd – MA darut Taqwa Semarang Jl. Ngumpul Sari Raya No. 12 Semarang 024-70271517 Matematika
80 NINIK SARINIYATI, SPd MA AL-KHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG 024-3519952 Kimia
81 NI’MATUL ALIYAH, SAg – JL. SUNAN KALIJAGA IV, PENGGARON KIDUL, PEDURUNGAN 024-6707373 Bahasa Indonesia
82 ISTIANAH, S. Pd 150358842 MAN Semarang 2 Jl. Bangetayu Raya Genuk Semarang 024-6595440 Matematika
83 ARIF SUMARI, Drs – MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Fiqh
84 SRI KUSMARINA, SPd MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 024-70271517 Sejarah
85 A. ZUBAIDI, SAg, MPd – MAK AL WATHONIYYAH JL KH Abd Rosyid gugem tlogosari Wetan Pedurungan 70783773 Antropologi
86 MUHLASIN, SAg – MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 TIK
87 ACHMAD SODIK, SAg, SPd MA NU NURUL HUDA JL. KYAI GILANG 36 B, MANGKANGKULON, TUGU, SEMARAN 024-8663945 Bahasa Indonesia
88 INTIKHAROH, SAg YAYASAN DARUL HUSNA JL. RAYA MANGKANGWETAN, KEC. TUGU 024-8665019 Bahasa Indonesia
89 SISWOYO, SPd – MAN SEMARANG 1 Pedurungan Kidul Kec Pedurungan 024-6715208 Penjaskes
90 WIDODO, SAg MA AL-BURHAN GEDAWANG, RT.02 RW.02 BANYUMANIK, SEMARANG 024-70799853 Alquran Hadits
91 ENDANG PURWATININGRUM, SPd – MAN 1 SEMARANG JL Brigjen S. Sudiarto pedurungan 024-6715208 Ekonomi
92 ALMAUNATUL KHAFIDHOH, S.Pd.I – MA Al-Asror Jl Legoksari No 2 Patemon gunung Pati Semarang 024-8507905 Mulok
93 SRIYANTO, SPd – MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 81575282526 Biologi
94 SOLIHATUN, SPd MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAINUDDIN NO.1 KARANGROTO 024-70796045 Bahasa Inggris
95 MUHAMMAD NURHAN, SAg 150358852 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Bahasa Arab
96 POERWANTI TRI SUBEKTI, SPd – MA TAQWAL ILAH JL Tunggu raya 10 Meteseh tembalang 024-6749777/6716348 Sosiologi
97 ABDUL GHOFUR, SAg – MA USWATUN HASANAH MANGKANGWETAN, TUGU, SEMARANG 024-8665019 Mulok
98 SOLASTRI, S. Pd 150357233 MAn Semarang 1 Jl. brigjen S. Sudiarto Pedurungan Kidul Pedurunga 024-6715208 Matematika
99 WIDHI ASTONO, SE 150358846 MAN 1 SEMARANG JL Brigjen S. Sudiarto pedurungan – Ekonomi
100 SRI ISLAMI BUDI INDAH K, SPd 150329958 MAN 2 SEMARANG JL Bangetayu Raya , Semarang 024-6595440 PPKn
101 ARIS FAKHRUDIN, SSi 150358849 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Fisika
102 MASRUKIN MA AL-BURHAN GEDAWANG, RT.02 RW.02 BANYUMANIK, SEMARANG 024-70799853 Alquran Hadits
103 ROSIDAH, SPd 150358738 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Mulok
104 CHOIRUL ANWAR, SFil.I MA AL-WATHONIYYAH JL. KH. ABD ROSYID GUGEN, TLOGOSARI WETAN, PEDURUN 024-70783773 Bahasa Arab
105 NASRON, SAg MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bahasa Arab
106 IMAM SUADI, SPd – MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Bimbingan Konseling
107 NURUL HIDAYAH, SPd 150321709 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Bimbingan Konseling
108 MAHFUDZI, SAg – MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Aqidah-Akhlak
109 TRI MARHAENI, SPd – MAN 1 SEMARANG JL Brigjen S. Sudiarto pedurungan 024-6715208 Ekonomi
110 ZAENAL ABIDIN, SAg MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 024-70271517 Fiqh
111 SITI CHOTIMAH, SPdI MA AL-BURHAN – - Fiqh
112 ISTIGHFAROH, S.Pd – MA AL ABRORO JL Legoksari2 Patemon 248507905 Ekonomi
113 KARTIKA AINI, SPd – MA AL ASROR JL Legoksari Raya Patemon Gunungpati 024-8507905 Sosiologi
114 SUNARDI,SPd 150358848 MAN SEMARANG 2 Genuk , Semarang 024-6595440 Fisika
115 UMMI NI’AMAH, SPd MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAINUDDIN NO.1 KARANGROTO 024-70796045 Biologi
116 MASKUR, SAg MA USWATUN HASANAH MANGKANGWETAN, TUGU, SEMARANG 024-8665019 Sejarah
117 PRIYADI, SPd YAYASAN DARUL HUSNA JL. MANGKANGWETAN RT.02/I, TUGU 024-8665019 Bahasa Indonesia
118 EKO SAPUTRO, SPd – MA HIDAYATUS SYUBBAN JL. KH. ZAENUDDIN NO.1 KARANGRATU, GENUK 024-70796045 Bahasa Indonesia
119 HERU SUSILOWATI, S. Pd – MA Taqwal Ilah Semarang Jl. Tunggu Raya No. 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-6749777 Matematika
120 BADRIYATUL ULFA, S. Pd – Yayasan Pendidikan Islam Darul Ulum Jl. Raya Anyar Wates Ngaliyan Semarang 024-7628212 Matematika
121 MUH RODLI, SHI MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 Sejarah
122 SITI FITRIYAH, SPd 150358843 MAN SEMARANG 1 JL. BRIG. S. SUDIARTO, PEDURUNGAN KIDUL, SEMARANG 024-6715208 Bahasa Indonesia
123 SAMSUL MAARIF – MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6716348 Fiqh
124 IMAM MA’RIFAH, Dra. – MA DARUTTAQWA JL Ngumpulsari raya 12 Tembalang 024-70271517 Keterampilan
125 SUKO RAHADI, SPd MA AL-KHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG – Fisika
126 BAMBANG RIYADI,DRS – MA FUTIHIYYAH Penggaron Lor Rt 05/1 genuk 6590978 PPKn
127 LAILY HIDAYAH, SPd – MA USWATUS NHASANAH Mangkang Wetan Kec Tugu 024-8663945 Ekonomi
128 MUTMAINAH R KH. SAg MA AL-BURHAN GEDAWANG, RT.02 RW.02 BANYUMANIK, SEMARANG 024-70799853 Alquran Hadits
129 AHMAD RODLOH, SAg MA AL-ISLAH JL. KOMPOL R. SOEKANTO NO.2 TEMBALANG, SEMARANG 024-70317263 Bahasa Arab
130 M. ARIF HIDAYATULLOH, MAg – YPI DARUL ULUM Wates Rt 07/11 Nglaiyan 024-7628212 Sosiologi
131 ERNY WAHYUNI, SPd MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bahasa Inggris
132 ,MOH KHOIRI, SPd MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Sejarah
133 DODI SETIAWAN, SPdI MA AL-BURHAN GEDAWANG, RT.02 RW.02 BANYUMANIK, SEMARANG 024-70799853 Bahasa Inggris
134 NUR KHOLIS, SAg – MA FUTIHIYYAH Penggaron Lor Rt 05/1 Genuk 6590978 Sosiologi
135 AINI MUSTAGHFIROH, SAg 150358853 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bahasa Arab
136 NUR HADI, saG MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Bahasa Arab
137 MUCH. ZAMRONI LATIF, SAg MA AL-KHOIRIYAH JL. BULUSTALAN IIIA SEMARANG 024-3519952 Fiqh
138 AHMAD TAUFAN, S Fil I – MA AL BURHAN GedawangRt 02/II banyumanik 024-70799853 SKI
139 SITI EKOWATI, SPd MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 024-70271517 Kimia
140 SUWARDI, SPd I – MA FUTIHIYYAH Penggaron Lor Rt 05/1 genuk 6590978 Penjaskes
141 MUALIMAH, SPd – MA AL ASROR JL Legoksari2 Patemon 024-8595440 Ekonomi
142 JUNAEDI, SPdI MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG 024-70271517 Mulok
143 DJOKO MARTONO, SPd 150358847 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Biologi
144 WALINTO, SPdI MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Mulok
145 SHODIQ, DRS – MA FUTIHIYYAH JL Kauman Kudu Penggaron Lor Genuk 6590978 PPKn
146 DWI HARTININGSIH MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Kimia
147 LESTARI, SPd YAYASAN DARUS SA’ADAH Kr. INGAS RT.3/VII, SEMARANG – Fisika
148 AHMAD ALFAN, SAg 150370499 MAN SEMARANG 1 JL. BRIGJEN S. SUIDARTO, PEDURUNGAN 024-6715208 Fiqh
149 MUHAYAH – MA Azzuhdi Jl KH Zuhdi No 10 Meteseh Tembalang 081325642835/024-70799919 PPKn
150 INDHIE NIRVANA, SPd MA DARUT TAQWA JL. NGUMPULSARI RAYA NO.12 SEMARANG – Fisika
151 KHALIMATUS SA’ADAH, S. Pd – MA Al Wathoniyyah Bugen Tlogosari Wetan Pedurungan Semarang 024-70783773 Matematika
152 NUR AZIZ, SHI MA AL-WATHONIYYAH GUGEN, TLOGOSARI WETAN, PEDURUNGAN SEMARANG 024-70783773 Alquran Hadits
153 LESTARI, SPd MA KHUSNUL KHATIMAH JL. AT TAQWA NO.9, ROWOSARI, TEMBALANG 024-70798158 Bahasa Indonesia
154 SUSI WINARNI, SPd MA USWATUN HASANAH MANGKANGWETAN, TUGU, SEMARANG 024-8665019 Biologi
155 YULI HARSIH, SPd MA FUTUHIYAH KUDU JL. KAUMAN KUDU PENGGARON LOR, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Bahasa Inggris
156 KUSNAN, SPd I – MA AL ISHLAH JL Kompol Soekanto 2 Tembalang 024-70317236 SKI
157 MUSTAQIM, SAg – MA NU NURUL HUDA JL. KYAI GILANG 36B, KAUMAN SEMARANG 024-8663945 Geografi
158 NURUL HUDA, SThI MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Sejarah
159 HIJROH KURNIASIH, S. Pd – MA Futuhiyyah Kudu Penggaron Lor Rt. 05/1 Genuk Semarang 024-6590978 Matematika
160 NURI YUMINAWATI, SPd 150358854 MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Sejarah
161 LILIS LISTYOWATI MA TAQWAL ILAH JL. TUNGGU RAYA NO.10, METESEH, TEMBALANG, SMG 024-6749777 Kimia
162 IDA KHOIRUN NISA’, S. Pd. I – MA Infarul Ghoy Plamongansari Pedurungan Semarang 024-6716917 Alquran Hadits
163 NUR KHOLIS, S.Ag – MA. Futuhiyyah Kudu Penggaron Lor Pedurungan Smg 024-6590978 Aqidah-Akhlak
164 SUHARNI, SPd – MA AL-ISLAH JL. KOMPOL R. SOEKANTO NO.2 TEMBALANG, SEMARANG 024-70317263 Kesenian
165 HATTA ABDUL MALIK – MA HUSNUL KHATIMAH JL At Taqwa 9 Rowosari – Sosiologi
166 TSALITSIA URFY MARETHA, SPd – MAN SEMARANG 2 BANGETAYU, GENUK, SEMARANG 024-6595440 Bimbingan Konseling
167 SRI HERMAWATI,SPd – MA FUTUHIYYAH KUDU Penggaron Lor 05 Rt 05/1 Kec Genuk 024-6590978 Ekonomi
168 ALI SHODIQIN – MA Hidayatus Syubban Jl. KH. Zaenudin Semarang – Matematika
169 ROFIQ,SH – MA AZZUHDI JL KH Zuhdi 10 Meteseh Tembalang 024-70799919 PPKn
170 MASHADI, SS MA DARUS SA’ADAH JL. KARANG INGAS RAYA 3/7 024-70770894 Alquran Hadits
171 MASKUR, SPd MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Bahasa Inggris
172 M. SUBEKTI, SPdI MA FUTUHIYAH KUDU JL. RAYA KUDU PENGGARON LOR, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Bahasa Arab
173 SIGIT BANING ARTAN, SPd – MAN SEMARANG 2 JL Bangetayu raya 1 024-6595440 Penjaskes
174 VINA YUNAR VILLA, SPt MA SYAROFUL MILLAH JL. SUNAN KALIJAGA IV, PENGGARON KIDUL, SEMARANG 024-6707373 Biologi
175 SITI ASLAMIYAH, SPdI YPI DARUL ULUM JL. RAYA ANYAR WATES NGALIYAN SEMARANG 024-7628212 Sejarah
176 YUNITA FAJARWATI, SSos MA AZZUHDI JL. KH. ZUHDI NO.10, METESEH, TEMBALANG 024-70799919 Sejarah
177 USWATUN KHASANAH, S. Pd – MA Uswatun Hasanah Krajan mangkang Wetan Tugu Semarang – Matematika
178 IMRON ROSYID, SHI – YPI DARUL ULUM JL Raya Anyar Wates ngaliyan 024-7628212 PPKn
179 CHOIRUL HUDA, SSi MA AL-ISLAH JL KOMPOL R. SOEKANTO NO.2 METESEH, TEMBALANG, SEM 024-70317263 Fisika
180 RETNO AMBARWATI, SPd MA AL-ISLAH JL KOMPOL R. SOEKANTO NO.2 METESEH, TEMBALANG, SEM 024-70317263 Bahasa Inggris
181 NUR SAPIK, S. Pd – MA Al Ishlah Jl. Kompol R. Soekanto No. 02 Meteseh – Tembalang 024-70317263 Matematika
182 SUGIYANTO, SPd – MA FUTUHIYYAH KUDU Penggaron Lor 05 Rt 05/1 Kec Genuk 024-6590978 Ekonomi
183 YUNI RIF’ATIN, S. Pd – MA Azzuhdi Jl. KH. Zuhdi No. 10 Meteseh Tembalang Semarang 024-70799919 Matematika
184 HADI SUPRAYITNO, SPdI YPI DARUL ULUM JL. RAYA ANYAR WATES, NGALIYAN, SEMARANG 024-7628282 Bahasa Indonesia
185 SITI MASLACHATUN, SPd MA FUTUHIYAH KUDU PENGGARON LOR RT.05/I, GENUK, SEMARANG 024-6590978 Kimia
Keterangan :
1. Pemeringkatan didasarkan pada komponen : lama mengajar (50%); usia (30%); beban kerja (20%)
2. Data yang diolah berasal dari Formulir Pendaftaran yang telah diverifikasi oleh Kasi Mapenda/Kependa Islam Kab/Kota setempat.
(Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Januari – Februari 2007)
3. Urutan tidak boleh diubah !
Jakarta, Desember 2007
Direktur Pendidikan Madrasah
ttd
Drs. H. Firdaus, M.Pd.
NIP. 150 129 312

SKRIPSI; PENDIDIKAN TAUHID DALAM KELUARGA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Penegasan Istilah

                  Skripsi ini berjudul “Konsep Pendidikan Tauhid Dalam Keluarga” .Judul tersebut mengandung pengertian yang perlu penjelasan, penegasan, serta ruang lingkup agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam memahami judul dan keinginan penulis.

1. Konsep merupakan kata atau istilah serta simbol untuk menunjuk pengertian dari pada barang sesuatu baik konkret maupun sesuatu hal yang bersifat abstrak.[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep berarti sebagai rancangan ide, gambaran, atau pengertian dari peristiwa nyata atau konkret kepada yang abstrak dari sebuah obyek maupun proses.[2] Sedangkan konsep dalam penulisan ini ialah sejumlah rancangan, ide, gagasan, gambaran atau pengertian yang bersifat konkret maupun abstrak tentang  materi dan metode pendidikan tauhid dalam keluarga menurut pendidikan Islam.

2. Pendidikan, Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan dapat diartikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan;proses, perbuatan, cara mendidik.[3]

Pada hakekatnya pendidikan adalah usaha orang tua atau generasi tua untuk mempersiapkan anak atau generasi muda agar mampu hidup secara mandiri dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya. Orang tua atau generasi tua memiliki kepentingan untuk mewariskan nilai, norma hidup dan kehidupan generasi penerus. Ki Hajar Dewantara mengatakan…

“… mendidik ialah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.[4]

3. Tauhid, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata tauhid merupakan kata benda yang berarti keesaan Allah; kuat kepercayaan bahwa Allah hanya satu. Perkataan tauhid berasal dari bahasa Arab, masdar dari kata wahhada (وحد) yuwahhidu (يوحد) .Secara etimologis, tauhid berarti keesaan. Maksudnya, keyakinan bahwa Allah SWT adalah Esa;Tunggal;satu. Pengertian ini sejalan dengan pengertian tauhid yang digunakan dalam bahasa Indonesia, yaitu “keesaan Allah”; mentauhidkan berarti “mengakui akan  keesaan Allah;mengeesakan Allah”.[5] Jubaran Mas’ud menulis bahwa tauhid bermakna “beriman kepada Allah, Tuhan yang Esa”, juga sering disamakan dengan “لااله الا الله” “tiada Tuhan Selain Allah”.[6] Fuad Iframi Al-Bustani juga menulis hal yang sama. Menurutnya tauhid adalah Keyakinan bahwa Allah itu bersifat “Esa”.[7]Jadi tauhid berasal dari kata “wahhada” (وحد) “yuwahhidu” (يوحد) “tauhidan” (توحيدا), yang berarti mengesakan Allah SWT.[8]

                  Menurut Syeikh Muhammad Abduh tauhid ialah :

 suatu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya, dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan pada-Nya.Juga membahas tentang rasul-rasul Allah, meyakinkan kerasulan mereka, apa yang boleh dihubungkan (dinisbatkan) kepada mereka, dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka.[9]

            Menurut Zainuddin, tauhid berasal dari kata “wahid”(واحد) yang artinya “satu”. Dalam istilah Agama Islam, tauhid ialah keyakinan tentang satu atau Esanya Allah, maka segala pikiran dan teori berikut argumentasinya yang mengarah kepada kesimpulan bahwa Tuhan itu satu disebut dengan Ilmu Tauhid.[10]

Ada beberapa istilah lain yang semakna atau hampir sama yakni :

a. Iman.

Menurut Asy ‘ariyah iman hanyalah membenarkan dalam hati. Senada dengan ini Imam Abu Hanifah mengatakn bahwa iman hanyalah ‘itiqad. Sedangkan amal adalah bukti iman. Namun tidak dinamai iman. Ulama Salaf di antaranya Imam Ahmad, Malik, dan Syafi’i, iman adalah

اعتقاد بالجنان ونطق باللسان وعمل بالاركان

“Iman adalah sesuatu yang diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota tubuh”.[11]

b.  Aqidah.

Menurut bahasa ialah keyakinan yang tersimpul kokoh di dalam hati, mengikat, dan merngandung perjanjian. Sedangkan menurut terminologis di antaranya pendapat Hasan al-Banna mengatakan bahwa aqidah ialah beberapa hal yang harus diyakini kebenarannya oleh hati, sehingga dapat mendatangkan ketenteraman, keyakinan yang tidak bercampur dengan keragu-raguan.[12]Penyusun cenderung kepada pendapat Yunahar Ilyas yang mengidentikkan antara tauhid, iman, dan aqidah. Tauhid merupakan tema sentral aqidah dan iman.[13]

Setelah menguraikan kata pendidikan dan tauhid penulis perlu memberikan batasan dan ruang lingkup. Pendidikan tauhid dalam penulisan ini difokuskan kepada usaha yang dilakukan orang tua untuk menumbuhkan kekuatan kodrat anak, agar mereka menjadi manusia muslim yang meyakini keesaan Allah , serta dapat mengamalkan ketauhidan yang ia miliki dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, melalui pengajaran, latihan, dan metode tertentu untuk menyampaikan materi-materi ketauhidan, yakni ilahiyat, nubuwat, ruhaniyat, dan sam’iyyat.

 4. Dalam, adalah kata adjektiva, dan jika bertemu dengan kata benda bermakna lingkungan daerah (negeri, keluarga) sendiri.[14]

5. Keluarga, kata benda ini dimaksudkan untuk ibu bapak beserta anak-anaknya;seisi rumah.[15] Menurut Masjfuk Zuhdi, keluarga merupakan satu kesatuan sosial terkecil dalam masyarakat yang telah diikat oleh tali perkawinan yang sah atau resmi.[16]Keluarga dalam penulisan ini adalah keluarga muslim, mengutip pendapat Khatib Ahmad Santhut bahwa keluarga muslim adalah keluarga dengan ayah dan ibu yang memegang teguh ajaran Allah SWT dan Sunnah Rasul, karena itu keluarga muslim merupakan intisari dan paling prinsipil dalam usaha membentuk, dan mewujudkan masyarakat muslim.[17]

Dari penegasan istilah tersebut penulis dalam skripsi ini meneliti dan membahas proses bimbingan yang dapat dilakukan oleh orang tua terhadap perkembangan ketauhidan anak-anaknya dengan bahan-bahan materi ketauhidan yang meliputi keilahiyatan, kenubuwatan, keruhaniyatan, dan kesam’iyatan tertentu dalam jangka waktu tertentu, dengan metode tertentu yang diarahkan terciptanya pribadi yang berkepribadian bertauhid sesuai dengan ajaran Islam dalam sejumlah rancangan ide, gagasan, atau pengertian tentang pendidikan tauhid yang difokuskan pada masalah materi dan metodenya. Materi dalam penulisan ini bagaimana disampaikan secara bertahap sesuai dengan metode yang digunakan menurut perkembangan dan kemampuan anak-anak.

B.     Latar Belakang Masalah

Islam lahir membawa akidah ketauhidan, melepaskan manusia kepada ikatan-ikatan kepada berhala-berhala, serta benda-benda lain yang posisinya hanyalah sebagai makhluk Allah SWT. Ketauhidan yang membawa manusia kepada kebebasansejati terhadap apapun yang ada, menuju kepada ketundukan kepada Allah SWT. Penanaman tauhid ini dilakukan selama 13 tahun oleh Rasulullah SAW, waktu yang cukup panjang, namun hanya 40 orang saja yang mampu melepaskan budaya nenek moyangnya, berani mengingkari leluhur mereka, dan menuju jalan yang terang “tauhid Islamiyah”. Semua utusan Allah membawa pesan yang sama yakni tauhid bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.

Saat ini, di era modern ini, kita bersyukur sebagian besar penduduk bangsa ini telah menganut Islam sebagai agamanya, melepaskan adat budaya yang berusaha dihapus dan dihilangkan oleh para pembawa Islam jika budaya tersebut bertentangan dengan prinsip ketauhidan menurut Al Quran dan Al Hadits. Keyakinan terhadap budaya animisme dan dinamisme, kepercayaan akan kekuatan batu besar, pohon besar, kuburan seorang tokoh masyarakat, semua itu tidak dapat mendatangkan kebaikan dan moderat, hanya Allah-lah yang mampu mendatangkan kebaikan dan keburukan. Kedua jenis kepercayaan tersebut saat ini sudah mulai terkikis.

Budaya tersebut kini mulai hilang sebenarnya, namun masyarakat mulai disuguhi informasi-informasi yang kembali membawa budaya animisme-dinamisme, informasi-informasi yang seharusnya diluruskan kembali agar sesuai dengan ajaran Islam. Media cetak contohnya banyak mencekoki masyarakat dengan cerita-cerita yang “bertentangan” dengan ketauhidan, seperti majalah Mistis, tabloid Posmo, koran Merapi, majalah Liberty.Ditambah lagi tayangan-tayangan televisi dan layar lebar, meskipun diniatkan hanya sebagai hiburan, tapi tidak sedikit yang menjadi takut akan gelap, pohon yang dikatakan angker, harus diruwat, diberi sesaji, serta tidak sedikit yang lebih percaya kepada dukun atau paranormal ketimbang keyakinannya akan kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Meskipun tidak semua tayangan dan pemberitaan tersebut negatif.

Sebagaimana alasan yang dikemukakan oleh bangsa Arab ketika itu, sebenarnya mereka masih mengakui dan meyakini hanya ada satu Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam ini, akan tetapi mereka berdalih bahwa dewa, berhala yang mereka sembah hanyalah sebagai jalan untuk menyampaikan doa dan harapan mereka kepada Allah, Tuhan Yang Maha Tinggi.Akankah kita  kembali menggunakan alasan kaum Arab Jahiliyah?.

Sebagai contoh, Film layar lebar berjudul Jelangkung mencoba mengangkat tema horor yang banyak terjadi di masyarakat. Sineas muda Rizal Mantovani yang menggarap film itu , menyajikan sisi lain. Oleh Rizal, penggarapannya di sajikan pada sisi lain;pencahayaan yang dipadukan dengan setting alam, serta dukungan efek komputer lumayan, sehingga tercipta suasana mencekam, penuh kejutan-kejutan yang sulit ditebak.Hasilnya, meski banyak penonton yang takut, tetap saja membludak.

Sebenarnya terasa tidak berlebihan, bila kita menyebut Jelangkung adalah awal dari fenomena baru tayangan-tayangan misteri saat ini. Bahkan banyak perusahaan film di Tanah Air cenderung berlomba-lomba menggarap tayangan-tayangan bertema misteri atau horor. Sebut saja film Kafir (Satanic) yang diharapkan mengikuti kesuksesan Jelangkung, atau Titik Hitam yang mencoba menyiasati sisi lain sebuah tema misteri kegaiban.

Barangkali, munculnya tayangan film seperti itu baru mengikuti tren yang berkembang di masyarakat. Animo luar biasa terhadap tontonan yang berbau mistis saat ini lebih terasa bila dibandingkan tiga atau empat tahun lalu.

“Di antara beragam faktor yang menjadi penunjang tumbuh-suburnya perilaku mistik dan klenik di tengah bangsa Indonesia, tak pelak dipicu oleh sejumlah media massa, baik media cetak, lebih-lebih medium televisi. Medium yang terakhir ini (televisi), karena bersifat audio-visual, mempunyai daya cengkeram pengaruh yang amat dahsyat….”[18]

Tayangan-tayangan yang mengangkat hal-hal diluar jangkauan indrawi merebak di semua stasiun televisi, dari yang pakai trik kamera sampai yang minus rekayasa.Rasa ketakutan tapi disukai penonton dan sesuai rumus dagang, iklanpun berdatangan. Namun, orang tua yang jadi korban. Munculnya fenomena tayangan mistis di layar kaca, menurut pengamat televisi Garin Nugroho, tak lain karena ketatnya persaingan di antara TV-TV swasta untuk mendapatkan pesanan iklan. “Sebelas stasiun televisi yang bersifat nasional itu cukup berat bersaing untuk mendapatkan kue yang tetap kecil.” katanya.[19]Merebaknya program sejenis ini, tak bisa dipungkiri, diawali oleh program “Kismis” dari stasiun RCTI sejak tahun 2001.[20]

Pertanyaannya, apakah tayangan-tayangan seperti ini layak disajikan kepada penonton di tengah hiruk-pikuk kemoderenan teknologi? Barangkali, fenomena itu hanya sebuah alternatif di tengah-tengah kejenuhan tayangan soal politik, atau karena tak kunjung redanya krisis multidimensional yang tengah melanda negeri ini? Bisa saja itu sebagai Jawaban. Tetapi siapa tahu, justru tontonan semacam itu memang sudah dinantikan kehadirannya.Atau, jangan-jangan malah sebuah “proses pembodohan” yang menggiring kembali ke pola pikir masa lalu (back to traditional), sehingga lupa bahwa kita sedang memasuki dunia pasar bebas di era globalisasi!.[21]

Penceramah Lutfiah Sungkar mengatakan bahwa tayangan misteri dapat merusak akhlak dan sangat tidak mendidik. “Itu jadi menyesatkan umat,” ujar Lutfiah. Itulah sebabnya, kakak kandung aktor Mark Sungkar ini menghimbau kepada sejumlah pihak ikut peduli, seperti Departemen Agama untuk memperhatikan masalah ini. “Tolong diseleksi betul-betul,” kata Lutfiah.[22]

Tayangan supranatural itu tentu mengancam benteng aqidah seseorang. Keyakinan akan kehebatan, kesaktian dukun atau menganggap bahwa sebuah rumah itu ada sang penunggunya, sehingga perlu diberikan sesaji agar terhindar dari gangguannya, sesungguhnya merupakan perbuatan kufur. Tanpa harus mempercayai pun sesungguhnya manusia sudah diberikan kesempurnaan yang lebih layak ketimbang setan tersebut. Hanya saja, antisipasi agar terhindar dari bahaya syirik tentu harus semakin diperkokoh dengan menghindari tontonan yang justru akan merusak aqidah Islam seseorang tentu bagi yang masih rapuh ketauhidannya.[23]Meskipun tidak seluruh tayangan mistis berdampak negatif.

 Masalah-masalah gaib kini menjadi topik dalam beberapa tayangan tayangan televisi, jin, setan hantu, pohon angker dan pesugihan, meskipun tayangan tersebut memberikan informasi bagi para penontonnya, namun hal ini membuat penulis tertarik ingin mengangkat masalah ketauhidan, masalah klasik namun harus tetap dan wajib bagi seorang muslim.

Dalam masa-masa dan keadaan krisis, manusia sangat membutuhkan pertolongan. Oleh karena itu, mereka mendatangi siapa saja yang mereka anggap mampu menolong mereka seperti, orang-orang suci, para nabi, imam, para syuhada, bahkan meminta pertolongan pada malaikat dan peri. Dengan berbaiat dan bersumpah kepada para penolong itu, mereka memohon pertolongan yang mereka harap, dengan memohon agar yang mereka datangi itu bisa memenuhi keinginan mereka. Kadang ada juga menawarkan sesuatu persembahan yang istimewa kepada para penolong itu, sehingga (menurut pikiran mereka) akan lebih memperbesar kemungkinan akan terkabulnya semua keinginan mereka.[24]

Dari paparan di atas, jelas terlihat bahwa sebagian umat Islam masih ada yang melakukan cara-cara yang dilakukan oleh orang non muslim dalam memperlakukan dewa-dewi mereka, kepada paranabi, orang-orang suci, imam, syuhada, malaikat dan roh halus. Namun, meski mereka melakukan dosa-dosa seperti di atas, mereka tetap mengaku masih sebagai orang Islam yang mereka merasa perbuatan itu tidak mengurangi kualitas keislamanya[25]

Sungguh benar firman Allah :

وما يؤمن اكثرهم بالله الا وهم مشركون   (سورة يوسف : 106)

Artinya : Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). [26]

                  Lebih jauh lagi kita diperingatkan, bahwa siapapun yang berdoa kepada seseorang sebagai perantaranya, juga tergolong musyrik sebagaimana firman Allah :

 الا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه اولياء ما نعبدهم الا ليقربونا الى

 الله زلفى ان الله يحكم بينهم في ماهم فيه يختلفون ان الله لايهدي من هو كاذب كفار

 )الزمر : 3)

Artinya :Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.[27]

Kepribadian muslim dibentuk sejak dini, orang tua sebagai seorang muslim haruslah memiliki keyakinan akidah tauhid yang berkualitas. Namun alangkah baiknya jika orang tua juga mengerti materi-materi ketauhidan, sehingga orang tua dapat membekali anak-anaknya dengan keilmuan yang didukung dengan ketauladanan tauhid sehingga terbentuk kepribadian seorang muslim sejati.

Semakin kurang tauhid seorang muslim, semakin rendah pula kadar akhlak, watak kepribadian, serta kesiapannya menerima konsep Islam sebagai pedoman dan pegangan hidunya. Sebaliknya, jika akidah tauhid seseorang telah kokoh dan mapan (established), maka terlihat jelas dalam setiap amaliahnya. Setiap konsep yang berasal dari Islam, pasti akan diterima secara utuh dan dengan lapang dada, tanpa rasa keberatan dan terkesan mencari-cari alasan hanya untuk menolak.Inilah sikap yang dilahirkan dari seorang muslim sejati.[28]

Islam atau Al Quran menghendaki agar pengabdian, pemujaan, atau ketaatan hanya tertuju kepada Tuhan, dan bila berdoa taua berharap kepada-Nya, haruslah bersifat langsung tanpa perantara seperti yang dilakukan kaum musyrikin.

قل هو الله احد {1}  الله الصمد {2}  لم يلد ولم يولد  {3}  ولم يكن له كفوا احد {4} (سورة الاخلاص : 1-4)

Artinya :     Katakanlah : “Dialah Allah , Yang Maha Esa, Allah adalah tuhan Yang bergantung kepadanya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.[29]

Pemurnian tauhid menolak segala bentuk kemusyrikan bahwa tidak ada satukekuatanpun yang menyamai Allah SWT. Tetapi sayangnya bahwa akidah itu telah dicampuri”-secara keseluruhan-oleh pemikiran-pemikiran yang diada-adakan  oleh manusia, bahkan ada yang dinodai oleh sekumpulan pendapat yang tidak mencerminkan keyakinan yang hak. Oleh sebab itu, lalu tidak dapat mendalam sampai ke dasar jiwa dan tidak pula dapat mengarahkan ke jurusan yang bermanfaat dalam kehidupan ini, juga tidak dapat memberi pertolongan untuk dijadikan pendorong guna menempuh jalan yang suci yang mencerminkan kemurnian peri kemanusiaan serta keluruhan ruhaniah.[30]

يأيها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا … (سورة التحريم : 6)

Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka “.[31]

Lembaga pendidikan merupakan salah satu institusi harapan masyarakat, begitu pula keluarga. Keluarga merupakan pencetak dan pembentuk generasi-generasi bangsa dan agama. Generasi yang memiliki otak yang handal dan moral atau etika yang berkualitas. Secara ideal, pendidikan Islam berupaya untuk mengembangkan semua aspek kehidupan manusia dalam menacapai kesempurnaan hidup, baik yang berhubungan dengan manusia, terlebih lagi dengan sang Pencipta.[32]

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi pembentukan ketauhidan anak. Orangtua adalah unsur utama bagi tegaknya tauhid dalam keluarga, sehingga setiap orang wajib memiliki tauhid yang baik, sehingga dapat membekali anak-anaknya dengan ketauhidan dan materi-materi yang mendukungnya, disamping anak dapat melihat orang tuanya sebagai tauladan yang memberikan pengetahuan sekaligus pengalaman, dan pengarahan

Jika latihan-latihan dan bimbingan agama terhadap anak dilalaikan orang tua atau dilakukan dengan kaku dan tidak sesuai, maka setelah dewasa ia akan cenderung kepada atheis bahkan kurang perduli dan kurang membutuhkan agama, karena ia tidak dapat merasakan apa fungsi agama dalam hidupnya. Namun sebaliknya jika pendidikan tentang Tuhan diperkenalkan sejak kecil, maka setelah dewasa akan semakin dirasakan  kebutuhannya terhadap agama.[33]

Anak adalah amanat Allah kepada para orang tua. Amanat adalah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang yang pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban. Firman Allah :

يأيها الذ ين امنوا لاتخونواالله والرسول وتخونوا امنتكم وانتم تعلمون

(سورة الانفال : 27)

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati manat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. [34]

Anak merupakan salah satu bagian dalam keluarga, sehingga secara kodrati tanggung jawab pendidikan tauhid berada di tangan orang tua. Kecenderungan anak kepada orang tua sangat tinggi, Apa yang ia lihat, dengar dari orang tuanya akan menjadi informasi belajar baginya.

 Sehingga hanya dengan keluarga-keluarga yang memegang prinsip akidah ketauhidan, dapat melahirkan generasi-generasi berkepribadian Islam sejati, yang menjadikan Allah SWT sebagai awal dan tujuan akhir segala aktivitas lahir dan batin kehidupannya.

C.     Rumusan Masalah

Dari latar Belakang masalah yang telah diuraikan, penulis ingin mengetahui beberapa hal dari hasil penelitian ini yakni :

  1. Bagaimana urgensi pendidikan tauhid dalam keluarga ?
    1. Bagaimana konsep pendidikan tauhid dalam keluarga?

 

D.    Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

  1. Mengetahui urgensi pendidikan tauhid dalam keluarga
    1. Mengetahui konsep pendidikan tauhid dalam keluarga.
  2. Mengetahui metode dan materi pendidikan tauhid dalam keluarga.

Kegunaan penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai :

  1. Diharapkan memiliki nilai akademis dan mampu memberikan sumbangan pemikiran tentang pendidikan tauhid dalam keluarga, khususnya di lingkungan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
  2. Sebagai informasi bagi setiap orang tua keluarga bagaimana memberikan pendidikan tauhid dan materi yang disampaikan kepada anak-anak mereka.
  3. Pola dalam membentuk masyarakat yang bertauhid sebagai modal untuk membangun bangsa, serta sebagai solusi alternatif  terhadap masalah yang dihadapi bangsa.
  4. Bagi penulis agar menambah wawasan tentang konsep pendidikan tauhid, sebagai modal untuk berkeluarga nantinya.

 

E.     Alasan Pemilihan Judul.

Didasarkan karya ilmiah dan wacana pendidikan Islam, frame”Konsep  pendidikan Tauhid Dalam Keluarga perspektif pendidikan Islam” , belum ada yang menulis secara khusus. .Dengan beberapa point alasan, mengapa judul-tema tersebut diangkat :

  1. Pendidikan Tauhid merupakan landasan utama seorang muslim, identitasnya ditentukan oleh ketauhidannya yang benar, dia adalah sebuah pondasi bangunan, kuat tidaknya bangunan ditentukan oleh “pondasinya”, ia adalah akar sebuah pohon, hidup matinya pohon tergantung sehat tidaknya;kuat rapuhnya akar sang pohon. Sehingga “Tauhid” menjadikan seorang muslim hanya tunduk, patuh pasrah kepada Allah. Pengakuan  tersebut harus dicerminkan dengan keyakinan teguh dalam hati sampai akhir hayat, juga diucapkan secara lisaniyah, serta teraplikasi dalam setiap aktivitas gerak fisik.
  2. Begitu pun kajian tentang pendidikan tauhid dalam keluarga secara praktis belum banyak dikembangkan, meskipun banyak dikaji dan dibahas oleh para tokoh pendidikan muslim, di era informasi ini, media memberikan semua informasi yang diinginkan termasuk informasi hal-hal gaib dan mistis.Oleh sebab itu bagaimana orang tua menjadi sumber informasi utama dan pokok bagi anak-anaknya diantaranya yang paling penting informasi tentang ketauhidan.
  3. Karena anak lahir dan hidup pertama sekali dalam keluarga, ia belajar dari orang tuanya, begitu pula informasi terbaik bahkan terburuk, informasi yang benar bahkan yang salah diterima pertama kali dalam keluarga. Begitupun  informasi ketauhidan yang ia peroleh dari orang tua, harus lebih ia percayai dari pada dari hasil ia menonton tv ataupun media lainnya.

 

F.      Telaah Pustaka

Berdasarkan penelusuran penulis terhadap karya ilmiah skripsi/tesis/disertasi diperpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bahwa yang membahas tentang pendidikan tauhid dalam keluarga belum penulis temukan secara khusus, namun ada beberapa skripsi yang menulis tentang pendidikan keimanan. Namun yang menggunakan istilah pendidikan tauhid hanya ada sebuah skripsi saudari Hartani ( 1999), Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),  yang berjudul “Pendidikan Tauhid Pada Usia Remaja” ,saudari Hartani hanya sedikit menjelaskan tentang pendidikan tauhid bagi anak remaja dalam keluarga. Dijelaskan bahwa perkembangan keberagamaan diusia remaja menuntut orang tua harus mampu menjadi teman bagi anak-anak mereka, karena pada usia tersebut remaja memerlukan teman – sahabat yang bisa ia ajak bicara, maka jika orang tua tidak mampu menjadi sosok seorang teman-sahabat bagi anaknya diusia remaja, sangat sulit untuk membimbing, juga memberikan informasi tentang “ketauhidan”.

Skripsi saudara Hunainin (1996) Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam, yang berjudul “ Pendidikan Keimanan Bagi Anak Menurut Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan, Dalam Kitab Tarbiyah Al-Aulad Fi Al Islam (Tujuan , Materi, Dan Metode)”.  Dia menjelaskan bahwa pendidikan keimanan bagi anak bertujuan untuk membentuk anak yang bertanggungjawab, jujur, dan terhindar dari sifat-sifat kebinatangan.  Tanggugjawab ini dipikul oleh orang tua, sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.

Selanjutnya skripsi saudara Silahuddin (1998) Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Agama Islam dengan judul “Pendidikan Keimanan Pada Usia Anak (Tinjauan Psikologis)”. Dia menyimpulkan bahwa pendidikan keimanan pada usia anak yakni usia 0-12 tahun, metode yang paling baik adalah dengan metode keteladanan. Hal ini disebabakan oleh pertumbuhan psikomotor anak dan perkembangan anak. Dia menekankan kepada asma-asma Allah sebagai materinya, dengan harapan anak dapat meresapi dan mengamalkannya di kehidupannya di masa yang akan datang.

Selain itu ada beberapa skripsi yang membahas tentang pendidikan anak dalam keluarga salah satunya skripsi milik saudari Anik Suryani Latifah (2003) Fakultas Tarbiyah, jurusan Kependidikan Islam, berjudul “Pendidikan Keluarga Membentuk Anak Shaleh Yang Cerdas Dan Kreatif”, ada satu paragraf yang sekilas menjelaskan pendidikan tauhid dalam keluarga bagi anak.Keteladanan nampak ditonjolkan sebagai metode orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.

Skripsi saudari Bahisatul Badiyah (1996) Fakultas Tarbiyah, jurusan PAI, menulis “Mendidik Anak Dalam Keluarga Menurut Pendidikan Islam”, dijelaskan dalam skripsinya bahwa agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada masa kecil;sehingga orang tua harus menanamkan dasar keimanan yang bersih dan membiasakan dengan ibadah. Dimulai dengan menanamkan kalimat La Ilaha illa Allah, sebagai kalimat tauhid yang pertama sekali didengar anak melalui adzan yang diucapkan sang ayahnya.Berpijak pada QS. Luqman ayat 13 bahwa tugas awal adalah menanamkan pendidikan tauhid keimanan kepada Allah SWT.

Selanjutnya ada skripsi saudari Umi Sa’adah (1998) “Pendidikan Islam Dalam Keluarga : Telaah kitab Sahih Bukhari” Fakultas Tarbiyah, jurusan PAI, mengungkapkan bahwa keluarga adalah pendidikan pendahuluan dan memparsiapkan anak untuk lembaga sekolah dan masyarakat. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kualitas keluarga yakni dalam memilih calon isteri maupun suami menjadikan agama sebagai prioritas utama. Begitu juga dalam mengisi pertumbuhan awal anak diprioritaskan kepada pendidikan agama, salah satu pokoknya ialah pendidikan iman atau aqidah.

Kemudian skripsi berjudul “Pendidikan Islam Dalam Keluarga : Studi atas pemikiran KH. Abdurrahman Ar-Roisi” yang ditulis oleh Umar Faruq (2003) Fakultas Tarbiyah, jurusan Kependidikan Islam sedikit menyinggung tentang keluarga idaman disebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam dalam keluarga adalah menciptakan keluarga idaman yakni bahagia lahir-batin, dunia dan akhirat. Sebagai langkah awalnya ialah pendidikan pembentukan keyakinan kepada Allah yang dapat diharapkan melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak.

Skripsi saudara Setiyo Budiono (1999) Fakultas Tarbiyah, jurusan PAI, menulis “ Pendidikan Keluarga Dalam Islam : Suatu Kajian Teoritis”. Menjadikan anak sebagai pusat pembahasannya (children centereted), dibahas sekilas tentang pendidikan tauhid karena salah satu fungsi keluarga sebagai lembaga pendidikan (education).

Namun penelitian pada tulisan tetap memiliki perbedaan dengan skripsi-skripsi di atas, karena lebih difokuskan kepada konsep pendidikan tauhid dalam keluarga untuk anak. yang akan membahas tentang urgensi, metode serta materinya secara eksplisit.

G.    Kerangka Teoritik

Kepercayaan atau keyakinan akan yang gaib merupakan pokok kepercayaan keagamaan bagi setiap agama yang berdasarkan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tidak dapat dicapai dengan penglihatan indera mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha mengetahui (Al An’am :103),

لاتدركه الابصار وهو يدرك الابصار وهو اللطيف الخبير (سورة الانعام :103)[35]

Sehingga dikatakan bahwa sesunggguhnya ciri khas kepercayaan beragama adalah mempercayai semua hal yang metafisik  atau gaib.[36]

Beriman kepada hal-hal yang gaib bagi kaum muslimin bukanlah sesuatu hal yang bertentangan dengan hukum akal, tapi merupakan suatu hal yang melampaui ruang lingkup indera dan alam nyata. Logikapun membenarkan pengambilan dalil atau bukti  dari sesuatu yang konkret ataupun  nyata sebagai bukti adanya yang gaib.Keterkaitan antara yang nyata dengan yang gaib, yang saling mendukung eksistensi Atau dari yang suatu yang ada diluar jangkauan indera. Demikian Al Quran menetapkan dalil tentang ciptaan Allah yang konkret sebagai tanda adanya sang pencipta, yang merupakan zat yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.[37]

Tunduk kepada kemampuan khayalan dan mengikatkan diri semata-mata pada kecenderungan akal, ditambah lagi ketidaktahuan terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui, adalah jalan menuju kesesatan. Akal tidak dapat menjadi pegangan pokok dalam meyakini sebuah kebenaran.Kekeliruan persepsi, karena mengutamakan akal tanpa diringi bimbingan wahyu akan menyebabkan rusaknya akidah.[38]

Diturunkannya akidah Islam yang komprehensif, memenuhi tuntutan emosi dan rasio, mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya, karena akal memiliki batas-batas dan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan, lalu menyinari jalan yang dilaluinya. Karena itu, barang siapa mengikuti apa yang diajarkan oleh wahyu Allah SWT, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, kemudian beriman kepada segala sesuatu yang disampaikan oleh Al Quran, berarti ia telah memperoleh petunjuk, dilindungi dan dipenuhi segala kebutuhannya.Dan barangsiapa menyimpang dari ajaran wahyu-Nya, berarti ia telah disesatkan setan : Barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya (petunjuk) sedikitpun (QS. An-Nur :40).[39]

…ومن لم يجعل الله له نورا فما له من نور (سورة النور :40)[40]

Mengingat pentingnya iman bagi seseorang, maka sudah seharusnya bila pendidikan Islam menetapkan tauhid ini menjadi pondasi yang pertama. Artinya, pendidikan Islam tidak boleh bertentangan dengan konsep ketauhidan dan harus menumbuhkan serta memperkuat pertumbuhannya secara positif.[41]

Saat ini manusia telah dapat mengetahui banyak hal yang dahulu hanya diketahui melalui akal. Dengan ilmunya yang yang melahirkan alat-alat yang sangat canggih, manusia telah mampu mengetahui bentuk fisik hal-hal tersebut  setelah melalui berbagai penelitian dan dengan menggunakan alat-alat tertentu, walaupun benda-benda tersebut tidak dapat dilihat dengan hanya menggunakan mata telanjang tanpa bantuan alat-alat canggih yang mampu menambah jangkauan penglihatan mata yang tadinya terbatas.[42]

Manusia percaya sepenuhnya terhadap keberadaan hal-hal tersebut  tanpa mempertanyakan lagi wujud fisiknya. Manusia hanya mengetahui aktifitas yang dihasilkan dari gerakan dan keberadaan benda-benda tersebut. Hal ini merupakan suatu bukti bahwasannya Allah SWT telah menciptakan banyak hal yang tidak kasat mata, yang esensinya tidak mampu dijangkau oleh akal.[43]

 Kitab Al Quran telah mengikrarkan bahwa tauhid  adalah akidah universal (syamil). Maksudnya, akidah yang yang mengarahkan seluruh aspek kehidupan dan tidak mengotak-ngotakkannya. Seluruh aspek dalam hidup manusia hanya dipandu oleh hanya satu kekuatan, yaitu tauhid. Konsekuensinya ialah penyerahan (Islamisasi) manusia secara total – mulai dari kalbu, wajah, akal pikiran, qaul (ucapan), hingga amal – kepada Allah semata-mata.[44]

Tauhid, hakekat dan maknanya terdiri dari tiga kriteria yang talazum (simbiosis mutualisme), satu sama lain tidak dapat terpisahkan. Ketiga kriteria tersebut adalah : 1.Tauhid Rububiyah, 2.Tauhid Uluhiyah, 3.Tauhid al-Hakimiyyah.

1. Tauhid Rububiyah

Yang dimaksud dengan Rububiyah di sini adalah melekatkan semua sifat-sifat ta’tsir (yang mengandung unsur dominasi atau pengaruh) pada Allah SWT, umpamanya sifat Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur alam, Yang menghidupkan, mematikan, Pemberi petunjuk, dan sebagainya.

Maka Allah Ta’ala adalah Robb, Penguasa seluruh alam, tak ada Tuhan selain Dia. Dialah Pencipta, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang menetapkan seluruh aturan dan hukum atas semua makhluk-Nya. Di tangan-Nya terletak kerajaan dan kekuasaan mutlak. Bertindak di alam ini sebagaimana keinginan-Nya, tanpa ada yang bisa menghalangi dan menghambat-Nya. Hanya Dia yang mampu memberikan manfaat/keuntungan dan mendatangkan mudharat.[45]

2. Tauhid Uluhiyah

Maksudnya bahwa hanya Allah SWT semata-mata yang berhak diperlakukan sebagai tempat khudhu’ (tunduk/merendah) oleh hambaNya dalam beribadah dan taat.Dengan kata lain, tak ada yang berhak dipatuhi secara mutlak selain Allah SWT. Semua manusia adalah hamba Allah. Hamba yang betul-betul berlaku dan berpenampilan sebagai hamba. Bukan hamba yang berlagak sebagai “raja”. Manusia tidak berhak memperbudak manusia lainnya, dengan alasan apapun. Seluruh penguasa di muka bumi harus tunduk kepada penguasa tunggal:Allah SWT.[46]

3. Tauhid al-Hakimiyyah.

pembahasan konsep tauhid ini, yaitu Tauhid al-Hakimiyyah. Konsep ini mungkin sudah terkandung dalam pengertian “Uluhiyah”, tapi masih bersifat global. Pemisahan ini bertujuan agar lebih menonjolkan kehakimiyahan Allah secara tersendiri.Makna al-Hakimiyyah ialah hanya Allah-lah yang berhak membuat ketentuan, peraturan, dan hukum.[47]

Islam takkan ada tanpa tauhid, bukan hanya Sunnah Nabi kita jadi patut diragukan dan perintah-perintahnya bergoncang-goncang kedudukannya; pranata kenabian itu sendiri akan hancur tanpa tauhid.[48]

Ismail Raji al Faruqi mengatakan bahwa berpegang teguh pada prinsip tauhid merupakan dasar dari seluruh bentuk kesalehan.Wajarlah jika Allah SWT dan Rasul-Nya menempatkan tauhid pada status tertinggi dan menjadikannya menjadi penyebab kebaikan dan balasan pahala terbesar bagi seorang muslim yang bertauhid.[49]

Dalam Ensiklopedi Islam Indonesia yang disusun oleh Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah, disebutkan bahwa para ulama membagi tauhid kepada dua ketegori : tauhid Rububiyah dan tauhid Ubudiyah. Kebanyakan umat yang sudah menyimpang dari tauhid itu , masih memiliki tauhid rububiyah, karena mereka sebenarnya masih mengakui dan meyakini hanya ada satu Tuhan yang menciptakan  dan memelihara segenap alam semesta ini, kesalahan mereka adalah karena mereka tidak legi berpegang teguh kepada tauhid ubudiyah.Inilah tauhid yang menghendaki ubudiyah atau ketaatan tanpa syarat hanya tertuju kepada Allah SWT.[50]

   Ruang lingkup pembahasan tauhid ada empat yakni [51]:

  1. Ilahiyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan) seperti wujud, nama-nama,sifat, dan af’al Allah.
  2. Nubuwat. Yakni  pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul,  juga termasuk pembahasan tentang kitab-kitab Allah, mu’jizat, dan lain sebagainya.
  3. Ruhaniyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti Malaikat, Jin, Iblis, dan Syaitan,
  4. Sam’iyyat. Yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam’i (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, surga dan neraka.

Keyakinan seorang muslim akan eksistensi Tuhan Yang Maha Esa (Allah) melahirkan keyakinan bahwa sesuatu yang ada di alam ini ciptaan Tuhan;semuanya akan kembali kepada-Nya, dan segala sesuatu berada dalam urusan Yang Maha Esa itu. Dengan demikian segala perbuatan, sikap, tingkah laku, atau perkataan seseorang selalu berpokok dalam modus ini.[52]

Tauhid tidak hanya  sekedar memberikan ketentraman batin dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kemusyrikan,bermanfaat bagi kehidupan umat manusia., tetapi juga berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku keseharian seseorang. Ia tidak hanya berfungsi sebagai akidah, tetapi berfungsi pula sebagai falsafah hidup.[53]

Lingkungan rumah dan pendidikan orang tua yang diberikan kepada anaknya dapat membentuk atau merusak masa depan anak.Oleh sebab itu masa depan anak sangat tergantung kepada pendidikan , pengajaran, dan lingkungan yang diciptakan oleh orang tuanya.. Apabila orang tua mampu menciptakan  rumah menjadi lingkungan yang Islami, maka anak akan memiliki kecenderungan kepada agama.[54]

DR. M. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa kehidupan keluarga, apabila diibaratkan sebagai satu bangunan, demi terpelihara dari hantaman badai, topan dan goncangan yang dapat meruntuhkannya, memerlukan fondasi yang kuat dan bahan bangunan yang kokoh serta jalinan perekat yang lengket. Fondasi kehidupan keluarga adalah ajaran agama, disertai dengan kesiapan fisik dan mental calon-calon ayah dan ibu. Beliau menambahkan bahwa keluarga merupakan sekolah tempat putra-putri bangsa belajar.[55]

Pendidikan anak yang paling berpengaruh  dibandingkan dengan yang lain adalah keluarga sebagai pusatnya, karena seorang anak masuk Islam sejak awal kehidupannya, dan dalam keluargalah ditanamkan benih-benih pendidikan.Juga waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah lebih banyak dibandingkan tempat lain, dan kedua orang tua merupakan figur yang paling berpengaruh terhadap anak, demikianlah pendapat Muhammad Quthub yang dikutip oleh Khatib Ahmad Santhut.[56]

Al Ghazali mengatakan bahwa mendidik keimanan anak harus dengan cara yang halus dan lemah lembut, bukan dengan paksaan atau dengan berdebat, sehingga dengan metode yang lemah lembut materi pendidikan dapat dengan mudah diterima oleh anak.[57]

Dalam adigum ushuliyah disebutkan al-Amru bi asy-syai’i amru biwasailihi, walil-wasaili hukmu al-maqoshidi , maksudnya ialah “perintah pada sesuatu (termasuk pendidikan) maka perintah pula mencari metodenya, dan bagi metodenya hukumnya sama dengan apa yang dituju.Senada dengan hal ini ada firman Allah yang berbunyi :

…وابتغوا اليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله… (سورة المائدة :35)[58]

Sehingga dalam proses pelaksanaannya, pendidikan Islam memerlukan metode yang tepat untuk menyampaikan materi-materi kepada anak, sehingga tujuan pendidikan yang diinginkan dapat dicapai.[59]

Ada beberapa metode yang besar pengaruhnya untuk menanamkan keimanan kepada anak yakni :

  1. Teladan yang baik;
  2. Kebiasaan yang baik;
  3. Disiplin, hal ini sebenarnya sebagaian dari pembiasaan;
  4. Memotivasi;
  5. Memberikan hadiah terutama yang dapat menyentuh aspek psikologis;
  6. Memberikan hukuman dalam rangka kedisiplinan;
  7. Suasana kondusif dalam mendidik.[60]

Menyusun sebuah metode harus mencakup tiga hal penting antara lain :

  1. Cara tersebut bertujuan untuk menjelaskan materi kepada anak didik.
  2. Cara tersebut merupakan cara yang tepat untuk menjelaskan, dan dipakai untuk materi tertentu serta situasi tertentu pula.
  3. Cara tersebut mampu memberikan kesan yang mendalam kepada anak didik.[61]

Menurut Abdullah Nashih Ulwan metode yang paling efektif dalam mendidik anak adalah :

  1. Pendidikan dengan keteladanan.
  2. Pendidikan dengan adat dan kebiasaan.
  3. Pendidikan dengan nasehat.
  4. Pendidikan dengan perhatian.
  5. Pendidikan dengan memberikan hukuman.[62]

Sementara Muhammad Zein menjelaskan bahwa metode yang mudah dilakukan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya ada tiga yakni :

  1. Meniru.
  2. Menghafal.
  3. Membiasakan.[63]

Mendidik anak pada periode pertama yakni usia 0-6 tahun, merupakan masa yang sangat penting. Karena semua informasi mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam membentuk kepribadian anak. Anak akan merekam informasi apapun pada periode ini, sehingga pengaruhnya akan lebih nyata pada kepribadiannya setelah dewasa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan para orang tua pada periode ini antara lain :

  1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan oleh anak.
  2. Membiasakan anak untuk disiplin.
  3. Orang tua mampu menjadi teladan yang baik bagi anak.
  4. Membiasakan etika umum yang baik.[64]

Periode selanjutnya ketika anak berusia 7-12 tahun. Anak pada periode ini lebih siap untuk belajar. Anak mau meniru dan mendengarkan nasehat, meskipun anak lebih mudah menyesuaikan diri dengan teman sebaya. Semangatnya sangat tinggi untuk belajar keterampilan tertentu. Masa ini sangat baik untuk mendidik dan mengarahkan anak sesuai dengan minat dan bakat yang ia miliki.Pada periode ini anak dapat diajarkan beberapa hal, antara lain :

  1. Pengenalan kepada Allah dengan cara sederhana, juga diajarkan
    1. Allah Esa tidak ada sekutu.
    2. Allah adalah pencipta alam semesta.
    3. Cinta kepada Allah.
    4. Mengajarkan sebagain hukum yang jelas, juga tentang halal dan haram.
    5. Mengajarkan baca Al Quran.
    6. Mengajarkan hak dan kewajiban sebagai hamba Allah.
    7. Mengenalkan tokoh-tokoh teladan yang agung dalam Islam.
    8. Mengajarkan etika umum.
    9. Meningkatkan sikap percaya diri anak dan juga tanggungjawab.[65]

Pendidikan Islam memberikan ketentuan bahwa rentang usia peserta didik ialah sejak ia lahir sampai meninggal dunia. Manusia sejak lahir memerlukan pendidikan , selanjutnya pendidikan tersebut tetap diperlukan sepanjang hidunya sebagai sebuah proses.[66]

Pendidikan Islam menggunakan konsep pendidikan sepanjang hayat (life long education). Sehingga manusia dalam rentang kehidupannya selalu memerlukan pendidikan, dengan  bimbingan, pembentukan, pengarahan, dan pengalaman. Semua itu dilakukan secara bertahap dan berbeda, disesuaikan dengan kebutuhan pada perkembangan usianya[67], begitu pun pada pendidikan tauhidnya.

Penyusun dalam konsep pendidikan tauhid dalam keluarga menggunakan 5 metode yaitu :

  1. Kalimat tauhid.
  2. Keteladanan.
  3. Pembiasaan.
  4. Nasehat.
  5. Pengawasan.

 

H.    Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.  Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research), yaitu penelahaan terhadap buku-buku, karya ilmiah, karya populer., dan literatur lain yang berhubungan dengan tema yang diteliti.

2.  Sumber Data

Penulis mengumpulkan data dari berbagai literatur sebagai sumber primer ialah buku “ Islam Dalam Berbagai Dimensi” karangan Dr. Daud Rasyid, MA., kemudian “Kuliah Akidah Islam” karangan Drs. Yunahar Ilyas, Lc.,Sri Harini dan Aba Firdaus al Halwany “ Mendidik Anak Sejak dini”,. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi “ Filsafat Tauhid Mengenal Tuhan Melalui Nalar Dan Firman”,Abdullah Nashih Ulwan “Pendidikan Anak Menurut Islam : Kaidah Kidah Dasar”, .Juga literatur-literatur sebagai sumber data sekunder, yakni data-data lain yang penulis peroleh baik dari buku-buku, artikel, yang ada hubungannya langsung atau tidak langsung dengan materi pembahasan yang penulis teliti.Buku-buku tersebut antara lain : Prof. H.M. Arifin, M.Ed (1996) Ilmu Pendidikan Islam, H. Abu Tauhid (1990) Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Maulana  Musa Ahmad Olgar (2000, terjm: Supriyanto Abdullah Hidayat) Mendidik Anak Secara Islami.Ma’ruf Zurayk (1994) Aku Dan Anak-anakku : Bimbingan Praktis Mendidik Anak menuju Remaja. dan buku-buku lain yang tidak penulis sebutkan dalam tulisan ini

3.  Analisa Data

      Selanjutnya dalam menganalisis data yang telah terkumpul menggunakan teknik deskriftif analitik, yaitu teknik analisa data yang menggunakan, menafsirkan serta mengklasifikasikan dengan membandingkan fenomena-fenomena pada masalah yang diteliti melalui langkah mengumpulkan data, menganalisa data, dan menginterpretasi data dengan metode berpikir :

  1. Deduktif : merupakan tehnik berpikir yang berangkat dari pengetahuan yang sifatnya umum , dan bertitik tolak pada pengetahuan yang umum itu kita hendak menilai suatu kejadian yang sifatnya khusus.[68]
  2. Induktif : ialah berpikir dengan berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-peristiwa yang konkrit, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang khusus konkret itu ditarik generalisasi-generalisasi yang bersifat umum.[69]

 

I.       Sistematika Pembahasan

Penulis membagi penelitian ini menjadi beberapa bab yang terangkum dalam sitematika pembahasan berikut ini :

Bab kesatu : merupakan pendahuluan, berisikan pendahuluan menjelaskan tentang penegasan judul, latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, alasan pemilihan judul, kerangka teoritik, telaah pustaka, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua : akan dibahas tentang urgensi pendidikan tauhid dalam keluarga, meliputi pengertian, tujuan, dasar dan sumbernya.

Bab ketiga : diuraikan tentang pendidikan tauhid dalam keluarga materinya adalah ilahiyat, mubuwat, ruhaniyat, dan sam’iyat, dalam penyampaian materi ini digunakan lima metode yakni kalimat tauhid, keteladanan, pembiasaan, nasehat, dan metode pengawasan.

Bab keempat : berisi penutup, kesimpulan dan saran-saran yang merupakan intisari terhadap konsep yang ditawarkan dalam penulisan ini sebagai harapan penulis.

BAB II

URGENSI PENDIDIKAN TAUHID DALAM KELUARGA

            Urgensi dalam kamus Ilmiah Populer disebutkan sebagai suatu keperluan yang sangat penting dan mendesak. Dengan akar kata urgen yang berarti penting dan mendesak, memerlukan keputusan dan tindakan yang segera.[70] Untuk mengetahui urgensi pendidikan tauhid dalam keluarga, maka ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu tentang pengertian, dasar dan tujuan, serta fungsi pendidikan tauhid dalam keluarga. Berikuit ini akan diuraikan tentang  keempat hal tersebut. 

A.     Pengertian Pendidikan Tauhid dalam keluarga

Firman Allah SWT :

يأيها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا… (سورة التحريم : 6)

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.[71]

 H. Abu Tauhid dalam bukunya Beberapa Aspek Pendidikan Islam mengungkapkan bahwa arti  menjaga diri serta keluarga dari siksa api neraka atau disebut (الوقاية) di dalam ayat ini dengan mengutip pendapat Sayid Sabiq :

ووقاية النفس والاهل من النار تكون بالتعليم والتربية وتنشئتهم على

 الاخلاق الفاضلة¸وارشادهم الى مافيه نفعهم وفلاحهم. [72]

Menjaga diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan pengajaran dan pendidikan, serta mengembangkan kepribadian mereka kepada akhlak yang utama, serta menunjukkan kepada hal-hal yang bermanfaat dan membahagiakan diri serta keluarga.

Setiap orang tua ingin menyelamatkan dirinya serta keluarganya dari siksa api neraka, serta ingin mendidik putra putrinya karena hal itu sudah menjadi kodrat sebagai orang tua. Namun bagi para orang tua yang beriman, mendidik anak bukan hanya mengikuti dorongan kodrat naluriah, akan tetapi lebih dari itu yakni dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.[73] Oleh sebab itu orang tua harus memberikan pendidikan terutama penanaman ketauhidan kepada putra putrinya.

Tauhid, berarti mengakui bahwa seluruh alam semesta beserta isinya berada dalam kekuasaan Allah SWT, hanya ada satu tuhan karena jika ada tuhan yang lain selain Allah maka niscaya alam semesta akan hancur lebur.

لو كان فيهما الهة الا الله لفسدتا …(سورة الانبياء :22)[74]

Artinya :  Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.

Sehingga jin dan manusia diciptakan Allah hanyalah untuk mengabdi, menyembah serta menghambakan dirinya secara penuh sebagai hamba-Nya.

وما خلقت الجن والانس الاليعبدون (سورة الذاريات :56)[75]

Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Allah yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa apapun yang dilakukan hamba-Nya selama ia bertobat, namun Allah tidak akan memberikan pengampunan terhadap siapa saja yang telah menduakan-Nya, menyamakan-Nya dengan yang lain sampai-sampai Allah memberikan ultimatum ini sebanyak dua kali dengan redaksi yang hampir sama yakni dalam surat an Nisa ayat 48 dan 116.

ان الله لايغفر ان يشرك به ويغفر مادون ذلك لمن يشاء…

(سورة النساء : 116 و48)[76]

Perbuatan syririk atau lawan dari tauhid berarti menzolimi diri sendiri, serta Allah mengharamkan pelakunya untuk menikmati surga karena tempat bagi siapa saja pelakunya adalah neraka jahanam (QS. al Ma’idah : 72).

…انه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأو   النار (سورة الما ئدة :72)[77]

Tauhid, dalam Ensiklopedia Islam yang disusun oleh Tim IAIN Syarif hidayatullah terbagi  menjadi dua yakni : tauhid Rububiyah dan tauhid Ubudiyah.[78] Sedangkan menurut Isma’il Raji Al Faruqi tauhid terdiri dari tiga kriteria yang talazum, yakni Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Al Hakimiyah.[79]Ruang lingkup aqidah oleh Drs. Yunahar Ilyas, Lc. yang meminjam sistematika Hasan al Banna membagi ruang lingkup tauhid menjadi 4 bagian yakni Ilahiyat, Nubuwat, Ruhaniyat, dan Sam’iyyat[80].

Semua aktivitas alam semesta ini tidak terlepas dari kebesaran dan kekuasaan Allah sebagai Rabb. Allah tidak membutuhkan bantuan siapapun untuk mengurus alam ini, mengakui bahwa Dialah Rabb yang Esa, tunggal tidak ada Rabb selain Dia inilah yang disebut sebagai tauhid rububiyah.

Selanjutnya ketauhidan itu tidak hanya pengakuan bahwa Allah satu-satunya pencipta dan Ilah, namun ketauhidan tersebut harus sejalan dengan semua aktivitas seorang hamba, keyakinan tersebut harus diwujudkan melalui ibadah, amal sholeh yang langsung ditujukan kepada Allah SWT tanpa perantara serta hanya untuk Dialah segala bentuk penyembahan dan pengabdian, ketaatan  tanpa yang hanya tertuju kepada-Nya syarat, inilah tauhid ubudiyah.

Tauhid Uluhiyah sebagaimana dijelaskan oleh Daud Rasyid ialah bahwa yang berhak dijadikan tempat khudhu’ atau ketundukan dalam beribadah serta ketaatan hanyalah Allah SWT yang berhak dipatuhi secara mutlak oleh hambanya bukan hamba yang berlagak sebagai “raja”.[81] Dijelaskan pula bahwa Tauhid Al Hakimiyah ialah hanya Allah-lah yang berhak membuat ketentuan, peraturan, dan hukum.Meskipun mungkin konsep ini sudah terkandung dalam pengertian Uluhiyah namun ulama kontemporer tetap memisahkannya dengan tujuan menonjolkan kehakimiyahan Allah SWT.[82]

Ketauhidan ini harus dimiliki oleh setiap muslim, oleh sebab itu ditanamkan kepada para generasi penerus karena tanpa tauhid semuanya akan hancur, baik masa depan agama maupun bangsa. Pendidikan ketauhidan perlu ditanamkan sejak dini. Awal kehidupan serta lingkungan pertama dan utama yang dikenal anak adalah keluarga.

Keluarga dapat disebut sebagai unit dasar serta unsur yang fundamental dalam masyarakat, karena dengan keluarga kekuatan-kekuatan yang tersusun dalam komunitas sosial dirancang di dalamnya.[83]Nabi Muhammad SAW memandang keluarga sebagai struktur yang tak tertandingi dalam masyarakat, beliau sendiri memberikan contoh teladan dalam masalah ini, serta menganjurkan umatnya untuk mengikuti dan melestarikan tradisi mulia dan agung ini, disamping itu sebuah perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai salah satu prinsip moral yang paling penting dalam pandangan Islam.[84]

Pemilihan pasangan hidup atas dasar cinta serta keikhlasan, sehingga pernikahan dilandasi rasa kerelaan dari kedua pasangan dalam rangka mencari ridho Allah dengan mengikuti sunnah. Awal pernikahan yang demikian dapat membentuk keluarga yang sakinah, karena kedua pasangan menjadikan agama sebagai landasan untuk saling mengikat diri dalam tali pernikahan yang resmi secara agama dan undang-undang yang berlaku.

Memelihara kelangsungan keturunan ( hifzh an-nasl) merupakan salah satu syari’at Islam yang hanya dapat diwujudkan melalui pernikahan yang syah menurut agama serta undang-undang, keluarga yang diliputi rasa cinta kasih (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) kedua pasangan.Demikainlah janji Allah sebagai salah satu kekuasaan-Nya menciptakan pasangan (laki-laki dan perempuan) dari jenis yang sama agar masing-masing dapat berkomunikasi agar tercipta ketenteraman, serta Dia jadikan kasih sayang di antara kita.

ومن ايته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا لتسكنوا اليها وجعل بينكم مودة

 ورحمة …(سورة الروم : 21)[85]

Artinya :     Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan mersa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu kasih dan sayang.

Keluarga dalam bentuk yang paling umum dan sederhana terdiri dari ayah, ibu dan anak (keluarga batih).Ayah dan Ibu, keduanya merupakan komponen yang sangat menentukan kehidupan anak, terutama ketika masih kecil.Secara biologis dan psikologis ayah dan ibu merupakan pendidik pertama dan yang utama bagi anak dalam lingkungan keluarga.[86]

Anak bagi keluarga merupakan anugrah yang diberikan Allah SWT yang memiliki dua potensi yakni baik dan buruk. Hal tersebut tergantung bagaimana pendidikan yang diberikan oleh kedua orng tuanya. Orang tua memiliki peran yang  tidak dapat diremehkan bagi masa depan anak. Anak, memiliki fitrah yang dibawanya, tergantung bagaimana perkembangannya yang banyak tergantung kepada usaha pendidikan dan bimbingan yang dilakukan kedua orang tuanya. Oleh karena itu diharapkan orang tua menyadari kewajiban serta tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa semua anak dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanyalah yang membuat anak menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Bukhari).[87]

مامن مولود الا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه

 (رواه البخاري)[88]

Prinsip-prinsip pendidikan Lukman Al Hakim merupakan salah satu teori yang sangat diperlukan bagi orang tua dalam interaksi edukatif dalam keluarga.Peranan orang tua sebagai pendidik merupakan kemampuan penting dalam satuan pendidikan kehidupan keluarga (family life education). Karakteristik pendidik yang dicontohkan Lukmanul Hakim di antaranya adalah bertauhid dan bertakwa kepada Allah SWT. Tauhid merupakan isi pokok yang harus dikuasai oleh orang tua, sebagai teladan dalam keluarga orang tua harus mengamalkannya sebelum ia sampaikan kepada anak-anaknya. Dalam interaksi edukatif orang tua dan anak memiliki peranan masing-masing yang saling mendukung interaksi edukatif tersebut.[89]

واذ قال لقمن لابنه وهو يعظه يبني لاتشرك بالله ان الشرك لظلم عظيم

(سورة لقمن :13)[90]

      Allah juga berfirman :

وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعفا خافوا عليهم فليتقوا الله وليقولوا

 قولا سديدا ( النساء:9)

Artinya :  Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan  di belakang mereka anak-anak yang lemah,yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.[91]

Melahirkan keturunan yang berkualitas serta shalih dan shalihah merupakan tujuan hidup dalm berkeluarga bagi seorang muslim.Agar tujuan tersebut tercapai anak harus didik secara baik dan benar, karena anak yang sehat fisiknya dan psikisnya merupakan dambaan dan kebanggaan bagi setiap orang tua atau keluarga. Anak juga merupakan rahmat Allah yang bernilai tinggi serta memiliki manfaat yang sangat besar di dunia dan akhirat. Anak juga sebagai amanat Allah  yang harus disyukuri dan Allah akan meminta pertanggungjawaban kelak di hari kiamat kepada para orang tuanya.[92]

Anak merupakan salah satu bagian dalam keluarga. Anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama ia masih hidup.Anak dalam skripsi ini adalah anak yang berusia 0-12 tahun oleh Zakiah Daradjat masa ini disebut masa anak. Perkembangan agamanya akan sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya.[93]

Perkembangan agama pada anak ada tiga tahap yakni :

  1. Tingkat dongeng yakni ketika anak berusia 3-6 tahun.
  2.  Masa kenyataan yakni ketika anak memasuki sekolah dasar. Anak sudah dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis, ia akan senang dan tertarik pada lembaga agama yang mereka lihat dikelola oleh rang dewasa. Segala tindakan (amal) keagamaan mereka ikuti dan mempelajarinya dengan penuh minat.
  3.  Tingkat Individu. Seiring dengan perkembangan usianya, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi. Tahap ini dibagi menjadi tiga :
    1. Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sedkit fantasi.
    2. Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni, meskipun anak sering menggunakan pandangan dan argumen yang ia ketahui.
    3. Konsep ke-Tuhanan humanistik. Agama telah menajadi etos humanis dalam diri anak. Hal ini disebabkan bertambahnya usia dan pengaruh luar dari lingkungannya.[94]

Seharusnya agama masuk ke dalam pribadi anak sejak dini, yakni sejak anak dilahirkan. Ia mengenal Tuhan melalui orang tuanya. Perkembangan agama anak sangat dipengaruhi oleh kata-kata, sikap, tindakan, dan perbuatan orang tuanya. Apa saja yang dikatakan orang tua akan diterima anak, meskipun belum mempunyai kemampuan memikirkan kata-kata dan informasi yang ia terima. Orang tua bagi anak adalah benar, berkuasa, pandai, dan menentukan. Oleh sebab itu hubungan antara orang tua dan anak mempunyai pengaruh signifikan bagi perkembangan agama anak.[95]

Tauhid akan membuat jiwa tenteram, dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kemusyrikan. Selain  itu, tauhid juga berpengaruh untuk membentuk sikap dan perilaku anak. Jika tauhid tertanam dengan kuat, ia akan menjadi sebuah kekuatan batin yang tangguh. Sehingga melahirkan sikap positif. Optimisme akan lahir menyingkirkan rasa kekhawatiran dan ketakutan kepada selain Allah. Sikap yang positif dan perilaku positif akan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.[96]

Rasul bersabda :

قال صلى الله عليه وسلم : اجتنبوا السبع الموبقات, قيل يارسول الله

 وما هن ؟. قال : الشرك بالله…( متفق عليه )[97]

Artinya :     Rasulullah SAW bersabda :” Jauhilah olehmu tujuh dosa-dosa besar!”, Dikatakan, wahai Rasulullah apa sajakah dosa-dosa besar itu ?, Rasul menjawab :”Syirik kepada Allah…” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ada tujuh dosa besar yang sangat berbahaya. Syirik adalah salah satunya. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan syirik antara lain :

1). Syirik merupakan salah satu hal yang dapat membinasakan manusia karena :

      a). Syirik dapat menghancurkan ketauhidan dan keimanan.

      b). Syirik menjerumuskan seseorang ke neraka.

2). Syirik berada pada urutan pertama pada hadits di atas karena :

a). Syirik merupakan masalah serius bagi seluruh kaum muslimin sehingga memerlukan perhatian serta tindakan nyata.

b). Dosa syirik tidak akan akan mendapat ampunan Allah SWT.[98]

Maka pengertian pendidikan tauhid dalam keluarga adalah usaha-usaha pendidikan tauhid yang dilakukan oleh para orang tua terhadap anak-anaknya dengan menyampaikan materi-materi ketauhidan dengan metode kalimat tauhid, keteladanan, pembiasaan, nasehat, dan pengawasan. Metode ini disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan juga kemampuan anak. Sehingga diharapkan anak menjadi seorang muslim sejati dengan ketauhidan yang utuh, sebagai jalan untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa.

B.     Dasar Dan Tujuan Pendidikan Tauhid Dalam Keluarga

Al-Quranul Karim , Sunnah Nabi Muhammad saw, serta penalaran serta perenungan yang sehat terhadapnya merupakan asas atau sumber pokok akidah islamiyah, demikian penjelasan Prof. Dr. Ali Abdul Halim Mahmud.[99]

Karena membicarakan dasar pendidikan Islam berarti membicarakan dasar syari’at  Islam yakni Al Quran dan Sunnah Nabi.[100]

Dasar-dasar pendidikan tauhid dalam keluarga dalam Al Quran antara lain :

1.  Surat At Tahrim ayat 6 :

يأيها الذين امنوا قوا انفسكم واهليكم نارا … (سورة التحريم :6)[101]

Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”.

  1. Surat Luqman ayat 13 :

واذ قال لقمن لابنه وهو يعظه يبني لاتشرك بالله ان الشرك لظلم عظيم

(سورة لقمن :13) [102]

Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “ Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

3.   Surat Al Baqarah ayat 132-133 :

ووصى بها ابراهيم بنيه ويعقوب يبني ان الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن

الا وانتم مسلمون , ام كنتم شهداء اذ حضر يعقوب الموت اذ قال لبنيه

ماتعبدون من بعدي قالوا نعبد الهك واله أبائك ابراهيم واسمعيل واسحق

 الها واحدا ونحن له مسلمون (سورة البقرة : 132-133)[103]

Artinya :  Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata) :” Hai anak-anakku, Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya : “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”. Mereka menajwab : “ Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.

   Sedangkan landasannya dari hadis antara lain sabda Nabi :

مامن مولود الا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه

(رواه البخاري)[104]

Artinya :  Tidak seorang anakpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan menetapi fitroh, Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi.(HR. Bukhori).

Setelah mengetahui dasar pendidikan tauhid dalam keluarga, dapat kita lihat bahwa Al Quran dan Al Hadit ternyata memberikan statemen yang jelas dan tegas tentang pendidikan perlunya pendidikan tauhid dalam keluarga.

Selanjutnya ialah tentang tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga. Membicarakan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga tidak terlepas dari tujuan pendidikan Islam karena pendidikan tauhid dalam keluarga bagian dari pendidikan Islam itu sendiri. Oleh sebab itu sebelum kita membicarakan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga kita perlu mengetahui tujuan pendidikan Islam terlebih dahulu.

Tujuan pendidikan Islam akan terlihat jelas jika kita melihat defenisinya kembali. Tujuan adalah salah satu faktor yang harus ada dalam setiap kegiatan begitu pun dalam kegiatan pendidikan, termasuk aktivitas pendidikan Islam.Tentunya tujuan tersebut terwujud setelah seseorang mengalami proses pendidikan Islam secara keseluruhan.[105]

Sayid Sabiq, menurutnya tujuan pendidikan Islam ialah untuk menyiapkan manusia yang bermanfaat, baik bagi dirinya sendiri maupun untuk masyarakat. Sedangkan Muhammad Athiyah Al Abrosyi memiliki konsep yang berbeda yakni mempersiapkan individu agar dapat hidup dalam kehidupan yang sempurna sebagai sosok yang berkepribadian “al-fadhilah” atau “insan kamil”.An war jundi, memiliki bahasa konsep yang lain, menurutnya tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berpribadi muslim.[106]

Prof.Dr. H.M. Mahmud Yunus menyatakan bahwa tujuan pendidikan  dalam bidang keimanan ialah :

  1. Agar memiliki keimanan yang teguh kepada Allah, Rasul-rasul, Malaikat, hari akhir, dan lain sebagainya.
  2. Agar memiliki keimanan berdasarkan kepada kesadaran dan ilmu pengetahuan, bukan sebagai “pengikut buta” atau taklid semata-mata.
  3. Agar keimanan itu tidak mudah rusak apalagi diragukan oleh orang-orang yang beriman.[107]

Menurut Al Ghazali tujuan pendidikan keimanan adalah agar anak didik menjadikan akhirat sebagai orientasi utama dalam hidupnya. Melatih diri untuk mendekatkan diri (bertakarrub) kepada Allah, membentuk kepribadian yang sempurna dengan bimbingan taufik serta nur ilahi agar terbuka jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.[108]

Menurut Abdullah Nashih Ulwan tujuan pendidikan keimanan adalah agar anak mempunyai tanggungjawab, jujur, jiwa kemanusiaan yang tinggi, berakhlak mulia, dan membebaskan diri dari sifat-sifat kebinatangan.[109]

Menurut M. Saleh tujuan pendidikan ketauhidan adalah :

  1. Menanamkan rasa cinta kepada Allah.
  2. Bersyukur kepada Allah.
  3. Mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah.
  4. Mencintai para Rasul-Nya.
  5. Meyakini hal-hal gaib.[110]

Abdurrahman An-Nahlawi merumuskan tujuan pendidikan ketauhidan agar :

  1. Ikhlas beribadah kepada Allah.
  2. Mengetahui makna dan maksud beribadah kepada Allah.

 

  1. Menjauhi yang dilarang Allah, seperti syirik dan segala hal yang dapat mengalihkan ketauhidan dan mengaburkan tujuan pendidikan.[111]

Konsep pendidikan tauhid dalam keluarga dalam skripsi ini bertujuan :

  1. Agar menanamkan kesadaran kepada anak untuk bersyahadat berdasarkan dorongan dalam dirinya sendiri.
  2. Pembentukan sikap muslim yang beriman dan bertakwa.
  3. Agar anak mengetahui makna dan tujuan beribadah kepada Allah.
  4. Mengarahkan perkembangan keagamaan anak.
  5. Agar anak selalu berpikirdan berperilaku positif

 

C.  Fungsi Pendidikan Tauhid Dalam Keluarga

Fungsi merupakan bentuk operasional dari sebuah tujuan, sehingga kita dapat melihat fungsi pendidikan tauhid dalam keluarga dengan menganalisis tujuan dari pendidikan tauhid dalam keluarga. Yusron Asmuni menyebutkan bahwa pendidikan tauhid dalam keluarga adalah berfungsi

untuk :

  1. Memberikan ketentraman dalam hati anak.
  2. Menyelamatkan anak dari dari kesesatan dan kemusyrikan.
  3. Membentuk perilaku dan kepribadian anak, sehingga menjadi falsafah dalam kehidupannya.[112]

 

Dari penjelasan yang diuraikan oleh Abdurrahman An-Nahlawi,  dapat dilihat bahwa pendidikan tauhid dalam keluarga memiliki beberapa fungsi agar :

  1. Anak dapat beribadah kepada Allah secara ikhlas.
  2. Anak dapat mengetahui makna dan maksud beribadah kepada Allah.
  3. Anak dapat menjauhi hal-hal yang dilarang Allah seperti syirik dan semua hal yang dapat menghancurkan ketauhidan.[113]

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak menerima pendidikan tauhid. Dengan menanamkan kepada anak bahwa dirinya selalu berada dalam perlindungan dan kekuasaan Allah yang Maha Esa. Sehingga dengan proses yang panjang anak akan selalu mengingat Allah SWT. Allah berfirman :

…ألا بذكر الله تطمئن القلوب (الرعد : 28) [114]

Artinya : “… Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.

                  Pendidikan tauhid dalam keluarga juga membuat anak mampu memiliki keimanan berdasarkan kepada pengetahuan yang benar, sehingga anak tidak hanya mengikuti saja atau “taklid buta”. Dengan mengajarkan ketauhidan yang bersumber dari Al Quran dan Al Hadits, maka ketauhidan yang terbentuk dalam jiwa anak disertai dengan ilmu pengetahuan yang berdasarkan kepada argumen-argumen dan bukti-bukti yang benar, serta dapat dipertanggungjawabkan.

                  Keyakinan yang disertai ilmu pengetahuan akan membuat keyakinan itu semakin kokoh, sehingga akan terpancar melalui amal perbuatan sehari-hari. Maka benar jika keimanan itu tidak hanya diucapkan, kemudian diyakini namun juga harus tercermin dalam perilaku seorang muslim. Ketauhidan yang telah terbentuk menjadi pandangan hidup seorang anak akan melahirkan perilaku yang positif  baik ketika sendirian maupun ada orang lain, karena ada atau tidak ada yang melihat, anak yang memiliki ketuhidan yang benar akan merasakan bahwa dirinya selalu berada dalam penglihatan dan pengawasan Allah, sehingga amal dan perilaku positif yang dilakukan benar-benar karena mencari ridho Allah SWT.

                  Akhirnya, dapat dilihat bahwa pendidikan tauhid dalam keluarga sangatlah penting dan harus segera dilakukan oleh para orang tua, karena fungsinya yang sangat besar dalam membentuk pribadi muslim yang benar, dan bertakwa kepada Allah SWT, yang dihiasai dengan akhlak dan perilaku positif, sehingga anak-anak yang bertauhid juga akan melakukan hal-hal yang positif. Hal-hal yang dapat bermanfaat baik untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya, agamanya, bahkan dunia. Aktivitas yang timbul dari anak yang bertauhid hanyalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari sesuatu yang bersifat duniawi.

BAB III

KONSEP PENDIDIKAN TAUHID DALAM KELUARGA

 

A.     Materi Pendidikan Tauhid dalam Keluarga

Menurut ulama salafiyah, pembahasan materi ketauhidan terbagi menjadi dua bagian yakni tentang tauhid Rububiyah dan tauhid Uluhiyah.[115] Dari kedua ketauhidan tersebut melahirkan ketauhidan ketiga yakni tauhid Ubudiyah.[116] Menurut Abdullah Nashih Ulwan anak harus diajarkan ketauhidan sejak dini, sejak anak mulai dapat memahami lingkungannya. Ketauhidan yang dimaksud ialah meliputi dasar-dasar ketauhidan merupakan segala sesuatu yang ditetapkan dengan jalan berita (khabar) yang diperoleh secara benar, berupa hakekat ketauhidan, masalah-masalah gaib, beriman kepada Malaikat, Kitab-kitab samawi, Nabi dan Rasul Allah, sikasa kubur, surga, neraka, dan seluruh perkara gaib.[117]

Al Ghazali menjelaskan bahwa pembinaan ketauhidan diperlukan 4 hal pokok yakni :

  1. Makrifat kepada dzat-Nya.
  2. Makrifat kepada sifat-sifat-Nya.
  3. Makrifat kepada af’al-Nya.
  4. Makrifat kepada syari’at-Nya.[118]

Jika kita menggunakan pengertian yang sama antara ketauhidan, akidah, dengan keimanan, maka materi ketauhidan sama dengan materi keimanan. Konsep yang penyusun gunakan ialah konsep Yunahar Ilyas yang membagi materi ketauhidan menjadi empat, selain beliau juga membagi ruang lingkup ketauhidan kepada rukun iman, yang memiliki 6 unsur.[119]

Materi pendidikan tauhid dalam keluarga terbagi menjadi empat yakni

  1.  Ilahiyat
  2.  Nubuwat
  3.  Ruhaniyat
  4.  Sam’iyyat

Berikut ini adalah penjelasan keempat materi di atas :

1. Ilahiyat

Pembahasan materi ini dibagi menjadi tiga hal yakni :

  1. a.      Zat Allah SWT.

Tauhid zat berarti bahwa zat Allah Swt ialah satu, tidak ada sekutu dalam wujud-Nya, tidak ada kemajemukan, serta tidak ada tuhan lain di luar Diri-Nya. Bersifat sederhana, tidak terdiri dari bagian-bagian  ataupun organ-organ, intinya Allah adalah satu dan tidak ada sekutu baginya, demikianlah pandangan para teolog dan filosof tentang tauhid zat Allah Swt.[120]

Muhammad Taqi Mishbah Yadzi menjelaskan bahwa tauhid zat maerupakan tauhid tahap terakhir yang hanya mampu dicapai oleh orang-orang yang arif.  Dijelaskannya bahwa pada tahap ini mereka mempercayai bahwa yang hakiki terbatas pada Allah Swt. Saja. Alam adalah manifestasi dan cerminan dari Wujud-Nya. Mereka mengatakan bahwa Allah Swt. Adalah Zat yang bersifat nonmateri (immaterial).[121]

Menurut Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi bahwa kebenaran mutlak (absolut) tentang Zat Allah tidak memerlukan bukti, namun yang harus dipercaya adanya Zat-Nya itu mempunyai bekas-bekas, akibat-akibat, gejala-gejala yang dapat memperkuat bukti kebenaran adanya Zat-Nya itu. Sehingga adanya Tuhan adanya kebenaran mutlak yag tidak perlu dibuktikan adanya Zat Tuhan, kehati-hatian ini dilandaskana atas satu hadis yang diriwayatkan  oleh Ibnu Abbas :

تفكروا في خلق الله ولاتفكروا في الله فانكم لن تقدروا قدراه (الحديث )

Artinya :     Pikirkanlah tentang ciptaan/makhuk Allah, dan janganlah kamu memikirkan tentang Allah (zatnya), karena sesungguhnya kamu tidak sekali-kali akan mampu mencapai-Nya. (Hadis).[122]

Akal manusia tidak akan mampu menjangkau Zat Allah  disebabkan oleh keterbatasannya. Oleh sebab itu kita tidak boleh memikirkan Zat Allah , tetapi marilah memikirkan makhluk-makhluk ciptaan-Nya.[123]

  1. b.      Nama-nama Allah SWT.

Rasululullah saw. Bersabda :

لله تسعة وتسعون اسما مائة الا واحدا لايحفظها احد الا دخل الجنة,

وهو وتر يحب الوتر.

Artinya :  Allah memiliki 99 nama, yakni seratus kurang satu. Tiada seseorangpun yang menghafalnya (dengan menghayati dan merenungkan kandungannya) melainkan akan masuk surga. Dan Dia itu ganjil (Maha Esa) menyukai yang ganjil.[124]

            Nama-nama Allah yang sesuai dengan  keagungan keluhuran-Nya Ia gunakan untuk memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk.Selain 99 nama Allah, juga terdapat nama-nama lain yang tersebut dalam hadis Rasul saw. Seperti al-Hannan (yang Maha Pengasih), al-Mannan (Yang memberi nikmat), al-Kafiil ( Yang Maha Pelindung/Penjamin), Dzu ath-Thaul (Yang Memiliki Keutamaan), Dzu al-Ma’arij (Yang memiliki Jalan-jalan Naik), Dzu al-Fadhl (Yang Memiliki Karunia), al-Khallaq (Yang Maha Pencipta).Nama-nama Allah haruslah merujuk kepada Syara’. Dari seluruh nama-nama itu yang merupakan lambang  ketuhanan ialah”Allah”.

  1. c.       Sifat-sifat Allah

Menurut para teolog dan filosof, tauhid sifat-sifat Allah berarti kita menisbatkan sifat-sifat kepada Allah Swt. tak lain adalah Zat-Nya sendiri. Sifat-sifat itu bukan sesuatu yang ditambahkan atau hal-hal yang lain dari Diri-Nya. Mereka mengungkapkan bahwa Sifat-Sifat Tuhan tak lain adalah Zat Allah Swt. itu sendiri, mereka menyebutnya sebagai “Tauhid dalam sifat”. Karena Allah tidak memiliki sifat-sifat diluar Diri-Nya.[125]

Sedangkan menurut Sang arif, tauhid sifat merupakan tahap kedua. Pada tahap ini manusia memandang setiap sifat kesempurnaan pada asalnya adalah milik Allah Swt., sedangkan sifat kesempurnaan yang ada pada manusia serta makhluk hanyalah bayangan atau cerminan atau manifestasi dari Sifat-Sifat Tuhan. Bahwa Sifat-Sifat Allah Swt. bukanlah tambahan pada Zat-Nya [126]

Muhammad Taqi Mishbah Yazdi sangat cenderung kepada tauhid yang dimiliki oleh orang-orang ahli ma’rifat, yang mampu mencapai taraf melihat, merasakan, mendengar  yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang awam, mereka malakukan riyadah ibadah untuk membersihkan hati serta jiwa mereka dan benar-benar mendekatkan diri mencari ridho Allah Swt.

Drs. Yunahar, Lc. Menjelaskan bahwa ada dua metode dalam tauhid Nama dan Sifat-Sifat Allah Swt. Pertama Itsbat, yakni mempercayai bahwa Nama dan Sifat yang dimiliki Allah merupakan menunjukkan ke-Maha Sempurnaan Allah Swt.Kedua adalah Nafyu yakni menafikan atau menolak nama serta sifat yang menunjukkan ketidak sempurnaan Allah Swt.Selanjutnya beliau menyebutkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan Nama-Nama dan Sifat Allah Swt. antara lain :

1) Nama-Nama Allah hanyalah yang disebutkan di dalam Al-Quran dan Sunnah. Oleh sebab itu tidak boleh memberi nama kepada Allah yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah.

2)   Allah tidak bisa disamakan, atau mirip Zat-Nya, sifat-sifat serta perbuatan-Nya dengan makhluk.

3)   Percaya Nama dan Sifat Allah Swt. haruslah apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakannya.

4)   Selain nama dan sifat-sifat Allah ada istilah ”ismul-lah al-a’zham” yakni nama-nama Allah Swt. yang dirangkai di dalam do’a.[127]

            Sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt ada dua puluh sifat yakni[128] :

1) al Wujud artinya ada, sedangkan yang mustahil bagi Allah adalah al ‘Adam yang artinya tdak ada.

2)   al Qidam artinya yang tidak ada awal bagi wujud-Nya, lawannya adalah al-Huduts artinya yang ada awalnya.

3)   al Baqa artinya kekal atau tidak ada akhir akan wujud-Nya, sedangkan mustahuil Allah bersifat al Fana artinya tidak kekal.

4)   Tidak akan pernah sama dengan makhluk maksudnya Allah berbeda dengan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Sedangkan Allah mustahil bersifat menyerupai atau sama dengan makhluk.

5)   Berdiri sendiri, maksudnya Allah Swt. Maha kaya dan tidak memerlukan bantuan siapapun, oleh sebab itu membutuhkan kepada sesuatu makhluk adalah kemustahilan bagi Allah.

6)   Esa, maksudnya Allah itu satu, tunggal dan mustahil bagi Allah Berbilang, lebih dari satu.

7)   Maha Kuasa, Allah mustahil memiliki sifat lemah.

8)   Maha Berkehedak, mustahil Allah bersifat terpaksa.

9)   Maha Berilmu, mustahil bagi Allah memiliki sifat bodoh.

10) Maha Hidup, Allah mustahil mati.

11) Maha Mendengar, sehingga mustahil Allah bersifat tuli.

12) Maha Melihat, Allah mustahil bersifat buta.

13) Maha berbicara, mustahil Allah bersifat bisu.

14)Yang Maha Kuasa, mustahil Allah bersifat yang keadaan-Nya lemah.

15)Yang Maha Berkehendak,  Allah mustahil keadaan-Nya terpaksa.

16)Yang Maha Berilmu, mustahil Allah dalam keadaan bodoh.

17)Yang Maha Hidup, Allah mustahil keadaan-Nya mati.

18)Yang Maha Mendengar, mustahil keadaan Allah itu tuli.

19)Yang Maha Melihat, sehingga mustahil Allah dalam keadaan buta.

20)Yang Maha Berkata-kata, mustahil Allah dalam keadaan bisu.

Sedangkan sifat jaiz bagi Allah, kita dapat menggunakan penjelasan Muhammad Taqi Mishbah Yazdi ketika menjelaskan hubungan antara kemampuan dan kehendak Allah Swt. karena sifat Jaiznya Allah berhubungan dengan dua hal tersebut.Jika kita mengatakan Allah dapat melakukan segala sesuatu, yang kita maksudkan jika Allah menghendakinya, Dia akan melakukannya, dan jika tidak , Dia tidak akan melakukannya, dan kemampuannya tidak akan berkurang karenanya. Sebagai contoh ketika Anda memilih berbicara atau tetap diam pada suatu saat, maksudnya anda memiliki kemampuan untuk melakukan keduanya. Jika ingin berbicara maka Anda akan berbicara, dan ketika Anda tidak ingin berbicara maka Anda akan diam. Jadi kekuatan Anda meliputi keduanya. Manakah yang Anda pilih?.Jadi kekuatan atau kemampuannya lebih luas dari kehendak Anda., karena kemampuan meliputi aksi maupun non aksi, sementara kehendak hanya meluiputi salah satu dari keduanya.[129]

            Muhammad Taqi Mishbah Yazdi melanjutkan pembagian tauhid kepada tauhid perbuatan. Bagi para teolog dan filosof tauhid perbuatan berarati  dalam melakukan perbuatan-perbuatan-Nya Allah tidak memerlukann bantuan siapapun. Jika perbuatan tersebut membutuhkan sarana, Dia menciptakan dan menggunakan sarana tersebut. Hal ini berbeda dengan Allah membutuhkan orang lain di luar Diri-Nya dalam melaksanakan perbuatan-perbuatan-Nya.[130]

            Para kaum arif memiliki konsep yang berbeda dengan para teolog dan filosof. Bagi para teolog dan filosof secara berurutan terlebih dahulu harus memulai tauhid pada Zat Allah, selanjutnya sifat-sifat, terakhir ialah tauhid perbuatan. Namun para kaum arif memulainya dengan tauhid perbuatan, lalu tahap kedua tauhid sifat dan tahap terakhir adalah tauhid Zat. Tauhid perbuatan berarti bahwa, setiap perbuatan yang ada adalah perbuatan Allah, yang lain hanyalah alat-alat dan sarana-sarana, inilah yang dilihat oleh orang-orang yang telah menyucikan jiwanya, yakni para kaum arif.[131]

2. Nubuwat

                  Nabi menurut bahasa berasal dari bahasa Arab na-ba bermakna yang ditinggikan, atau dari kata na-ba-a yang berarti berita. Jadi Nabi adalah seseorang yang derajatnya ditinggikan Allah Swt. dengan memberikan berita atau wahyu kepadanya.Sedangkan Rasul dari kata ar-sa-la berarti mengutus, namun setelah dijadikan kata Rasul artinya berubah menjadi yang diutus. Maka Rasul adalah orang yang diutus Allah Swt. untuk menyampaikan misi pesan (ar-risalah).Perbedaan antara Nabi dan Rasul adalah ada tidaknya kewajiban untuk menyampaikan misi atau risalahnya kepada orang lain.Jika tidak ada kewajiban untuk menyampaikan maka disebut Nabi dan jika ada kewajiban untuk menyampaikan risalah yang diterima dari Allah kepada orang lain (umat) ia disebut Rasul.[132]

                  Jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat diketahui secara pasti, Namun yang wajib diketahui ada 25 orang yang disebutkan di dalam Al Quran yalni 18 orang disebutkan dalam surat Al- An’am ayat 83-86 dan 7 orang lagi di sebutkan dalam ayat-ayat yang terpisah yakni :

  1. Nabi Hud as. dalam surat Hud ayat 50;
  2. Nabi Soleh as.  dalam surat Hud ayat 61;
  3. Nabi Syu’aib as. dalam surat Hud ayat 84;
  4. Nabi Adam as. dalam surat Ali ‘Imran ayat 33;
  5. Nabi Idris as. Dan Nabi Zulkifli as. dalam surat Al-Anbiya’ ayat 85;
  6. Dan Nabi Muhammad saw. Dalam surat Al-Fath ayat 29.

            Jika  nama-nama Nabi dan Rasul diurutkan secara kronologis  adalah sebagai berikut :[133]    

  1. Adam as.
  2. Idris as.
  3. Nuh as.
  4. Hud as.
  5. Shaleh as.
  6. Ibrahim as.
  7. Isma’il as.
  8. Ishaq as.
  9. Ya’qub as.
  10. Yusuf as.
  11. Luth as.
  12. Ayyub as.
  13. Syu’aib as.
  14. Musa as.
  15. Harun as.
  16. Zulkifli as.
  17. Daud as.
  18. Sulaiman as.
  19. Ilyas as.
  20. Ilyasa as.
  21. Yunus as.
  22. Zakaria as.
  23. Yahya as.
  24. Isa as.
  25. Muhammad SAW.

                  Nabi dan Rasul yang disebutkan dalam Al Quran pun tidak seluruhnya diceritakan secara mendetail, karena Allah Swt. sendiri berfirman :

ولقد ارسلنا رسلا من قبلك منهم من قصصنا عليك ومنهم من لم نقصص

 عليك… (المؤمن 78) [134]

Artinya : Dan sesungguhnya kami telah kami utus beberapa rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang kami ceritakan kepadamu, dan  di antara  mereka ada (pula) yang tidak kami ceritakan kepadamu.

Di antara nabi dan rasul-rasul di atas ada 5 orang yang disebut dengan “ulul azmi” yakni Nabi Muhammad saw., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Nuh as.

Allah berfirman :

واذ اخذنا من النبين ميثقهم ومنك ومن نوح وابرهيم وموسى وعيسىابن مريم

 واخذنا منهم ميثقا غليظا (الحزاب : 7) [135]

Artinya :     Dan (ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (QS. Al-Ahzab : 7).

Disebut dengan ulul azmi karena kesabaran mereka dalam mengemban kewajiban untuk menyampaikan risalah Allah Swt. kepada umatnya.Demikian keterangan Syeikh Muhammad Nawawi dalam kitabnya Fathu al Majid.[136]

      Firman Allah :

فاصبر كما صبر اولوا العزم من الرسل… (ِالاحقاف : 35) [137] 

Artinya :  Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul.

Allah memberikan para nabi dan rasul mukjizat atau kejadian luar biasa untuk membuktikan kebenaran risalah yang mereka bawa. Namun ada empat orang Nabi yang juga menerima kitab dari dari Allah  yakni : kitab Taurat untuk nabi Musa as., Zabur untuk nabi Daud as., Injil untuk nabi Isa as. dan Al quran kepada Nabi Muhammad saw sebagai penutup para nabi dan rasul.

Sebagai contoh Nabi Ibrahim yang tidak terbakar oleh api, tongkat Nabi Musa yang bisa berubah menjadi ular dan dapat pula membelah lautan, Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, namun Nabi Muhammad selain dibekali dengan mukjizat hissiyah (inderawi) juga dibekali dengan mukjizat abadi yakni Al Quran. Semua mukjizat yang ditunjukkan para nabi merupakan pertolongan Allah sebagai bukti kenabian serta menolong mereka dari situasi-situasi tertentu yang mereka alami.[138]

Berikut ini adalah beberapa keistimewaan atau mukjizat beberapa nabi :

Nama Nabi Mukjizat Sumber
Muhammad saw. Al Quran sebagai mukjizat terbesar yang akan abadi sepanjang zaman.

Mengeluarkan air dari sela-sela jarinya

QS. Al Hijr ayat 9.
Isa as. Menghidupkan orang mati;

Membuat burung dari segumpal tanah liat

Menyembuhkan orang buta sejak lahir; mengetahui apa yang dimakan dan disimpan oleh orang lain; dan lain sebagainya.

 Salah satu sumbernya dapat dibaca di surat Ali ‘Imran ayat 49
Ibrahim as. Tidak mati dibakar api Surat al Anbiya’ ayat 68-69
Daud as. Membuat baju besi untuk perang. Surat al Anbiya’ ayat 80.
Sulaiman as. Menguasai angin, jin, dan dapat berbicara dengan binatang. Surat al Anbiya’ ayat 82, juga dalam surat an Naml ayat 17.
Yunus as. Di dalam perut ikan paus Surat al Anbiya’ ayat 87.
Nuh as. Membuat bahtera raksasa Surat Hud ayat 37-41
Shaleh as. Membuat unta betina dari ukiran batu gunung. Surat Hud ayat 63-64
Yusuf as. Menafsirkan mimpi Surat Yusuf ayat 36-41, 43-49
Musa as. Tongkatnya berubah menjadi ular dan dapat membelah lautan, tangannya dapat bercahaya seperti mentari.,. Surat al A’raf ayat 106-108, dan ada juga dalam surat Thaha ayat 19-22.

 

Para nabi dan rasul ini diutus untuk kaum dan bangsa masing-masing seperti Nabi Hud as. dikirim untuk kaum ‘Ad, Nabi Sholeh kepada kaum Tsamud, Nabi Syu’aib kepada kaum Madyan. Namun Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat  tidak hanya untuk kaum Arab saja di mana Nabi Muhammad Lahir dan dibesarkan.Hal ini ditunjukkan dengan firman Allah Swt.

ماكان محمد ابا احد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبين وكان الله

 بكل شيء عليما( الاحزاب : 40) [139]

Artinya :  Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

      Sebagai seorang manusia pilihan Allah Swt. tentulah harus memiliki sifat-sifat yang mendukung agar terlaksananya tugas kenabian dan kerasulan. Sehingga nabi dan rasul pun memiliki sifat yang harus ada dalam dirinya (sifat wajib), serta sifat yang tidak mungkin dimiliki (sifat mustahil), dan sifat yang boleh dimiliki nya (sifat jaiz).

Seseorang yang akan membawa risalah untuk masyarakat yang membutuhkan bimbingan karena kehidupan mereka sudah sangat jauh menyimpang dari fitrah kemanusiaan memerlukan prasyarat kepribadian,  oleh Abu Bakar Al-Jazairy sebagaimana dikutip Yunahar Ilyas disebut “Muahalat An Nubuwah”, yakni ada tiga hal inti :

  1. a.      Al-Mitsaliyah atau keteladanan, sehingga Allah akan mempersiapkan hamba-Nya yang akan ia jadikan pembawa risalah sejak kecil, kehidupan calon Nabi akan selalu dipelihara dan dijaga oleh Robbul ‘Izzati.
  2. b.      Syaraf An-Nasab yakni berasal dari keturunan yang mulia. Mulia maksudnya memiliki akhlak dan perilaku yang baik, serta dihormati oleh kaumnya.
  3. c.       ‘Amil Az-Zaman maksudnya dibutuhkan oleh zaman, bahwa kehadirannya memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang menyimpang agar kembali kepada fitrah penciptaannya.[140]

Sifat yang wajib bagi rasul ada empat :

  1. a.      As-Shidqu. Yakni berkata benar dalam keadaan bagaimanapun.
  2. b.      Al-Amanah, Seorang rasul akan selalu menjaga dan melaksanakan amanah yang telah ia terima, kapan dan di manapun.
  3. c.       At-Tabligh, risalah aatau wahyu yang disampaikan Allah pasti akan disampaikan tanpa ada yang disembunyikan.
  4. d.      Al-Fathanah, rasul adalah seseorang yang dapat menyelesaikan masalah yang paling sulit tanpa harus meninggalkan kejujuran dan kebenaran, karena memiliki kecerdasan yang tinggi, pikiran yang jernih, penuh kearifan, dan kebijaksanaan.[141]

Sifat  mustahil bagi rasul juga ada empat :

  1. a.      al-Kadzib artinya berdusta.
  2. b.      al-Khianat artinya khianat atau mengingkari.
  3. c.       al-Kitman maksudnya menyembunyikan risalah Allah Swt.
  4. d.      al-Baladah artinya bodoh atau dungu.[142]

Sifat-sifat mustahil merupakan sifat-sifat yang tidak mungkin ada dalam diri seorang nabi atau rasul, karena jika ada tugas kenabian tidak mungkin dapat dilaksanakan.

      Nabi dan rasul adalah manusia biasa, tentu juga memiliki fitrah seorang manusia. Oleh sebab itu boleh ada dalam diri nabi dan rasul sifat-sifat kemanusiaan yang sifat-sifat tersebut tidak akan mengurangi derajatnya yang tinggi, yakni sebagai utusan Allah Yang Maha Tinggi. Seperti makan, minum, ingin menikah adalah sifat-sifat fitrah seorang manusia yang tidak akan mengurangi derajat kemanusiaan, inilah yang dimaksud sifat Jaiz bagi rasul.[143]

Beriman kepada seluruh rasul wajib bagi seorang muslim, baik rasul yang disebutkan (dalam Al Quran dan Sunnah) kisahnya maupun tidak. Semua rasul membawa satu risalah yakni Tauhid, “Tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah Swt.”. Muslim sejati harus mengimani pula bahwa Nabi Muhammad saw. Adalah nabi terakhir. Tidak ada lagi nabi setelah Muhammad saw. Walaupun mempercayai seluruh nabi tanpa terkecuali, namun syari’at yang wajib diikuti adalah syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., karena syari’at nabi-nabi terdahulu hanyalah untuk umat mereka masing-masing, kecuali yang disyaria’tkan kembali oleh Muhammad saw. Syari’at Nabi Muhammad saw. adalah untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat nanti. Rasul bersabda :

لايؤمن احدكم حتى اكون احب اليه من والده وولده والناس اجمعين (متفق عليه )

Artinya :  Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku (Muhammad) lebih dia cintai dari pada orang tuanya, anak-anaknya serta manusia lain keseluruhannya (Hadits Muttafaqun’ alaihi).[144]

      Mencintai hanya dapat dilakukan ketika seseorang sudah kenal dengan baik orang yang akan ia cintai. Allah juga berfirman :

قل ان كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم

 والله غفور رحيم (ال عمران : 31) [145]

Artinya :  Katakanlah :” Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Mengikuti Nabi salah satu caranya dapat diketahui dengan belajar tentang Nabi siapa Nabi Muhammad saw. pribadinya, keluarganya, perjuangannya sampai kepada syari’at yang dibawanya. Membaca adalah salah cara untuk membuka wawasan dan ilmu pengetahuan tentang Nabi Muhammad saw., tentang agama Islam. Sehingga dalam skripsi yang singkat ini penyusun memang tidak akan menuliskan tentang sejarah Nabi Muhammad, meskipun itu termasuk kedalam materi dalam skripsi ini, karena lebih banyak buku tentang nabi Muhammad saw. yang lebih layak dan valid, dibandingkan jika dimasukkan ke dalam salah satu unsur skripsi yang pendek dan singkat ini.

3. Ruhaniyat.

Pada masalah ruhaniyat ini yang menjadi materi pendidikan tauhid dalam keluarga ialah malaikat, Jin, Iblis dan syaitan, serta ruh. Agar sejak dini anak mempercayai adanya makhluk lain yang harus diyakini keberadaanya, namun hanya sebatas percaya akan adanya, tanpa perlu ada rasa takut dan khawatir, karena hanya Allah yang mampu mendatangkan kemanfaatan dan kemudaratan.

Makhluk secara garis besar dibagi dua yakni : pertama ghaib (al-ghaib)  yakni yang tidak bisa dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia. Kedua nyata (as-syahadah) yakni makhluk yang dapat dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia. Mempercayai keberadaan makhluk ghaib dapat ditempuh dengan dua cara. Pertama melalui informasi yang disampaikan Al quran dan Sunnah.Kedua melalui bukti-bukti nyata yang ada di alam semesta.[146]

a.  Malaikat

Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan-Nya dari cahaya yang memiliki wujud dan sifat-sifat tertentu.Tidak ada penjelasan kapan malaikat diciptakan, tapi yag pasti ia diciptakan sebelum diciptakannya manusia pertama yakni Nabi Adam as.Hal ini dibuktikan dengan firman Allah :

واذ قال ربك للملئكة اني جاعل في الارض خليفة… (البقرة : 30) [147]

Artinya :  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat :” Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.

Malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah yang tidak memiliki nafsu. Oleh sebab itu mereka tidak makan, minum, menikah, serta keinginan-keinginan lain seperti yang dimiliki manusia. Mereka juga bukan laki-laki, bukan perempuan dan bukan pula banci. Malaikat adalah salah satu makhluk ghaib karena ia tidak dapat dijangkau oleh salah satu pancaindera manusia, kecuali malaikat tersebut menampilkan diri dalam bentuk tertentu, seperti bentuk manusia.

Contohnya ialah ketika salah satu malaikat diutus Allah untuk menjumpai hamba Allah yang bernama Maryam, malaikat tersebut menyerupai bentuk seorang manusia (QS. Maryam 17).

فاتخذ ت من دونهم حجابا فأرسلنا اليها روحنا فتمثل لها بشرا سويا

(سورة مريم :17)[148]

Artinya : Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginua) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Malaikat jumlahnya sangat banyak, namun tidak bisa diperkirakan karena tidak ada disebutkan dalam Al Quran dan Sunnah. Mereka memiliki perbedaan tingkatan, tugas, pangkat dan kedudukan. Ada yang memiliki sayap dua, tiga dan empat sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat al Fathir ayat 1.

…جاعل الملئكة رسلا اولي اجنحة مثنى وثلث وربع…(سورة فاطر : 1)[149]

Artinya : …Yang menjadi malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.

kita tidak perlu mengkaji lebih jauh tentang wujud malaikat, karena ia adalah makhluk immaterial, hanya Allah-lah yang mengetahui hakekatnya.[150]

Hanya ada sepuluh malaikat yang nama dan tugasnya didapatkan dalam Al Quran dan Sunnah , mereka adalah :

1)   Malaikat Jibril, disebut juga Ruh Al-Qudus, Ar-Ruh Al-Amin, dan An-Namus. Tugasnya adalah menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul.

2)   Malaikat Mikail tugasnya adalah melepaskan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan serta hal-hal lainnya yang berkaitan dengan alam.

3)   Malaikat Israfil, meniup terompet di hari kiamat dan hari berbangkit adalah tugasnya.

4)   Malaikat Maut, mencabut nyawa manusia dan makhluk hidup merupakan tugasnya.

5)   Malaikat Raqib;

6)   Malaikat Atid, tugasnya sama dengan malaikat Raqib yakni mencatat amal perbuatan manusia.

7)   Malaikat Ridwan, memimpin para malaikat pelayan surga dan juga bertugas menjaga surga.

8)   Malaikat Munkar;

9)   Malaikat nakir, bersama-sama malaikat Munkar tugasnya adalah menanyai mayat dalam kubur tentang siapa tuhannya, apa agamanya, serta siapa nabinya.

10)Malaikat Malik, bersama-sama para malaikat lain menyiksa penghuni neraka dan menjaga neraka.[151]

Demikianlah nama-nama dan tugas malaikat yang ada dalam nash Al Quran dan Hadis. Meskipun Allah menciptakan malaikat, sama sekali ia tidak membutuhkan bantuan mereka dalam mengelola alam semesta ini. Jika manusia mau beramal dan beribadah mendekatkan diri kepada Allah manusia akan menjadi lebih mulia dari pada malaikat. Wallahu a’lam. Maha Suci Allah, tidak ada tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

      b.  Jin

Al Jin bermakna tersembunyi dari pandangan manusia, janna asal katanya. Sedangkan akar kata janna antara alain junnah yang berarti perisai. Dinamakan demikian karena melindungi kepala prajurit yang memakainya.[152] Kata yang digunakan Al Quran dan orang Arab dahulu sering menggunakan kata jiniy yakni makhluk berakal yang tersembunyi dari pandangan manusia, yang hidup bersama-sama. [153]Namun demikian kita wajib mempercayai adanya mereka, meskipun kita tidak dapat melihatnya. Karena hal ini sudah diberitahukan Allah swt. dalam firman-Nya :

…انه يركم هو وقبيله من حيث لاترونهم… (الاعراف : 27) [154]

Artinya :  Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka.

Jin diciptakan sebelum manusia diciptakan Allah dengan bahan dari api, hal ini dapat dilihat dalam surat al-Hijr ayat 26-27 :

ولقد خلقنا الانسان من صلصال من حماء مسنون. والجان خلقنه من قبل

 من نار السموم (الحجر : 26-27)[155]

Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal ) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (adam) dari api yang sangat panas.

Meskipun diciptakan dari bahan yang berbeda tapi dihadpan Allah memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama yakni beribadah menyembah Allah Swt. :

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون (الذاريات : 56)[156]

Artinya :  Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Sehingga jin dan manusia sama-sama mukallaf yakni dibebani hukum-hukum Allah Swt. Tidak berbeda dengan manusia, jin sebagian ada yang beriman dan sekelompok yang lain ingkar atau tidak beriman kepada Allah :

وانا منا الصلحون ومنا دون ذلك كنا طرائق قددا (الجن : 11)[157]

Artinya : Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.

Maka oleh sebab itu yang bertakwa akan mendapatkan surga dan yang ingkar, serta berdosa akan masuk ke dalam neraka jahanam, meskipun jin diciptakan dari api, tidak sama dengan api neraka jahanam, siapapun yang durhaka kepada Allah maka akan memperoleh balasannya baik manusia maupun jin :

قال ادخلوا في امم قد خلت من قبلكم من الجن والانس في النار…

 (الاعراف : 38) [158]  

Artinya : Allah berfirman : “ Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama-sama uamt-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu.

Sehingga sangat menyalahi tauhid jika manusia minta pertolongan kepada jin dan juga sebaliknya, karena sesama makhluk Allah yang diciptakan dengan maksud dan tujuan yang sama, meskipun hidup di alam yang berbeda. Namun Allah mencipatakan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, sehingga nabi dan rasul diangkat dari golongan manusia, yang wajib diikuti baik oleh manusia maupun jin.

Marilah kita selalu menjaga ketauhidan dengan menjadikan makhluk-makhluk ciptaan Allah untuk menambah nilai ketauhidan. Sehingga sangat tidak pantas jika kita takut dan khawatir terhadap  yang selain Allah Swt. Kita beribadah dan minta tolong hanya kepada-Nya (al Fatihah :5), berlindung dari kejahatan makhluk-Nya (al Falaq : 2) baik kejahatan yang ditimbulkan oleh jin dan manusia (an Naas :6).

c.  Iblis dan Syaitan

                        Allah berfirman :

واذ قلنا للملئكة اسجدوا لادام فسجدوا الا ابليس ابى واستكبر وكان

 من الكافرين (البقرة : 34)[159]

Artinya : Dan (ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para malaikat :”Sujudlah kamu kepada Adam”. Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir(al Baqarah : 34).

Perintah “Sujud “ dalam ayat adalah sebagai penghargaan dan penghormatan untuk memuliakan Adam, bukan sujud memperhambakan diri, karena itu hanyalah milik Allah Swt.[160]Iblis yang merasa dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api serta menganggap rendah Adam karena diciptakan dari tanah yang hitam enggan dan tidak mau menghormati Adam.

Sebagian ahli bahasa mengatakan bahwa asal kata Iblis dari kata ablasa artinya putus asa, sehingga dinamakan Iblis karena ia berputus asa dari rahmat Allah. Demikian penjelasan Sayid Sabiq yang dikutip Yunahar Ilyas.[161] Sedangkan Syaitan  berasal dari kata Syatana yang artinya menjauh, maka Syaitan ialah menjauh dari kebenaran.[162]

Nenek moyang syaitan adalah Iblis, mereka akan menggoda umat manusia dari jalan Allah Swt.[163] Hal yang serupa juga dijelaskan oleh Muhammad Isa Dawud, bahwa Iblis adalah nenek moyang Syaitan bukan nenek moyang jin, tidak semua jin itu syaitan.[164]

Setelah Iblis tidak mau sujud kepada Adam, lantas Allah murka dan mengutuknya, Iblis bertekad akan menggoda manusia dan menghalangi-halangi umat manusia dari jalan Allah yang lurus. Oleh karena itu, Iblis meminta kepada Allah agar kematiannya ditangguhkan sampai hari pembangkitan, permintaan Iblis dikabulkan Allah Swt. maka jadilah Iblis termasuk mereka yang kematiannya ditangguhkan Allah Swt. (al A’raf : 11-16).

Iblis dan syaitan menggunakan dua cara untuk dapat menguasai dan membuat manusia lupa akan perintah Allah Swt., yakni dengan cara tadhil atau menyesatkan dan takhwif atau menakut-nakuti.Untuk cara yang pertama (tadhil / menyesatkan ) syaitan mempunyai delapan langkah antara lain : waswasah (bisikan); nisyan (lupa), tamani (angan-angan kosong), tazyin (memandang baik perbuatan maksiat), wa’dun (janji palsu), kaidun (tipu daya), shaddun (hambatan), ‘adawah (permusuhan). Sedang cara kedua digunakan jika cara yang pertama belum berhasil, maka langkah syaitan selanjutnya ialah dengan menakut-nakuti manusia, di antara rasa takut yang dibuat-buat syaitan adalah takut untuk menegakkan kebenaran, takut amar ma’ruf nahi munkar, takut menegakkan hukum Allah dan lain sebagainya.Sehingga jika langkah ini berhasil, maka akan lahir generasi-generasi yang gemar menyembunyikan kebenaran (kitman). Tidak hanya syaitan yang melakukan cara-cara serta langkah-langkah tersebut, tetapi juga oleh para manusia yang mengikuti jejak dan langkah-langkah Iblis dan syaitan : “ Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu Syaitan-syaitan dari jenis manusia dan jenis jin (QS. Al An’am : 112).[165]

وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شيطين الانس والجن (سورة الأنعام : 112)[166]

Yunahar Ilyas menuliskan bahwa ada beberapa cara untuk melawan syaitan yang dapat kita lakukan :

1)   Masuk Islam secara utuh (kaffah) yakni berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

2)   Menjadikan syaitan sebagai musuh utama dan memperlakukannya sebagai musuh.

3)   Rasulullah mengajarkan beberapa hal yang dapat dilakukan, beberapa hal praktis tersebut ialah : 

a) membaca al-Istiadzah yakni bacaan اعوذ بالله من الشيطان الرجيم, artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan syaitan yang terkutuk”.

b)   Membaca surat Al-falaq dan An-Nas.

c)   Membaca ayat kursi.

d)   Membaca dzikir sebanyak 100 kali setiap hari.

e)   Mengingat Allah Swt.

f)    Berwudhu ketika sedang marah[167].

Memohon perlindungan kepada Allah Swt. sudah cukup untuk memelihara diri dari gangguan syaitan, namun permohonan itu haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan. Karena Allah merupakan sandaran yang Maha kuat.

            Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita, agar kita berdoa sebelum melakukan semua aktivitas sehari-hari apapun dan di manapun, keika di dalam rumah ataupun di luar rumah. Agar diri kita selamat dari gangguan makhluk-Nya dan ahar aktivitas kita mendapat ridho dari Allah dan dihitung sebagai “ibadah”. Doa merupakan salah satu bentuk dzikir untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena itu dzikir merupakan benteng yang paling kuat yang tidak akan bisa ditembus oleh jin dan syaitan.       

4.  Sam’iyyat

Untuk mendukung ketauhidan materi tentang sam’iyat juga sangat diperlukan, sehingga masalah-masalah yang berada di luar pengalaman manusia haruslah berdasarkan sumber naqli yakni berdasarkan kepada Al Quran dan Al Hadits. Seperti masalah hidup setelah hidup di dunia ini yakni alam barzakh, surga dan neraka, kiamat dan lain sebagainya. Namun pendidikan tauhid dalam keluarga sebagai langkah awal dalam pendidikan anak sebelum anak menempuh pendidikan formal. Maka masalah adanya kehidupan setelah mati perlu ditanamkan kedalam diri anak. Bahwasanya ada balasan untuk setiap amal perbuatan yang dilakukan setiap manusia, tidak ada seorang pun yang dapat lari dari tanggung  jawab amal perbuatannya ketiaka hidup di dunia ini. Bagi yang baik ada surga yang berhiaskan kenikmatan dan limpahan karunia ridho Allah, dan ada neraka yang penuh dengan siksaan dan kemurkaan Allah untuk pada pendosa.

      Allah berfirman :

كيف تكفرون بالله وكنتم امواتا فاحيكم ثم يميتكم ثم يحييكم ثم اليه ترجعون

 (البقرة : 28)[168]

Artinya :     Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Tidaklah sulit bagi Allah untuk menghidupkan lagi manusia yang pernah hidup, meskipun telah menjadi tulang-belulang yang hancur, ingatlah kekuasaan Allah yang telah menciptakan manusia dari ketidaan sebagai awal (QS. Yaa sin 78-79).

وضرب لنا مثلا ونسي خلقه قال من يحي العظام وهي وميم {78}

 قل يحييها الذي انشأها اول مرة …{79} (سورة يس : 78-79)[169]

Artinya : Dan Dia membuat perumpamaan bagi kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata : “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh (68) Katakanlah :” Ia akan dihidupkan oelh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama…(79).

 Pada hari yang pasti akan datang, manusia akan ditutup mulutnya  maka tangan-tangan, kali-kaki mereka kan bersaksi atas semua yang amal perbuatan mereka (QS. Yaa sin : 65).

Bahwa kiamat pasti akan datang, ketika itu manusia akan beterbangan seperti debu-debu, gunung-gunung akan dihamburkan seperti bulu-bulu, dan bagi siapa yang berat timbangan kebaikannya maka akan mendapatkan kehidupan yang memuaskan, tetapi jika ringan timbangan kebaikannya maka akan dimasukkan ke dalam neraka hawiyah, yakni neraka yang apinya sangat panas (QS Al Qori’ah : 3-11). Pasti manusia akan bertanya kapan kiamat akan datang, Hanya Allah-lah yang mengetahui karena ilmu tentang kiamat hanya milik Allah, mungkin saja kiamat sudah sangat dekat (QS. Al Ahzab : 63).

يسئلك الناس عن الساعة قل انما علمها عند الله وما يدريك لعل الساعة تكون

قريبا (سورة : الاحزاب : 63)[170]

 Kepada Allah-lah ketentuan tentang kapan kiamat itu akan datang (QS. An Nazi’at : 44).

الى ربك منتهها (النازعات : 44)[171]

Oleh sebab itu manusia harus waspada dalam setiap aktivitas dan amal perbuatannya karena ada yang selalu mengawasi dan mencatat semuanya (Al Infithaar : 10-11). Sehingga jika seorang anak manusia merasakan hidupnya berada dalam penglihatan dan pengawasan Allah niscaya seluruh amal perbuatannya akan selalu baik dan terpelihara dengan tututan Al Quran da Al Hadits, bahwa ada kehidupan lagi setelah kehidupan dunia yang sementara, keyakinan akan adanya kehidupan yang abadi setelah kehidupan dunia akan memotivasi manusia untuk melakukan amal perbuatan yang dapat membawa kebahagiaan untuk kehidupan abadi tersebut.

Karena amal sekecil apapun pasti akan memperoleh balasannya, jika baik maka balasan Allah akan lebih baik lagi, namun jika jelek pasti juga akan dibalas dengan balasan yang setimpal meskipun sebesar dzarrah (QS. Az Zalzalah :7-8).

Oleh sebab itu semua masalah yang berkaitan dengan kehidupan setelah mati, surga neraka, kiamat, haruslah dilihat sumbernya di dalam Al Quran dan Sunnah, bukan melalui mitos, cerita dari mulut ke mulut yang tidak jelas sumbernya yang hanya akan membawa manusia kepada kesesatan dari jalan Allah jalan Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

B.  Metode Pendidikan Tauhid Dalam Keluarga

Metode mempunyai peran yang sangat penting dalam sebuah proses pendidikan Islam. Karena seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan sebagai materi pengajaran dari pendidik kepada peserta didik adalah melalui sebuah  metode. Ada sebuah adigum yang berbunyi :

الطريقة اهم من المادة

Bahwa metode itu lebih penting daripada materi. Merupakan sebuah realita bahwa metode penyampaian yang komunikatif akan lebih disenangi meskipun materi yang disampaikan biasa-biasa saja, jika dibandingkan dengan materi yang menarik tetapi metode yang disampaikan dengan tidak menarik maka materi tersebut tidak dapat diterima dengan baik pula oleh peserta didik. Sehingga penggunaan metode yang tepat sangat mempengaruhi keberhasilan dalam proses mendidik.[172]

Metode berasal dari bahasa Greek atau Yunani “metodos” , selanjutnya kata ini terdiri dari dua suku kata yakni “meta” yang artinya melalui atau melewati dan “hodos” yang memiliki makna jalan atau cara. Sehingga metode adalah jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.[173]

Para ahli pendidikan Islam lebih sering menggunakan kata الطريقة  atau الطرق   sebagai bentuk jamaknya. Memiliki makna yang sama dengan metode yakni jalan atau cara yang harus ditempuh. Metode merupakan hubungan sebab akibat dengan tujuan pendidikan, sehingga tidak dapat diabaikan. Karena rasul sudah memberikan isyarat dalam salah satu haditsnya :

لكل شيئ طريق وطريقة الجنة العلم (رواه الديلمي)

Artinya :  Bagi segala sesuatu itu ada caranya (metodenya) dan metode masuk surga adalah ilmu (HR. Dailami).[174]

Demikian pula dalam menyampaikan pendidikan tauhid dalam keluarga harus pula menggunakan metode atau cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua, dan dapat dengan mudah dikondisikan dalam lingkungan keluarga. Sehingga suasana dan lingkungan keluarga yang kondusif akan lebih membantu cara dan tehnik penyampaian pendidikan tauhid bagi anak-anak.

Maka yang dimaksud metode pendidikan tauhid dalam keluarga adalah cara yang dapat ditempuh dalam memudahkan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga. Metode-metode yang digunakan untuk pendidikan tauhid dalam keluarga antara lain :

  1. 1.      Kalimat tauhid

Dikatakan bahwa bayi yang baru lahir pendengarannya sudah berfungsi, sehingga ia akan langsung mengadakan reaksi terhadap suara. Telinga akan segera berfungsi segera setelah ia lahir,meskipun ada perbedaan antara bayi yang satu dengan yang lain. Lebih jauh lagi Wertheimer dapat membuktikan bahwa bayi juga akan memalingkan pandangannya ke arah suara yang ia dengar, setelah 10 menit ia dilahirkan. Gerakan ini disebut sebagai reaksi orientasi. Fungsi auditif bayi akan bereaksi terhadap irama dan lama waktu berlangsungnya.[175]

Maka sangat benarlah metode pendidikan yang diajarkan Rasulullah saw. untuk mengumandangkan adzan dan iqomat kepada bayi yang baru lahir. Adzan dan iqomat merupakan panggilan bagi seorang muslim untuk shalat sujud beribadah mengakui keesaan Allah, bertauhid bahwa Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah SWT.

Sehingga suara yang didengar oleh sang bayi adalah suara ketauhidan, telinganya yang akan bereaksi terhadap suara yang berirama, sehingga lembut dan merdunya kumandang adzan dan iqomah dapat dijadikan awal pendidikan untuknya. Inilah metode awal bagi orang tua untuk menanamkan ketauhidan kepada anaknya dengan kalimat yang sempurna kalimat Laa Ilaaha Illallah yang terdapat pada rangkaian adzan dan iqomat.

Sunnah Muakkad hukumnya untuk mengumandangkan azan dan iqomat kepada bayi yang baru lahir. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Hasan bin Ali r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “ Bagi setiap anak yang dilahirkan hendaknya diserukan suara adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kirinya. Maka ia tidak akan terkena bahaya penyakit”.[176]

Ibnu Qoyyim mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri jika adzan dan iqomah membawa pengaruh dan kesan dalam hati.[177]Mendidik anak dengan kalimat tauhid, yang akan mengikat jiwanya dan akan berpengaruh bagi perkembangan anak di masa yang akan datang. Sehingga diharapkan kepada setiap orang tua tidak melupakan metode ini ketika anak-anak mereka lahir.

  1. 2.      Keteladanan

Al Quran sebagai sumber pendidikan Islam, juga pendidikan tauhid dalam keluarga telah memberikan statemen tentang keteladanan sebanyak tiga kali yakni dalam surat Al Mumtahanah ayat  4, ayat 6, dan surat Al Ahzab ayat 21. Ibrahim dan Nabi Muhammad saw dijadikan sebagai profil keteladanan.[178]Keteladanan merupakan sesuatu yang patut untuk ditiru atau dijadikan contoh teladan dalam berbuat, bersikap dan berkepribadian.

Dalam bahasa Arab “keteladanan”  berasal dari kata “uswah” yang berarti pengobatan dan perbaikan. Menurut Al Ashfahani al uswah dan al iswah sama dengan kata al qudwah dan al qidwah merupakan sesuatu yang keadaan jika seseoarng mengikuti orang lain, berupa kebaikannya, kejelekannya, atau kemurtadannya. Pendapat ini senada dengan pendapat Ibn Zakaria.[179]

Namun dari ketiga ayat yang dijadikan sumber teori awal tentang keteladanan, al uswah selalu bergandengan dengan kata hasanah. Sehingga keteladanan yang dijadikan contoh ialah dalam hal kebaikan. Jika kita melihat sejarah, maka salah satu sebab utama keberhasilan dakwah Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad saw. adalah ketedanan mereka dalam memberikan pelajaran langsung kepada umatnya. Perkataan dan perbuatan selalu beriringan, bahkan Nabi Muhammad saw. lebih dahulu melakukan suatu perintah sebelum perintah tersebut ia sampaikan kepada kaum muslimin.

Di era yang modern ini, metode keteladanan masih sangat diperlukan dalam dunia pendidikan, terlebih lagi pendidikan dalam keluarga. Keteladanan akan memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi tercapainya tujuan pendidikan dalam keluarga, begitu pula dalam hal pendidikan tauhid. Orang tua merupakan contoh tauladan utama sebagai panutan bagi anak-anaknya, memegang teguh ketauhidan dan menjaganya, serta mengamalkan nilai-nilai ketauhidan dalam keluarga.

Allah telah berfirman :

اتأمرون الناس بالبر وتنسون انفسكم وانتم تتلون الكتب افلا تعقلون

(البقرة : 44)[180]

Artinya : Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakkan diri (kewajiban) sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir (QS. Al Baqarah : 44).

            Meskipun demikian metode keteladanan memiliki kelebihan. Di antara kelebihan metode keteladanan adalah :

  1. Anak akan lebih mudah menerapkan ilmu yang telah diketahui.
  2. Orang tua akan mudah mengevaluasi hasil belajar anaknya.
  3. Tujuan pendidikan akan lebih terarah dan tercapai dengan baik.
  4. Akan menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif.
  5. Terjalin hubungan harmonis antara anak dengan orang tua.
  6. Orang tua dapat menerapkan pengetahuannya kepada anak.
  7. Mendorong orang tua agar selalu berbuat baik karena akan dicontoh oleh anak-anaknya.[181]

Uyainah bin Abi Sufyan pernah berpesan kepada guru yang mendidik anaknya sebagai berikut:

“Hendaklah yang pertama-tama kamu lakukan di dalam memperbaiki anakku, adalah perbaiki dulu dirimu sendiri. Karena sesungguhnya mata anak-anak itu hanya tertuju kepadamu. Maka apa yang baik menurut mereka adalah apa yang kamu perbuat, dan apa yang jelek menurut mereka adalah apa yang kamu tinggalkan”.[182]

Pendidikan praktis menunjukkan bukti bahwa anak secara psikologis cenderung meneladani orang tuanya, karena adanya dorongan naluriah untuk meniru. Kualitas agama anak serta ketauhidannya sangat tergantung kepada orang yang terdekat dengan mereka yakni orang tua. Kepribadian anak akan terbentuk dan terpola dari teladan yang ia tiru sejak awal kehidupannya dalam keluarga. Islam telah memberikan contoh kepada para orang tua kepada sosok bernama Lukman Al Hakim, yang mengajarkan bagaimana seharusnya seorang ayah menuntun dan menanamkan ketauhidan kepada anak-anaknya, contoh ini tidak hanya melalui perintah tetapi keteladanan Lukman Al Hakim sendiri sebagai orang tua.[183]

Orang tua merupakan sentral figur bagi anak dalam keluarga, sehingga jika kita meminjam konsep yang ada dalam Quantum teaching disebutkan bahwa semuanya berbicara, semua yang dilakukan orang tua, bahkan mimik wajahpun semunya menyampaikan informasi bagi anak. Semuanya menjadi sumber anak untuk belajar, sehingga jiwa ketauhidan harus selalu terpancar dari setiap wajah orang tua. Kepribadian yang menunjukkan bahwa orang tua hanya takut dan tunduk kepada Allah SWT, muncul dalam setiap aktivitas yang ada dalam keluarga. Metode keteladanan merupakan satu tehnik pendidikan yang efektif dan sukses dalam pendidikan Islam.

Anwar Jundi menpernah menuliskan dalam sebuah kitabnya, agar para otang tua dan guru agar memberikan tauladan yang baik kepada anak-anak. Sebab melalui cara ikut-ikutan dan menirulah anak kecil belajar, dibandingkan dengan nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk melalui lisan.[184]

Nashih Ulwan menegaskan bahwa keteladanan merupakan tiang penyangga dalam meluruskan perilaku anak, juga sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas anak menuju pribadi yang mulia.[185]Sebenarnya metode keteladanan ini tidak dapat dilepaskan dari metode pembiasaan sebagai dua metode yang sinergis, insyaallah metode ini akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Salah tauladan dalam keluarga akan berakibat fatal, oleh sebab itu para orang tua haruslah mempersiapkan diri mereka sebelum memiliki anak dengan ketauhidan yang didukung dengan pengetahuan tentang tauhid yang melingkupi materi dan ruang lingkupnya. Sehingga melalui tauladanisasi para orang tua insyaallah akan melahirkan generasi-generasi muslim yang sejati dengan kepribadian tauhid yang mantap.

Islam telah memberikan contoh kepada kita semua seorang figur yang memiliki akhlak yang sempurna. Ketauhidan beliau sangat mantap, sehingga andaikata bulan dan matahari diletakkan dipangkuannya ia tidak akan melepas ketauhidannya kepada Allah SWT, ialah Nabi Muhammad saw.  Sehingga bagi para orang tua tidak hanya cukup menjadikan dirinya sebagi teladan anak-anaknya, namun juga harus mengarahkan dirinya serta anak-anaknya untuk meneladani keteladanan Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat beliau yang memiliki kepribadian tauhid yang mantap dan sudah terbukti.

  1. 3.      Pembiasaan.

Pembiasaan adalah proses untuk membuat orang menjadi biasa. Jika dikaitkan dengan metode pendidikan Islam maka metode pembiasaan merupakan cara yang dapat digunakan untuk membiasakan anak berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan ajaran agama Islam. Metode ini sangat efektif untuk anak-anak, karena daya rekam dan ingatan anak yang masih kuat sehingga pendidikan penanaman nilai moral, terutama ketauhidan ke dalam jiwanya sangat efektif  untuk dilakukan. Potensi dasar yang dimiliki anak serta adanya potensi lingkungan untuk membentuk dan mengembangkan potensi dasar tersebut melalui pembiasan-pembiasan agar potensi dasar anak menuju kepada tujuan pendidikan Islam, hal ini tentunya memerlukan proses serta waktu yang panjang.[186]

Kebiasaan seseorang, jika dilihat dari ilmu psikologi ternyata berkaitan erat dengan orang yang ia jadikan figur dan panutan.[187]Nashih Ulwan menjelaskan bahwa landasan awal dalam metode pembiasaan adalah “fitrah” atau potensi yang dimiliki oleh setiap anak yang baru lahir, yang diistilahkan oleh beliau dengan “keadaan suci dan bertauhid murni”. Sehingga dengan pembiasaan diharapkan dapat berperan untuk menggiring anak kembali kepada tauhid yang murni tersebut.[188]

Pendapat Imam Ghazali yang dikutip oleh Nashih Ulwan menjelaskan bahwa bayi mempunyai hati yang bersih dan suci, ia merupakan amanat bagi para orang tuanya. Oleh sebab itu hati yang bersih dan suci tersebut harus selalu dibiasakan dengan kebiasaan yang baik, sehingga ia akan tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, Sehingga diharapkan kelak akan memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat.[189]

Ada beberapa syarat yang harus dilakukan untuk menerapkan metode pembiasan ini antara lain :

  1. Proses pembiasan dimulai sejak anak masih bayi, karena kemampuannya untuk mengingat dan merekam sangat baik. Sehingga pengaruh lingkungan keluarga secara langsung akan membentuk kepribadiannya. Baik ataupun buruk kebiasannya akan muncul sesuai dengan kebiasan yang berlangsung di dalam lingkungannya.
  2. Metode ini harus dilakukan secara terus menerus dan tidak terputus, teratur dan terencana. Oleh sebab itu faktor pengawasan sangat menentukan. Dengan demikian diharapkan pada akhirnya anak akan terbentuk dengan kebiasaan yang utuh, permanen dan konsisten.
  3. Meningkatkan pengawasan, serta melakukan teguran ketika anak melanggar kebiasaan yang telah ditanamkan.
  4. Pembiasan akan terus berproses, sehingga pada akhirnya anak melakukan semua kebiasaan tanpa adanya dorongan orang tuanya baik ucapan maupun pengawasan. Namun akan melakukannya karena dorongan dan keinginan dari dalam dirinya sendiri.[190]

Dr. Ahmad Amin menulis dalam kitabnya “Kitabul Akhlak” beliau mengatakan bahwa metode pembiasaan ini sangat penting karena seluruh aktivitas manusia terbentuk karena latihan dan pembiasaan. Lebih jauh lagi menurut beliau ada dua hal yang menyangkut kebiasaan baik dan buruk yakni :

  1. Faktor interen dengan adanya minat, yakni dorongan yang berasal dari dalam diri manusia yang cenderung untuk melakukan aktivitas tertentu.
  2. Faktor eksteren yakni adanya usaha agar anak cenderung melakukan kebiasaan-kebiasaan melalui latihan-latihan.[191]

Begitu pula dalam pendidikan tauhid dalam keluarga dapat dilakukan dengan pembiasaan atau latihan-latihan agar nilai-nilai ketauhidan tertanam dalam diri anak. Meskipun tidak dapat dipungkiri pendidikan tauhid sangat membutuhkan dan berkaitan erat dengan materi-materi pendidikan lain seperti akhlak, fiqih, dan sebagainya. Namun bagaimana seluruh materi pelajaran tersebut dapat mendukung kepada pendidikan tauhid sebab tauhidlah sebagai dasar dari seluruh materi tersebut.

Ketauhidan anak akan tumbuh melalui latihan-latihan dan pembiasaan yang diterimanya. Biasanya konsepsi-konsepsi yang nyata, tentang Tuhan, malaikat, jin, surga, neraka, bentuk dan gambarannya berdasarkan informasi yang pernah ia dengar dan dilihatnya.[192]

Di antara pembiasan-pembiasan yang dapat dilakukan sebagai latihan untuk menyampaikan materi-materi ketauhidan dalam keluarga ialah :

1)  Latihan Kalimat Tauhid.

Metode ini berkaitan dengan metode pertama yakni kalimat tauhid, perbedaannya adalah bahwa metode pertama hanyalah memperdengarkan kalimat tauhid yang ada dalam rangkaian adzan dan iqomah kepada bayi yang baru lahir. Selanjutnya didukung oleh keteladanan orang tua dengan selalu memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid kepada anak di setiap ada kesempatan dan waktu yang cocok, sehingga anak tidak lagi asing mendengar kalimat tauhid meskipun anak belum bisa mengucapkannya.

Setelah membuka pengetahuan pendengaran anak dengan kalimat tauhid maka langkah selanjutnya ialah mengajak anak untuk mengucapkannya, manfaat lain ialah sebagai pendidikan anak untuk mengenalkan kata-kata yang baik sebagai awal alat untuk berkomunikasi. Karena bahasa merupakan kemampuan yang terus berkembang seiring dengan informasi yang diperoleh sang bayi/anak.

Bayi memerlukan dorongan atau keinginan untuk berkomunikasi. Artinya anak harus memiliki kemauan atau keinginan untuk berbicara. Ketika mengeluarkan suara-suara ia merasa senang. Dari situ bayi akan merasakan bahwa berceloteh itu sangat menyenangkan dan tentu saja ia ingin mengulanginya lagi.[193]

Melalui bahasalah anak-anak mengenal Tuhan, mulai umur 3 tahun dan 4 tahun anak sering mempertanyakan tentang Tuhan. Kata-kata dan sikap orang tuanya tentang Tuhan akan direkam dan mulai menarik perhatiannya. Kata Allah pada awalnya tidak mempunyai arti, namun dari apa yang ia lhat dari orang tuanya anak mulai memahami siapa Allah. Selanjutnya semakin banyak inforamsi yang ia peroleh dari orang tuanya akan membentuk sikapnya tentang Tuhan.[194]

Mungkin awalnya bayi hanya bisa menangis dan kita mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallah, ada apa sayang?, mungkin anak belum tahu apa maksudnya namun anak sudah menangkap dan ingin mengucapkannya namun belum bisa, sehingga kita perlu terus menerus mengulangi kata-kata tersebut. Kalimat-kalimat tauhid kita rangkaian dengan teguran manis dan sapaan, sehingga

anak akan termotivasi untuk ikut mengucapkannya.

Ada beberapa prinsip kebaikan yang perlu diajarkan dan dibiasakan kepada anak-anak oleh para orang tua yang ditawarkan oleh Nashih Ulwan. Urutan pertama yang ditawarkannya ialah agar para orang tua mengajarkan dan melatih anak-anaknya kalimat “Laa ilaaha illallah” (Tidak ada Tuhan selain Allah). Sabda Rasul yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Ibnu Abbas yang maknanya agar setiap anak diawali dengan kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah”.[195]

Kalau kalimat tauhid terus menerus dan berulang kali didengar maka anak akan mencoba mengucapkannya meskipun belum sempurna pengucapannya dan mengerti maknanya. Setelah anak cukup besar dan mampu mengucapkannya dengan sempurna, maka tidak akan sulit lagi untuk mengajarkannya kepadanya tentang arti dan maksudnya. Untuk membantu pemahaman anak dapat dibantu dengan fenomena dan benda-benda yang ada disekitarnya yang langsung dilihat atau diperlihatkan. Seperti bunga, langit, bintang, binatang-binatang, bahwa semuanya termasuk dirinya adalah ciptaan Allah SWT. Dengan demikian akal pikirannya akan merekam dan mulailah tertanam ketauhidan di dalam jiwanya bahwa semua yang ada merupakan bukti akan keberadaan Allah.

2)  Latihan Beribadah

Ibadah merupakan kebutuhan setiap muslim, sehingga dengan ibadah pun kita dapat mendidik dan menanamkan ketauhidan anak. Secara umum seluruh kegiatan yang bertujuan mencari ridho Allah adalah ibadah. Namun sebelum kita memperkenalkan terlalu jauh akan apa itu ibadah, kita harus mengajarkan ibadah-ibadah yang pokok dahulu kepada anak. Salah satu ibadah pokok yang kita lakukan adalah shalat.

Melibatkan si kecil beribadah adalah sangat penting, kita harus mendidik anak bahwa ketika datangnya waktu shalat, anak tidak boleh rewel, anak dapat merasakan kegembiraan orang tuanya untuk menegakkan shalat. Mungkin anak akan rewel ketika ditinggal orang tuanya shalat karena tidak ada yang memperhatikannya, ia akan merasa dicuekin. Metode yang digunakan adalah ketika orang tua berwudhu, anak juga dibasuh wajah, tangan, kakinya. Jika anak tidak tidur maka anak dapat digendong ketika shalat, orang tua membaca dengan keras agar anak mendengarnya. Kalau kita membiarkan si kecil menangis sendirian dan kita cuek menunaikan shalat maka akan tertanam ketidak sukaan si kecil terhadap suasana ketika datangnya waktu shalat, sebab ia akan sendirian dan dicuekin.[196]Oleh sebab itu sangat baik mengajak anak ikut serta dalam shalat. Jika hal ini secara kontinyu dilakukan maka anak akan tahu bahwa waktu shalat telah tiba dengan terdengarnya suara adzan. Orang tua dapat mencoba menidurkan anak ketika hendak shalat, tetapi jika anak tidak tidur, maka dengan berbasah basi untuk mengajak anak ikut serta. Anak akan terbiasa bahwa ketika shalat wajah, tangan, dan kakinya akan dibasuh meskipun ia belum tahu apa maksud dan tujuannya. Ibunya akan memakai pakaian khusus.

Seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan anak maka orang tua dapat dengan mudah mengajarkan ibadah shalat dan wudhu karena anak telah terbiasa dengan rutinitas shalat dan wudhu sejak ia kecil bersama orang tuanya. Orang tua tinggal menyempurnakannya dengan gerakan, bacaan, maksud, dan tujuan dari pada shalat. Juga tentunya mengajarkan wudhu pula yang sempurna. Jadi mendidik anak bukan hanya dengan teori saja tetapi langsung anak dan orang tua mempraktekkan aktivitas ibadah.

Setelah anak berusia tujuh tahun, merupakan kewajiban bagi orang tua memerintahkan anaknya untuk menunaikan shalat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah :

مروا اولادكم بالصلاة وهم ابناء سبع سنين واضربوهم عليها وهم ابناء

عشرين سنين …(رواه الحاكم وابو داود )

Artinya :     Perintahlah anak-anakmu untuk melaksanakan shalat ketika usia mereka sudah mencapai tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau melaksanakan shalat) ketika sudah berusia 10 tahun.

Namun sangat baik jika pendidikan shalat diawali sejak bayi karena ia akan terus berproses dan semakin lama anak akan tahu makna shalat serta fungsinya, sehingga ia akan mengerjakannya dengan kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Dengan demikian anak akan berlatih untuk mencintai ibadah. Meskipun demikian orang tua harus memberikan penjelasan maksud dan tujuan dari shalat dan ibadah-ibadah yang lain.

Selain shalat ada baiknya setiap kegiatan ibadah, seperti puasa, dan ibadah yang lain anak sangat baik diikutsertakan. Sehingga melalui interaksi dan komunikasi yang baik akan terjalin ikatan yang erat antara orang tua-anak. Terjalinnya hubungan yang harmonis antara anak-anak dengan orang tuanya akan memudahkan pendidikan ketauhidan tahap selanjutnya karena kepercayaan dan keyakinan para anak terhadap orang tuanya. Waktu setelah shalat dapat dimanfaatkan orang tua untuk mendidik anak dengan metode nasehat yakni melalui dialog dan cerita-cerita yang insyaallah akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

3)  Latihan  Berdoa Di setiap Aktivitas.

Metode pembiasaan bertujuan mengembangkan potensi dan kemampuan daya tangkap dan daya ingat anak yang masih kuat, sehingga semua yang didengar dan dilihat dapat direkam untuk selanjutnya dipraktekkan anak berupa ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu diperlukan kesabaran dan ketekunan orang tua untuk terus mengulang-ulang ucapan atau perbuatan baik ketika ucapan dan perbuatannya didengar atau dilihat oleh anaknya.

Pada masa perkembangan pertama yakni antara 0-2 tahun, anak dapat dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan seperti membaca bismillah ketika mau makan dan minum, dan membaca alhamdulillah ketika selesai atau ketika diberi sesuatu oleh orang lain. Meskipun kata yang diucapkan belum sempurna, bismillah diucapkan anak milah atau alhamdulillah dengan duilah.[197]

Latihan ini pada awalnya harus dimulai oleh orang tua setiap akan melakukan aktivitas. Sebelum orang tua melatih anaknya, maka ia harus melatih dan membiasakan dirinya mengucapkan doa atau kalimat-kalimat toyyibah. Ketika bersin mengucapkan alhamduulillah, ada yang jatuh atau menguap mengucapkan astaghfirullah. Metode ini mengharuskan orang tua untuk menghafal doa sehari-hari dan membiasakan diri mengamalkannya. Sehingga sejak bayi anak terbiasa mendengar dan diperdengarkan doa-doa dan kalimat-kalimat toyyibah, sehingga ketika kemampuan bahasa anak berkembang ia akan mencoba mengucapkannya. Ketika anak sudah dapat mengucapkannya dengan sempurna, tinggal orang tua memberikan penjelasan tentang maksud dan makna doa-doa dan kalimat toyyibah yang selama ini dilatih dan dibiasakan kepadanya.

Doa merupakan landasan dan pegangan setiap muslim ketika akan beraktivitas, dengan tujuan menyerahkan dirinya dan hasil dari aktivitas tersebut kepada Allah SWT, dan tujuan akhir yang ingin diperoleh ialah ridho Allah SWT. Melalui doa akan mengajarkan kepada anak bahwa dirinya selalu berada dalam kondisi lemah sehingga memerlukan bantuan dan pertolongan kepada yang Maha Kuasa. Melalui doa, juga anak akan merasa dirinya selalu dalam pengawasan Allah SWT, sehingga akan mengarahkan dirinya kepada hal-hal yang baik serta menghindarkan dirinya dari hal-hal yang dibenci dan dilarang Allah SWT. latihan dan membiasakan diri berdoa merupakan sarana untuk menguatkan dan mengokohkan ketauhidan dalam diri anak.

Jika jiwa anak selalu berzikir kepada Allah hatinya akan kokoh dan dekat kepada-Nya. Anak akan menjadi ahli ibadah, berakhlak mulia, terhindar dari perbuatan maksiat, lebih-lebih dari dosa dan kemungkaran. Ini adalah harapan para orang tua, yakni memperoleh anak yang penuh ketauhidan dan ketakwaan.[198]

  1. 4.      Nasehat.

Seluruh metode pendidikan tauhid dalam keluarga yang penyusun jelaskan, semuanya saling berkaitan dan saling mendukung. Sehingga dalam mendidik ketauhidan anak tidak hanya menggunakan satu metode saja, namun harus menggunakan metode-metode yang lain, seperti metode kalimat tauhid; metode keteladanan; metode pembiasaan, dan sekarang metode nasehat. Metode-metode inipun, seperti yang sudah penyusun sampaikan membutuhkan materi-materi lain di luar materi ketauhidan.

Salah satu potensi yang ada di dalam jiwa manusia adalah potensi untuk dapat dipengaruhi dengan suara yang didengar atau sengaja diperdengarkan. Potensi ini tidak sama dalam diri seseorang, serta tidak tetap. Sehingga untuk dapat terpengaruh secara, suara yang didengar atau diperdengarkan haruslah diulang terus. Permanen atau tidak pengaruh yang dihasilkan tergantung kepada intensitas dan banyaknya pengulangan suara yang dilakukan.  Nasehat yang dapat melekat dalam diri anak jika diulang secara terus menerus. Namun nasehat saja tidaklah cukup ia harus didukung oleh keteladanan yang baik dari orang yang memberi nasehat. Jika orang tua mampu menjadi teladan maka nasehat yang ia sampaikan akan sangat berpengaruh terhadap jiwa anak.[199]

Nasehat merupakan aspek dari teori-teori yang disampaikan orang tua kepada anak. Metode ini memiliki peran sebagai sarana untuk menjelaskan tentang semua hakekat.[200] Termasuk dalam menyampaikan dan menjelaskan materi-materi pendidikan tauhid adalam keluarga. Sehingga orang tua dituntut memiliki kemampuan bahasa yang baik agar anak dapat menangkap dan memahami semua penjelasan yang disampaikannya.

Nasehat ini harus dimulai juga sejak anak masih kecil, selain sebagai sarana pendidikan tauhid juga sebagai dorongan dan motivasi anak untuk belajar berbicara. Kemampuan bahasa anak akan diiringi oleh kemampuan otaknya juga. Maksudnya ketika ia mendengarkan sebuah nasehat ia akan merekam setiap kosa kata yang ia dengar dalam memorinya, serta akalnya juga mencoba memahami setiap kosa kata sampai kalimat yang ia dengar. Oleh karena itu bahasa yang digunakan orang tua haruslah sederhana dan jelas.

Nasehat dapat diberikan di setiap waktu jika ada kesempatan. Nasehat dapat juga berbentuk cerita, atau dialog untuk anak yang sudah bisa berbicara. Orang tua harus menerangkan tentang kalimat tauhid, tentang adanya Allah serta bukti kauniahnya, serta materi-materi lain yang telah penyusun terangkan pada bab sebelumnya.

Dalam memberikan nasehat orang tua janganlah bersifat otoriter terhadap pembicaraan, anak harus benar-benar dilibatkan dalam berbicara. Berilah anak kesempatan untuk berbicara, bahkan tanggapannya atau ada sesuatu yang ia tanyakan. Metode ini jangan dibuat kaku oleh orang tua, jika anak bertanya atau memberikan tanggapan tidak sesuai dengan materi yang dijelaskan orang tua harus berbesar hati, jangan sampai melihatkan wajah kekecewaan. Bahkan sebaliknya, orang tua harus memberikan penghargaan terhadap apapun respon dan reaksi yang diberikan anaknay terhadap nasehat-nasehatnya. Agar anak merasa enak dan nyaman dalam belajar.

Jika kita menggunakan asas yang ada dalam Quantum Teaching  yakni

“Bawalah Dunia Mereka Ke Dunia Kita , dan Antarkan Dunia Kita Ke Dunia Mereka”, inilah asas dalam tehnik mengajar Quantum Teaching.[201] Orang tua harus mampu masuk ke dunia anak-anaknya, apa keinginan mereka. Ilmu psikologi akan sangat membantu orang tua, sehingga orang tua mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Orang tua harus mendapatkan hak untuk mendidik dari anak-anaknya. Jika keteladanan orang tua baik niscaya hak mendidik akan diberikan oleh anak-anaknya. Orang tua harus berusaha mendapatkan haknya untuk mendidik, sehingga harus berjuang menjadi teladan terbaik untuk anak-anaknya. Setelah orang tua berhasil masuk ke dunia anak-anaknya, maka ia akan memperoleh hak untuk memimpin, hak untuk mendidik. Langkah selanjutnya ialah membawa dunia kita ke dunia mereka, caranya ialah berusaha memberikan pengalaman setiap materi nasehat yang diberikan. Tehnik yang dipakai ialah dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan suatu peristiwa atau kejadian.

Orang tua dapat memanfaatkan media pendidikan yang telah ada seperti buku-buku cerita para rasul atau cerita-cerita teladan. Vcd-vcd yang memuat cerita para rasul juga dapat dimanfaatkan. Sehingga pendidikan nasehat yang disampaikan meliputi seluruh potensi yang dimiliki anak mulai pendengaran dan penglihatan. Metode ini akan lebih berhasil jika anak memperoleh pengalaman sendiri. Oleh sebab itu memerlukan latihan-latihan agar menjadi kebiasaan.

Orang tua harus menjadi jendela informasi anak-anaknya. Sehingga dibutuhkan pengetahuan dan wawasan yang luas agar dapat memberikan informasi secara baik dan benar. Kemampuan yang terintegral sangat diperlukan untuk menjadi orang tua yang menjadi top figur dan teladan anak-anaknya.

Metode ini digunakan untukmenyampaiakn materi-materi ketauhidan ilahiyat, nubuwat, ruhaniyat, dan sam’iyat. Metode ini dapat dikembangkan dengan tehnik cerita, dongeng, atau dialog. Metode ini diterapkan untuk anak berusia 3 tahun ke atas, karena pada usia ini anak sudah dapat diajak dialog dan memiliki ketertarikan, termasuk kepada materi-materi ketauhidan, Namun harus tetap dikemas dalam bentuk yang menarik perhatian anak tentunya.

  1. 5.      Pengawasan.

Nashih Ulwan menjelaskan bahwa dalam membentuk akidah anak memerlukan pengawasan, sehingga keadaan anak selalu terpantau. Secara universal prisip-prinsip Islam mengajarkan kepada orang tua untuk selalu mengawasi dan mengontrol anak-anaknya. Hal ini dilandaskan pada nash Al Quran dalam surat At-Tahrim ayat 6. Fungsi seorang pendidik harus mampu melindungi diri, keluarga dan anak-anaknya dari ancaman api neraka. Fungsi tersebut dapat dilaksanakan dengan baik jika pendidik melakukan tiga hal yakni memerintahkan, mencegah dan mengawasi.[202] Bukan anak-anaknya saja yang ia awasi tetapi juga dirinya agar tidak melakukan kesalahan yang menyebabkan dirinya terancam api neraka. Bagaimana ia melindungi keluarganya dari api neraka jika ia tidak mampu menjaga dirinya sendiri!.

Maksud dari pengawasan ialah orang tua memberikan teguran jika anaknya melakukan kesalahan atau perbuatan yang dapat mengarahkannya kepada pengingkaran ketauhidan. Pengawasan juga bermakna bahwa orang tua siap memberikan bantuan jika anak memerlukan penjelasan serta bantuan untuk memahami dan melatih dirinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang diajarkan kepadanya.

Metode ini dipakai orang tua untuk anak tanpa ada batasan usia. Metode-metode yang telah dijelaskan di atas harus ber- تدرج, yakni bertahap sesuai dengan usia anak, dan materi yang akan disampaikan. Faktor lain yang yang penting ialah bahwa semua metode tersebut saling terkait dan saling membantu, dan pendidikan tauhid juga sebagai sebuah proses. Oleh sebab itu hasil dari pendidikan tauhid dalam keluarga tidak dapat dilihat langsung hasilnya. Namun berkembang secara terus menerus sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendidikan tauhid dalam keluarga harus dilakukan secara terus menerus dan tidak terputus. Para orang tua tidak boleh putus asa dan menyerah, apalagi sampai menghentikan pendidikan ini. Jika berhenti maka prosespun akan berhenti. Mengutip penjelasan Muhammad Zein, bahwa orang tua harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pendidikan tauhid anak. Rasa tanggungjawab akan menjadi motor penggerak untuk memperhatikan dan memikirkan pendidikan tauhid untuk anak-anaknya.[203]

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

            Setelah melakukan penelitian akhirnya mendapatkan hasil sebagaimana diuraikan dalam kesimpulan berikut.

  1. A.     Kesimpulan

1.  Urgensi pendidikan tauhid dalam keluarga, dapat diukur dengan melihat dasar, tujuan, dan fungsinya.

            Dasar pendidikan tauhid dalam keluarga adalah Al quran dan Al Hadits, di antaranya :

  1. Dari Al Quran :

1) Surat At Tahrim ayat 6.

2) Surat Luqman ayat 13.

3) Surat Al Baqarah ayat 132-133.

  1. Dari hadis :

مامن مولود الا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه

 (رواه البخاري)

Artinya :  Tidak seorang anakpun yang dilahirkan kecuali ia dilahirkan menetapi fitroh, Maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi.(HR. Bukhori).

                  Sedangkan tujuan pendidikan tauhid dalam keluarga adalah :

  1. Agar menanamkan kesadaran kepada anak untuk bersyahadat berdasarkan dorongan dalam dirinya sendiri.
  2. Pembentukan sikap muslim yang beriman dan bertakwa.
  3. Agar anak mengetahui makna dan tujuan beribadah kepada Allah.
  4. Mengarahkan perkembangan keagamaan anak.
  5. Agar anak selalu berpikirdan berperilaku positif

      Fungsi Pendidikan tauhid dalam keluarga di antaranya adalah :

  1. Untuk memberikan ketentraman dalam hati anak.
  2. Untuk menyelamatkan anak dari dari kesesatan dan kemusyrikan.
  3. Agar anak dapat beribadah kepada Allah secara ikhlas.
  4. Agar anak dapat mengetahui makna dan maksud beribadah kepada Allah.
  5. Agar anak dapat menjauhi hal-hal yang dilarang Allah seperti syirik dan semua hal yang dapat menghancurkan ketauhidan.
  6. Membentuk perilaku dan kepribadian anak, sehingga menjadikan tauhid sebagai falsafah dalam kehidupannya.

2.   Konsep pendidikan tauhid dalam keluarga yang dimaksud dalam skripsi ini adalah kerangka konseptual yang berisi ide, gambaran, pengertian, serta pemikiran tentang materi dan metode pendidikan tauhid dalam keluarga yang dapat diterapkan oleh para orang tua untuk menumbuhkan kodrat anak. Agar mereka menjadi manusia muslim yang benar-benar meyakini keesaan Allah SWT, serta dapat mengamalkan ketauhidan yang ia miliki dalam rangka mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

      Materi pendidikan tauhid dalam keluarga ada empat  yakni :

  1. Ilahiyat..
  2. Nubuwat.
  3. Ruhaniyat.
  4. Sam’iyyat.

      Metode Pendidikan tauhid dalam keluarga adalah :

  1. Kalimat tauhid
  2. Keteladanan
  3. Pembiasaan
    1. Latihan kalimat tauhid
    2. Latihan beribadah.
    3. Latihan berdoa di setiap aktivitas.

4.   Nasehat.

  1. Pengawasan.

Metode yang digunakan selain berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan materi pendidikan tauhid juga membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Metode kalimat tauhid sebagai contoh, digunakan untuk menanamkan ketauhidan anak serta untuk mengawali getaran-getaran perdana pada auditif anak yang telah berfungsi sesaat setelah dilahirkan. Kemudian metode keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat dan terakhir metode pengawasan. Secara garis besar metode  tersebut terbagi dua yakni metode teoritis dan praktis.

Pendidikan tauhid dalam keluarga menuntut kemampuan pengetahuan dan wawasan orang tua yang luas. Karena orang tualah sebagai pendidik utama dalam konsep ini. Orang tua harus memiliki pengetahuan Islam yang terintegral untuk melaksanakan konsep pendidikan tauhid dalam keluarganya, selain penguasaan terhadap materi-materi ketauhidan dan metodenya.Selain itu metode yang digunakan harus bertahap, sehingga sesuai antara metode, materi, dan kemampuan anak.

Pendidikan tauhid dalam keluarga menempati posisi terpenting dalam pendidikan keluarga sebagai landasan dan tujuan dari pendidikan lain yang terintegral di dalamnya. Seperti pendidikan akhlak dan pendidikan ibadah. Pendidikan tauhid sebagai ruh dari pendidikan-pendidikan lain, namun pendidikan tauhid memerlukan bantuan materi-materi pendidikan lain untuk mengantarkan ruh dan tujuan tauhid. Sehingga anak akan melakukan seluruh aktivitas kehidupannya dengan landasan ketauhidan yang mantap.

  1. B.     Saran-Saran

            Dari kesimpulan di atas dapat ditarik sebuah implikasi, bahwa :

1. Konsep pendidikan tauhid dalam keluarga dalam perspektif pendidikan Islam ternyata membutuhkan sosok orang tua ideal. Orang tua merupakan top figur dalam keluarganya, yang berperan sebagai orang tua sekaligus pendidik anak-anaknya. Oleh sebab itu ada beberapa hal yang harus ada dalam diri orang tua sebagai pelaksana utama konsep pendidikan tauhid dalam keluarganya :

  1. Mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya.
  2. Memiliki pengetahuan Islam secara integral yang meliputi materi ketauhidan, akhlak dan ibadah.
  3. Memiliki wawasan tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
  4. Memiliki wawasan tentang metode-metode pendidikan/pengajaran.
  5. Karena sulitnya untuk menjadi orang tua ideal diharapkan kepada lembaga perkawinan memberikan pendidikan atau pembekalan kepada setiap calon orang tua yang akan menikah. Lembaga perkawinan (KUA) harus memberikan gambaran tentang tanggungjawab orang tua terutama dalam mendidik anak-anaknya, karena anak-anak mereka adalah penerus kehidupan bagi bangsa dan agama. Terutama pendidikan tauhid setiap calon orang tua, meskipun selama ini telah ada pembekalan bagi setiap calon pengantin yang akan menikah namun hanya sebatas formalitas saja.
  6. Kepada rekan-rekan mahasiswa masih banyak peluang untuk meneliti kembali masalah pendidikan tauhid dalam keluarga, karena yang dibahas dalam skripsi ini masih pada materi dan metode. Masih banyak masalah-masalah lain yang belum dan perlu dibahas, seperti strateginya, dan lain sebagainya.

 

C.  Kata Penutup

Sebagai kata penutup, penyusun ingin mengucapkan alhamdulillah kehadirat Allah, yang telah memberikan semangat kepada penyusun untuk menyelesaikan skripsi ini, juga kepada pembimbing yang selalu memberikan dorongan dan motivasi.

      Namun demikian penyusun sangat menyadari bahwa skripsi ini masih memerlukan masukan dan kritikan. Semoga apa yang penyusun tulis dalam skripsi ini bermanfaat, khususnya bagi para orang tua. Marilah bersama-sama kita bentuk keluarga-keluarga muslim yang bertauhid, sebagai modal untuk membagun bangsa Indonesia tercinta.

                                       Yogyakarta, 21 Desember 2004

                                                               Sucipto.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku, Kamus, Ensiklopedi, dan Skripsi.

Abdullah, Abdurrahman, Aktualisasi Konssep Dasar Pendidikan Islam, Rekonstruksi Pemikiran Dalam Tinjauan Filosofis Pendidikan Islam. UII Press. Yogyakarta, 2002.

Al-Bustani, Fuad Iqrami, Munjid Ath-Thullab, Dar Al-Masyriqi, Beirut, 1986.

Al Faruqi, Isma’il Raji, Tauhid, Terjemahan Rahmani Astuti, Pustaka, Bandung, 1988.

Al Hasan, Yusuf Muhammad, Pendidikan Anak Dalam Islam, Terjemahan Muhammad Yusuf Harun, Yayasan Al Sofwa, Jakarta, 1997.

Al Quran Al Karim, S.P. Diponegoro, Bandung, t.t.

Arif, Armai, Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam. Ciputat Pers, Jakarta, 2002.

Asmuni, Yusron, Ilmu Tauhid, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1993.

Basmalah, Yahya Saleh, Manusia Dan Alam Gaib, Terjemahan Ahmad Rais Sinar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

Bastian, Aulia Reza, Reformasi Pendidikan, Lappera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002.

Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970.

Dawud, Muhammad Isa, Dialog Dengan Jin Muslim, Terjemahan: Afif Muhammad dan H. Abdul Adhiem, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997.

DEPAG RI, Al Quran  Dan Terjemahannya, Komplek Percetakan Al Quran Al Quran, Khadim ak Haramain asy Syarifain Raja Fahd, Madinah , t.t.

Deporter, Bobbi., Reardon, Mark., Nourie, Sarah Singer., Quantum Teaching : Mempraktikkan Quantum Learning Di Ruang-Ruang Kelas. terjemahan Ary Nilandari,Kaifa, Bandung, 2001,

Dinas P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2003.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I. Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1984.

Harini, Sri, dan Al-Halwani, Aba Firdaus, Mendidik Anak Sejak Dini. Kreasi Wacana,Yogyakarta, 2003.

Hasyim, Umar, Anak Saleh 2 : Cara Mendidik Anak Dalam Islam, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1983.

Hunainin, Pendidikan Keimanan Bagi Anak Menurut Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan, Dalam Kitab Tarbiyah Al-Aulad Fi Al Islam : Tujuan , Materi, Dan Metode, Skripsi Sarjana Pendidikan Islam Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Ihsan, Hamdani dan Hasan, A. Fuad, Filsafat Pendidikan Islam. Pustaka Setia, Bandung, 1998.

Ilyas, Yunahar, Kuliah Aqidah Islam. LPPI, Yogyakarta, 1995.

Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001,

                 , Teologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

Jalaluddin, dan Said, Usman, Filsafat Pendidikan Islam : Konsep Dan Perkembangan Pemikirannya, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994.

Karsana, Konsep Pendidikan Jasmani Dalam Pendidikan Islam.Skripsi Sarjana Pendidikan Islam, Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kayati, Yuni Nur, Anakku Sayang Ibumu Ingin Bicara, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1999.

Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, 1979.

Kuswandi, Wawan, Komunikasi Massa, sebuah Analisa Media Televisi. Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin Dan Peradaban, Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, 2000.

Mahmud, Ali Abdul Halim, Karakteristik Umat Terbaik Telaah Manhaj, Akidah, Serta Harakah, Gema Insani Press, Jakarta, 1996.

Mas’ud, Jubaran, Raid Ath-Thullab, Dar Al-‘ilmi Lilmalayyini, Beirut, 1967.

Ma’arif, A. Syafi’I, Pendidikan Islam Di Indonesia Antara Cita Dan Fakta, Tiara Wacana, Yogykarta, 1991.

Monks, F.J (et al), Psikologi Prekembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2001.

Muhaimin dan Mujib, Abdul, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis Dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Trigenda Karya, Bandung, 1993.

Muhsin, Abdullah bin Abdul, Kajian Komprehensif Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1995.

Mulkhan, Abdul Munir, Paradigma Intelektual Muslim Pengantar Filsafat Pendidikan  Islam Dan Dakwah, SI Press, Yogyakarta, 1993.

Nasution, S., dan Thomas, M., Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi, Disertasi, Makalah,. Bumi Aksara, Jakarta, 1996.

Nawawi, Syeikh muhammad, Fath Al Majid. Dar Ihy’ al Kutub al ‘Arabiyah, t.k., t.t.

Olgar, Maulana Musa Ahmad, Mendidik Anak Secara Islami, Terjemahan Supriyanto Abdullah Hidayat, Ash-Shaff, Yogyakarta, 2000.

Partanto, Pius A. dan Al Barry, M.Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Arkola,Surabaya, 1994.

Rahmat, Jalaludidin (ed), Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994.

Rasyid, Daud Rasyid, Islam Dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press, Jakarta, 2000.

Sabiq, Sayid, Aqidah Islam : Pola Hidup Manusia Beriman, Terjemahan Moh. Abdai Rathomy, Diponegoro, Bandung, t.t.

Santhut, Khatib Ahmad, Menumbuhkan Sikap Sosial, Moral Dan Spiritual Anak Dalam Keluarga Muslim, Terjemahan Ibnu Burdah, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1998.

Shihab, Muhammad Quraish, Membumikan Al Quran, Mizan, Bandung, 2002.

Silahuddin, Pendidikan Keimanan Pada Usia Anak : Tinjauan Psikologis, Skripsi Sarjana Pendidikan Islam Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,

Syahid, Syah Ismail, Menjadi Mukmin Sejati, Terjemahan Shohif, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001.

Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, PT. Remaja RosdaKarya, Bandung, 1997.

Tauhid, Abu, Beberapa Aspek Pendidikan Islam. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.Yogyakarta, 1990.

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia. Djambatan, Jakarta, 1992.

Turkamani, Husain ‘Ali, Bimbingan Keluarga Dan Wanita Islam, Terjemahan M.S. Nasrulloh, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1992.

Ulwan, Abdullah Nashih, Pendidikan Anak Menurut Islam : Kaidah Kaidah Dasar. Terjemahan Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim, PT. RosdaKarya, Bandung,1992.

Ulwan, Firyal, Misteri Alam Jin, Pustaka Hidayah, t.k., 1996.

Yazdi, Muhammad Taqi Mishbah, Filsafat Tauhid : Mengenal Tuhan Melalui Nalar dan Firman, Terjemahan M. Habib Wijaksana, Arasyi, Bandung, 2003.

Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, Pt. Hidakarya Agung, Jakarta, 1989.

                  , Metodik Khusus Pendidikan Agama, PT. Hidakarya Agung, Jakarta, t.t.

Zainuddin, Ilmu tauhid Lengkap, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Zein, Muhammad,  Methodologi Pengajaran Agama, Sumbangsih Offset Papringan, Yogyakarta, 1991.

Zuhairini (et al), Methodik Khusus Pendidikan Agama, IAIN Sunan Ampel, Malang,1983.

Zuhdi, Masjfuk, Masa’il Fiqhiyah, Haji Mas Agung, Jakarta, 1993

              , Studi Islam, Jilid I : Akidah, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1993.

Zurayk, Ma’ruf, Aku Dan Anak-anakku, Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja, Terjemahan M. Syaifuddin Dkk, Al Bayan, Bandung, 1994.


[1] Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah,  SI press, Yogyakarta, 1993,  h. 40.

[2] Dinas P & K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2003, h.959.

[3] Ibid, h. 204.

[4] Aulia Reza Bastian, Reformasi Pendidikan, Lappera Pustaka Utama, Yogyakarta, 2002, h.11-12

[5] Sebagaimana dikutip Drs.H.M.Yusran Asmuni dari Tim penyusun kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Departemen P & K, Jakarta,1989. dalam bukunya “Ilmu Tauhid”, PT.RajaGrafindo Persada,  Jakarta, 1993, h.1.

[6] Jubaran Mas’ud, Raid Ath-Thullab, Dar Al’ilmi Lilmalayyini, Beirut, 1967, h. 972.

[7] Fuad Iqrami Al-bustani, Munjid Ath-Thullab, Dar Al-Masyriqi, Beirut, 1986, h. 905.

[8] Syahminan Zaini, Kuliah Akidah Islam, Al Ikhlas, Surabaya, 1983, h. 54.

[9] Yusron Asmuni, Op.cit., h.2.

[10] Zainuddin, Ilmu Tauhid Lengkap, Rineka Cipta, Jakarta, 1992. h.1.

[11] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, LPPI, Yogyakarta, 2004. h. 4.

[12] Ibid, h. 1.

[13] Ibid, h. 5.

[14] Dinas P & K, Op.cit, h. 232.

[15] Ibid, h. 536.

[16] Masjfuk Zuhdi, Masa’il Fiqhiyah, Haji Mas Agung, Jakarta, 1993, h. 53.

[17] Khatib Ahmad Santhut, Menumbuhkan Sikap Sosial, Moral, dan Spiritual Anak Dalam Keluarga Muslim, Terjemahan  Ibnu Murdah, Mitra Pustaka,Yogyakarta, 1998,h. 5

[18] Majalah Tabligh, Vol.01/No.12/Juli 2003.

[19] Gatra, Nomor 17, beredar Senin 10 Maret 2003

[20] Citra 57/XIV/Kamis, 24 September 2003-Rabu, 30 September 2003

[21] Suara Merdeka, Op.cit.

[22] Data ini penulis peroleh melalui akses internet. Selain pendapat Lutfiah Sungkar juga masih ada pendapat aktor laga Dede Yusuf, yang ikut memberikan komentar tentang hal yang sama, katanya“ Ini membawa hal-hal yang negatif,” kata Dede.Ia menambahkan terutama anak kecil yang mudah terpengaruh.

[23] Tabloid Kuntum, juli 2003.

[24] Syah Ismail Syahid, Menjadi Mukmin Sejati, Terjemahan:Shohif, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2001, h.78-79.

[25] Ibid, h.79-80

[26] DEPAG RI, Al Quran  Dan Terjemahannya, Komplek Percetakan Al Quran Khadim al Haramain asy Syarifain Raja Fahd, Madinah , t.t., h.365.

[27] DEPAG RI, Op.cit., h. 745.

[28] Daud Rasyid,  Islam dalam Berbagai Dimensi, Gema Insani Press,Jakarta,  2000, h. 16.

[29] DEPAG RI, Op.cit., h.1118.

[30] Sayid Sabiq, Aqidah Islam:pola Hidup manusia Beriman, Terjemahan  Moh. Abdai Rathomy, Penerbit Diponegoro, Bandung, t.t., h. 8

[31] DEPAG RI, Op.cit., h.951.

[32] A. Syafi’I Ma’arif, Pendidikan Islam Di Indonesia Antara Cita Dan Fakta, Tiara Wacana, Yogykarta, 1991, h. 8.

[33] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, h.41.

[34]  DEPAG RI, Op.cit., h.264.

[35] Al Quran Al Karim, S.P. Diponegoro, Bandung, t.t., h.142.

[36] Yahya Saleh Basmalah, Manusia Dan Alam Gaib, Terjemahan Ahmad Rais Sinar, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993, h.1.

[37] Ibid, h.2.

[38] Muhammad Isa Dawud, Dialog Dengan Jin Muslim, Terjemahan Afif Muhammad Dan H.Abdul Adhiem, Pustaka Hidayah, Bandung, 1997, h.9

[39] Ibid.

[40] Al Quran Al Karim, Op.cit., h.356.

[41] H.Abu Tauhied, Ms., Beberapa Aspek Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga,Yogyakarta, 1990, h.19.

[42] Firyal Ulwan, Misteri Alam Jin, Pustaka Hidayah, t.k., 1996, h.15

[43] Ibid, h.116.

[44]  Sa’id abd. as-Sattar Fatahallah dalam Daud Rasyid,  Op. cit, h.17.

[45] Daud Rasyid, Op.cit., h.18-19.

[46] Ibid. h. 19-20.

[47] Ibid, h. 21-22.

[48] Ismail Raji al Faruqi, Tauhid, Terjemahan Rahmani Astuti, Pustaka, Bandung,  1988, h.18.

[49] Ibid.

[50] Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Djambatan, Jakarta, 1992, h.934-935

[51] Hasan al Banna dalam Yunahar Ilyas, Op.cit., h.5-6.

[52] Yusran Asmuni, Op.cit., h. 6

[53] Ibid, h. 7

[54] Maulana Musa Ahmad Olgar,  Mendidik Anak Secara Islami, Terjemahan  Supriyanto Abdullah Hidayat, Ash-Shaff, Yogyakarta, 2000, h. 56.

[55] M.Quraish Shihab, Membumikan Alquran, Mizan, Bandung, 2002, h.254-255.

[56] Khatib Ahmad Santhut,Op.cit, h.16

[57] Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1998,  h. 240.

[58] Al Quran Al Karim, Op.cit., h.114.

[59] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis Dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Trigenda Karya, Bandung, 1993, h. 229-230.

[60] Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, PT. Remaja RosdaKarya, Bandung, 1997, h127.

[61] Jalaluddin, dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam : Konsep Dan Perkembangan Pemikirannya, Pt. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994, h.53.

[62] Abdullah Nashih Ulwan, Op.cit., h.

[63] Muhammad Zein, Methodologi Pengajaran Agama, Sumbangsih Offset Papringan, Yogyakarta, 1991, h. 68.

[64] Yusuf Muhammad Al Hasan, Pendidikan Anak Dalam Islam, Terjemahan Muhammad Yusuf Harun, Yayasan Al Sofwa, Jakarta, 1997, h. 31-37.

[65] Ibid, h. 38-47.

[66] Jalaluddin, Teologi Pendidikan, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2001, h. 147.

[67] Ibid, h. 152.

[68] Hadi, Sutrisno, Metodologi Research I. Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1984, h.42.

[69] Ibid.

[70] Pius A Partanto, Op.cit., h. 770.

[71] DEPAG RI, Op.cit., h. 951.

[72] Abu Tauhid, Op.cit., h. 236.

[73] Ibid, h. 2

[74] DEPAG RI., Op.cit., h. 498.

[75] Ibid, h. 862.

[76] öAl Quran Al Karim, Op.cit., h. 87, 98.

[77] Ibid, h. 173.

[78] Tim Penulis IAIN Syarif  Hidayatullah, Op.cit. h. 934

[79] Ismail Raji al Faruqi, Op.cit. h. 18

.

[80] Yunahar Ilyas, Loc.cit.

[81] Daud Rasyid, Op.cit. h.19-20.

[82] Ibid. h.21-22.

[83] Fredrick Luple dalam Husain ‘Ali Turkamani,.Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Terjemahan M.S. Nasrulloh, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1992, h.30.

[84] Husain ‘Ali Turkamani,.Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Terjemahan M.S. Nasrulloh, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1992, h.37.

[85] DEPAG RI, Op.cit.,h. 644.

[86] Fuaduddin dalam Sri Harini dan Aba Firdaus al-Halwani, Mendidik Anak sejak dini, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2003, h.14.

[87] Ibid, h. 15.

[88] Abu Tauhid, Op.cit., h. 61.

[89] Jalaluddin Rahmat (Penyunting), Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994, h. 23-24.

[90] Al Quran Al Karim, Op.cit., h.413.

[91] DEPAG RI. Op.cit. h.116

[92] Sri Harini dan Aba Firdaus al-Halwani, Op.cit. h.37-40.

[93] Zakiah Daradjat, Op.cit., h.57.

[94] Jalaluddin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, h. 66-67.

[95] Zakiah Daradjat, Op.cit., h. 59.

[96] Yusron Asmuni, Op.cit., h. 2.

[97] Ibid, h. 18.

[98] Ibid.

[99] Ali Abdul Halim Mahmud, Karakteristik Umat Terbaik Telaah Manhaj, Akidah Serta Harakah, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, h. 27.

[100] Abdurrahman Abdullah, Aktualisasi Konsep Dasar Pendidikan Islam, Rekonstruksi Pemikiran Dalam Tinjauan Filosofis Pendidikan Islam, UII Press, Yogyakarta, 2002, h. 64.

[101] DEPAG RI.,Op.cit., h. 951.

[102] Ibid., h. 654.

[103] Ibid., h. 34.

[104] Abu Tauhid, Op.cit., h. 61

[105] Abu Tauhid, Op.cit., h. 23.

[106] Ibid, h. 23-24

[107] Mahmud Yunus, Metodik Khusus Pendidikan Agama, PT. Hidakarya Agung, Jakarta, t.t. , h. 23.

[108] Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1998, h. 239.

[109] Hunainin, Pendidikan Keimanan Bagi Anak Menurut Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan, Dalam Kitab Tarbiyah Al-Aulad Fi Al Islam : Tujuan , Materi, Dan Metode, Skripsi Sarjana Pendidikan Islam Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, h. 66

[110] M. Saleh dalam Silahuddin, Pendidikan Keimanan Pada Usia Anak : Tinjauan Psikologis, Skripsi Sarjana Pendidikan Islam Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, h. 27

[111] Ibid, h. 28.

[112] Yusron Asmuni, Op.cit., h. 7.

[113] Silahuddin, Loc.cit.

[114] DEPAG RI., Op.cit., h. 373.

[115] Abdullah bin Abdul Muhsin, Kajian Komprehensif Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah, Titian Ilahi Press, Yogyakarta, 1995, h. 98.

[116] Zainuddin, Op.cit., h. 22.

[117] Hunainin, Op.cit., h. 37.

[118]  H.Hamdani Ihsan dan H.A.Fuad Ihsan, Op.cit., h. 237.

[119] Yunahar Olyas, Op.cit., h. 6

[120] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Terjemahan  M. Habib Wijaksana, Filsafat Tauhid Mengenal  Tuhan Melalui Nalar Dan Firman, Arasyi, Bandung, 2003, h. 99

[121] Ibid, h. 110-111.

[122] Masjfuk Zuhdi, Studi Islam Jilid I : Akidah, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1993, h. 13.

[123] Ali Abdul Halim Mahmud, Op.cit., h. 28.

[124] Ibid, h. 29.

[125] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Op.cit., h. 99-101.

[126] Ibid, h. 107-108.

[127] Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 51-55.

[128] Syeikh Muhammad Nawawi, Syarh Fath Al Majid, Dar Ihya al Kitab al Arabiyah,t. k., t.t., h. 5-37.

[129] Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Op.cit., h. 201-202.

[130] Ibid. h. 102.

[131] Ibid, h. 106.

[132] Yunahar Ilyas, Op.cit., h.129.

[133] Ibid. h. 131-133.

[134]  DEPAG RI, Op.cit., h.770.

[135] DEPAG RI., Op.cit., h. 667.

[136] Syeikh Muhammad Nawawi, Op.cit., h. 46.

[137] DEPAG RI., Op.cit., h. 828.

[138] Yunahar Ilyas, Op.cit.,  h. 139-140.

[139] DEPAG RI., Op.cit., h. 674.

[140] Abu Bakar Al-Jazairy dalam Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 135.

[141] Ibid, h. 136.

[142] Ali Abdul Halim Mahmud, Op.cit., h. 39.

[143] Syeikh Muhammad Nawawi, Op.cit., h. 47.

[144] Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 151.

[145] DEPAG RI., Op.cit., h. 80.

[146] Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 77-78.

[147] DEPAG RI. Op.cit., h. 13.

[148] Ibid, h. 464.

[149] Ibid, h. 695.

[150] Yunahar Ilyas, Op.cit.h. 81-82.

[151] Ibid, h. 83-86.

[152] Ibid. h. 93.

[153] Muhammad Isa Dawud, Op.cit., h. 21.

[154] DEPAG RI. Op.cit., h. 224.

[155] Ibid, h. 392.

[156] Ibid, h. 862.

[157] Ibid, h. 984.

[158] Ibid, h. 226-227.

[159] Ibid, h. 14.

[160] Ibid.

[161] Sayid Sabiq dalam Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 93.

[162] Shobuni dalam Yunahar Ilyas, Ibid.

[163] Ibid, h. 95.

[164] Muhammad Isa Dawud, Op.cit., h. 60.

[165] Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 96-103.

[166] DEPAG RI, Op.cit., h. 206.

[167]Yunahar Ilyas, Op.cit., h. 103-105.

[168] DEPAG RI, Op.cit., h. 13.

[169] DEPAG RI, Op.cit., h. 714.

[170] Ibid, h. 679.

[171] Ibid, h. 1022.

[172] Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, h. 39.

[173] Ibid. h. 40.

[174] Abu Tauhid, Op.cit., h. 72-73.

[175] F. J. Monks (et.al), Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2001, h. 87.

[176] Maulana Musa Ahmad Olgar, Op.cit., h.32.

[177] Khatib Ahmad Santhut, Op.cit.,h.103.

[178] Armai Arif, Op.cit., h.117-118.

[179] Ibid. h. 117.

[180] DEPAG RI, Op.cit., h. 16.

[181] Armai Arief, Op.cit.,h. 122-123.

[182] Abu Tauhid, Op.cit., h. 89.

[183] Sri harini Dan Aba Firdaus Al-Halwani, Op.cit., h. 122-123.

[184] Anwar Jundi dalam Abu Tauhid, Op.cit., h.90.

[185] Abdullah Nashih Ulwan. Pendidikan Anak Dalam Islam : Kaidah Kaidah Dasar, Terjemahan Khalilullah Ahmas Masjkur Hakim, PT. Remaja RosdaKarya, Bandung, 1992, h. 44.

[186] Armai Arief, Op.cit., h. 110-111.

[187] Ibid, h.114.

[188] Abdullah Nashih Ulwan, Op.cit., h. 45.

[189] Ibid, h. 60-61.

[190] Armai Arief, Op.cit., h. 114-115.

[191] Dr. Ahmad Amin dalam Abu Tauhid, Op.cit., h. 95-96.

[192] Zakiah Daradjat, Op.cit., h. 43.

[193] Yuni Nur Kayati, Anakku Sayang Ibumu Ingin Bicara, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 1999, h. 38.

[194] Zakiah Daradjat, Op.cit., h. 59.

[195] Abdullah Nashih Ulwan, Op.cit., h. 61.

[196] Yuni Nur Kayati, Op.cit., h. 31-32.

[197] Umar Hasyim, Anak Saleh : Cara Mendidik Anak Dalam Islam 2, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1983, h. 83.

[198] Hunaninin, Op.cit., h. 68.

[199] Muhammad Quthb, Op.cit., h. 334.

[200] Abdullah Nashih Ulwan, Op.cit., h. 66.

[201] Bobbi DePorter dkk, Quantum Teaching : Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas, Terjemahan  Ary Nilandari, Penerbit Kaifa, Banadung, 2001, h. 6.

[202] Abdullah Nashih Ulwan, Op.cit., h. 129.

[203] Muhammad Zein, Op.cit., h. 68.

TUDUHAN KEPADA MUHAMMAD PELECEHAN SEXUAL KEPADA PEMBANTUNYA, dituduh zina, ngesex sama pembantunya hafshah (mariah)

1

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 4008

get item URLs

 
2

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 3414

get item URLs

 
3

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 2884

get item URLs

 
4

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 2626

get item URLs

 
5

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 2409

get item URLs

 
6

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 2325

get item URLs

 
7

Date: 11/25/2008 Owner: FFI Site Editors Views: 2200

get i

NABI MUHAMMAD DILECEHKAN

<object width=”425″ height=”344″><param name=”movie” value=”http://www.youtube.com/v/-Jm_0FccRoU&hl=en_US&fs=1&”></param><param name=”allowFullScreen” value=”true”></param><param name=”allowscriptaccess” value=”always”></param><embed src=”http://www.youtube.com/v/-Jm_0FccRoU&hl=en_US&fs=1&” type=”application/x-shockwave-flash” allowscriptaccess=”always” allowfullscreen=”true” width=”425″ height=”344″></embed></object>

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.